SATU DETIK
Malam bulan purnama, malam yang sangat indah. Begitu banyak bintang bertaburan di langit malam. Para jangkrik mulai bernyanyi untuk mencari pasangan. Begitupun aku untuk bisa memilikimu lagi, Bintang.
Starla, duduk di samping jendela, di bawah lampu yang temaram sambil memandangi sebuah foto seorang lelaki. Sesekali Starla melihat langit yang gelap yang dipenuhi oleh bintang-bintang bertaburan. Rembulan bersinar terang hingga para jangkrik memulai konser mereka untuk mencari pasangan hidup. Angin malam berhembus sepoi-sepoi, seolah-olah memeluk tubuh Starla. Awan bergerak perlahan, memberi seni tersendiri di malam purnama. “Andai saja waktu bisa diputar kembali…” Ucap Starla sendari memandangi foto yang ia bawa. Tanpa sadar Starla menitihkan airmata dari mata cantiknya itu, pipinya basah dipenuhi oleh Ari mata.
Starla menatap langit malam yang dipenuhi oleh bintang-bintang dan berkata “Tuhan…tolong beri aku kesempatan sekali lagi, untuk bisa melihatnya. Aku ingin membelai wajahnya yang halus, aku ingin mendengar suara tawanya yang keras, aku ingin merasakan pelukannya yang sangat hangat dan aku ingin melihat senyuman terukir di wajahnya yang manis dan tampan. Walaupun hanya satu detik, aku sangat rindu kepadanya.”
Tok tok tok
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar Starla. “Non Starla, non udah tidur belum? Besok non sekolah loh,” tanya Bi Inem seorang pembantu di rumah keluarga Arkatama. “Iya Bi, bentar lagi Starla tidur. Ini tugas matematika Starla lagi dikit kok,” jawab Starla dari dalam kamar. “Yasudah tapi inget, non gak boleh begadang ya. Kalau begitu bibi tinggal dulu,” ujar bi Inem. Tanpa memikirkan apapun Starla bergegas menuju ke ranjangnya dan menaruh foto yang ia bawa di atas meja belajarnya dan pergi untuk tidur.
Starla Arkatama adalah anak tunggal dari seorang pengusaha yang kaya raya. Sedari kecil Starla sudah mendapatkan fasilitas mewah dari kedua orang tuanya, akan tetapi kehidupan Starla jauh dari kata sempurna dan bahagia. Ayah Starla seorang CEO di sebuah perusahaan besar sedangkan ibunya, ibunya seorang manajer di sebuah perusahaan properti ternama di ibu kota. Setiap Starla ingin berangkat ke sekolah Starla sering melihat kedua orangtuanya yang sibuk dengan laptop dan handphone mereka masing-masing. Menurut Starla kedua orangtuanya lebih mementingkan urusan pekerjaan dibandingkan mengurus anak kandungnya sendiri.
***
Keesokan harinya, Starla berangkat sekolah lebih awal karena ia ingin membeli sebuah novel di toko buku yang tidak jauh dari sekolahnya.
Sesampainya di toko buku, Starla masuk ke toko buku tersebut. Starla mencium aroma buku-buku yang wangi baginya, semua buku terjejer rapi sesuai dengan temanya. Starla berjalan menuju ke lorong bagian novel di sana banyak sekali jenis novel yang di jual mulai dari fiksi, fantasi, horor, dan masih banyak lagi. Di toko itu bukan hanya novel saja yang di jual tapi banyak jenis buku di jual di sana, hanya saja Starla lebih tertarik membeli buku fiksi seperti novel daripada buku tentang pelajaran.
