Tok! tok! tok! tok! tok!
Suara ketukan dari jendela itu terus berbunyi seakan-akan mencoba memecah kesunyian di tengah malam. Jangankan melihat ke arah jendela menggerakkan tubuh pun aku tidak berani. Aku berusaha mengendalikan rasa takut, agar keringat tidak terus menerus keluar dari tubuh.
Sejak beberapa hari yang lalu suara ketukan itu terus terdengar setiap malam. Suara ketukan itu sangat datar. Dalam bayanganku sosok pengetuk itu seperti seseorang yang tidak memiliki jiwa dalam tubuhnya. Memiliki tatapan dan pikiran yang kosong.
Aku berusaha mengabaikan suara ketukan itu dengan berusaha untuk tidur kembali. Entahlah jam berapa sudah. Yang jelas aku tidak berani melihat ke arah jam dinding yang terletak tepat di samping jendela.
Selimut yang menutupi tubuhku membuat aku merasa sedikit terlindungi. Hati ini terus melafalkan do'a-do'a, berharap ketukan itu bisa menghilang.
Berkat do'a yang tiada henti, sepertinya aku benar-benar mengabaikan suara ketukan itu, karena aku tiba-tiba tertidur dan sejenak melupakan ketakutan di malam itu.
***
Malam berikutnya ketukan itu terdengar lagi, sama halnya dengan malam berikutnya. Hal itu terus terjadi di malam-malam yang seterusnya. Aku bahkan merasa terbiasa dan tidak takut lagi.
Hingga disuatu malam, aku tidak mendengar sedikitpun suara ketukan di jendela kamarku lagi. Sehingga malam itu aku tertidur sangat nyenyak.
Setelah satu malam yang tenang, aku kembali terbangun di tengah malam.
Kali ini bukan suara ketukan dari jendela yang membuatku terbangun, tetapi suara gagang pintu yang terus berbunyi. Meskipun tidak senyaring suara ketukan di jendela, aku sangat tahu bagaimana suara gagang pintu yang sedang bergerak. Apalagi itu pintu kamarku sendiri.
Aku terus memejamkan mata dan sama sekali tidak berniat membuka mata, karena aku tahu gagang pintu itu terus bergerak.
Ada kalanya gerakannya sangat cepat, seakan-akan seseorang ingin mencoba memaksa masuk ke dalam kamar. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku juga masih tetap memejamkan mata. Selang beberapa lama, suara gerakan dari gagang pintu itu berhenti berbunyi.
Tekadku tetap bulat bahwa aku tidak akan membuka mata untuk memeriksa apapun itu.
Tidak ada sama sekali rasa penasaran dalam benakku, yang ada dipikiranku adalah suara-suara yang seringkali kudengar setiap malam itu selalu menggangguku tidur.
Aku merasa tenang setelah suara gagang pintu itu tidak terdengar kembali. Aku pun mencoba kembali tidur dan membalikkan tubuh ke arah pintu sambil memeluk bantal guling.
Usahaku untuk bisa tidur sepertinya gagal, karena tubuh ini sepertinya merasa kalau ada seseorang yang memperhatikan.
Aku berusaha mengabaikannya lagi, tapi saat itu aku benar-benar jelas mendengar pintu kamar perlahan terbuka. Kali ini tubuhku reflek terbangun untuk memastikan pintu kamar terbuka atau tidak.
Benar memang, pintu kamarku sedang terbuka lebar. Tidak ada ketakutan sama sekali yang kurasakan saat itu. Karena memang suara-suara aneh yang sering terdengar sudah berhenti saat itu, dan tidak ada siapapun yang memperhatikanku di kamar itu.
Aku membiarkan pintu kamar terbuka, karena malas untuk berdiri dan melanjutkan untuk kembali tidur.
"Ajsldhunsk...sleurndj..dmdoufn...ieurka..." suara aneh kembali muncul. Kali ini bukan suara yang berasal dari benda, tapi suara lelaki yang sedang saling berbicara. Suaranya terdengar parau dan juga berdengung, tidak seperti suara manusia pada umumnya. Suara mereka jelas, tapi aku tidak bisa memahami sedikitpun pembicaraan mereka.
