Anggita Putri adalah namaku, aku merupakan seorang gadis tomboy yang bisa dibilang sukses dalam usia muda, karena aku telah mewarisi bisnis keluarga yang berjalan diberbagai bidang. Dan sebagian besar yang aku ambil alih adalah klub dan bar yang merupakan sesuatu yang menantang bagi ku, sedangkan kakakku Yonggi Anggara dia mengambil alih bisnis otomotif dan kafe.
Aku bisa dibilang adalah sosok yang biasa saja sebagai seorang anak orang kaya, karena aku hanya menjalani hidupku dengan sederhana dan biasa - biasa saja. Rutinitas ku hanya berpusat pada rumah, klub, bar, dan tempat kuliah.
Aku hidup dengan lurus dan apa adanya selama ini sebelum datang seseorang yang telah memberikan pukulan keras dalam duniaku, dia telah merubah semua jalan hidupku. Berandalan yang tak hanya membuat ku frustasi namun juga telah mempengaruhi seluruh duniaku, bahkan dia telah menerobos masuk kedalam kehidupanku yang tadinya hanya lurus - lurus saja menjadi sedikit berbelok.
Saga, berandalan yang tak hanya menggebrak segala duniaku namun dia telah mempengaruhi seluruhnya bahkan dia telah mampu mengendalikan emosiku. Setiap kali aku berhadapan dengannya aku selalu menjadi lemah dan tak berdaya, bahkan aku selalu saja jatuh dan berkali - kali jatuh kedalam pelukannya yang begitu menghangatkan.
"Bos orang yang mau renovasi sudah datang." Sul dan Dul melaporkan karena Anggita yang berniat mau merubah klub miliknya sesuai dengan keinginan sang papa dan juga untuk menghapus kenangan yang pahit bagi Anggita dalam hidupnya.
"Baik, suruh mereka masuk." Anggita menghela nafas dalam dan duduk di kursinya.
"Selamat pagi bu." sapa seorang dari mereka yang dari pusat renovasi.
"Silakan du...duk." Anggita terkejud saat dia melihat Saga bersama dengan kedua orang dari pusat renovasi.
Tak ku sangka ternyata kru mereka adalah orang yang sangat ku benci dan ku hindari, ya dia adalah Saga. Ku lihat Saga masuk dan tersenyum menatap ku seolah dia tak memiliki dosa apa pun dan tak merasa bersalah sedikit pun atas kejadian seminggu yang lalu yang telah dilakukannya bersama dengan ku didalam klub malam yang mau direnovasi ini.
"Perkenalkan saya Darmawan dan mereka adalah Sri dan juga Saga yang akan berbagi tugas untuk merenovasi klub milik anda ini. Sri akan bertugas sebagai perantara anda dengan perusahaan dan Saga adalah arsitek yang bertugas memberikan gambaran yang anda inginkan." Jelas Darmawan.
"Hem." aku menganggukkan kepala.
Selama pembicaraan dalam rapat untuk merenovasi itu, Anggita berkali - kali melirik pada Saga yang terlihat sangat serius dan fokus dalam pekerjaannya. Dan saat tatapan mata mereka bertemu Anggita memalingkan wajahnya dan Saga tersenyum mendapati hal itu.
"Bagaimana bu Anggita apa anda sudah jelas dan mengerti dengan semua penjelasan dari saya tadi?" Tanya Darmawan.
"Ya, aku mengerti, dan lakukan seperti itu saja. Kalau bisa dipercepat akan lebih bagus lagi." jawab ku dan merasa puas dengan penjelasan darinya.
"Baiklah, kalau begitu kami akan melakukan pengukuran minggu depan dan sekarang kami permisi dulu." pamit Darmawan.
"Saga, kamu bereskan semuanya dan langsung kembali ke kantor." perintah Darmawan pada Saga.
"Baik pak." Saga bangun dan merapikan semua berkas serta laptop yang tadi digunakan untuk demo.
"Apa yang kau lakukan?" Anggita
"Tak ada, aku hanya bekerja saja. Apa kau sudah makan?" Saga
"Tak perlu sok perhatian aku bukan siap - siapa mu, cepat pergi sana." Anggita
Saga hanya tersenyum mendapatkan tatapan dan jawaban yang dingin dari Anggita serta sebuah pukulan keras pada dadanya karena berusaha untuk mendekati Anggita. "Baiklah." Saga memasukkan laptop kedalam tas dan beranjak pergi.
"Tunggu." Anggita
"Katakan." Saga.
