#5
Amarah dan Dendam
Aku berjalan menyusuri semak belukar yang tumbuh liar disana-sini. Sekalipun malam ini bulan purnama bersinar terang, tapi, cahayanya tidak mampu menerangi rimbunnya semak-semak-belukar itu. Hanya sesekali saat angin berhembus menyibakkan daun-daunan, batang dan ranting, barulah sebagian cahayanya bisa menerangi jalanan yang kulewati. Dimanakah ini ? Tempat ini serasa asing bagiku, tapi, di ujung sana tampak sebuah bangunan mirip sekolah. Sekolah SMA 1 Tidar. Tapi, mengapa banyak sekali ilalang. Kemarin sewaktu berada di tempat itu, ilalang tidak tumbuh selebat ini. Kemanakah Cindy, Maribeth dan Nona Miwako? Tobby, Timmy, Intan dan Jen-Shen ... kemana mereka ?
Aku terus berjalan. Tapi, mengapa aku tidak sampai-sampai ke bangunan tersebut, malah, rasanya bangunan itu semakin menjauh. Peristiwa apalagi yang harus kualami sekarang ? Aku tak menyukai situasi seperti ini. Kupercepat langkahku dan mendadak saja aku sudah berada di halaman bangunan bekas sekolah dan cafe itu. Aku terkesima, ukuran bangunan tua yang sebagian tinggal puing-puing menghitam dan berserakan tak tentu arah itu lebih besar dua kali lipat dari saat pertama kali kulihat. Pintu masuk yang nyaris tak berbentuk pintu itu terpentang lebar dan memperlihatkan suasananya yang hitam pekat.
Aku melangkah hendak mendekati pintu berniat untuk memasukinya, tapi, tanganku seperti dicengkeram sesuatu yang sangat kuat. Sebuah tangan lain yang hanya tulang dibungkus dengan kulit pucat, mencengkeram erat tanganku. Kurasakan hawa dingin menusuk menjalari sekujur badanku. Aku berontak dan berusaha melepaskan diri, tapi, cengkeraman itu makin lama makin kuat hingga aku berteriak kesakitan, “Auw !! Kau menyakitiku, lepaskan tanganku !!” sambil berteriak kualihkan pandangan mataku untuk melihat siapa si pemilik tangan itu. Seorang wanita berambut hitam, panjang, kusut terurai menutupi wajahnya. Tapi, bisa kulihat bola matanya yang mengerikan, menatap tajam.
Aku berteriak ketakutan, jatuh terduduk, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, sementara, mataku tak mau berhenti memandang tatap matanya yang menakutkan itu. Aku menjauh, sosok itu mendekat. Kepala yang tertunduk dan sesekali menyentak ke kiri berulang-ulang itu perlahan-lahan terangkat ke atas, “Krek!” bunyi itu terdengar bersamaan dengan gerakan bahu yang menurun sedikit demi sedikit ke bawah. “Krek !” bunyi kedua bersamaan dengan terangkatnya telunjuk kanan lurus-lurus ke wajahku.
Tapi, aku tak yakin telunjuk itu menuding tepat ke arahku, melainkan mengarah ke belakang punggungku.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk sosok itu, tidak ada apa-apa selain semak-belukar dan ilalang yang tumbuh lebat pada dinding-dinding batu yang sudah tidak utuh lagi bentuknya. Sosok itu berjalan perlahan-lahan semakin lama semakin dekat, aku menjauh hingga punggungku menempel pada dinding batu tersebut.
Mendadak, aku merasakan kedua bahuku dicengkeram erat, bukan cuma bahu, juga pinggang dan wajahku. Belum habis rasa terkejutku, tahu-tahu tubuhku serasa ditarik masuk ke dalam dinding tersebut. Aku berteriak keras, suasana di sekelilingku gelap gulita dan sempit sekali. Tanganku meraba kesana-kemari, dingin, lembab dan licin. Aku terus meraba dan menyadari bahwa aku tengah berada di dalam lubang. Kurasakan ada sesuatu yang bergerak pada tapak kakiku, dingin dan basah. Air.
