Nggak nyangka sama sekali lagi serius-seriusnya baca buku di perpustakaan tiba-tiba saja di depanku duduk seorang cowok yang tampannya minta ampun. Dia adalah kakak kelas dua tingkat di atasku namanya Gero Bagaskara. Yang aku dengar darinya, dia masih jomblo dan belum punya pacar. Padahal di sekolah menengah atas ini banyak sekali gadis-gadis yang mengejarnya minta untuk menjadi kekasihnya namun tidak pernah digubris olehnya.
Di sela aku membaca buku, aku curi-curi pandang dengannya. Sumpah, dia ganteng banget apalagi kalau lagi fokus kayak gini dia baca bukunya, Oh.. ingin rasanya aku menyapanya sambil berkata 'hai'. Tapi dia cuek amat padahal hanya ada aku saja lho yang duduk di depannya tidak ada siswa lain.
Ya sih, aku sadar diri. Kalau aku ini nggak good looking hanya tampil apa adanya. Tapi seenggaknya sapa kek aku ini biar ada kesan manis-manisnya gitu, eak.. kayak iklan air meniral aja. Hihi.. aku terkikik geli sendiri merutuki kebodohanku.
"Kau sedang menertawakan apa?" Tanyanya dengan alis terangkat sebelah.
Eh, rupanya dia dengar suara tawaku. Duh, ini jantung kok rasanya mau loncat gitu ya, mendengar suara baritonnya yang bertanya padaku.
"Oh.. hmm.."
Nah lho, kenapa jadi gugup kayak gini untuk menjawabnya.
"Hehe.. tidak menertawakan apa-apa kok Kak." Jawabku berkilah sambil menutupi separuh wajahku dengan buku karena aku malu sekali.
"Sepertinya aku baru melihatmu?" Tanyanya lagi sambil menatap diriku yang tengah menunduk pura-pura membaca lagi.
"I-iya, aku anak kelas satu." Jawabku sedikit terbata-bata.
Dia hanya manggut-manggut saja setelah itu tidak ada lagi yang dia ucapkan. Aku sendiri masih curi-curi pandang padanya. Hingga sebuah tepukan mengagetkanku.
"Kecebong loncat." Ucapku kaget, refleks aku menyebut nama hewan itu dengan keras. Hingga semua siswa yang berada di ruangan ini menahan tawanya.
"EH'HEMM!!" Suara deheman dari petugas perpustakaan langsung mengultimatum diriku agar tidak buat keributan. Matanya juga menatap tajam.
"Maaf, Bu." Ucapku pelan seraya mengatupkan kedua tangan.
Sementara Kak Gero dia juga cukup kaget dengan suara kerasku tadi. Sedangkan si pelaku yang berada di sampingku ini hanya nyengir saja tanpa merasa bersalah. Emang dasar sahabatku ini nggak kira-kira orangnya, udah tau aku ini kagetan tapi dikagetin juga. Sahabat durjana emang.
"Gue cari'in taunya Elo di sini." Ucapnya padaku.
"Kan tadi udah aku bilang aku ke perpus, makanya punya kuping tuh digunakan jangan buat pajangan aja." Omelku ketus pada sahabat satuku ini yang bernama Nabila.
"Selow Neng, galak amat jadi cewek. Entar kagak ada yang mau sama Loe kalau Loe jutek gini." Balas Nabila nggak kalah ketusnya.
Aku hanya mengurucutkan bibirku saja sambil meneruskan baca buku ku. Tanpa ku sadari cowok yang ada di hadapanku ini menyunggingkan senyum begitu mendengar perdebatan ku dengan Nabila.
"Eh-eh, Nid.. Kak Gero tersenyum." Bisik Nabila heboh di telinga kananku membuat aku geli saja.
"Diam-diam Loe berduaan aja dengan idola dari sekolah ini." Bisiknya lagi namun matanya masih mengarah ke Kak Gero sambil menampilkan senyum manisnya.
Sahabat satuku ini emang rada ganjen anaknya meskipun dia juga jomblo, hehe... Nggak salah kan kalau aku menertawakan Nabila. Dia kerap sekali caper sama lawan jenis namun sayang tidak ada satupun yang ngeliriknya. Padahal dia juga ingin merasakan gimana punya pacar itu, biar kalau malam Minggu nggak nangkring aja di rumah. Wkwk..