Anggita berjalan mendekati Saga "Berikan rekaman video itu pada ku dan jangan macam - macam dengan ku." Ancam ku dengan serius.
"Kenapa, apa kau tak bisa melupakan aku? Ingatlah walau kau menghapus segalanya dan merubah tempat ini tapi pengalaman malam itu tak akan pernah berubah atau pun hilang dari ingatan mu dan ingatan ku, karena aku tak akan pernah bisa menghilangkannya dari ingatan ku untuk selamanya, bahkan aku selalu memikirkannya setiap waktu, karena aku tak menyangka ternyata kamu bisa memiliki ekspresi yang sangat menggoda dan menawan, bahkan aku tak tau kalau kamu lebih suka permainan yang menantang dan sedikit keras." Saga berkata dengan santai.
"Kau?! Ingatlah aku tak mau berhubungan dengan mu dan itu adalah sebuah kesalahan serta dosa. Kita melakukannya karena sama - sama mabuk dan tak sadarkan diri." Anggita mendorong saga dengan kuat sampai Saga terbentur pada gagang pintu dan mendapatkan luka di lengannya
"Dasar orang gila." umpat ku dengan kesal saat ku lihat Saga telah pergi.
"Bos semuanya sudah selesai kami tata dan nanti mereka saat datang lagi tinggal melakukan pengukuran saja." lapor Sul dan Dul
"Baiklah, ah." aku mengeluh karena merasakan sakit pada daerah dubur atau anusku karena ulah Saga pada malam itu, dan sudah 6 hari rasa sakit itu masih saja terasa. Karena Saga tak hanya melakukan pada daerah inti ku namun dia juga memaksa masuk lewat belakangku.
"Sialan, aku pasti akan balas dendam padamu nanti." gumam ku dengan kesal.
"Bos kenapa dengan bokong mu? Kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakan itu, karena sudah 6 hari ini kamu mengeluh sakit pada daerah itu, jangan - jangan nanti kamu kena ambeyen itu penyakit yang berbahaya bos." ucap Dul dengan menatapku.
"Benar - benar sudah 6 hari ini kamu selalu sulit untuk berjalan, ayo periksakan bos sekarang juga mumpung belum terlambat." sambung Sul
"Kalian diam lah. Aku tak mau kerumah sakit." kesal ku karena aku tak tau harus bagaimana cara menjelaskan pada dokter mengenai keluhan ku ini, karena ini sangat memalukan dan juga sangat tabu di negara ini.
Namun dengan segala paksaan dari kedua pegawai ku akhirnya aku pun sampai di rumah sakit, dengan susah paya aku menjelaskan pada dokter atas keluhanku dan dokter menatap ku dengan tatapan bingung. Sampai akhirnya orang sialan itu menerobos masuk dan menjelaskan sesuatu yang tak seharusnya pada dokter.
"Jadi maksudnya, kalian ini adalah pasangan?" tanya dokter menatap kami bergantian.
"Benar, saya adalah kekasihnya. Dan apa ada masalah dengan dia dokter? Ya kami memang melakukannya terlalu semangat, dan juga saya melakukannya pada lubang belakangnya karena merasa gemas padanya." jelas Saga pada dokter sambil merangkul ku.
"Baiklah saya mengerti sekarang, akan saya siapkan obat untuk anda nona Anggita dan tolong jangan terlalu sering melakukan penetralisir sebelum benar - benar sembuh keluhannya dan kalau bisa jangan lakukan pada darah yang tak seharusnya, sekarang silakan tunggu diluar." tegas dokter
"Baik dokter, terima kasih." Saga menjawab dengan santai dan membawah keluar Anggita.
"Ngapain kamu di sini dan ada urusan apa, bicara sembarangan lagi pada dokter." kesal ku pada Saga saat kami keluar dari ruangan dokter.
"Aku ada urusan untuk pembangunan dan tanpa sengaja melihat Sul sama Dul jadi aku masuk karena kamu pasti ada didalam." jelas Saga pada ku.
"Bukan urusan mu." kesal ku
"Minum obatnya dengan benar dan dengarkan apa yang dikatakan oleh dokter, apakah sesakit itu?" Saga
"Diam lah. Kau tak tau apa pun." Anggita
"Baiklah, aku pergi dulu, aku akan mengunjungi mu nanti. Aku juga janji tak akan melakukannya lewat situ lagi" Saga.
