Namaku Luciana, aku tinggal di german, aku adalah seorang anak yatim-piatu aku tak mempunyai ibu maupun ayah, sehingga aku di tinggal di panti asuhan. Tapi, ada satu hal yang pasti, aku selalu berpindah pindah panti asuhan karna ada sesuatu yang selalu aku takuti .
Mereka! aku takut jika mereka menemukan ku dan membawaku kembali ke sana. Sebuah tempat yang menyeramkan, di mana anak - anak yang seumuran denganku atau bahkan lebih tua dariku, akan di siksa dan di jadikan eksperimen. jika eksperimen gagal mereka akan di bunuh, karna sudah tak berguna lagi.
Kembali padaku, saat ini aku sedang bermain boneka sendirian di kamar. yah kalian tahu kamar yang di isi oleh beberapa kasur karna ini adalah panti asuhan. Jadi, bukan hanya aku yang ada di sini masih ada anak-anak panti yang lain. Namun, aku lebih memilih bermain sendiri.
"Akh, ini sangat membosankan, aku ingin segera keluar dari tempat ini" keluhku karna sudah tak tahan lagi. Jujur saja panti asuhan ini sebenarnya sudah tak terurus lagi karna pemilik yang sekarang hanya tahu mabuk - mabuk kan saja. kami bahkan harus mengurus diri kami sendiri masing-masing.
Tiba-tiba datang seseorang, yang katanya ingin mengangkat seorang anak yang pandai membaca dan menulis, dan umurnya harus sekitar 6 tahun. Dia adalah seorang pria tampan yang memakai jas hijau tua dan celana yang serasi dengan warna jas nya, pria itu memakai topi.
" Permisi! apakah ini benar panti 'asuhan mentari' ?" ucap pria itu.
" Hah? siapa? " ucap pengurus panti dengan linglung karna sedang mabuk.
" Apakah benar ini panti asuhan?" kata pria itu.
" Benar ini adalah panti asuhan, apakah kau ingin mengambil salah satu anak di sini?" tawar pengurus panti.
" Akh, aku ingin seorang anak yang pandai membaca dan menulis, umurnya sekitar 6 tahunan" ucap pria itu.
" Hmm... sepertinya akan bagus jika anak itu segera keluar dari panti ini, dia adalah anak yang sangat merepotkan dan susah di atur" pikir pengurus panti. " Ahk.. bagaimana jika Luci saja, dia adalah satu-satunya anak yang pandai membaca dan menulis di panti ini" ucap pengurus panti.
kemudian pengurus panti membawa pria itu masuk dan memperlihatkan ku pada nya.
" Nah Luci, mulai sekarang dia akan menjadi orang tua mu" ucap pengurus panti padaku.
" Tuan apakah benar dia anak berumur 6 tahun?" tanya pria itu setelah melihat ku, atau lebih tepatnya dia melihat tinggi badanku yang terbilang agak pendek karna tak sesuai dengan umurku.
" Luci berumur 6 tahun kok! " ucapku karna tak terima di bilang tak terlihat seperti berumur 6 tahun, meskipun memang kenyataannya aku pendek.Lalu aku pun membuktikan diriku dengan mengisi teka-teki silang yang ada di atas meja di samping ku. Setelah mengisinya pria itu melihat semua jawaban ku yang ternyata benar semua, dia terkejut dengan itu. Kemudian dia pun membawa ku pergi dari panti asuhan (mengangkat ku menjadi anak nya).
Setelah keluar dari panti asuhan pria ini membawa ku ke suatu tempat." Nak, mulai sekarang ini adalah rumah mu dan jika ada seseorang yang bertanya, jawab saja namamu Luciana Smith dan kau adalah anak kandung ku" ucap pria itu.
"Ya! papah " ucapku dengan mengangguk lucu.
Kemudian datang seorang bibi dan bibi itu menyapa ku dan papah.
" Halo tuan, apakah anda tetangga baru di sini?" tanya bibi itu. " Benar nyonya, kami baru saja pindah ke sini" jawab papah. " Wah.. apakah ini adalah anak mu dia sangat lucu, adik kecil siapa namamu?" kata bibi itu.