Tet.. Tet.. Tet.. hingga suara bel sekolah membuyarkan siswa-siswa yang berada di ruangan ini untuk kembali lagi ke dalam kelas.
Huffh.. sayang sekali padahal aku masih mau berduaan aja sama Kak Gero. Memandangi ciptaan Tuhan yang bisa buat hatiku dag-dig-dug der.
Ini kali ya, yang dibilang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Kami pun harus berpisah, kenapa aku nggak rela sekali jika harus jauh darinya.
Selama pelajaran berlangsung, aku terus saja memikirkan Kak Gero sampai tidak fokus dengan materi yang diberikan guru. Hingga beberapa jam kemudian pelajaran pun selesai dan semua murid-murid berhamburan keluar dari ruang kelas menuju parkiran.
"Loe kenapa sih murung gitu, Nid?" Tanya Nabila dengan pandangan heran karena setahu Nabila aku ini jarang sekali bermuram durja.
"Bil, kayaknya aku jatuh cinta deh sama Kak Gero." Ungkapku dengan nada serius memberitahu Nabila.
Nabila pun menghentikan langkahnya, begitu juga aku. Dia menempelkan telapak tangannya di keningku mengecek suhu tubuhku panas atau tidak.
"Nggak panas." Ucapnya setelah tau kalau aku memang sehat wal-afiat.
"Ish.." Desisku tidak suka, Nabila seolah mengejekku. Aku pun meneruskan langkahku lagi dan meninggalkan Nabila begitu saja, yang tertawa tidak jelas di belakangku.
"Haha.. Eh, tunggu Nida." Teriaknya memanggilku setelah tawanya terhenti sambil merangkul pundak kiriku.
"Loe serius suka sama Kak Gero?" Tanyanya memastikan.
Aku mengangguk sebagai jawabannya.
"Tapi saingan Loe berat Nid. Loe tahu sendiri kan cewek-cewek di sekolah ini juga berlomba-lomba mengejar cintanya Kak Gero. Apalagi yang Gue denger nih ya, kalau sebenarnya Kak Gero itu sudah punya kekasih." Pidato panjang lebar Nabila.
"Kamu tahu darimana? Bukannya udah jelas ya kalau dia itu jomblo." Ujarku sambil mengernyitkan kening.
"Gue pernah lihat dengan mata kepala Gue sendiri. Kak Gero pernah berboncengan mesra dengan seorang cewek. Apalagi ceweknya cakep abis.. Loe mah kalah level kalau dibandingkan dengan ceweknya." Nabila berucap dengan hebohnya.
Deg..
Begitu mendengar cerita Nabila kalau Kak Gero sudah punya pacar. Hati ini rasanya sakit sekali patah berkeping-keping. Sedihnya. Apalagi dibanding-bandingkan lagi. Mau mewek aja rasanya😞
"Beneran Bil, kamu nggak bohong kan?" Aku masih tidak percaya.
"Iya Nid, mana pernah aku bohong sama kamu." Jawab Nabila sambil memasang helm.
"Iya sayang, aku udah di parkiran nih. Bentar lagi aku jemput kamu."
Suara Kak Gero yang sedang bertelponan dengan seseorang di sebrang sana mengalihkan pandanganku dan juga Nabila.
"Bener kan apa yang gue bilang. Kak Gero itu udah punya pacar tapi dia aja nggak mau umbar-umbar." Nabila berbisik lagi di telingaku.
Dengan lesu akupun memakai helm ku kemudian duduk di jok belakang setelah Nabila menstarter motor maticnya.
Kami pun berkendara di belakang motor Kak Gero yang melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
"Bil, kita ikuti kemana Kak Gero pergi ya?" Pintaku dengan suara keras. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri seseorang yang di panggil sayang itu oleh Kak Gero.
"Ok." Balas Nabila.
Beberapa menit kemudian motor Kak Gero berhenti depan sekolah swasta. Seorang gadis cantik sudah menunggunya di sana.
"Benerkan ucapan gue. Lebih baik Loe singkirkan aja perasaan cinta Loe sama Kak Gero." Ucap Nabila yang turut prihatin.
"Kamu bener Bil, lebih baik aku buang saja rasa cinta ini. Tapi kok nyesek banget ya Bil, lihat Kak Gero mencium kening perempuan itu." Ujarku dengan mata berkaca-kaca suaraku juga rasanya nyangkut di tenggorokan.