"Tak perlu dan tak akan ada lagi, pergilah jauh - jauh dari hidupku." Anggita
"Nona Anggita silakan obatnya ditebus di apotik ya." Dokter
Hari telah berganti minggu dan minggu berganti bulan, hubunganku dengan Saga jadi semakin membingungkan. Perasaanku pada kak Marlin pun semakin terkikis sedikit demi sedikit, semua pikiranku beralih tentang Saga.
Entah apa yang aku inginkan dari Saga, rasanya kesal sekali tiap kali aku melihat dan mendengarkan namanya disebutkan. Ada perasaan yang mengganjal dalam dadaku yang tak bisa aku uraikan sendiri, semuanya bagaikan benang kusut yang sudah bertahun - tahun lamanya tak terurai.
"Anggita, apakah kau mau ikut ke malam pesta kolam renang nanti? Karena kampus mengadakan pesta itu selama masa liburan. Dan aku dengar Saga dari jurusan desain juga datang, kamu tau kan kalau dia itu sangat populer dikalangan anak cewek dan cowok setelah dia pindah ke sini, mendengar namanya saja semua cewek dan cowok pada ikut datang semuanya. Ayo kamu juga ikutlah jangan berdiam diri di rumah saja." ajak kak Marlin padaku saat aku bertemu dengannya di kampus.
"Baiklah, aku akan datang nanti. Jam berapa acaranya? Aku akan langsung kesana setelah dari bar." jawabku dengan semangat.
"Jam 8 malam datanglah jangan lupa ok." kak Marlin berkata dengan senyum yang merekah indah.
Tepat pukul 8 malam aku pun meluncur kesana dan ku lihat banyak sekali yang datang, hampir semuanya berpasangan. Aku pun melihat Saga sedang berbincang dengan seorang wanita dengan sangat seru, aku terus memperhatikan dia dan sampai akhirnya aku tau dimana dia meletakkan tasnya.
Seperginya Saga aku langsung mengambil tasnya dan mencari ponselnya untuk menghapus video tentang hubungan kami berdua. Tapi karena aku tak tau kata sandinya dengan kesal aku menghancurkan ponselnya dan merendamnya dalam air setelah ku banting.
"Apa yang kau lakukan?" Saga
"Kenapa? Aku mengambil ponsel untuk ku hancurkan." Anggita
"Kau begitu berani." Saga
"Apa yang ku takuti dari mu, tak ada yang aku takuti* Anggita
"Apa kau pikir dengan mencuri ponselku dan menghapusnya kau berfikir kalau kenangan itu akan hilang? Itu tak akan pernah bisa hilang dari ingatan mu, dan bayangan kita yang saling beradu kemesraan juga akan terus terlihat dengan jelas dalam ingatanmu apa kah kau tak tau solah itu hah?!" Saga
"Lepaskan tanganku, apa yang kau inginkan b*r*ngsek?!" Anggita
"Apa yang aku inginkan kau akan tau." Saga
"Hem, emm. Ah Saga sialan kau!!" Anggita telah dikuasai oleh Saga dan Saga melahap kasar bibir Anggita juga meremas dada Anggita hingga Anggita merasakan kalau tubuhnya memanas.
"Jangan berbuat nakal lagi, tunggu aku ganti baju dan ikut aku." bisik Saga
Sentuhan tangan dan bibir Saga saat ini seolah memberiku rasa yang aneh, entah apa karena dia mencium ku dalam keadaan sadar tanpa pengaruh obat atau memang ada bagian pada dirimu yang sudah bengkok kearahnya, yang jelas aku merasakan aliran aneh menjalar ke seluruh tubuhku bahkan aku telah mendapatkan kenikmatan hanya dengan sentuhan tangannya dan permainan lidahnya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Saga dan juga menerima permintaan pertemanannya demi menghancurkan video kami aku pun mulai menjalin hubungan pertemanan dengan Saga dengan baik. Kami sering saling berkirim pesan dan panggilan telepon.
Sampai malam ini aku merasakan sesuatu kerinduan yang tak jelas pada Saga, aku rindu akan sentuhan, pelukan dan juga ciumannya yang membara, hingga membuat aku melihat beberapa fotonya melalui akun sosial medianya dan membayangkan akan sentuhannya dengan menyentuh bagian dari diriku sendiri.
Aku merasa bingung dengan diriku, dan aku selalu bertanya - tanya apakah karena perhatian dan perlakuan Saga yang begitu baik dan perhatian padaku akhir - akhir ini sehingga membuat ku jadi terbiasa akan perlakuannya itu hingga membuatku membayangkan hal - hal yang aneh diluar batas normal dengannya.
Bersambung...