Yah, air tersebut semakin lama semakin merayap naik ... pergelangan, betis, lutut, paha dan terus merayap naik. Begitu dinginnya air tersebut, membuatku tak mampu bergerak leluasa terlebih setelah air itu membasahi perutku. Satu-satunya yang masih bisa kugerakkan adalah mulut, dan akupun mulai berteriak, “TOLONG ! KELUARKAN AKU DARI TEMPAT INI !!” gema suaraku memenuhi ruangan itu. Tak ada jawaban, aku kembali berteriak keras... sekeras mungkin, “Tolong ! Tolong !” Tak ada jawaban, kecemasan mulai menyelimutiku saat air bergerak naik ke dada, tubuhku bergetar hebat. Dinginnya air membuatku mati rasa, “Tolong ... keluarkan aku dari sini,” suaraku gemetar, melemah mengandung keputus asa-an.
Mendadak teringat olehku akan kata-kata Miwako ... ‘Michikko membutuhkan tubuhmu untuk rohnya yang terjebak entah dimana. Jika kau tak segera menemukan jasadnya dalam waktu yang sudah ditentukan, jiwamu dan orang-orang di sekitarmu akan terancam,’. Yah, kata-kata itulah yang membuat keputus asaan menjadi kekuatan. Aku mengepalkan jari-jemariku sekuat mungkin, kucoba untuk melawan hawa dingin yang kian menusuk itu dan .. merayap naik.
Dinding-dinding itu licin sekali, bukan hanya satu atau dua kali aku terjatuh, tapi, berulang kali hingga akhirnya bisa mencapai setengahnya. Aku tersenyum lega, beruntung sekali batu-batu yang menjadi dinding lubang itu tidak rata sehingga bisa dijadikan pegangan ataupun pijakan. Aku harus segera naik ke atas, toh jaraknya sudah tidak jauh lagi.
Yah, aku bisa melihat adanya hembusan angin dari atas kepalaku, jaraknya tinggal 1-2 meter lagi, sebentar lagi aku akan keluar dari tempat aneh ini.
Begitu aku hendak menggerakkan tanganku untuk meraih batu-batuan yang lain, telingaku mendengar suara kecipak air dari bawah kakiku. Rasa penasaran segera saja datang dan membuatku harus mengalihkan pandanganku ke bawah. Mataku terbelalak manakala melihat dari permukaan air itu menyembul keluar gumpalan berwarna hitam, panjang lagi kusut. Rambut.
Rambut itu seakan menutupi permukaan air tersebut, detik berikut rambut itu terangkat ke atas perlahan semakin lama semakin tinggi dan sekalipun remang-remang, mataku bisa melihat begitu sebagian rambut yang terangkat ke atas muncul sebuah kepala manusia. Menyusul kemudian, sebuah tubuh kurus keluar dari dalam air dan perlahan-lahan berjalan menghampiri dinding. Aku terkesiap manakala melihat, sosok itu juga ikut merayap naik dengan gerakan terpatah-patah diiringi dengan bunyi ‘krek, krek, krek’ membuatku ngeri. Dia terus merayap dan merayap ke arahku. Aku tak perlu menunggu sampai ia mengejarku... firasatku mengatakan, dia bukanlah sosok yang ramah. Aku kembali naik ke atas. Sedikit lagi aku akan sampai, yah sedikit lagi ... tapi, “auw!!” jeritku tertahan. Aku merasakan pergelangan kaki kananku bagai ditarik sesuatu. Jari-jemari sosok wanita itu mencengkeramnya.
Jari-jemari tangan sosok wanita itu tak ada daging, hanya kulit pucat dengan urat-urat bagaikan hewan melata melingkar pada tulang-tulangnya. Belum lagi lumut dan jamur mirip sisik-sisik ular penghias kulitnya, aroma amis menusuk hidungku. Sosok wanita itu menengadah, dapat kulihat sepasang sinar tajam menusuk dari sela-sela rambutnya yang hitam, panjang terurai itu. Ia mendesis-desis bagaikan kawanan ular mengelilingi mangsanya.
Aku berontak, jeritan jijik bercampur ngeri seakan menambah kekuatanku untuk melepaskan jari-jari mengerikan itu. Berhasil. Tubuh sosok wanita itu melorot ke bawah, “Pergi, kau ! Jangan ikuti aku !!” umpatku sambil terus merayap naik sementara jantung berdegub kencang sekali. Adrenalinku menuntunku untuk terus naik. Sosok wanita yang tercebur ke dalam air itu kembali merayap naik, kali ini gerakannya lebih cepat daripada tadi.
