"Hah!"
Aku menghela nafas panjang ketika diriku kembali mengingat kejadian yang mampu menoreh luka di hatiku. Haissh' ingin rasanya ku melupakan dia, tapi apa itu mungkin? Jika aku bisa, aku sudah melakukannya dua tahun lalu. Matanya, hidungnya, bibir mungilnya, suara dan tatapannya begitu melekat di hatiku hingga terlihat mustahil untukku melupakannya. Ah, apa aku gila karna memikirkannya? Apa aku sudah tidak waras? Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi padaku.
This is Love? I'm not sure about this. Karena mana mungkin aku mencintainya dalam waktu singkat?! Apa mungkin ini hanyalah sebatas suka, kagum, atau... Kasihan?! Entahlah, tapi yang pasti semua rasa itu ada. Ya, jika boleh jujur mungkin aku merasa iba dengan kehidupannya yang terdengar pilu.
Shagara Angkasa Putra, itu namaku. Dua tahun lalu usiaku yang menginjak 25 tahun, aku berprofesi sebagai polisi. Ya, aku memang seorang polisi yang saat itu aku tidak sedang bertugas ah lebih tepatnya aku mendapat cuti selama satu minggu karena berhasil menyelsaikan sebuah misi.
Hari pertamaku cuti adalah hari pertama saat ku melihatnya. Aku tersenyum ketika mengingat bagaimana indahnya ukiran senyuman di bibir mungil si gadis manis.
"Siapa gadis itu?" Benakku memikirkannya saat tak sengaja melihat gadis manis duduk sendirian di taman dengan di temani buku novel.
Dari kejauhan aku melihatnya tersenyum manis. Ah dia begitu terhanyut dalam haluan sebuah novel romatis, pikirku.
Degh
Seketika aku di buat mematung di kala dirinya menatapku. Inginku menyapanya dengan senyuman, tapi entah kenapa bibirku tidak bisa di ajak kerjasama. Beku! Tak dapat bergerak!
Bukankah itu sungguh menjengkelkan?!
Dia menatapku penuh arti, apa aku terlihat aneh? Pikiranku tak karuan. Sepersekian detik setelahnya dia pergi tanpa sepatah katapun ataupun sekedar memberikan senyuman padaku. Bodohnya aku mengharapkan itu, KENAL SAJA TIDAK!!!
Hari berikutnya aku sengaja mendatangi taman itu lagi di waktu yang sama juga, kala senja! Aku berharap aku bisa bertemu dengannya lagi. Siapa sangka, harapanku bukanlah sekedar harapan karna itu menjadi kenyataan.
Aku kembali melihatnya duduk di tempat yang sama, membaca novel, rambut di kucir satu, poni yang menghiasi keningnya dan juga sebuah pita cantik yang menempel dirambutnya.
"Cantik." Oh hanya itu yang bisa ku katakan.
Hm jika ku perhatikan lebih dalam lagi, aku menyimpulkan gadis itu berusia kisaran dua puluh
tahun dan seorang mahasiswi, Mungkin.
Senjaku! Berhubung aku belum mengetahui namanya, aku menyebutnya Senja! Karena dia terlihat sangat tenang, indah, menarik, dan hanya di kala senja saja aku bisa melihatnya. Setelah itu... Wushhhh... Pergi entah kemana.
Hari hari berikutnya sama seperti yang ku lakukan kemarin, aku mendatangi tempat itu lagi di waktu yang sama yaitu Senja!
"Kemana dia?" Aku bingung, perasaanku kalut saat aku tidak melihatnya di tempat itu lagi. Ya! Dia tidak datang.
Lesu, sedih, kecewa, itulah yang ku rasakan saat harapanku tak terwujud. Dia benar" tidak datang kesana dan yang paling membuatku kecewa adalah kebodohanku sendiri. Ya! Bodohnya aku menyia-nyiakan dua kali kesempatan untuk menyapanya atau sekedar berkenalan. Sekarang saat sudah tidak bertemu lagi, aku kecewa? Itu sangat konyol.
Hari keempat, kelima, keenam bahkan ketujuh aku tidak lagi melihat kecantikan dia saat duduk
di taman itu.
"Where is she? What happened? Is she fine?."
