Selepas membeli ikan asap, kembali aku melanjukan sepeda motor untuk kembali ke rumah. Lewat jalan dalam. Karena kami berdua memang tidak memakai helm. Hujan semalam membuat teras rumah kami basah hingga semua helm terpaksa dijemur. Jika dipakai, sensasinya pasti akan sangat aneh.
Melewati dua sungai, banyak sawah, dan rumah-rumah penduduk desa. Tempatnya tidak begitu padat dan panas karena dekat dengan alam. Tempat yang kusukai untuk pulang ke rumah jika hari sekolah. Disini tidak ada truk besar yang membuat merinding meskipun jalannya tidak begitu bagus.
Setelah sungai yang kedua, ada objek menakutkan di sisi jalan sebelah kanan. Rumah besar tanpa atap namun kelihatannya memiliki dua lantai. Umurnya mungkin lebih lama dariku. Karena saat aku masih kecil, rumah ini sudah ditinggalkan.
Berada di sekitar hamparan sawah yang luas. Harus melewati sebuah jalan kecil untuk bisa sampai disana. Di sekitar rumahnya ditumbuhi oleh pohon-pohon pisang juga banyak ilalang. Juga ada banyak rerumputan yang sudah meninggi. Yang akan pergi kesana masih harus melewati beberapa halang rintang. Butuh perjuangan dan niat.
Dari spion, aku bisa melihat mama menunjuk rumah itu. Mulutnya akan bicara, namun butuh waktu beberapa detik hingga kata-kata bisa keluar dari mulutnya. "Rumah itu berbahaya, Kak," mamaku akhirnya bicara.
"Berbahaya?" Beoku tanpa rasa penasaran.
"Katanya, dahulu ada perempuan yang hampir mengalami pelecehan disana." Kulirik mama dari spion, menunggu kalimat selanjutnya. "Tapi untungnya dia berhasil selamat. Tidak seperti korban-korban sebelumnya. Bahkan ada kabar yang bilang jika seseorang dibunuh disana. Seorang wanita muda. Menyeramkan sekali."
"Bagaimana ceritanya?" Mungkin aku tertarik mendengar cerita selanjutnya.
Mama memulai ceritanya dengan latar belakang seorang saksi mata sebelum seorang gadis hampir kehilangan keperawanannya. Ada seorang laki-laki paruh baya yang pergi mencari belut untuk anak perempuannya yang sedang hamil. Suami anaknya dinas keluar kota, jadi ayahnya yang memenuhi keinginan si ibu bayi. Ngidam belut.
Siapa yang menjualnya malam-malam begini? Lebih baik cari sendiri saja. Toh pria paruh baya ini adalah pemilik sawah yang sedang digunakannya sebagai sarana mencari belut.
Hari itu mungkin bukan hari keberuntungan pria itu. Jadinya dia pulang tanpa bisa membawa seekor belut. Sambil berjalan ke arah sepeda motor, pria itu menelfon anaknya yang tengah menunggu di rumah. Meminta maaf dan bilang akan mencari orang yang menjual belut di dekat pasar setelah ini.
"Yasudah, tidak apa-apa. Yang penting, aku ingin makan belut hari ini," ucap si anak dari ujung panggilan. Dia ingin belut sebelum hari berganti padahal 2 jam lagi sudah keesokan hari.
Dan di sudut matanya, pria itu seperti melihat sebuah mobil yang berhenti di depan sebuah jalan kecil menuju rumah yang ditinggalkan. Panggilan sudah berakhir. Pria itu masih memegang ponselnya dan menatap mobil yang mencurigakan itu.
Untuk apa mobil itu berhenti disana? Di tempat yang gelap dan menakutkan. Lalu kelihatannya mobil itu bergerak-gerak.
Perasaan tidak enak menyelimuti hati pria paruh baya ini. Perlahan, pria ini berjalan tanpa alas kaki mendekati sebuah semak-semak. Bersembunyi disana untuk melihat apa yang terjadi. Hatinya yang berdetak tidak nyaman memintanya untuk tetap mengawasi. Untuk menghilangkan kecurigaan saja.
Sekitar 5 menit setelahnya, pemilik mobil keluar. Ada dua orang pria dan seorang--gadis? Salah satunya membawa gadis itu masuk ke dalam rumah besar yang sudah ditinggalkan itu. Yang mengemudi cepat-cepat masuk, mendahului seperti akan melakukan sesuatu.
Gelagat keduanya membuat kecurigaan pria paruh baya ini semakin besar. Untuk apa mereka membawa seorang gadis dengan seragam sekolah itu ke tempat yang gelap? Pasti ada yang tidak beres.