Starla berjalan sambil melihat-lihat novel incaranya. Saat melihat novel incaranya sudah ada di depan mata. Tanpa berpikir panjang lagi, Strala segera mengambil novel incaranya sebelum di ambil oleh orang lain. Sayang seribu sayang novel incaranya berada di rak paling atas, alhasil Starla harus sedikit menjinjitkan kaki nya agar bisa meraih novel yang ia incar. ‘Sial kenapa novel incaranku harus berada di rak paling atas sih’ batin Starla. Beberapa kali Starla mencoba untuk bisa meraih novel incaranya namun hasilnya nihil, Strala tidak bisa meraihnya. Tiba-tiba seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Starla menghampiri dirinya. Laki-laki itu berdiri di belakang Starla “Mau aku bantu gak ngambil novelnya?” tanya si laki-laki misterius.
Starla yang mendengar suara laki-laki itu seperti tidak asing bagi telinganya. Bau parfum dari laki-laki itu tercium jelas oleh hidung Starla, baunya seperti aroma kayu manis. Lantas Starla berbalik untuk melihat laki-laki yang ada di belakangnya. Strala sedikit mendongakkan kepalanya ke atas. Alangkah terkejutnya Starla ketika melihat wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Starla hanya diam mematung, jantungnya berdetak tidak karuan. Perasaannya campur aduk seperti es campur, antara sedih dan bahagia karena orang yang selama ini Starla sayang tengah berdiri dihadapannya.
“B–Bintang?” ucapStarla gugup.
Laki-laki di hadapannya hanya tersenyum. Giginya yang putih dan lesung pipinya yang nampak, “Iya ini aku Bintang. Bintangnya–Starla”. Starla yang mendengar hal itu tidak bisa membendung air matanya lagi, gadis itu memeluk Bintang dan menangis di dadanya. “Aku rindu padamu Bintang. Sangat rindu, sampai-sampai aku tidak bisa tidur nyenyak di malam hari.” Bintang membalas pelukan Starla, laki-laki itu mengelus pucuk kepala Strala dan berkata “Aku juga, sangat rindu kepadamu Starla.”
Saking rindunya Bintang memeluk Starla sangat erat hingga Strala tidak bisa bernafas “Bintang longgarkan sedikit pelukanmu. Aku tidak bisa bernafas,” keluh Starla. Mendengar hal itu Bintang lantas melonggarkan sedikit pelukannya terhadap Starla “Maaf, aku menyakitimu,” ujar Bintang.
Starla hanya menjawabnya dengan gelengan dengan tangan yang masih melingkar di pinggang Bintang. Ia enggan melepas pelukannya dari Bintang karena Starla berpikir jika ia melepaskan pelukannya dari Bintang, apa Bintang akan tetap di sini atau pergi meninggalkannya sendirian lagi? Pertanyaan itu terus muncul di benak Starla. “Starla apa kau tidak bosan memelukku?” tanya Bintang “Tidak, tidak sama sekali. Untuk apa aku bosan jika yang ku peluk adalah Bintang.”
Starla hampir dua puluh menit memeluk Bintang dan itu membuat Starla sangat senang. Sedangkan Bintang yang melihat tingkah laku Starla menjadi gemas sendiri hingga Bintang mencubit kedua pipi chubby Starla “Aduh pacarku satu ini imut sekali.” Starla yang merasa terusik karena pipinya yang chubby di cubit oleh Bintang akhirnya berhenti memeluk laki-laki yang ada di depannya. Starla yang memegang kedua pipinya “Ih Bintang sakit tau,” ucap Starla. Ia berbalik membelakangi Bintang yang artinya Starla sedang ngambek karena Starla tidak suka pipinya yang chubby itu dipegang oleh orang lain.
Bintang yang mengerti akan sikap Starla mulai membujuk Starla dengan sedikit tertawa “Hahaha. Aduh princess nya Bintang jangan ngambek dong. Karena hari ini hari yang spesial untuk kita berdua, jadi aku akan mengikuti semua kemauan mu. Princess Starla.” Mendengar hal itu Starla lantas berbalik dan berhadap-hadapan dengan bintang “Benarkah?” tanya Starla. Bintang menjawabnya dengan anggukan yang berarti dia mau melakukan apapun yang ingin dilakukan oleh Starla.