Beberapa pertanyaan dalam benakku tentang gadis yang mampu membuatku tak berkutik hanya dengan tatapannya. Tatapan dalam yang bahkan tak terukir senyuman sedikitpun.
Aku gila! Pikiranku kacau hanya karna dia, gadis yang sama sekali tak ku kenal namanya. "I miss her." Ya, aku merindukanya, Senjaku.
Sekarang masa cuti ku sudah habis, aku kembali memasuki ruangan yang membuatku akan merasakan kesibukan kembali. Ya! Aku kembali bekerja menjalankan kewajibanku sebagai seorang polisi. Mungkin dengan adanya kesibukan ini, aku bisa melupakannya. Tapi... Apa itu bisa?
"Misi kali ini adalah menangkap dalang di balik pembunuhan yang terjadi beberapa hari yang
lalu." Titah sang Komandan padaku dan rekanku
Komandan memberikan cerita singkat tentang apa itu misinya. Dia berkata "Kasus kali ini
terjadi pada sebuah keluarga, saat itu pelaku sedang melakukan aksi kriminal yaitu merampok
rumah korban. Namun korban yang mengetahui itu berniat melawan dan naasnya malah dia sendiri terbunuh di tangan pelaku."
Ah, aku mengerti! Memang pantas penjahat seperti itu di tangkap dan di hukum sesuai dengan pasal yang berlaku.
Aku berserta beberapa rekan kerjaku mulai menjalankan misi ini, pertama-tama kami mencoba melacak keberadaan pelaku dengan berbagai cara. Haishh kali ini aku benar-benar sibuk, apa mungkin ini jalan bagiku untuk melupakan dia?! Dia gadis manis yang ku beri nama kesayangan, Senja.
Waktu terus berlalu begitu cepat, tiga hari berlalu kami berhasil menemukan keberadaan si pelaku. Dengan gerak cepat tanpa membuang waktu sedikitpun, kami pun bergegas menuju tempat bersembunyi pelaku dengan berbagai persiapan yang matang.
Komandan mempercayaiku untuk memimpin misi kali ini dan aku pun menyutujuinya tanpa rasa beban sedikitpun. Aku memberi instruksi pada rekanku tentang apa yang harus mereka lakukan. Di tempat yang kami curigai sebagai tempat persembunyian pelaku, kami berpencar!
Sebuah bangunan cukup tua namun sedikit terurus, yang terdiri dari dua lantai. Kami memasuki bangunan tersebut sembari menodongkan sebuah pistol ke depan dan jalan sedikit mengendap.
Kami terkejut dengan penemuan kami saat mulai menggeledah bangunan. Kami melihat banyak darah berceceran di lantai. "Apa yang terjadi?" Bingung kami semua.Karena rasa penasaran yang berkecamuk kami pun memutuskan untuk mengikuti kemana arah semua darah yang berceceran tersebut. Ternyata darah itu menuju lantai atas dan kami pun bergegas kesana.
Degh
Lagi dan lagi kami di buat terkejut saat melihat adanya mayat seseorang yang berlumuran darah yang di akibatkan luka tusukan di sekujur tubuh, itu adalah mayat dari buronan kami.
Hiks... Hiks... Hiks...
Terdengar suara tangisan entah darimana. Kami mengedarkan pandangan dan tak sengaja melihat seseorang yang menangis di pojok ruangan dengan kondisi yang cukup kacau. Dia seorang perempuan yang duduk berlutut sembari menundukkan kepalanya, baju yang terkena banyak bercak darah, dan sebuah pisau kecil di genggaman tangan kanannya.
"Kau membunuhnya?" Tanyaku spontan sembari menodongkan pistol ke arah perempuan itu.
Seketika dia berhenti menangis dan sepersekian detik kemudian dia mendongak menatap kami semua.
"Senjaku!" Batinku terkejut bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui ternyata perempuan itu tak lain dan tak bukan adalah gadis manis yang selalu membayangi pikiranku.