Pria paruh baya ini mengingat sesuatu sebelum mulai melangkah. Dahulu ada perempuan muda yang di bunuh oleh begal jalanan ini. Sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Tapi sebaiknya dua pria tadi tidak membuat cerita yang sama dengan gadis yang pingsan itu. Kasihan dia.
Buru-buru pria ini mencari sesuatu yang dapat digunakan untuk melumpuhkan kedua pria tadi. Meskipun tahu jika dia tidak akan bisa melawan keduanya sendiri. Setidaknya dia akan berusaha untuk membebaskan gadis malang yang tidak berdosa itu. Dari kejauhan saja sudah terlihat betapa gadis itu mendapatkan perlakuan yang sangat buruk.
Tinggal beberapa langkah lagi sebelum pria ini mendekati pintu rusak rumah terbengkalai yang menjadi tempat tujuan dua orang dewasa dengan gadis tadi. Digenggamnya sebilah kayu yang bisa dia dapatkan untuk melumpuhkan.
Dalam hati, pria ini bisa merasakan jika tindakannya ini adalah tindakan bodoh. Dia bisa saja terbunuh malam ini jika ikut campur. Namun rasa bersalah akan terus mendatanginya jika membiarkan gadis tadi terbunuh. Atau yang lebih buruk- mengandung bayi dari hubungan yang tidak diinginkan.
"TOLONG!" Suara teriakan gadis itu terdengar sangat keras. Diikuti dengan suara langkah kaki banyak yang memuat pria di dekat pintu itu panik.
Gadis yang terlihat lemas tadi berlari sangat kencang menuju pintu. Dan di belakang beberapa pria mencoba untuk mengejarnya. Sebelum keluar, dia sempat tertangkap oleh salah satu pria dan seseorang yang sudah menunggu dengan kayu di depan langsung memukul orang itu hingga mengeluarkan darah dari pelipisnya.
"Ayo ikuti aku," ajak pria yang berhasil memukul orang jahat tadi dan kini ikut menjadi buronan.
"Mama tidak tahu bagaimana kelanjutan ceritanya. Namun yang jelas, beruntungnya gadis itu sudah berhasil diselamatkan. Meskipun tidak ada yang tahu ada dimana gadis itu sekarang." Mama menyelesaikan ceritanya.
Sepeda motorku juga sudah melewati tempat yang katanya berbahaya itu. Namun masih bisa kulihat rumah berantakan itu lewat spion hingga akhirnya benar-benar tidak terlihat.
"Jika melewati jalan itu, berhati-hatilah," ingat mama padaku. Yang kulakukan hanya mengangguk tanpa menjawab. Bibirku sesara tidak bisa bicara untuk sementara waktu.
Tapi ada yang ingin ku koreksi dari kabar burung yang didengar mamaku.
Gadis yang dibawa oleh dua pria dewasa itu tidak benar-benar pingsan. Dia hanya berpura-pura agar bisa langsung berlari ketika sudah sampai di tempat mengerikan itu. Gadis itu memang mengalami banyak penyiksaan sebelum sampai disana. Bahkan sudah sempat di lecehkan.
Dua pria yang dilihat saksi mata hanya orang suruhan. Masih ada sekitar 7 orang yang menunggu di dalam rumah itu untuk menyiksa gadis malang itu lagi. Sungguh pria-pria beringas yang hanya peduli dengan kebutuhan biologisnya sendiri.
Lalu pria yang menolong gadis itu sengaja hanya menceritakan hingga bagian itu karena gadis yang dia selamatkan itu tidak ingin identitasnya ketahuan. Dia memohon sangat keras agar pria itu hanya memberikan cerita yang membuat orang-orang lebih berhati-hati.
Gadis itu mengalami banyak hal hingga bisa sampai di titik semuanya baik-baik saja. Semua lukanya juga belum sembuh. Dia masih harus pergi ke dokter diam-diam untuk mengobati tubuhnya yang rusak akibat pria-pria beringas yang berani menculiknya selama setahun terakhir.
Mamaku tidak akan pernah tahu siapa gadis itu.
Karena aku tidak akan membiarkan kemalanganku di masa lalu membuatnya sangat sedih.
Kami sudah sampai di rumah. Mama masuk lebih dahulu, membawa ikan asap dan membiarkan aku memarkirkan sepeda motor di teras.
Aku beruntung karena masih hidup setelah mendapatkan pelecehan. Tapi karenanya aku harus terus memakai lengan panjang untuk menutupi luka-luka yang masih membekas. Beruntungnya mama tidak pernah menyadarinya hingga saat ini.