Septemberku bukan September ceria seperti iklan di TV, Septemberku adalah awal dari hancurnya masa depanku.
Sudah 5 tahun lebih aku tidak bertemu dengan Randy, mantan kekasihku, wajahnya mirip dengan aktor Rizky Nazar, senyumnya selalu membuatku terbayang sepanjang waktu, aku teringat bagaimana awal kisah cinta kami, dia datang bersama temannya untuk bertemu dengan temanku, dulu saat SMA kami sering melalukan kencan buta dengan orang dikenal lewat Handphone, dan hari itu kami ber-empat bertemu.
Hubungan temanku dan teman Randy tidak berlanjut lagi, tapi aku dan Randy justru semakin dekat, memutuskan untuk jadian setelah 2minggu kenalan, tapi sepertinya hanya aku yang tergila-gila padanya, sedangkan dia mungkin hanya iseng saja denganku. Lalu kami putus setelah 5bulan pacaran.
15 September 2017
Aku bertemu lagi dengan Randy tanpa sengaja di sebuah Cafe, dia yang duduk sendirian di dekat jendela menoleh ketika aku lewat di sampingnya, tatapan mata kami bertemu dan dia menyapaku terlebih dahulu.
"Cha.. !!". Randy memastikan bahwa itu aku, senyumnya sama sekali tidak berubah.
"hey kamu, Randy yaa?". aku berpura-pura mengingat siapa dia agar tidak terlihat bahwa aku masih belum bisa melupakannya.
"sama siapa??". tanya Randy masih dengan senyumnya.
"ahh, aku sendiri, lagi pengen cari suasana baru buat bikin lagu". aku tidak bisa menahan senyum yang mengembang di wajahku, selama ini aku belum bisa melupakann dia, karena dia adalah satu-satunya laki-laki yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
"sini aja sama aku, kebetulan aku lagi sendiri, tadi nungguin Heru tapi dia gak bisa dateng, kamu inget Heru kan? yang dulu kita ketemu ber-empat sama Numa".
"ehmmm .. gak apa-apa nih aku disini?". Randy hanya mengangguk mendengar pertanyaanku.
Selepas dari cafe itu, hubungan kami mulai terjalin kembali, kami yang telah sama-sama dewasa mulai membahas pernikahan, hingga suatu hari Randy mengajakku membeli cincin untuk pertunangan kami, sebagai perempuan aku sangat bahagia di hari itu, tidak ada satupun hal janggal dalam hubungan kami, setiap hari kamu bertemu, setiap minggu kami pergi berdua, tidak ada celah untuk dia selingkuh, menurutku.
***
Hampir semua persiapan lamaran telah tersedia, hanya menunggu waktunya. Namun tiba-tiba Randy mengirim sebuah pesan ."maaf Cha, aku udah gak bisa nglanjutin hubungan kita lagi, kamu pasti ketemu sama orang yang lebih baik daripada aku, aku yakin Cha, karena kamu orang baik, aku gak pantes buat kamu". Seketika hatiku hancur, aku masih mencoba tenang, berkali-kali aku menghubunginya namun nomernya telah di non-aktifkan. Aku hanya bisa menangis, apa yang harus ku kulakukan?.
Ku akui, aku dan Randy memang telah bertindak terlalu jauh, kami sering kebablasan ketika berduaan, seperti orang dewasa pada umunya, apalagi Randy adalah laki-laki normal, pasti dia memiliki keinginan untuk mendapatkan kepuasan.
1 bulan sudah aku dan Randy tidak berhubungan, nomornya ganti dan semua media sosialnya di tutup, aku tidak tau lagi bagaimana kabarnya sekarang, aku melihat kalender, seharusnya ini adalah hari ulang tahunnya, aku telah menyiapkan kado berupa sepatu Adidas yang kubeli jauh-jauh hari. Saat melihat calender aku tersadar, tanggal mensku sudah terlewat, hampir 2 minggu. Tangan dan kakiku gemetar, aku tidak pernah terlambat haid selama ini, biasanya maju 2 hari karena aku memiliki siklus 28 hari yang rutin.
Ku beranikan diri membeli testpack di sebuah apotik sepulang kerja, Aku minta berbagai merk agar tidak ragu dengan hasilnya, dengan perasaan malu dam takut di lihat orang yang ku kenal, aku menunduk dan berharap transaksi segera selesai. Petugas apotik mengulurkan plastik pesananku, aku segera memasukkanya ke dalam tasku.
Sesampainya di rumah, aku langsung mencoba salah satu yang merknya paling terkenal dan paling mahal, semua ku lakukan sesuai petunjuk, dan Alhamdulillah, hanya muncul 1 garis, aku sangat lega sekali, ternyata aku hanya telat mens biasa, mungkin karena stress belakangan ini. Aku meninggalkan testpack tersebut di kamar mandi, beserta dengan cawan Urin yang masih terisi. Dengan tenang aku mengambil air minum di dapur, karena aku tinggal sendirian jadi aku tidak takut ada orang masuk dan melihat testpackku.