Aku merasa tubuhku melayang, seakan tubuhku sedang ditandu.
Aku membuka mata dan langsung di buat kaget, ketika melihat diriku sendiri sedang dibungkus di dalam karung.
Aku bisa melihat dua orang yang sedang membawaku. Tetapi sosok mereka tidak jelas, karena penglihatan ini ditutupi oleh samar-samar karung yang membungkusku.
Aku sangat ketakutan saat itu dan mencoba untuk menggerak-gerakkan tubuh untuk berusaha keluar.
Saat aku mencoba bergerak, tiba-tiba terdengar gelak tawa anak-anak kecil yang menertawakanku. Jelas itu membuatku bingung karena tidak terlihat satu pun anak kecil di sini.
Dua sosok yang sedang membawaku pun tidak bergeming sedikitpun saat aku melakukan perlawanan. Seakan-akan mereka membawa bulu ditangan mereka.
Aku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutku. Suara tawa anak-anak kecil itu terdengar lagi seakan-akan mereka mengejekku.
Aku pun diam dan menghentikan perlawanan, bibirku bergetar dan air mataku mengalir karena ketakutan. Terlintas dalam pikiranku, mau dibawa kemana aku?, apa yang akan mereka lakukan?, siapa mereka ?, bagaimana aku bisa lari dari sini?.
Aku kembali melantunkan do'a-do'a, kali ini tidak didalam hati tetapi berdo'a lewat mulutku sendiri yang saat itu tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Aku semakin ketakutan, karena sepertinya pita suaraku tidak bekerja saat itu.
Tubuhku terhentak ke lantai, aku berusaha menahan rasa sakitnya dan segera membuka karung yang membungkusku.
Tibalah aku di sebuah ruangan yang asing, ruangan itu penuh debu dan pisau-pisau yang berserakan dimana-mana. Aku juga tidak melihat dua orang lelaki yang tadinya membawaku, mereka tiba-tiba menghilang ditelan bumi.
Aku berdiri dan mengambil salah satu pisau yang ada di lantai. Berharap pisau itu akan menjadi perlindunganku. Sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
"Aku harap ini hanya mimpi...., Aku harap ini hanya mimpi....., Aku harap ini hanya mimpi!" aku menggumamkan kalimat itu beberapakali di dalam hati.
Aku memegang pisau dengan tangan yang gemetaran. Mengarahkan mata pisau itu ke sekeliling tempat. Saat itu ruangannya hanya diterangi cahaya yang menembus sela-sela ventilasi.
Aku pun menyusun benda-benda yang bisa membantuku berdiri mencapai ventilasi itu. Agar bisa tahu apakah cahaya itu akan menjadi penolongku.
Tidak sia-sia usahaku dalam menyusun benda-benda yang ada di sana. Aku pun naik dengan perlahan sambil memegang pisau di tangan kiri. Lalu menengok ke luar ventilasi dan bisa melihat tidak ada siapapun di sana.
Aku menggedor dan menusuk-nusuk ventilasi itu dengan pisau. Berharap bisa menghancurkannya sehingga bisa keluar dari sini. Beberapakali juga aku menoleh ke kiri dan ke kanan berharap ada seseorang yang muncul.
Aku turun dan duduk sejenak karena merasa kelelahan. Tubuh ini terasa pegal sekali. Tanpa di duga pintu terbuka secara perlahan, dan aku langsung segera berdiri bersiap untuk keluar.
Saat aku baru saja ingin berlari, tiba-tiba saja aku langsung di buat kaget. Dengan sesosok wanita berwajah mengerikan tersenyum di depan pintu.
Wanita itu memiliki wajah seperti terbakar dan kurus, karena aku bisa melihat kulitnya terkoyak dan masih menempel di wajahnya.
Wanita itu berjalan menunduk, karena sepertinya dia memiliki tubuh yang sangat tinggi. Dia juga memiliki tangan seperti tengkorak. Di sertai kuku yang sangatlah runcing.