" Halo nyonya perkenalkan namaku Luciana Smith, mulai sekarang aku adalah anak papah" ucapku dengan polos. " Hah.. bagaimana bisa dia berbicara seperti itu" batin papah.
Kami pun masuk ke dalam rumah setelah sapaan dari bibi tadi. Di dalam rumah aku merasa sangat senang aku melihat tv dan menonton film Kesukaan ku yang berjudul spy x assassin. Itu adalah film yang sangat seru. saat aku menonton tiba-tiba papah menyuruhku segera untuk pergi mandi, dan papah mematikan tv nya.
" Luci kau harus segera mandi dan membersihkan dirimu!" ucap papah menyuruhku untuk mandi, dan aku mengerucutkan bibir ku karna aku tak mau pergi mandi. Lalu papah mengangkat tubuhku dan membawaku ke dalam kamar mandi. "Pergilah mandi dan bersihkan tubuhmu" ucapnya sambil menutup pintu kamar mandi. Setelah selesai mandi aku dan papah pergi ke keluar, untuk membeli bahan-bahan makanan.
" Papah Luci ingin peanuts ( kacang )" ucapku sambil menunjuk ke arah toko. " Yah nanti akan ku belikan " ucap papah. " Tapi Luci ingin sekarang" Kata ku dengan merengek. " Uh, baik - baik berhenti merengek" kata papah dengan melihat sekitar, karna saat aku merengek tadi orang-orang memperhatikan kami.
Kami pun membeli peanuts, dan melanjutkan belanja kami, "Banyak sekali makanan nya" ucapku. " Tentu saja, semua makanan ini untuk persediaan di dapur" jawab papah. " Um.. papah Luci mengantuk.." kata ku sambil menggosok gosok mataku karna merasa mengantuk. Papah yang melihat ku langsung menggendong ku, hingga kami pun sampai di rumah, dan papah menidurkan ku di kamar ku.
Beberapa hari telah berlalu, papah menyuruhku untuk belajar agar aku bisa masuk ke LOYAL ACADEMY, tempat di mana anak-anak bangsawan bersekolah di sana. Singkat nya aku telah melewati ujian masuk ke LOYAL ACADEMY, dan aku berhasil dalam ujian masuk itu, papah merasa sangat senang.
Keesokan harinya aku dan papah pergi ke LOYAL ACADEMY , di sana banyak sekali anak-anak yang seumuran denganku, dan aku mendapatkan satu teman perempuan dia terlihat sangat lucu menurutku, dia adalah anak yang sangat baik. Saat ini kepala sekolah LOYAL ACADEMY sedang berbicara di depan kami semua, sebagai upacara penerimaan murid baru dan selamat datang untuk kami.
Tak terasa sudah 2 bulan berlalu, saat ini papah akan pergi ke suatu tempat, dan papah tidak memperbolehkan ku untuk ikut bersamanya. " papah aku ingin ikut!! " rengek ku yang membuat papan pusing. " Kau tidak bisa ikut, aku ada sedikit urusan jadi, kau tinggal lah di sini jaga rumah jangan bukakan pintu jika bukan aku yang mengetuk. mengerti! " kata papah. Kemudian papah pergi dan menutup pintunya.
Saat ini aku sedang tiduran di atas sofa dekat tv aku merasa bosan karena film kesukaan ku tidak tayang hari ini. Aku yang merasa bosan pun tiba-tiba teringat dengan kata-kata yang diucapkan papah di pikirannya. " Benar! bagaimana jika aku pergi ke kamar papah, di sana pasti ada barang - barang yang bagus" ucapku pada diriku sendiri. kemudian aku pergi ke kamar papah dan membuka password kamar papah, aku mengetahuinya karna aku mendengar pikiran papah.
Setelah memasuki kamar papah aku melihat sekeliling, dan menemukan sebuah kotak hitam dengan sebuah sandi di tengahnya. kemudian aku membuka sandi itu sesuai dengan angka yang ada di pikiran papah. " Wah, ada sebuah pistol, dan barang apa ini barang ini terlihat sangat luar biasa!! " ucap ku yang menatap barang-barang keren yang ada di dalam kotak hitam itu. Aku pun menekan beberapa tombol aneh di sana dan benda itu hidup kemudian muncul gambar aneh yang tidak ku mengerti.