Setelah mengambil minum aku kembali ke kamar mandi untuk membereskan benda-benda tadi, tapi mataku langsung tertuju pada testpack yang tadinya bergaris satu, sekarang menjadi bergaris 2, kakiku seperti kehilangan kekuatannya, aku terjatuh masih dengan memegang testpack tersebut, aku masih belum yakin dengan hasilnya, lalu aku mengulanginya dengan 2 testpack yang berbeda merk sekaligus, tapi hasilnya sama,dua-duanya garis 2, seluruh tubuhku lemas, aku terjatuh di lantai, masih dengan memegang 2 testpack tersebut. Aku hamil. Aku memang bukan anak SMP yang tidak mampu menafkahi anakku kelak,tapi aku tetap butuh Randy untuk membsarkan anakku.
Aku memang terlalu liar, hidup terpisah dari orangtua membuat aku bebas melakukan apa saja, sejak lulus SMA, Kuliah dan hingga saat ini aku memang jarang pulang, karena semenjak kematian ibu aku sangat membenci ayah, dia menikah dengan anak muda yang umurnya hanya 2tahun lebih tua dariku, bahkan 2 tahun lebih muda dari mbak Lia kakakku. Aku mampu menanggung beban ini, karena dengan bekerja di kantor BPJS dan sering manggung sana-sini aku memiliki tabungan, rumah dan mobil sendiri, tapi bagaimana dengan anakku?
***
Aku terus mencoba menghubungi dan mencari Randy, keluarganya seolah menyembunyikan keberadaan Randy, aku putus asa, yang bisa ku lakukan hanya menangis dan menyesal.
Di tengah rasa putus asa, aku teringat Fauzi, sahabat Randy, aku pernah 2 kali ke rumahnya dengan Randy. Lalu Ku tancap gas segera ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Fauzi, aku perlahan mengetuk pintu, dan keluarlah seorang laki-laki dari dalam rumah itu, Fauzi. Dia masih mengenaliku, dan mempersilahkan aku masuk.
Hampir satu jam aku di rumah Fauzi, mengutarakan maksudku untuk mencari Randy, menceritakan tentang kehamilanku, dan tak lupa meminta nomor baru Randy. Fauzi memang orang baik, dia tidak menyalahkan aku atas apa yang terjadi, dia juga memberikan nomor ponsel Randy yang baru dengan mudahnya. Dan aku segera menelponnya.
"ya.. halo..". suara Randy di ujung telepon.
"Ran, ini aku ocha..". Lalu hening .. tak ada jawaban. "Ran, aku pengen ketemu, ada yang pengen aku omongin". Lanjutku.
"apa lagi? kita udah gak bisa sama-sama lagi, aku mau nikah sama orang lain, plis ..jangan ganggu aku". Randy berbicara dengan nada tinggi, tidak seperti biasanya Randy yang ku kenal.
"aku, hamil". Air mataku tidak bisa lagi ku bendung. Menetes perlahan.
"hah..? kok bisa? bangs*t ". Terdengar suara benda yang di lempar dengan keras. "yaudah, ayo ketemu sekarang!!". Dalam hati Randy, penyakit harus di hilangkan secepatnya agar tidak menular ke organ lain.
"di cafe Black&Blue". lanjutku dengan mematikan telepon.
Fauzi masih diam, menunggu aku selesai melakukan panggilan, wajahnya menunjukan bahwa hal buruk akan terjadi, dia lebih mengenal Randy dari pada orang lain, dia satu-satunya orang yang tau apa yang terjadi sebenarnya selain Randy sendiri. Dan dari dia aku tau bahwa yang akan di nikahi Randy adalah wanita bernama Sita, seorang calon dokter gigi, mereka menjalin hubungan sudah lebih dari 7 tahun, bahkan lebih lama dibanding pertemuan awalku dengan Randy saat masih SMA, selama ini Sita sedang sibuk dengan kuliahnya, Randy bersamaku hanya karena Sita sedang tidak bisa menemaninya. Ternyata bukan aku yang di duakan, tapi aku yang menjadi orang ketiga. Rasa sakit membuat dadaku sesak, aku menangis, terisak-isak di hadapan Fauzi yang masih tak bersuara. Dia hanya menghela nafasnya dalam-dalam.
***
Hujan beserta guntur yang bersautan mengantarkanku ke Cafe Black&Blue, aku datang dengan perasaan pilu, antara aku ingin memperjuangkan hak anakku, atau aku ingin membunuh laki-laki b*adab itu. Bisa-bisanya dia menghianati 2 wanita sekaligus tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Nih, buat gugurin anak haram itu, dan jangan pernah ganggu aku lagi". Randy melempar puluhan lembar uang pecahan 100rb di mejaku. Tatapan matanya bukan seperti Randy yang selama ini ku kenal, Randy yang lembut dan Randy yang selalu minta di peluk setiap saat, Randy yang begitu sempurna di mataku. Kini dia telah berubah, bukan, mungkin ini sifat aslinya, kini dia adalah monster yang rela membunuh darah dagingnya demi ego dan gengsinya.
"aku gak butuh uangmu, yang aku butuhin itu kamu, anak kita butuh bapaknya". aku merendahkan nada suaraku agar tidak menarik perhatian pengunjung yang lain.
"aku gak punya anak, itu anak kamu, kalo kamu mau lahirin dia, urusin aja sendiri, jangan pernah bawa-bawa aku". Randy berbisik di dekat telingaku, tangannya mencengkeram erat lenganku.
"Aku bakalan ngasih tau Sita, aku bakalan ngirim semua foto kita ke dia, termasuk foto kita waktu di hotel". Aku menarik kerah baju Randy dan menatapnya dengan tatapan kemarahan yang tak lagi bisa ku tahan.