Tapi, aku lebih cepat dan berhasil meraih bibir sumur. Belum sempat aku menarik nafas lega, sebuah kekuatan tak kasat mata mendorongku kembali masuk ke dalam sumur, “TTIIDDAAKK !!!” teriakku.
Tubuhku meluncur deras ke dalam sumur, dan masuk ke dalam air. Aku harus keluar dari air ini atau dia akan membunuhku, kataku dalam hati sambil berusaha berenang ke permukaan. Sesampai di permukaan lagi-lagi tubuhku seperti ditarik masuk kembali ke dalam air oleh tangan-tangan yang mendadak muncul dan menggerayangi tubuhku. “Lepaskan !!”
Entah bagaimana ceritanya ketika aku membuka pelupuk mataku, aku sudah berada di dalam ruangan dan pipiku seperti ditampar orang, “Bangun, kak...” itulah yang kudengar pertama kali, dan saat aku mengalihkan perhatianku ke asal suara itu, di samping kananku sepasang mata Nona Miwako menatapku dengan tatapan heran. Di sisi lain, aku juga melihat Cindy dan Maribeth, mereka juga menatapku heran.
“Mimpi buruk lagi ?” tanya Miwako.
Aku mengangguk lalu menceritakan perihal mimpiku itu. Setelah selesai bercerita, Miwako tampak terdiam seribu bahasa. Suasana di ruang tidurku begitu sunyi yang terdengar hanyalah detak jantung dan tarikan nafas kami. Hingga akhirnya, suara Cindy memecahkan kesunyian dan kebekuan, “Tampaknya, kita harus kembali ke lokasi SMA Tidar I, kak,” “Mengapa kita harus kesana lagi ?” tanya Maribeth.
“Mungkin itu adalah salah satu petunjuk,” sahut Miwako.
“Ini adalah hari keempat,” sahutku, “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi 3 hari ke depan. Yang jelas, aku ingin ini semua cepat berakhir. Aku ingin kehidupanku kembali lagi. Tak ingin sosok Michikko itu terus-terus menghantuiku,” tandasku.
“Untuk menghadapi Michikko, aku harus meminta petunjuk dari roh leluhur. Kumohon kalian jangan bertindak gegabah. Sebab, begitu salah langkah nyawa kitalah yang jadi taruhannya,” jelas Miwako, “Aku akan mengurung diri di ruanganku, mudah-mudahan dalam waktu singkat, aku bisa mendapatkan petunjuk,” kata gadis itu sambil melangkah menuju ke ruangannya, sementara pandangan kami tak lepas menatap punggungnya yang kemudian menghilang di ujung ruangan.
“Sambil menunggu Kak Miwako menyelesaikan meditasinya, kita juga harus mencari cara untuk menghadapi Michikko,” Maribeth mengusulkan.
“Boneka,” sahut Jen-Shen yang mendadak muncul di samping kanan Cindy, “Salah satu sumber kekuatan Michikko tersimpan pada boneka itu,” sambungnya.
“Dengan menemukan boneka itu dan menghancurkannya, mungkin bisa menghalangi niat Michikko untuk merampas tubuh kakak sebagai pengganti raganya,” sahut Cindy.
_____
Ini adalah hari kelima. Nona Miwako belum juga keluar dari ruangannya. Entah apa yang dilakukannya di dalam. Akupun tak berniat untuk mengetahuinya, yang jelas, aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Michikko. Dari lantai dua kamar, aku bisa melihat Cindy dan Maribeth tengah asyik berbincang-bincang sementara Timmy, Tobby, Jen-Shen dan Intan tengah berlarian kesana-kemari mengelilingi halaman. Mereka bercanda dan tertawa. Aku jadi iri pada mereka, sepertinya tidak merasakan penderitaan orang. Jelas saja, mereka sudah mati mengapa harus bersedih. Kalau memang demikian bagaimana dengan Michikko ? Ah, berbagai macam pertanyaan bermunculan di benakku dan sama sekali tak ada jawabannya.
Aku berjalan menuruni anak tangga dan melangkah keluar untuk menemui Cindy dan Maribeth. Baru saja berjalan beberapa langkah, hidungku mencium aroma wangi yang aneh dan keluar dari dalam ruangan Nona Miwako. Ah, aku tak mengenakan maskerku, tanpa sengaja bau harum tersebut segera menggelitik hidungku dan memaksaku untuk melihat hal yang sebenarnya ingin kucampakan jauh-jauh.