Dia berdiri sambil menatapku penuh arti, "Apa dia mengenaliku?" Pikirku dalam hati
"Dia anak dari korban." Bisik temanku pada diriku
"Apa?!!" Mendengar itu rasanya aku tidak bisa berkata-kata lagi. "Gadisku yang malang." Batinku menatap sendu dan dengan segera aku menurunkan todongan pistolku serta memberi isyarat pada temanku untuk melakukan hal yang sama
"Aku senang, aku puas dan aku merasa sangat bahagia." Ucap dia tersenyum tipis yang terkesan manis namun aku tahu, senyuman itu memiliki sejuta rasa pahit
"Aku tahu perbuatanku salah dan maaf karna aku sudah melakukannya." Dia menunduk menahan pedih yang paling dalam
"Dia salah, dan dia memang pantas di hukum! Namun kenapa kamu harus melakukannya? Kamu bisa memberikan tugas ini pada kami dan kami pastikan dia akan di hukum sesuai pasal
yang berlaku." Tuturku mencoba memberi pengertian.
Dia tersenyum miris sembari menatapku penuh arti. Apa aku salah berucap? Pikirku
"Hukuman dengan pasal yang berlaku?! Apakah itu bisa mengembalikan orangtuaku?" Tanyanya menitikkan air mata dan sungguh itu membuat dadaku merasakan sakit
"JAWAB!" Bentaknya tiba-tiba membuat kami tersentak dan tak mampu berkata
"Hukuman yang pantas untuk seorang pembunuh adalah kematiannya! Darah di balas dengan darah, nyawa di balas dengan nyawa." Serunya di selimuti hawa kebencian yang mendalam.
Senjaku yang manis penuh ketenangan tiba-tiba berubah hanya karna di selimuti kesedihan yang mendalam dan membuatnya di butakan oleh amarah. Hingga menjadikan dirinya salah arah dan akhirnya melakukan sesuatu yang tidak harus dia lakukan.
"Aku mengenalmu." Ucapnya lagi menatapku intens dan jujur itu membuatku sedikit merasa senang.
"Dia mengenalku?" Aku terkejut namun bahagia tak terkira
"Aku ingin mengenalmu lebih dalam tapi aku rasa kamu tidak ingin berkenalan denganku. Menunggumu menyapa diriku. Apa kamu begitu sulit melakukannya? Apa hanya aku yang mengharapkannya?" Lanjutnya lagi dan rasanya ingin ku menyangkal tebakan itu
"Kamu salah!" Balasku tiba tiba setelah terdiam beberapa detik "Entah kamu percaya atau tidak, aku juga ingin mengenalmu lebih dalam." Lanjutku memberanikan diri
"Aku Alisha Angelina." Aku tersentak saat dia memperkenalkan diri, nama yang sangat indah
"Shagara Angkasa Putra. Itu namaku." Balasku tersenyum tipis
"Tapi sepertinya kita terlambat!" Seru dia membuatku mengernyit bingung "Bukankah sudah
ku katakan, jika darah di balas darah, Nyawa di balas Nyawa!"
Aku mengangguk mengerti namun di benakku masih tersirat kebingungan akan arti ucapannya
itu.
"Senang bisa mengenalmu. Aku harap, kita bisa bersama nanti..." Dia berhenti sejenak lalu mendongak menatap ke atas "Disana!" Lanjutnya
Entah apa yang merasuki dirinya, tiba tiba saja dia menusuk dada kirinya sendiri, ah ralat! Dia menusuk jantungnya sendiri yang membuatnya seketika ambruk tak sadarkan diri.
"ALISHA!!!" Teriakku berlari cepat untuk menangkap tubuhnya.
Apa ini maksudnya? Dia sudah membunuh pelakunya, dan dia juga yang menghukum dirinya sendiri. Kenapa? Kenapa dia melakukannya?
Tes
Aku kembali menitikkan air mata saat kejadian itu berputar kembali di pikiranku setelah dua tahun lamanya. Ya! Sudah dua tahun berlalu tapi aku belum bisa melupakannya.
Cintaku... Senjaku... Telah hilang di selimuti kabut. Semoga, harapanmu dan harapanku bukanlah sekedar harapan. Kita bisa bersama disana nanti. Inginku membencimu karena sudah melukai diri kamu sendiri, tapi... Aku juga mencintaimu. Ya! Aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
I LOVE YOU AND I HATE YOU, MY LOVE...
~~~••END••~~~