"silahkan, Sita pasti lebih percaya padaku, lagi pula dia tau, aku suka bermain dengan wanita-wanita murahan seperti kamu, karena dia mau menjaga keperawanannya hingga nanti kami menikah, dia membiarkan aku menyalurkan kebutuhanku dengan caraku". Randy menepis tanganku lalu pergi begitu saja.
Isak tangis tak bisa lagi ku tahan, aku meninggalkan meja cafe yang penuh dengan uang yang Randy berikan, sebelum pergi aku memberi tau pelayan untuk membereskan meja dan mengambil "tip"nya. Aku tak akan sudi menerima sepeserpun uang dari baj*ngan itu. Bagaimana bisa, orang yang begitu penyayang, perhatian dan lembut berubah dalam sekejap mata.
Aku keluar dari Cafe, berjalan di tengah hujan, aku tak sanggup lagi melangkah, kakiku terlalu lemah, kenyataan pahit yang aku rasakan membuatku kehilangan kekuatan, aku duduk sambil memeluk lututku di tengah halaman Cafe, masih dengan isak tangis yang semakin menjadi-jadi, ku lihat mobil Randy pergi meninggalkan area parkir.
Tiba-tiba, seseorang datang memayungiku, aku mengangkat wajahku, melihat siapa orang itu. Dan ternyata dia adalah Fauzi, dia mengikutiku karena dia tau ini yang pasti akan terjadi, dia paham betul, Randy tidak akan meninggalkan Sita, karena Sita adalah gadis kaya raya, sebenarnya Fauzi tau permainan Randy sejak awal, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Fauzi meraih tanganku, membantu aku untuk berdiri, dia mengajakku berjalan ke arah mobilku lalu mengulurkan tangannya, aku hanya diam tidak mengerti, hingga dia berkata "mana kunci mobilmu?". aku baru tersadar dan mengambilnya dari dalam tasku.
Sepanjang perjalanan, aku hanya menangis memandang keluar jendela, Fauzi yang sedang fokus menyetir hanya diam, dan tiba-tiba menepi begitu saja. Aku menoleh ke arahnya, dia menatapku dengan tatapan mata yang tidak bisa kuartikan maknanya, lalu dia berkata "Aku akan menikahi kamu". Aku sama sekali tidak mengerti, otakku tidak bisa mencerna kata-kata Fauzi saat itu.
"maksudnya?". Tanyaku kepada Fauzi, untuk memastikan apakah aku salah dengar.
"Aku akan menikahi kamu, segera kalau kamu mau". Fauzi mengulang kata-katanya.
"kenapa?". Sepertinya bukan aku yang salah dengar, tapi dia yang salah bicara.
"panjang ceritanya, sekarang yang harus kamu pikirkan adalah anak kamu, Aku siap nikahin kamu secepatnya".
"tapi kenapa? kamu kan sahabatnya Randy?". Aku masih belum mengerti.
"aku akan menjelaskannya nanti setelah kita menikah, InsyaAllah minggu ini kita menikah kalau kamu mau, semakin cepat semakin baik, anggap saja kita ta'aruf, kita akan belajar mencintai nanti setelah sah". Tatapan matanya tidak ada keraguan, aku yang masih belum paham hanya terdiam.
"aku bukan wanita baik-baik, kamu juga baru mengenalku hari ini". Bukan aku tidak mau menikah dengannya hanya saja aku masih belum mengerti dengan maksud hatinya.
"setiap orang berhak mendapat kesempatan kedua, begitupun aku dan kamu, aku juga bukan orang yang baik, jika kamu mau, aku yang akan menyiapkan segalanya". Tatapan mata Fauzi semakin terlihat serius, aku semakin bimbang.
"apa kamu yakin?". tanyaku sekali lagi. Dalam hati aku butuh seorang ayah untuk anakku, aku tidak membutuhkan materi dari Fauzi karena aku masih mampu mencari uang sendiri, tapi bagaimana dengan masa depan anakku yang lahir tanpa ayah? dan apakah aku tidak terlalu egois untuk membuat orang asing bertanggung jawab atas dosaku dan Randy?.
"akan ku buktikan..!!". jawabnya tegas.
***
Sore itu, setelah pulang dari cafe, Fauzi mengajakku bertemu ibunya, dia memperkenalkan aku sebagai calon istrinya, ibunya sungguh terkejut tapi terlihat sangat bahagia, Fauzi mengutarakan niatnya menikahi aku secepatnya pada ibunya, sang ibu hanya mengangguk seraya memeluk Fauzi. Ibunya begitu baik padaku, padahal kami baru pertama bertemu.
Fauzi mengeluarkan seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan emas yang telah di rangkai dalam bentuk parcel mahar dari kamarnya, aku terkejut sekali lagi, apakah dia cenayang yang bisa melihat masa depan, hingga dia mampu mempersiapkan segalanya sebelum aku datang?.
***
Tepat seminggu setelah aku bertemu dengan Randy, aku melaksanakan pernikahan dengan Fauzi, pernikahan sederhana yang hanya di hadiri oleh orangtua kami dan beberapa saksi, ayahku juga terkejut ketika Fauzi datang dan meminta ijin menikahiku 3 hari yang lalu.
