Dinginnya pagi bersama terpaan angin dengan campuran embun yang jatuh dari langit, menemani perjalananku menuju sebuah tempat beribadah yaitu sebuah masjid. Suara gemericik air terdengar oleh telingaku, bersumber dari sekumpulan air yang berjatuhan secara beraturan yang membuat hati semakin tenang terbawa irama arus yang ia hasilkan. Lantunan ayat suci yang khas membuat suasana hati menjadi tambah tentram dan terasa lebih berwarna dari sebelumnya, seperti sebuah goresan lembut kuas yang berada di atas triplek yang kosong.
Tak lama kemudian terdengar suara dengungan adzan yang berasal dari kubah masjid seakan seorang Bilal Bin Rabah sebagai orang pertama sekali mengumandangkan adzan. Dengan suara yang lantang terdengar dan merdunya alunan serta lekukan yang pas menjadi suara adzan ini terdengar sangat khas bagi pendengarnya. Suara pengurus bersahut sahut keras seperti seekor singa yang mau menerkam mangsanya, layaknya seorang Umar yang memberi arahan terhadap tentaranya yang ingin berperang. Walaupun dengan demkian mereka mempunyai hati selembut sutra yang siap menjadi tempat persinggahan keluh kesah anggotanya.
Kumulaikan langkah kecilku dari sebuah bilik kecil yang berada di pojok, yang tinggal di dalamnya lima orang. Dengan bermodalkan sebuah baju muslim lengan panjang dan sejuntai sarung yang menutupi bagian bawah serta sebuah jas sebagai tameng melawan hawa di luar dan sehelai sorban yang terlilit di leherku sebagai penghalang udara dingin, walaupun demikian tak jarang terpaan angin membuatku sedikit menggigil akan dinginya suasana shubuh pada waktu itu.
Mulailah kuambil sepasang sandal jepit yang aku punya sebagai alas yang layak untuk menuntun perjalananku. Langkah demi langkah kujalani dengan lantunan zikir di dalam hati. Hanya suara adzan yang terdengar di sepanjang perjalananku. Suara yang tambah lama tambah membesar dikarenakan semakin dekat dengan suara sumbernya.
Langkahku terhenti di sebuah tempat di mana tempat itu digunakan untuk mensucikan diri. Dengan suara percikan air yang keluar dari keran serta terpantul ke sebuah petak lantai keramik yang berwarna biru tua. Mulai kutaruh jas yang melekat di tubuhku dan kugantung di sebuah paku yang tertempel di sebuah dinding yang berwarna putih dan bersih yang digunakan sebagai dinding pembatas. Kusingsingkan lengan bajuku dan mulai ku berjalan ke arah keran. Tidak sedikit orang yang kutemui di midloah ini. Kami pun saling sapa menyapa walaupun dengan bahasa tubuh atau dengan sebuah ucapan panggilan akrab.
Kuambil wudlu dengan sempurna dengan tambahan doa kepada Allah sebagai sang pemberi nikmat. Setelah selesai, aku merapikan baju dan memakai jas yang kulepasakan tadi. aku pun melanjutkan perjalanan untuk sampai ke tujuanku yaitu mesjid.
Tetesan air yang jatuh dari wajah menjadi hiasan yang menempel saat ku melanjutkan perjalananku. Terkadangku menggigil akibat terpaan hawa subuh yang menusuk kulitku walaupun sudah memakai lapisan baju yang tebal. Suara decitan yang berasal dari sendal jepitku memecahkan sebuah keheningan langkahku.
Langkah demi langkah kulalui sampai suara adzan tak lagi terdengar oleh telingaku pada detiknya. Langkahku terhenti di depan teras masjid. Kuletakkan sepasang sendal jepitku sambil melepaskan dan membaca lafadzh doa di dalam hati untuk masuk ke rumah Allah ini.
Alhamdulillah aku pun datang setelah terkumandangnya adzan pada waktu itu. Tidak ambil pikir panjang, aku pun segera mengambil tempat untuk mendirikan shalat sunnat sebelum shubuh sembari berdoa sambil menunggu waktu shubuh masuk. Tak lama kemudian aku melaksanakan shalat shubuh saat waktunya sudah masuk. Aku pun berdiri pada shaf pertama. Dengan iringan jamaah lain yang ingin melaksanakan shalat shubuh berjamaah pada saat itu.
Setelah beberapa lamanya aku mendirikan shalat shubuh dan berzikir serta dengan tambahan doa, aku pun keluar dari dalam masjid menuju keluar. Kuambil sebuah Al-Quran yang berada di rak masjid. Dengan langkah yang segera aku mencari tempat untuk melantunkan kalam ilahi ini.
Aku pun tertuju pada sebuah tempat yang udaranya segar dan terasa sejuk hawanya. Tempat itu terletak di teras samping masjid, tanpa pikir panjang aku lansung duduk dan mulai melantunkan kalam ilahi yang berada di dalam Al-Quran tersebut.
Kulantunkan ayat demi ayat dengan perasaan penuh keikhlasan sembari meminta keridoaan Allah. Di tengah lantunan ayat, terkadang aku menarik nafas panjang karena segarnya udara shubuh menjelang pagi itu. Kutarik nafasku dan kulepaskan dengan lafadzh hamdalah, bukti dari kesyukuranku.