Aku berada satu ruangan bersama Miwako. Di hadapan gadis Jepang itu adalah kira-kira 10 sosok wanita yang menyerupai Michikko. Berpakaian seragam ala Jepang yang berwarna abu-abu. Berambut hitam panjang tergerai dan menutupi wajahnya, kepalanya sesekali menyentak ke kiri.
Mereka semua menundukkan wajah ke lantai dan Miwako berbicara dalam bahasa Jepang yang sama sekali tak kumengerti. Tampaknya Nona Miwako sedang berbincang-bincang dengan mereka. Tak lama kemudian bayangan kesepuluh wanita itu menghilang dan digantikan dengan sosok seorang wanita paruh baya mengenakan kimono merah dan bersanggul. Wajah wanita itu tampak sedih, sekalipun aku tak mengerti bahasa yang diucapkan oleh mereka, tapi, aku mampu menghafal setiap kata-katanya.
“Ini adalah hari kelima semenjak Michikko menampakkan diri pada Arimbi, bu. Arimbi terus saja mengalami mimpi-mimpi buruk, saya khawatir akan berakibat buruk padanya. Apa yang harus kulakukan untuk menghadapinya ?” tanya Miwako.
“Yah, ibu tahu. Wanita bernama Arimbi itu, memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Kau harus membimbingnya. Dengan bantuan wanita itu, urusanmu dengan Michikko akan segera terselesaikan. Bukankah terakhir kali dia menceritakan mimpinya kepadamu ? Itu adalah sebuah petunjuk tentang dimana Michikko kini berada. Temukan tempat itu, ibu yakin dia ada disana. Bawa dia kepadaku hidup atau mati,” Bersamaan dengan itu sosok wanita berkimono itu memudar, digantikan dengan kepulan asap-asap tipis melayang-layang di udara yang kemudian menyebar ke segala penjuru ruangan.
_____
Matahari tepat berada di atas kepala. Bangunan yang dulunya bekas sekolah itu masih berdiri kokoh sekalipun terdapat kerusakan di sana-sini. Beberapa tanaman liar yang tumbuh di atas puing-puing bangunan tersebut sebagian menghitam seperti bekas terbakar. Tapi, mereka tetap bercokol di tempatnya semula seakan akar-akar yang tertanam pada puing-puing tersebut telah menyatu dengan sejarah kelam yang tersimpan di tempat itu, enggan meninggalkannya. Sekalipun hari masih terang, serangga-serangga malam masih bersuara seakan tak peduli dengan keadaan di sekitar, tak peduli dengan langkah-langkah kaki kami yang menginjak dahan ataupun ranting-ranting kering.
Kami berjalan menyusuri setiap sudut bangunan dan sampai halaman belakang. Yah, halaman itu yang muncul dalam mimpi burukku. Kami merasakan adanya hawa aneh di sekitar tempat itu, begitu panas sekalipun bayangan tanaman-tanaman merambat dan ilalang menutupi halamannya. Sekalipun angin semilir berhembus perlahan, tapi, suhu di sekitar tempat itu tak berubah.
Sepasang mata kami teman-teman bergerak menyapu ke segala penjuru, sementara, indera penciumanku bekerja keras mencari darimana hawa panas itu berasal. Berbagai peristiwa di masa lalu satu persatu mulai tergambar di benakku.
Tanah pemakaman. Yah, sebelum berdiri SMA Tidar I, itu adalah lokasi pemakaman yang kemudian dipindahkan dan berulang kali beralih fungsi mulai dari kantor pemerintahan, rumah, hingga Cafe. Tempat peristirahatan akhir dijadikan lokasi bisnis, bisa dibayangkan berapa banyak jiwa-jiwa yang tidak terima makamnya dipindahkan begitu saja. Tak terhitung pula berapa banyak developer yang menanggung kerugian, bangkrut karena alasan yang tak jelas juga banyaknya kejadian aneh. Salah satunya kebakaran hebat yang menewaskan hampir seluruh penghuni SMA Tidar I. Penduduk sekitar meyakini bahwa tempat itu telah dikutuk, tak ada seorang pun yang berani datang ke lokasi tersebut.