Acara berjalan lancar, bahkan Fauzi dengan Lancar mengucap Ijab Qobul, padahal baru satu jam yang lalu dia tau nama panjangku, "saya terima nikah dan kawinnya Rossa Amalia Agiasti binti Alim Kusnandar dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai..!!".
"sahhhh ... "
***
Setelah menikah, aku tinggal bersama mas Fauzi, kini aku memanggil dia dengan sebutan Mas karena aku merasa harus menghormati dia sebagai suami sekaligus penyelamatku. Aku pindah tanpa membawa apa-apa kecuali pakaian, karena Mas Fauzi telah memiliki semuanya.
Malam itu, malam pertama kami sebagai suami istri, dia sibuk menata tempat tidur di kamar kami, Ada sebuah ranjang besar dan sebuah matras di bawahnya, dia mengatakan bahwa kami akan tidur terpisah walaupun sekamar, dia masih menjaga perasaanku yang masih terluka.
Kami masih mengobrol hingga hampir tengah malam, mas Fauzi bercerita tentang alasanya menikahiku, ternyata dia memiliki masalah infertilitas, tubuhnya tidak bisa menghasilkan sp*rma sebagaimana mestinya, dia tau 3bulan yang lalu, menjelang pernikahanya bersama Anindya, Anindya adalah orang yang perfectsionis, dia ingin segalanya di siapkan secara sempurna sebelum menikah, bahkan test kesuburan pun dia lakukan dan ternyata mas Fauzi memiliki masalah dengan t*stisnya dan tidak bisa di obati, sehingga kemungkinan mas Fauzi memiliki keturunan hanya 2%, Sepulang dari RS Anindya langsung memutuskan hubungan mereka dengan alasan tersebut padahal pernikahan sudah di depan mata, hampir semuanya telah di siapkan termasuk mahar dan rumah yang sekarang kami tinggali. Mas Fauzi masih sakit hati jika mengingat hal itu, karena mas Fauzi tidak bisa memiliki keturunan, hatinya tergerak untuk menikahiku, setidaknya dia akan memiliki anak walaupun bukan darah dagingnya, mas Fauzi juga akan dengan iklas melepasku ketika aku tidak bisa mencintainya kelak, namun dia akan tetap mempertahankan anakku untuk bersamanya meskipun nanti kami berpisah. Dan dari situlah aku tau kenapa mas Fauzi telah memiliki mahar yang lengkap untuk menikahiku, ternyata semua itu di siapkannya untuk Anindya. Mas Fauzi orang yang tulus, bagaimana bisa Anindya meninggalkanya begitu saja, hatiku remuk mendengar ceritanya.
Jam 03.00 aku tidak bisa tidur lagi usai sholat malam, aku membuka kulkas yang ada di dapur, banyak bahan makanan, sayur, ikan, buah dan segala jenis bumbu ada di dalamnya, sepertinya ibu yang menyiapkanya kemarin sebelum aku kesini, aku memasak soto lengkap dengan perkedel dan tempe goreng, menyajikanya di atas meja makan. Pukul 06.00 setelah mandi aku membangunkan mas Fauzi, harusnya hari ini kami bekerja karena pernikahan kami serba dadakan jadi kami belum mengajukan cuti.
"mas bangun, sudah jam 6". aku menyentuh tangan mas Fauzi, tapi dia tetap tertidur pulas, sepertinya dia lelah setelah menyiapkan pernikahan kami sendirian.
"jam berapa?". Tanya mas Fauzi setelah membuka mata.
"jam 6 mas". lanjutku, lalu aku berdiri mencari sisir.
Mas Fauzi bangun dari tempat tidurnya,mengambilkan aku sisir lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah mas Fauzi mandi, aku menyiapkan 2 porsi soto di meja makan, dia keluar kamar dengan wajah keheranan.
"kamu ngga tidur semaleman? kok jam segini udah selesai masak?". mas Fauzi mengernyitkan dahinya.
"tidur kok mas, tadi abis sholat malem gabisa tidur jadi masak aja deh". jawabku sambil nyengir.
"jangan begadang, kasian dede, dia juga butuh istirahat, oke?". mas Fauzi menarik kursi di meja makan lalu mulai mengaduk sotonya.
Kami makan sambil mengobrol hal ringan, mas Fauzi sangat mudah akrab dengan orang lain,terkadang kami tertawa kecil di tengah perbincangan. Aku bersyukur atas hadirnya mas Fauzi di hidupku.
Usai membereskan meja makan aku masuk ke kamar untuk mengambil baju kerja yang masih ada di koper, mas Fauzi masih duduk di ranjang sambil memainkan Laptopnya.
"lhoh..gak siap-siap mas? nanti kesiangan lho".
"aku mau libur hari ini, kamu juga, kita periksa kandungan kamu, pasti dari awal tau hamil belum kamu periksain kan?". mas Fauzi begitu perhatian, bahkan pada anakku yang bukan darah dagingnya. Perkataanya membuatku begitu bersyukur, aku menatap wajahnya dalam-dalam, "kebaikan apa yang ku lakukan di masa lalu hingga bisa memiliki suami seperti mas Fauzi", batinku dalam hati.
"iya mas, habisnya aku malu kalo harus ke dokter sendirian, nanti pasti di tanya-tanya soal suami dan lain-lain". aku menjawab apa adanya.
"yaudah, sekarang kan udah punya suami jadi aman". mas Fauzi tertawa kecil.