Di tempat lain. " Bos!! kita menemukan sinyal dari mata mata barat " ucap salah seorang bawahan di sana. " Cepat selidiki di mana keberadaan sinyal itu, kita akan ke sana dan segera menangkap mereka!! " perintah si bos.
Tak berselang lama tiba-tiba seseorang datang dengan mendobrak pintu, ku pikir itu adalah papah, jadi aku cepat-cepat membereskan barang-barang yang ada di kotak hitam itu. Tiba-tiba seseorang membungkam mulut ku dan memasukkan ku ke dalam karung, aku benar-benar sangat ketakutan.
" Bos! kita menemukan anak ini di kamar tempat sinyal itu di temukan " ucap salah satu bawahan. " Bawa anak itu bersama kita mungkin dia bisa di jadikan sandera, untuk menangkap mata mata itu " ucap si bos.
Beberapa menit kemudian, Twilight memasuki rumah dan melihat kondisi rumah yang berantakan. Dia langsung melihat ke arah pintu kamarnya yang terbuka dan langsung pergi terburu buru ke luar dari rumah. " Frank cepat selidiki di mana keberadaan putri ku!! " ucap Twilight pada teman nya yang bernama Frank. " Tunggu sebentar" kata Frank. " ketemu! mereka ada di gedung terbengkalai di pinggir kota!!" ucap Frank.
Twilight pun segera pergi ke sana, dan memasuki gedung itu. Di sana dia menemukan sekelompok penjahat yang menangkap putrinya. " Haha.. tak ku sangka Davian si mata mata ternyata datang ke sini hanya demi putri kecilnya" ucap si bos penjahat itu. Davian adalah nama samaran yang di gunakan Twillight saat menjadi mata mata.
" Menyerah lah jika tidak kami tak akan segan-segan untuk menyakiti putri mu" Kata si bos itu, dengan mengancam Twilight menggunakan putri nya. Namun Twillight tidak bergeming sedikitpun dan dia malah langsung menghajar para penjahat itu dan mengalahkan mereka semua dalam waktu lima menit, dengan melakukan beberapa trik yang membuat para penjahat kalah.
Si bos yang melihat itu gemetar ketakutan, dia kemudian mencoba untuk menjadikan ku sebagai sandera agar dia bisa melarikan diri. Tapi, papah berhasil menghalanginya dan menghajar nya. Kemudian papah pun membawa ku ke luar.
" Apa kau baik-baik saja" tanya papah padaku.
" A..aku baik-baik saja" jawab ku meskipun sebenarnya aku masih cukup ketakutan setelah mengalami kejadian tadi.
" Hah, jelas-jelas badan nya gemetar dia pasti sangat ketakutan, apa sebaiknya ku kembalikan saja dia ke panti asuhan. Sepertinya begitu lebih baik, aku tak bisa melibatkan seorang anak kecil dalam bahaya hanya karna misi ku" pikir papah.
Aku yang mendengar pikiran papah itu langsung memeluk erat tubuh papah dan berbicara pelan.
" Jangan buang Luci, Luci ingin papah" ucapku pada papah. " Hah, memangnya siapa yang ingin membuang mu aku tak akan melakukan hal itu" kata papah padaku.
" Benarkan.. " kata ku " Yah" jawab papah. " Sepertinya aku harus memikirkan kembali rencana untuk mengembalikannya ke panti " pikir papah.
Beberapa hari kemudian, aku dan papah sedang pergi berlibur ke pantai dengan teman papah. Namanya adalah paman Frank dia orang yang sangat baik. " Paman Frank! ayo temani Luci bermain pasir" ucapku dengan sedikit berteriak pada paman Frank, karna paman Frank berada cukup jauh dariku. " Baik-baik tuan putri kecil, akan ku temani bermain pasir " kata paman Frank.
Kemudian kami pun bermain pasir bersama. " Papah ayo temani aku dan paman Frank membuat istana pasir " kata ku pada papah. Papah pun ikut bermain bersama, kita bermain di pantai hingga sore dan kemudian kembali ke rumah.