Aku mundur secara perlahan, dan masih tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Wanita itu masih berada di depan pintu. Aku berusaha terus mundur untuk menjauh darinya. Sehingga tibalah aku di ujung ruangan itu dan hanya bisa terdiam dan gemetar ketakutan.
Aku tidak bisa bergerak karena sangat ketakutan, keringat terus menetes dan aku tidak bisa mengusapnya. Wanita itu masih menatapku yang terdiam dan masih memegang pisau di tanganku.
Aku memejamkan mata karena tidak ingin melihat wajah mengerikan itu. Aku tidak bisa mengatur nafas yang terus bergerak dengan tempo yang cepat.
Sudah cukup lama aku memejamkan mata sambil terus berdo'a di dalam hati. Saat itu, bisa ku-dengar suara tawa kecil yang sepertinya berasal dari wanita di depan pintu itu.
Aku terus memejamkan mata, tetapi aku bisa mendengar wanita itu sedang bergumam dengan nada tertentu. Tetapi suara itu sedikit menjauh, namun tidak membuatku ingin kembali membuka mataku.
Suara itu semakin menjauh, hanya terdengar samar-samar. Lama kelamaan suaranya sudah hampir menghilang, hingga membuatku berani untuk membuka mata perlahan.
Namun aku di kejutkan dengan kain penuh bercak darah yang hampir menyentuh wajahku. Aku mengangkat kepala untuk melihat ke atas, dan mataku langsung membelalak ketika melihat wanita itu sangat dekat denganku.
Dengan tubuhnya yang tinggi hampir menyentuh atap dia menunduk ke arahku, tangannya menahan dinding di samping kiri dan kanannya memperlihatkan begitu besarnya dia.
Aku mencoba menusuk tubuh wanita itu dengan pisau yang ada ditanganku, namun pisau itu semakin membuat tawanya semakin melengking di telinga. Perlahan tanganku melepaskan pisau, sembari menatap wanita itu.
Aku tidak bisa memejamkan mata dan tidak bisa berhenti menatapnya. Wajah wanita itu terus mendekat ke wajahku, terus mendekat, semakin mendekat, "Aaaaaaargggh!!!!" aku berteriak sangat nyaring dan penglihatanku semuanya menjadi hitam.
***
Tok! tok! tok! tok! tok!
uara ketukan itu membuatku terbangun. Aku bisa merasakan badanku pegal semua dan merasa sangat lelah.
Suara ketukan itu kembali muncul. Namun seperti sebelumnya, aku tidak ingin menghiraukan suara ketukan itu. Dengan tubuh yang merasa lelah aku ingin segera tidur kembali.
Braakkk!
Suara pintu terbuka yang terhentak kedinding itu membangunkanku.
Aku melihat pintu kamar terbuka, tetapi kali ini langsung berdiri untuk menutup dan menguncinya. Aku merasa ketakutan karena sudah sadar dan ingat apa yang sudah kulewati sebelumnya.
Aku terduduk di belakang pintu sambil beberapa kali mengusap wajah, karena sudah benar-benar merasa putus asa. Aku juga mencoba mengeluarkan suara, tetapi hanya bisa mengeluarkan sedikit suara yang tidak beraturan.
Tok! tok! tok! tok! tok!
Suara ketukan itu kembali terdengar di balik jendela, aku langsung memeluk erat kedua kakiku karena takut.
Tok! tok tok tok tok!!! tok tok tok!!!
Suara ketukan itu semakin terdengar cepat seakan terus memaksa.
Aku hanya bisa memandang tirai yang menutupi jendela itu. Anehnya tidak ada bayangan siapapun di balik jendela, padahal suara ketukan itu terus terdengar.
Aku terus berdo'a dalam hati, tetapi gagang pintu tiba-tiba bergerak sendiri seperti kejadian yang aku alami sebelumnya.
Aku segera menjauh dari pintu itu, dan berada di tengah antara pintu dan jendela yang letaknya saling berlawanan. Sekali-kali aku melihat ke pintu dan sekali-kali juga melihat ke jendela karena berusaha waspada.