***
Kami duduk di ruang tunggu sebuah klinik, menunggu giliran masuk ruang pemeriksaan. Terlihat nama dokter di pintu masuk ruang periksa "dr. Kiki Fauzia s.p.OG", aku sedikit takut, selama ini aku stress berat bahkan sebelum aku tau bahwa aku hamil, dalam hati aku terus berdoa semoga tidak ada apa-apa dengan anakku.
Setelah 45menit, tiba giliran kami untuk masuk, usai konsultasi sebentar, dokter menyarankan untuk melakukan USG, aku hanya menurut, mas Fauzi begitu antusias.
Di layar monitor terlihat lingkaran hitam dengan benda kecil di dalamnya, itu adalah Bayiku, 10 minggu, atau sekitar 2 setengah bulan, dia sehat, aktif dan detak jantung serta berat badannya normal, aku sangat lega, mas Fauzi tersenyum melihat dia bergerak-gerak kecil.
"buk, ini kan usianya 10 minggu, babynya sehat, tapi ibunya yang terlalu kurus, jangan stress apalagi diet ya buk, makan yang banyak, semakin besar kandunganya semakin banyak kebutuhan energy, nanti saya kasih vitamin di minum rutin ya buk". dokter itu memberi saran setelah melakukan USG.
"oh iya, jangan terlalu sering berhubungan dulu ya pak, usia di bawah 20minggu kan masih rentan, kalaupun berhubungan, ya jangan seperti biasanya, pelan-pelan aja". Aku dan mas Fauzi saling melirik canggung, dokter tersebut mengatakan hal seperti itu dengan mudahnya, kami yang merasa malu mendengarnya.
"iya dok". Hanya itu yang bisa ku katakan.
***
Hari demi hari ku lewati dengan mas Fauzi, semakin aku mengenal dia, rasa cinta dan sayang perlahan tumbuh di hatiku, aku selalu tersentuh setiap mendapatkan perlakuan manis darinya, dan kini aku dan mas Fauzi telah tidur seranjang selama hampir satu bulan belakangan ini. Kandunganku juga semakin besar, sudah memasuki usia 5bulan. Mas Fauzi selalu gemas ketika mengelus perut buncitku, dia ingin sekali segera bertemu dengan bayi kecil yang masih dalam kandunganku.
Suatu hari, ketika aku sedang memasak dan mas Fauzi menemaniku, terdengar suara bunyi bel rumah kami, mas Fauzi berjalan keluar dan aku tetap dengan aktifitasku, tak lama kemudian mas Fauzi masuk kembali, dia mengatakan bahwa yang datang adalah Randy dan Sita, dia menyuruhku masuk ke kamar segera. Hingga saat ini Randy tidak tau bahwa yang dinikahi mas Fauzi adalah aku.
"heh.. lama banget sih buka pintunya". Terdengar suara Randy dari dalam kamarku.
"ah .. ganggu orang lagi enak-enak aja". Jawab mas Fauzi sambil tertawa.
"mana istri mu? masa aku gak tau siapa istrimu". Tanya Randy penasaran.
"dia tidur, maklum, ibu hamil bawaanya tidur terus, dah sini duduk dulu, sita silahkan duduk". Sita hanya tersenyum ramah.
"lhoh udah hamil to? berapa bulan?". Randy semakin terkejut.
"udah masuk 5bulan". Jawab mas Fauzi jujur.
"dasar buaya, hamil duluan ternyata, pantesan serba dadakan". Randy yang tidak tau menau tentang Infertilitas mas Fauzi tertawa renyah, padahal ini semua ulah dirinya.
"eh.. ngapain tumben kesini?". Mas Fauzi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"gini Zi, kita kan temenan udah lama, besok hari senin depan aku nikah, aku pengen kau yang jadi saksinya, bisa ngga?". Randy berbicara serius.
"jam berapa? dimana?". Tanya mas Fauzi.
"jam 10, di gedung serba guna deket kantorku, yang depannya Bank BRI, tau?". jawab Randy.
"ohh iya tau, dresscodenya warna apa?".
"Aku pake baju putih buat akad, kau pake item aja". jawab randy sambil mngulurkan kartu undangan, karena tidak akan bisa masuk kalau tidak menggunakan kartu undangan.
"aku pasti dateng sama istriku, kalian abis nikah mau tinggal dimana?". Tanya mas Fauzi.
"kami udah bikin rumah sih, deket rumah mamaku, belum 100% jadi, masih dalam proses", Jawab Sita yang sedari tadi diam saja. Mas Fauzi paham, Randy menikahi Sita karena sita kaya raya, anak tunggal, papa mamanya dokter dan memiliki sebuah klinik bersalin yang cukup besar. Sedangkan Randy, dia orang biasa yang bekerja di perusahaan provider. Papa dan mama sita awalnya tidak setuju, namun Sita terus memaksa, hingga pernah minggat dari rumah demi bisa menikah dengan Randy.
"Jauh dari kantormu dong Ran?".
"nanti abis nikah aku minta mutasi ke deket rumah kami". Randy sungguh tidak tau malu, dia pasti sangat senang sekarang, karena keinginannya terwujud.