Sudah 2 bulan berlalu, saat ini aku sedang berada di ACADEMY dan sedang makan siang bersama temanku yang bernama Estella Warren. " Luci makan siang apa yang kau bawa hari ini? " tanya Estella padaku.
" Aku membawa makanan yang di buat oleh papah untuk ku" jawab ku sambil membuka kotak makan ku, dan memperlihatkan nya.
" Wah sepertinya terlihat sangat enak " kata Estella saat melihat makanan ku, lalu kami pun memakan bekal kami.
Jam pulang sekolah pun tiba, saat ini aku sedang menunggu papah menjemput ku pulang ke rumah. Tiba-tiba ada seseorang yang membungkam mulut ku, saat aku ingin melihat orang itu mataku terasa mengantuk dan aku hanya samar - samar melihat orang yang membungkam mulutku.
Aku perlahan membuka mataku, dan melihat sekeliling. " Tempat yang tidak asing " gumam ku.
" Hahahaha.. akhirnya tikus kecil kita yang telah melarikan diri, dan terus menerus bersembunyi telah tertangkap " kata seseorang dengan suara yang cukup familiar di kepala ku.
" Si..siapa kamu? kenapa kau menangkapku?" tanyanya ku dengan ketakutan. Entah kenapa rasa takut yang telah lama menghilang ini tiba-tiba muncul kembali, seperti rasa takut...
Lalu aku pun mengangkat kepala ku, dan melihat ke arah seseorang yang datang mendekat ke arah ku. saat melihat wajah dan penampilan nya yang tak asing, wajahku langsung memucat.
Deg..
"Hah, ada apa? apa kau sudah melupakan ku? " tanya nya padaku dengan menjepit kedua pipiku dan mengangkat kan wajah ku ke arah depan, agar aku bisa melihat nya dengan lebih jelas lagi.
Aku tak menjawab pertanyaan nya, kemudian dia kembali berbicara. " Tikus kecil yang tidak menurut bukan kah harus di hukum? " .
Kemudian dia memerintahkan seseorang untuk membawaku ke suatu tempat." Cepat!! bawa dia ke ruang hukuman ". Orang-orang itu membawa ku ke tempat yang tak asing. Deg, Tempat ini....
" Tidaakkk... " teriak ku dengan menggelengkan kepala, dan memberontak agar aku tak di masukkan ke dalam sana. Tapi, tak peduli seberapa keras aku berteriak dan memohon padanya aku tetap di masukan ke dalam sana.
" Kumohon jangan lagi, jangan masukan aku ke sana lagi" pikirku dengan ketakutan.
" Hahaha... sepertinya kau telah mengingat kembali masa-masa hukuman mu itu, maka dari itu kenang lah kembali semuanya dan nikmati hukuman yang ku berikan!. hahahaa... " katanya dengan melihat ke arahku yang terlihat dalam kondisi yang sangat buruk.
Aku di masukkan ke dalam sana, pintunya terkunci lebih tepatnya di gembok. Lalu secara perlahan suasana di sekitar ku, yang hanya memang tembok besi saja di sekelilingnya menutupiku. berubah, hawa panas tiba-tiba muncul di sana entah dari mana arah nya, aku merasakan rasa panas yang membakar tubuh ku. " Aaakkkkhhhhhh...... " aku berteriak merasakan rasa panas itu.
Beberapa menit kemudian rasa panas itu menghilang, dan di gantikan oleh hawa dingin yang tiba-tiba muncul menutupi ruangan ini, aku menggigil kedinginan seluruh tubuhku yang terkena luka bakar tampak membeku, aku merasa seolah olah aku akan segera mati hanya dalam hitungan detik.
" Matikan itu, biarkan dia seperti itu " perintah nya yang ku dengar samar-samar di dalam sini, dan aku sudah tak merasakan hawa dingin itu lagi. Tapi, tubuhku sudah sangat sulit untuk di gerakkan, karena hawa dingin itu telah memasuki pembuluh darahku. Aku merasa seolah-olah darahku benar-benar membeku di dalam sana. Selain itu aku juga merasakan sedikit hawa dingin yang memasuki paru-paru ku, sehingga aku sedikit kesulitan untuk bernafas.