Suara gagang pintu dan ketukan di jendela itu masih terdengar, ketika aku berdo'a dan mencoba memikirkan jalan keluar.
Aku berpikir bahwa kemaren malam, ketika pintu itu terbuka aku tidak menutupnya kembali. Apa itu yang membuatku bertemu dengan wanita mengerikan itu?. Jendela?, aku tidak pernah mencoba melihat seseorang yang mengetuknya.
Aku melihat ke arah jendela dan berpikir untuk membuka tirai jendelanya untuk mencari tahu siapa yang selama ini mengetuk jendelanya.
Aku memegang tirai jendela, sebelum membukanya aku kembali memejamkan mata dan berdo'a agar aku bisa keluar dari sini.
Suara gerakan gagang pintu dan ketukan di jendela semakin nyaring. Saat membuka jendela aku langsung reflek melindungi mataku karena silau. Lalu secara perlahan kembali lagi mencoba melihat apa yang ada di luar jendela.
Aku bisa melihat cahaya yang tidak begitu jauh dari tempatku, tanpa berpikir panjang aku langsung membuka jendela dan keluar dari kamar sebelum pintu itu terbuka kembali.
Cahaya yang aku lihat itu terkadang redup dan terkadang begitu terang Tetapi selang pergantian redup dan terangnya begitu lama.
***
Saat cahaya itu redup aku mencoba membuka jendela, tapi engselnya begitu keras dan sulit di buka.
Suara gerakan gagang pintu itu semakin cepat, dan juga terdengar suara seseorang yang mencoba mendobrak pintu.Meskipun begitu, aku tidak mendengar suara ketukan lagi dari jendela bahkan tidak melihat seorangpun dari luar yang mencoba mengganggu. Membuatku semakin yakin kalau pilihanku saat ini akan mengeluarkanku dari sini.
Braakkkk!!
Pintu kamar terbuka dan aku langsung menoleh ke belakang. Di sana bisa terlihat dua makhluk kembar dengan kepala botak dan kulitnya yang hampir mengelupas di seluruh tubuh mereka. Tubuh mereka jangkung dengan taring di mulut mereka.
Aku semakin bergegas membuka jendela, engselnya sedikit lagi terbuka. Aku mengerahkan semua tenaga untuk membukanya.
"Hiiihiihhiiihihi.."
Aku bisa mendengar suara anak kecil cekikikan dari belakang, tapi aku tidak ingin membuang waktu dengan menoleh ke belakang.
Traakk!
Akhirnya engselnya terbuka, aku pun segera membuka jendela dan keluar melewatinya.
Saat duduk di atas jendela dan mencoba keluar. Kedua makhluk botak itu menarik bahuku, dan aku pun langsung berpegangan di tiang jendela dengan erat.
Mereka kemudian menutupi wajahku dengan karung. Aku berusaha mengelak, tapi karena mereka berdua, ditambah tubuhku yang masih terasa lelah aku kembali terjatuh ke dalam kamar. Setengah badanku ditutupi dengan karung.
Cahaya dari luar jendela kembali menjadi sangat terang, dan aku tidak merasakan tarikan dari kedua makhluk itu lagi. Kali ini aku tidak ingin menyerah dan melepas karung yang menutupi setengah badanku.
Benar memang, aku tidak melihat makhluk itu lagi dan segera bergegas keluar dari jendela. Aku berhasil keluar, dan segera berlari menuju cahaya yang masih terang, sambil melihatnya melewati sela-sela jari karena cahayanya sangat menyilaukan.
Aku sudah setengah perjalanan mendekati cahaya itu, tetapi terhenti karena cahaya itu kembali redup.
Aku berhenti dan melihat ke sekeliling, meskipun setengah jalan aku tidak ingin mengambil resiko karena tidak ingin lagi berhadapan dengan makhluk-makhluk mengerikan itu.