***
Tiba di hari pernikahan Randy, aku dan mas Fauzi bersiap-siap, mas Fauzi mengenakan setelan jas berwarna hitam, rambutnya di tata rapi, aku tertegun melihatnya, dia semakin membuat aku jatuh cinta akhir-akhir ini. Aku memakai gaun hitam selutut model sabrina, gaun dengan bahan Brokat yang dikombinasikan dengan tile, mas Fauzi membelikanku gaun ini karena pakaianku hampir semuanya sudah tidak muat setelah berat badanku naik 10kg.
Sebelum berangkat, mas Fauzi memeluk tubuhku dari belakang dan dia mengatakan jika aku tidak siap atau tidak ingin ikut, maka aku tidak usah ikut, dia tidak ingin aku merasa sakit hati ataupun stress yang akan berpengaruh kepada anak kami( ya, anak kami, mas Fauzi ingin aku menyebut anakku dan Randy dengan sebutan anak Kami, dia ingin menjadi ayah yang seutuhnya untuk anak kami). Aku yakin untuk tetap ikut, lagipula kini perasaanku dengan Randy sudah tidak ada lagi, aku telah memiliki hidup yang sempurna, Randy hanyalah masa lalu yang tidak lagi mengganggu pikiranku.
Setelah berkali-kali meyakinkanku, Aku dan mas Fauzi berangkat ke tempat pernikahan Randy dan sita, kami memberikan kado berupa sebuah kulkas model terbaru yang langsung di kirim ke rumah baru mereka.
Kami sampai di tempat pernikahan Randy dan Sita 30menit sebelum akad, aku dan mas Fauzi duduk di dekat tempat akad, lalu kami mendengar 2 orang berbicara dengan panik, karena penyanyi yang diundang untuk menyanyikan lagu pengiring pengantin tidak bisa datang, mereka tampak putus asa setelah menelpon kesana kemari, mas Fauzi melihatku, dia tau kalau aku sering bernyanyi di cafe atau acara hajatan, entah kenapa aku ingin sekali menyanyi disana waktu itu, aku ingin membuat Randy terkejut dengan kehadiranku. AtS izin mas Fauzi aku berniat membantu orang-orang tersebut.
"pak, maaf tadi saya mendengar bapak nyari penyanyi ya?". tanya mas Fauzi pada salah satu dari dua pria tadi.
"iya pak, ini malah penyanyinya gak bisa dateng, nyari pengganti juga gak dapet". wajah pria usia 40 tahunan itu terlihat kusut.
"ini pak, istri saya juga sering nyanyi di cafe dan hajatan, kalo boleh istri saya mau membantu.
"lhoh...boleh banget pak kalau mau, tapi penyanyi pop kan pak bukan dangdut?". tanya pria yang satunya.
"iya pak, pop". jawabku.
"saya tanya sama bos saya dulu ya mbak, sebentar saya panggilkan". Dan tidak lama seorang wanita yang agak gendut datang.
"heyyy, ocha, ya Allah cha, kamu ternyata to, Alhamdulillah ya Allah". wanita itu adalah bu Sandra, seorang WO yang beberapa sering mengajakku untuk mengisi acara.
"iya mbak, saya bantu ya,. kali ini gratis, karena ini pernikahan temen suamiku". jawabku sambil menjabat tangan mbak Sandra.
"lhoh..sudah menikah? ehh...malahh sudah hamil ya?". mbak Sandra terkejut karena beberapa bulan lalu aku masih bekerja bersamanya.
***
Akad nikah akan segera dimulai, Randy dan beberapa orang keluarganya keluar dari dalam sebuah ruangan, senyumnya mengembang lebar, tanda bahwa dia begitu bahagia, dia duduk di meja Akad, mas Fauzi menempatkan juga menepatkan diri sesuai arahan pak penghulu, Sita masih di dalam, dia akan keluar nanti setelah akad selesai dan di iringi dengan lagu A thousand years milik Christina Perri yang akan ku bawakan.
Sebelum akad dimulai, Randy mengedarkan pandanganya, lalu tatapan matanya terhenti ketika melihatku, matanya hampir keluar, dia sampai tidak menghiraukan pak penghulu yang sedang berbicara kepadanya, hingga mas Fauzi menepuk pundaknya.
Randy 2 kali salah dalam mengucapkan ijab qobul, sampai pak penghulu memberikan sebuah kertas kecil kepadanya bertuliskan kalimat yang harus dia ucapkan agar tidak salah lagi. Dan akhirnya .. sahhh .. mereka resmi menjadi suami istri. Sita keluar dari balik tirai di iringi dengan nyanyianku.
Aku menyanyi dengan penuh penghayatan, pandangan mataku tertuju pada mas Fauzi, betapa aku jatuh cinta pada suamiku, laki-laki hebat penyelamat hidupku.
Sita keluar dengan anggun di iringi bridesmaidnya, wajahnya tertutup veil, karena konsep pernikahan mereka adalah pernikahan modern jadi tidak ada acara adat. Sita sampai di hadapan Randy yang telah menunggunya di pelaminan, Randy membuka kain yang menutupi wajah istrinya, lalu mereka berciuman, saat berciuman, lirikan mata Randy tertuju ke arahku, seolah dia mangatakan bahwa aku telah kalah darinya, Aku hanya terus bernyanyi hingga Lagu selesai.
Setelah acara itu, Randy dan Sita berganti baju untuk acara resepsi dan menerima tamu, aku dan mas Fauzi masih duduk sambil menunggu mereka untuk mengucapkan selamat, berkali-kali mas Fauzi memuji penampilanku, dan aku hanya tersenyum malu.