Di tempat lain " Frank!! Cepat temukan di mana keberadaan putri ku " ucap Twilight kepada Frank dengan panik di telepon.
" Tunggu sebentar, sebenarnya ada apa? bukankah kau sedang menjemput putri mu di ACADEMY ? apa terjadi sesuatu di sana? " tanya Frank dengan bertubi-tubi . " Berhenti bertanya! cepat temukan keberadaan putri ku, dia menghilang saat aku akan menjemputnya di depan gerbang sekolah! " jelas Twilight pada Frank.
Setelah itu Twillight pergi ke arah lokasi yang di tunjukkan oleh Frank, dan segera memasuki tempat itu. Tetapi, karna ada banyak sekali penjaga yang menghalangi, dia pun terpaksa harus membunuh semua penjaga itu dengan peralatan yang selalu di bawanya, sebagai seorang spy ( mata-mata ).
Setelah mengalahkan semuanya, dia kemudian kembali menghubungi Frank dengan alat komunikasi khusus untuk spy.
" Frank di mana letak ruangan yang mengurung putri ku? " ucapnya sambil berlari dengan tergesa-gesa.
" Kau tinggal lurus, kemudian belok kiri, dan hadapi beberapa penjaga di sana " kata Frank yang sedang meretas cctv seluruh bangunan itu. " Lalu, ke mana selanjutnya? " tanya Twillight. " Lurus terus dan kau akan menemukan sebuah ruangan di ujung bangunan itu, di sana ada sebuah pintu yang terbuat dari logam murni dengan sebuah kata sandi untuk membukanya" kata Frank dengan memberikan arahan pada Twilight.
" Tidak bisakah kau buka kan pintunya untuk ku? " tanya Twillight. " Aku sedang mencobanya namun, pintu itu tak bisa di buka! sepertinya satu-satunya jalan adalah kau harus membuka kata sandi itu dengan tanganmu sendiri !! " Ucap Frank pada Twilight. " Oh ya, kau harus berhati-hati! sepertinya akan ada bahaya yang jauh lebih sulit untuk di hadapi " kata Frank pada Twilight untuk berhati-hati saat memasuki ruangan di balik pintu itu. Alasan kenapa Frank mengatakan itu karna di dalam sana tak ada cctv jadi, dia tak bisa mengetahui apa yang sedang menunggu Twillight di dalam sana.
Kemudian Twilight pun membuka kata sandi nya, dan masuk ke dalam sana. Sesampainya di dalam sana, Twillight melihat banyak sekali pintu yang menandakan jika masih ada beberapa ruangan lain. Lalu dia pun pergi menelusuri satu persatu ruangan yang ada di sana, aneh nya ruangan itu tak ada satupun orang yang menjaga nya.
Hingga saat Twillight memasuki salah satu ruangan ia melihat jika di dalam sana terlihat sedikit aneh, di dalam sana terlihat berbeda dengan yang lain, karna setiap Twillight memeriksa satu persatu, isi dalam setiap ruangan itu sama semua, bahkan warna pintu di setiap ruangan juga sama. Hanya yang membedakannya, ada satu ruangan yang menggunakan gagang pintu kayu tidak seperti yang lain, yang menggunakan gagang pintu besi.
Dan ruangan itulah yang saat ini sedang di masuki oleh Twillight bahkan setelah memasukinya di dalam nya pun berbeda.
" Aneh, ruangan ini terlihat seperti tempat bresantai tapi, bagaimana mungkin ada orang yang akan bersantai dalam ruangan yang begitu suram dan tertutup " pikir Twillight. Lalu Twillight pun menelusuri setiap sudut ruangan, dan menemukan sesuatu yang aneh pada salah satu buku di sana. Buku tersebut terlihat lebih tebal dari yang lain, kemudian Twilight pun mengambil buku itu.
" Kenapa buku ini di tempatkan di rak paling bawah? " Pikir Twillight, lalu dia membuka buku itu dan dia melihat ada sebuah tombol berwarna merah di dalam nya. " Tombol " gumamnya. Dia menekan tombol itu tiba-tiba dinding yang ada di sebelahnya terbuka dan menampakkan sebuah lorong yang cukup gelap.