Aku mencari tempat bersembunyi, lalu di sana aku melihat sebuah drum besar tua dan memutuskan untuk masuk ke dalamnya untuk bersembunyi.
Dari dalam drum aku bisa mendengar suara berdengung, mereka seakan-akan membicarakan sesuatu. Suara itu memang nyaring tetapi tidak ada satu katapun yang dapat aku mengerti.
Zzzzzzt...zzzt...
Aku bisa mendengar suara gesekan drum dari luar, dan tiba-tiba merasakan makhluk itu mengangkat drum tempat persembunyianku. Aku berusaha tenang saat berada di dalamnya.
Bisa Ku-rasakan makhluk itu sedang membawaku. Aku hanya bisa berdo'a agar cahaya itu cepat kembali terang.
Aku berpikir mungkin ini saatnya melawan ketakutanku, sebelum makhluk itu berhasil mengunciku di sebuah ruangan lagi. Aku keluar dari dalam drum, dan langsung di buat kaget dengan makhluk yang membawaku. Dia adalah wanita mengerikan dengan tubuh besar itu. Dia membawaku dengan kedua tangannya itu.
Wanita mengerikan itu tidak melihat ke arahku, tapi sepertinya dia berusaha untuk cepat-cepat pergi membawaku.
Aku melihat ke arah bawah dan melihat betapa tingginya posisiku, bagaimana aku bisa lompat dari sini?. Apalagi pergerakan wanita itu lumayan cepat.
Tidak lama kemudian wanita itu berhenti, karena dia menyadari aku berusaha keluar dari drum. Dia terlihat marah, aku kembali menunduk dan masuk ke dalam drum untuk berlindung.
Wanita itu meletakkanku ke tanah, dia mengangkat tangannya ke arahku. Saat itu aku langsung merebahkan diri ke samping drum, lalu drum itu pun jatuh ke samping.
Drum itu terguling bersama denganku di dalamnya, dan membuatku benar-benar merasa sesak sekali saat itu.
"Aaaaaaaarrkkkhhhhh!!!!!!"
Aku mendengar suara teriakan wanita yang melengking, membuatku berusaha menutup kedua telinga.
Saat ada kesempatan aku keluar dari drum, dan melihat wanita itu tidak sendirian. Dia ditemani oleh kedua makhluk kembar yang sebelumnya aku lihat. Mereka terlihat marah sekali, aku kembali berlari menuju cahaya redup dan makhluk-makhluk itu tentu saja masih mencoba mengejarku.
Saat dalam pelarian, cahaya kembali bersinar begitu terang dan aku pun semakin mempercepat lariku.
Aku semakin dekat dengan cahaya, semakin dekat, semakin dekat, hingga tibalah aku di titik dimana mata ini hanya melihat warna putih saja. Aku masuk ke dalam cahaya tanpa melihat ke belakang sedikit pun.
***
Aku membuka mata dan melihat ada banyak orang yang berpakaian serba hitam mengelilingiku, dan aku merasa benar-benar linglung.
"Ibu...., Sinta sudah sadar!" ucap seorang wanita di sebelah. Kemudian aku melihat seorang wanita yang juga berpakaian serba hitam berlari ke arahku dan langsung memelukku.
Dia menatapku dan tersenyum. Melihatnya aku langsung menangis karena baru menyadari bahwa dia adalah ibuku.
Aku tidak bisa berkata-kata karena merasa benar-benar lega.
"Sinta.., kamu tidak seharusnya kembali!" ujar ibu sambil membelai rambutku. Aku mengerutkan dahi dan kaget mendengarnya.
Plakkk!!!
Seseorang memukulku dari belakang, aku langsung terbaring dan merasa setengah sadar.
Kalimat terakhir yang aku dengar dari mereka sebelum tidak sadarkan diri adalah, "Tengah malam besok jangan hanya buat dia lupa tentang dirinya dan ritual ini saja, tapi buat dia juga lupa berdo'a. Cahaya itu sangat mengganggu!"
~TAMAT~
*Maafkan ceritanya yang agak amburadul, karena ini cerpen debut pertamaku🙏