Mas Fauzi beranjak dari tempat duduknya untuk ijin ke toilet, aku mengangguk, lalu dia berjalan ke arah luar gedung, karena kamar mandinya berada di gedung sebelah.
Saat aku menunggu mas Fauzi, suasana begitu sepi hanya ada beberapa petugas catering yang menyiapkan hidangan dan petugas WO yang lalu lalang, tiba-tiba ada seseorang yang menarikku ke sebuah lorong sepi, mulutku ditutup dengan salah satu tangannya. Randy, dia datang dengan tatapan mata membunuh, melemparku ke arah dinding, tangannya menutup mulutku, lalu dia memaki dan mengancam aku dengan kata-kata kasar "kenapa kamu datang, aku sudah bilang, gugurin anak haram itu, dia cuma biang masalah buat hidupku, p*lacur kaya kamu harusnya ku beresin dari dulu, sayangnya aku terlambat, jangan bikin masalah atau bakalan aku bunuh anakmu". Aku berusaha melepaskan tangannya, dia mencekik leherku lalu meludahi wajahku sambil berkata "sekali lagi kamu muncul di hadapanku, aku bakalan bikin anak dalam kandunganmu mati di depan matamu" sambil menunjuk perut buncitku, dia mengira kedatanganku untuk merusak pernikahannya, sehingga dia begitu murka. Aku hanya bisa menangis, dia melepaskan tangannya lalu pergi begitu saja, aku membersihkan wajahku dengan tissue dari dalam tasku, lalu aku berjalan kembali ke tempat pesta, terlihat mas Fauzi sedang mencariku dia tampak cemas, tapi setelah melihatku senyumnya mulai mengembang , Aku sengaja tidak bercerita pada mas Fauzi karena aku ingin nanti mas Fauzi memperkenalkan aku sebagai istri di depan Randy dan Sita.
Randy dan Sita telah selesai berganti pakaian, banyak tamu yang baru hadir menunggu mereka di bawah pelaminan untuk memberi selamat, aku dan mas Fauzi ikut mengantri, dari kejauhan kulihat Randy dan Sita terus tersenyum bahagia, rasa benciku timbul kembali setelah apa yang dia perbuat kepadaku tadi.
Mas Fauzi menggandeng tangaku menaiki tangga, Randy yang masih tersenyum lebar mengalihkan pandangannya kepadaku dan mas Fauzi, bibirnya seakan kelu, senyumnya sirna melihatku datang digandeng sahabatnya, mas Fauzi mengulurkan tangan kepada Randy, memeluk sahabatnya sambil mengucap selamat karena sedari tadi belum ada kesempatan, setelah itu mas Fauzi memperkenalkan aku sebagai istrinya, Randy terkejut, bagaimana bisa?, setelah mengucapkan selamat aku dan mas Fauzi pulang kerumah.
Beberapa hari kemudian,mas Fauzi yang sedang membuat laporan dirumah menerima telepon, dari Randy, dia menanyakan bagaimana bisa mas Fauzi menikahiku, dan mas Fauzi menjawab apa adanya, karena dia tidak ingin ada anak yang dilahirkan tanpa ayah, dia ingin menjadi ayah dari aku dan Randy, mas Fauzi juga berpesan, agar Randy tidak mengganggu apa lagi datang kerumah kami setelah anak kami lahir, dia menyuruh Randy untuk menjalani hidupnya seperti tidak terjadi apa-apa, mas Fauzi ingin memutuskan pertemanan mereka karena menganggap Randy sebagai laki-laki yang tidak menghargai perempuan dan hanya mementingkan harta. Sebelumnya aku sudah menceritakan apa yang randy perbuat di hari pernikahanya kepadaku, mas Fauzi begitu marah, dia berencana untuk memberikan Randy pelajaran tapi aku menahannya.
***
Hari ini, aku dan mas Fauzi pergi ke Rumah sakit ibu dan anak karena aku mengalami kontraksi secara rutin, sesuai dengan petunjuk dokter apabila kontraksi sudah datang setiap 5 menit rutin aku harus segera ke Rumah sakit, sesampainya di rumah sakit aku langsung di periksa dan ternyata sudah bukaan 8, bidan yang menanganiku sampai heran, bagaimana bisa menahan sakitnya, kenapa baru datang saat pembukaan 8. Mas Fauzi yang panik hanya mengenakan celana kolor dan kaos oblong oleh-oleh dari Singapore, aku sedikit geli melihatnya, sedangkan aku memakai celana legging hitam panjang dan baju hamil warna kuning bergambar pisang yang ku beli di pasar malam beberapa waktu lalu, aku tertawa geli membayangkan penampilan kami berdua, mas Fauzi keheranan melihat aku tertawa, tapi aku tidak punya kekuatan untuk menjelaskanya.
Pukul 13.00 anak kami lahir, berjenis kelamin laki-laki, dengan berat 4 kilogram, melalui kelahiran normal, mas Fauzi mengumandangkan adzan di telinga anak kami, dia begitu lembut kepada bayi kecil yang sudah di tunggu-tunggu kehadirannya itu.
Kami memberi nama anak kami dengan nama "GALA KHALEED ABDILLAH" nama belakangnya adalah nama mas Fauzi. Mas Fauzi mengambil cuti satu minggu, dan selama dia cuti, aku tidak pernah memegang Gala selain saat menyusui, semuanya di lakukan oleh mas Fauzi di dalam bimbingan Ibu, mertuaku.