Di tempat lain, 'bug' "Aahhhkkk...." Teriak ku dengan menahan rasa sakit. " Lebih baik kau menurut jika tidak aku akan menambah hukuman mu" ucap seseorang. Lalu aku di bawa ke ruang laboratorium, dan aku di tempatkan di kursi khusus dan satu persatu tubuhku di pasangkan beberapa selang. Aku hanya bisa menurut sambil menahan rasa sakit, karna aku tak mau kembali di masukkan ke dalam ruang hukuman itu lagi.
Saat ini aku hanya bisa berharap ada seseorang yang akan menyelamatkanku, meskipun aku tau mungkin itu cukup mustahil. Karna tak pernah ada orang lain yang mengetahui tempat ini, kecuali orang-orang yang bekerja di tempat ini. Keadaanku cukup menyedihkan, kejadian yang tak ingin ku alami lagi, kini terulang kembali.
Di sisi Twillight, dia telah menelusuri lorong gelap itu dan banyak sekali jebakan yang menghalanginya, dan dia berhasil melewati semua jebakan itu, meski harus terluka. Twillight melihat sesuatu yang tak terduga, dia melihat banyak sekali anak-anak yang terlihat seumuran dengan Luci ada juga yang sedikit lebih tua. Anak-anak itu di kurung di penjara dan kondisi mereka terlihat sangat buruk. Kemudian Twilight pun segera pergi mencari Luci, dia khawatir saat ini kondisi Luci tak baik-baik saja seperti anak-anak itu.
Beberapa menit kemudian...
Brak!!
Suara pintu di buka dengan paksa, memperlihatkan seorang pria yang mengenakan pakaian jas berwarna hijau tua dalam keadaan yang kotor serta berantakan. yah pria itu adalah Twillight dia berhasil menemukan tempat di mana putrinya di kurung, dia melihat ke arah putrinya yang terlihat dalam keadaan yang sangat buruk. tatapan nya kosong saat dia melihat putrinya yang seperti itu.
" Beraninya kalian menyakiti putri ku!! " teriak nya marah pada orang-orang yang ada di sana.
" Hah, apakah ini adalah pria yang menjadi ayahmu?, kau menemukan seorang ayah yang cukup hebat, dia bahkan berhasil mengalahkan semua orang-orang ku dan dan yang paling menakjubkan dia berhasil melewati semua jebakan yang ku rancang secara khusus. benar-benar luar biasa. " ucap seseorang itu.
" Apakah kau orang yang membuat putriku menderita? " tanya Twillight pada seseorang itu. " Ya aku orang nya, ada apa? apakah kau akan membunuhku? atau kau akan menangkapku? " ucap seseorang itu.
Mendengar keributan itu aku menoleh dan melihat ke arah sana. Di sana aku benar-benar tak percaya dapat melihat papah. " Pa..pah" ucapku dengan suara yang lemah. Aku yang sudah tak memiliki tenaga lagi hanya bisa menatap lemah, bahkan aku tak kuat lagi untuk berbicara sekarang.
Di sana samar-samar aku mendengar suara orang yang sedang bertarung, aku melihat ke arah sana ternyata itu adalah papah yang sedang bertarung melawan orang itu. pertarungan mereka cukup sengit.
beberapa menit kemudian
Aku melihat orang itu telah di kalahkan oleh papah. kemudian papah menghampiri ku, aku dapat melihat dengan jelas dari dekat banyak darah di baju papah, bahkan kepalanya juga berdarah. Aku yakin papah pasti terluka.
Tapi saat papah melepaskan semua selang-selang yang menempel di tubuhku, aku melihat dari belakang papah orang tadi ternyata belum kalah.
Orang itu menembakan peluru ke arah papah, aku ingin berteriak untuk memberi tau papah tapi tidak bisa. Aku masih tak bisa mengeluarkan suara ku, dan aku melihat papah tertembak tepat di depan mata kepalaku sendiri. " Papah!!! " teriak batinku.