Sesosok wanita berpakaian coklat tua, berambut panjang tergerai mendadak muncul di hadapanku. Aku melompat ke belakang beberapa tindak saat telunjuk kanannya menuding lurus-lurus ke wajahku. Jantungku serasa berhenti berdetak tanpa sadar aku berseru tertahan. Baik Cindy dan yang lain terkejut buru-buru mereka menghampiriku. “Michikko, akhirnya kau menampakkan diri,” ujar Miwako. Sekalipun aku sudah berulang kali bertemu dengan sosok ini, tapi, aku tak mampu mengendalikan rasa takut yang menjalari tubuhku. Terlebih di saat-saat seperti ini. Ia tiba-tiba muncul dan berjalan menghampiriku.
Langkahnya terhenti saat Miwako menghadang, “Sepertinya kau sama sekali tak ingin melepaskan wanita ini. Mundurlah, jangan sampai aku turun tangan,” katanya. Michikko tak menjawab, tangan kanannya terangkat.
Saat itulah aku merasakan adanya terpaan angin yang cukup keras ke arahku. Miwako mencoba untuk menghadang tapi sedikit terlambat, tubuhku terpental keras ke belakang dan membentur dinding yang berselimutkan semak belukar di belakangku.
Semula aku berharap dinding itu bisa menahan tubuhku, tapi, di luar dugaan dinding itu jebol dan tubuhku melayang turun di tengah udara. “Byur!” tubuhku tenggelam, untuk sesaat aku mencoba untuk menenangkan diri sekalipun hawa dingin menusuk-nusuk tulangku. Saat aku mulai tenang dan mampu menyesuaikan diri dengan tekanan air, barulah berenang ke permukaan. Aku menarik nafas lega manakala tahu bahwa kedalaman air hanya sebatas perut. Tapi, dinginnya air membuat tubuhku menggigil hebat, “Aku harus segera keluar dari sini sebelum darahku membeku,” kataku seorang diri.
Tempat ini begitu gelap, aku harus mengandalkan seluruh inderaku untuk mengetahui dimana sebenarnya aku berada. Tapi, tanpa masker yang menutupi hidung dan mulutku, indera penciumanku lebih peka daripada indera pendengaranku. Air, dinding-dinding bata, udara lembab dan bau lumut, tercium di sekelilingku. Aku berada di dalam sebuah sumur. Untuk kesekian kalinya, indera penciuman membawaku melintasi dimensi waktu masa lampau.
_____
Wanita berambut hitam panjang tergerai itu menatap ke sekeliling, mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah dalam keadaan terpanggang. Kepulan asap hitam diantara jilatan lidah si jago merah yang membakar seluruh bangunan, terbawa angin menyatu dengan awan hitam yang menyelimuti SMA Tidar I dan sekitarnya.
“Kebakaran ... Kebakaran ...” dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang diiringi dengan guyuran air dalam skala yang cukup besar.
Perlahan-lahan nyala api mengecil untuk kemudian padam. Bersamaan dengan itu massa berdatangan memasuki halaman sekolah mereka tampak ngeri bercampur iba melihat mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah. “Lihat, tampaknya ada yang selamat,” seru salah seorang dari massa yang kebetulan sempat melihat wanita yang berdiri di tengah halaman.
“Dia ... aku kenal wanita ini,” sahut salah seorang dari massa tersebut. Beberapa orang berjalan menghampiri, “Yah, aku juga kenal. Dia adalah salah seorang siswa pindahan dari sekolah Okinawa Jepang,”
“Benar. Apa kalian masih ingat kebakaran yang terjadi di jalan Letjend Suprapto ? Banyak ruko dan kios terbakar menewaskan hampir seluruh peghuninya, dia juga ada di sana,”
“Benar, dari sekian banyak kebakaran yang terjadi di kota ini, dia selalu ada di TKP. Bagaimana menurut kalian ?”
“Dialah penyebab kebakaran itu,”
“Kalau begitu bunuh dia agar tidak lagi jatuh korban akibat kebakaran,”
Setelah berkata demikian, warga berjalan menghampiri wanita itu sambil berteriak-teriak “Bunuh dia ! Dia adalah penyihir !” niat mereka adalah untuk menghakimi wanita tersebut, mendadak, seorang wanita keluar dari salah satu lokasi kebakaran, “Michikko tidak salah !! Jangan berbuat seenaknya, biar pihak berwajib mengusutnya dengan tuntas !! Michikko tidak bersalah,” teriaknya untuk kemudian berdiri di depan wanita itu sambil merentangkan kedua tangannya.