***
Tiga bulan pasca kelahiran Gala, aku merasa badanku sakit, tidak berselera makan, mual muntah tiada henti, mas Fauzi sangat khawatir karena aku menangis sepanjang malam, sehari ini Gala sama sekali tidak mau menyusu, payudaraku membengkak, mas Fauzi hanya bisa memelukku setiap aku menangis. Pagi harinya kami pergi ke dokter, konsultasi sekalian imunisasi Gala.
"dok, kenapa ya anak saya dari kemarin tidak mau menyusu, payudara saya jadi bengkak dok". tanyaku mengawali konsultasi.
"ibu makan sesuai anjuran? tidak makan/ minum sesuatu yang aneh atau beraroma tajam kan?". tanya dokter Kiki, dokterku dari awal hamil Gala.
"nggak dok, saya makan biasa, sayur lauk pauk sama nasi, akhir-akhir ini saya juga kehilangan selera makan saya dok, mual muntah pusing". keluhku pada dokter kiki.
"ibu ngga KB kan? jangan-jangan ibu hamil lagi?". aku dan mas Fauzi saling menatap satu sama lain, kami memang tidak melakukan KB karena alasan infertilitas mas Fauzi, kami tidak ingin kehilangan kesempatan jika suatu hari ada kesempatan sp*rma mas Fauzi normal seperti seharusnya.
"hah? masa hamil dok, kan saya di diagnosa infertilitas dok, dan saya belum melakukan terapi seperti yang di sarankan, memang bisa hamil dok". tanya mas Fauzi heran. Aku dan mas Fauzi memang jujur kepada dokter Kiki tentang Gala yang bukan anak mas Fauzi sejak awal kehamilan, karena rencananya kami akan melakukan terapi untuk mas Fauzi dengan dokter Kiki nanti setelah Gala 2 tahun.
"bisa saja pak, dengan pola makan baik, pola hidup baik, suasana hati baik, memungkinkan sekali untuk terjadinya perubahan, walaupun tidak sembuh tapi mungkin bisa membaik dengan beberapa faktor tadi". keterangan dokter Kiki membuatku dan mas Fauzi tersenyum lebar.
"ini buk, coba ke kamar mandi dulu, urinnya di tampung di sini ya buk". kata dokter Kiki sambil memberikan satu cawan kecil untuk tempat urin.
5menit menunggu hasil tes urin, aku dan mas Fauzi berpegangan tangan, aku sangat berharap bahwa aku benar-benar hamil anak mas Fauzi sehingga aku dapat mengobati lukanya akibat Anindya.
"iya buk, positif, kita USG aja ya biar tau usia kandungannya". dokter kiki beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan mas Fauzi masih diam tak bersuara, matanya berkaca-kaca, begitupun dengan aku. Lalu aku beranjak mengikuti dokter kiki masih dengan berpegangan tangan dengan mas Fauzi yang menggendong Gala.
"ini buk, kantong kehamilannya, usianya 5 minggu, normal, bagus, so far aman semuanya". ucapan dokter Kiki membuaku tenang.
Kami pulang dengan perasaan sangat bahagia, sesampainya dirumah, Gala berpindah tangan ke Utinya, aku dan mas Fauzi masuk ke dalam kamar, kami berpelukan, berkali-kali dia mengucapkan terimakasih, menciumiku terus menerus sambil menangis, suasana haru begitu terasa saat itu, aku memeluk tubuh mas Fauzi dengan erat. Tuhan tidak pernah memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya, aku dan mas Fauzi mendapat obat dari segala rasa sakit kami setelah menikah, Alhamdulillah, hanya itu yang bisa ku ucapkan.
***
Di sisi lain, Randy tengah berada di sebuah RS, menunggui Sita yang sedang di operasi, subuh tadi Sita tergelincir di tangga rumahnya karena kucingnya kencing sembarangan, Sita yang sedang hamil 3 bulan mengalami benturan keras di perutnya,kini dia sedang menjalani operasi angkat rahim karena rahimnya terluka, Randy hanya bisa menangis, karena dengan begitu dia tidak akan bisa memiliki keturunan dengan Sita, dia teringat bagaimana dia memperlakukan aku dan anak dalam kandunganku, dia menyesal, tapi meminta maafpun sudah tak mungkin, apalagi sampai memeluk anaknya yang di akui oleh mas Fauzi. Karma datang begitu tepat, tidak pernah salah alamat.
Sedangkan Anindya, setelah mendengar kabar bahwa mas Fauzi menikah dan memiliki seorang anak, dia kini mengalami depresi hingga harus menjalani pengobatan secara rutin untuk menyembuhkannya, setiap kambuh dia selalu mencari mas Fauzi dengan memakai gaun pernikahannya, ibunya pernah meminta mas Fauzi untuk datang tapi mas Fauzi menolak tegas.
Kini aku dan mas Fauzi sudah mendapatkan hidup yang bahagia setelah perjalanan panjang kami berdua, cinta datang tepat waktu, ketika luka merajam seluruh hatiku, cinta datang sebagai obat atas semua lukaku, cinta yang membuatku sadar, Tuhan tidak akan meninggalkanku sendiri selama aku masih dalam keyakinanku. Terimakasih mas Fauzi,kini hidupku damai setelah mengenalmu.
Tamat