Tak berapa lama kemudian aku menyudahi bacaaan Al-Quranku. Kuletakkan kumpulan kalam ilahi ini dengan penuh hormat di tempat pertama kali ku menaruhnya. Setelah itu aku menuju ke teras masjid, dan duduk di pinggiran anak tangga sambil menikmati indahnya pemandangan sawah yang berada di depan mataku. Kuhirup udara segar serasa jiwa ini terlahir kembali. dengan pemandangan yang hijau, serta kumpulan padi yang menjuntai dan menari tertiup oleh angin pagi. Aku pun tidak berhenti mengucapkan kalimat syukur dan kalimat Agung kepada sang pencipta. Kutatap langit yang terlihat matahari terbit dengan coraknya yang khas. dengan tambahan warna dinding masjid yang berwarna putih bercampur dengan pantulan warna oren yang dihasilkan oleh cahaya matahari terbit, membuat seakan dinding masjid berwarna oren muda. Ku terdiam terpaku oleh semua ini hanya satu kata yang keluar dari bibirku “Alhamdulillah… Betapa indah Tanah Syurga Dunia ini…”
Tak lama setelah ku duduk di teras masjid sambil menghirup udara segar, terlintas di dalam pikiranku sebuah renungan yang tak biasanya muncul dalam pikiranku sebelumnya. Dengan keaadaan seperti patung yang duduk, tak sedikit orang yang lewat melintas di sampingku yang memberikan teguran dan tepukan sambil memanggil nama saapanku
“rif.. ngapain nte duduk disini… pualng sono..!”
Tapi semua itu tak kupedulikan, dan tak sedikit pula diantara mereka kubalas dengan senyuman kosong yang sedikit melebar.
Pada saat posisiku seperti itu, yang di dalam benakku hanyalah bagaimana caranya aku bisa menikmati semua ini dengan waktu yang lama. Aku tidak ingin semua ini berlalu begitu saja dengan sia sia tiada hasil. Dan juga terlintas sejenak didalam pikiranku untuk memperjuangkan pondok ini. Sebuah perjuangan untuk sukses dan mensukseskan.
Renunganku ini terpecahkan sejenak oleh seorang temanku yang mengejutkanku dengan suaranya.
“woy… nagapain nte rif? ya Allah Ngapain coba ente ngelamun disini Yuk pulang…!”
“Ga papa Don.., Ayuk lah kita pulang..”
Semenjak renungan itu aku mlai membentuk tekad yang bulat untuk melakukan renungan kesuksesan tadi. Ya.. walaupun hanya sebuah renungan yang tak berarti bagi orang lain kalau aku menceritakan pada mereka. Itu memang sebuah renungan yang sangat kecil dan singkat, tapi tidak bagiku.
Mulailah kucatat semua renungan singkat dan kecil tadi di sebuah buku catatan kecil berwarna hitam yang kumiliki. Sebuah catatan yang berisi tentang:
1. Mulainya aku untuk menjalankan ibadah dari yang sunnah sampai yang wajib.
2. Belajar 100% dan ibadah 100%
Walaupun itu sedikit berat bagi sebagian orang untuk menjalankannya dan untuk istiqomah, tapi insyaalah aku percaya pada diriku sendiri aku pasti bisa melakukannya dengan perasaan yang penuh istiqomah.
Bermula dari sinilah pemikiranku terbentuk dan tergambar bagaimana bentuk dari sebuah jihad bagi seorang santri yang sedang menuntut ilmu di sebuah lembaga pendidikan.
Semua orang akan melakukan apa pun demi kesuksesan yang ingin ia raih.
Selang beberapa hari aku menjalankan aktivitas dengan penuh pengalaman dari renungan tersebut. Mulai dari kujalankan semuanya dengan nilai kebersamaan, mulai dari makan bersama, mengaji bersama sampai memperjuangkan sebuah acara yang diselenggarakan pondok pun secara bersama sama.
Tak jarang orang di sekitarku meminta bantuan kepadaku. Dengan senang hati aku membantu mereka sebisaku dan penuh dengan rasa keikhlasan.. Kubantu mereka seikhlasku, walaupun terkadang aku hanya bisa membantu dengan biaya yang aku punya. Ya.. itulah, bisa di sebut aku termasuk salah satu golongan orang yang dilebihkan rezeqinya.
Tapi dengan semua kelebihanku itu, aku tidak pernah sombong dan memamerkan kekayaanku secara sombong. Aku tetap berpakaian seperti yang lainnya, tetap ku bersifat sederhana terhadap teman temanku.
Begitulah kehidupan dan perjuangan yang kita lakukan di dalam pondok, suka dan duka kami alami bersama. Dengan secara tidak sadar ukhuwah islamiyah terbebtuk diantara kami.
Aku sekarang tersadar oleh semua renungan dan apa yang kuamalkan setelah perenungan yang muncul di benakku.
Pondok itu bagaikan ladang yang membentang luas bagai tanah syurga dunia, yang dimana setiap kepala di dalamnya memiliki ladang sendiri-sendiri. Ladang itu harus kita tanam dengan tanaman yang berisi nilai nilai perjuangan yang yang berasaskan oleh panca jiwa serta berpupukkan motto pondok yang kita pelajari.
Dengan apa yang kita tanam maka semua tanaman itu akan berbuah manis layaknya sebuah pahala yang terbentuk dan kita dapatkan dari amal kebaikan, yang nilainya tidak bisa diuangkan oleh nominal apapun. Dan juga tidak bisa diperjual belikan bagi siapapun.
Maka tidak jarang banyak orang yang menyebut pesantren sebagai ladang perjuanagan yang luas dalam menimba ilmu.