“Siapa kamu ? Apa hubungannya dengan wanita ini ?”
“Namaku, Thalia. Puteri Raden Mas Cokrodiningrat. Dia adalah sahabat karibku, namanya Michikko. Dia tidak bersalah !”
Mendengar nama Raden Mas Cokrodiningrat, massa menghentikan langkahnya. Sebuah nama yang cukup disegani oleh para penduduk kota Malang dan sekitarnya. Salah seorang pria berambut kelabu keluar dari kerumunan massa dan menghampiri wanita yang bernama Thalia itu.
“Nduk... kami semua mengenal Ayahmu. Tapi, dia, wanita di belakangmu itu, sudah banyak menyebabkan kebakaran di berbagai tempat. Termasuk sekolahmu ini, hampir seluruh penduduk Tidar dan sekitarnya, menyekolahkan anak mereka disini. Lihatlah di sekitarmu, mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan hangus, dan lihatlah ibu-ibu yang tengah kebingungan mencari anak-anaknya itu. Kalau bukan dia penyebab tragedi ini, siapa lagi ?” tanyanya, “Kini minggirlah, atau kaupun turut menjadi korban. Sekalipun ayahmu adalah orang yang kami segani, kami bisa menjelaskannya pada beliau duduk perkaranya,”
“Auw !!” mendadak Thalia berteriak keras, tubuhnya ditarik ke belakang, jatuh terduduk, tiba-tiba saja Michikko sudah berada di depannya, “Pergilah ! Terima kasih telah membelaku ! Takkan kulupa budimu,” setelah berkata demikian tubuh Michikko mengejang hebat. Perlahan-lahan terdengar suara tawa yang mengerikan, dari dalam tubuh Michikko mendadak keluar sesosok wanita menyerupai Michikko. Sosok itu mengenakan pakaian hitam.
Suara tawa makin terdengar di segala penjuru, bergema dan membuat semua orang menutup telinga. Tak lama kemudian, sosok-sosok serupa bermunculan entah darimana datangnya. Jumlah mereka lebih banyak dari massa yang memenuhi sekolah SMA Tidar I, semua berdiri mengelilinginya, diam tak bergerak sesekali kepala mereka menyentak ke kiri. Pemandangan itu membuat wajah semua orang memucat.
“Lihatlah !” kata seseorang, “Dia menunjukkan sihirnya. Apalagi yang kita tunggu ? Mari kita bunuh gadis bernama Michikko itu, apabila puteri bungsu RM. Cokro menghalangi, bunuh sekalian !” sambil berkata demikian ia melangkah maju dan hendak memukuli Michikko juga Thalia. Tapi, sosok-sosok wanita itu sudah menghadang dan “Krek !” tangan salah seorang sosok wanita itu bergerak menyambar leher orang itu “Krek !” bunyi kedua adalah bunyi tulang leher patah, “Bruk” orang itu roboh dan tidak bergerak-gerak lagi.
Bukannya merasa jeri, tapi, massa terpecah menjadi dua bagian, satu menyerang Michikko dan Thalia sedang yang lain menyerang sosok-sosok wanita berbaju hitam itu. Halaman sekolah yang sudah penuh dengan mayat-mayat hangus berubah menjadi ajang pertumpahan darah. “Hentikan !” mendadak Michikko berteriak keras tapi, teriakannya seakan tak ada yang mendengar, dikalahkan dengan suara hiruk pikuk. Untuk kesekian kalinya Michikko berteriak dan dari tempatnya berdiri memercik bunga-bunga api yang kemudian menyambar ke segala penjuru. Untuk kesekian kalinya, api membakar memanggang semua orang dan keributan tersebut berakhir saat sosok-sosok wanita berpakaian ungu yang berjumlah 10 orang menyambar tubuh Michikko, menyeret dan memasukkannya ke dalam lubang berdiameter lebih kurang 2 meter tak jauh dari toilet wanita.
“Modotte Kite Ne !!” teriak mereka diiringi dengan bunyi deburan air, diiringi dengan jeritan keras dari dalam, “TTIIDDAAKK !!”
Yah, aku mendengarnya dan aku bisa melihat sebuah benda berat tercebur ke dalam sumur. Aku bisa melihat percikan air dan mendarat di wajahku.
Bersambung Jilid Ke- 6