Starla sangat senang “Yes, kalau gitu hari ini kita bolos sekolah dan kita pergi jalan-jalan keluar berdua. Pokoknya hari ini kita harus bersenang-senang. Harus!!” desak Starla. Bintang yang tersenyum mendengar desakan dari Starla, bahwa dirinya dan Starla harus menghabiskan waktu berdua bersama hanya berdua. “Oke aku akan menurutinya. Jadi hari ini kita akan bersenang-senang.”
Starla dan Bintang pergi ke taman rekreasi dengan kondisi mereka yang masih menggunakan seragam sekolah SMA. Di taman rekreasi dua insan itu bersenang-senang bersama, mereka mencoba menaiki banyak wahana seperti rollercoaster, komedi putar, bomper car, bianglala dan masih banyak lagi. Setelah lelah mencoba semua wahana yang ada di taman hiburan saatnya mengisi perut, karena para cacing mulai berdisko di perut mereka berdua. Bintang memesan dua porsi nasi goreng di warung Bu Imey.
“Starla coba deh nasi gorengnya Bu Imey enak banget. Bahkan nih ya, pas kamu coba suapan pertama rasanya itu kek pengen melayang,” jelas Bintang. Starla hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi hal itu, sedari tadi di pikiran Starla hanya muncul sebuah pertanyaan yang mengganggunya kenapa Bintang menerima ajakan bolos bersama dengan ku? Hanya pertanyaan itu saja yang ada di benaknya sedari tadi. Starla sebenarnya ingin sekali menanyakan alasan kenapa Bintang mau menerima ajakan bolos bersama dengannya seharian penuh, tetapi di sisi lain Starla tidak ingin menghancurkan momen indah yang ia lakukan bersama-sama dengan Bintang.
Setelah mengisi perut, Bintang dan Starla pergi ke pantai pasir putih yang tidak jauh dari warung nasi goreng Buk Imey. Bintang dan Starla bermain dengan ombak pantai yang begitu tenang, sesekali mereka mengumpulkan kerang dan menyusunnya menjadi bentuk hati. Di pasir putih pantai terukir sebuah nama yang bertuliskan Bintang and Starla will always be together yang ditulis oleh Starla sendiri menggunakan sebuah ranting pohon.
Setelah dari pantai Bintang mengajak Starla ke taman bunga di sana mereka hanya duduk dan menikmati hembusan angin sore yang bercampur dengan wangi bunga taman yang sangat harum. Starla sangat menikmati hembusan angin sore yang tenang, Starla memetik beberapa macam bunga yang ada di taman lalu ia merangkai bunga itu menjadi sebuah mahkota untuk Bintang. “Bintang menunduk sedikit. Aku ingin memakaikanmu mahkota dari bunga yang ku buat,” tintah Starla. Bintang menuruti kemauan Strala tanpa satu patah kata pun, dia menunduk agar Starla bisa memakaikannya mahkota bunga. “Ganteng banget sih pangerannya Starla,” puji Starla.
Saat Starla hendak mengelus puncak kepala Bintang, laki-laki yang ada di hadapannya berdiri dan berjalan pergi menuju sebuah danau yang tidak jauh dari taman bunga. Starla merasa ada yang aneh dari Bintang lalu mengikuti langkah Bintang yang menuju ke danau. Hati mungil Starla tidak berhenti bergumam Bintang kenapa? Kenapa sikapnya aneh sekali. Apa aku ada salah ya? Batin Starla. Starla berlari kecil agar bisa menyusul langkah Bintang “Bintang kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu? Kalau aku punya salah sama kamu aku minta maaf,” sentak Starla. Gadis itu menahan pergelangan tangan Bintang dengan kedua tangannya.
Bintang berbalik “Ini untukmu,” ucap Bintang memberikan setangkai bunga mawar hitam kepada Starla. Starla menerima bunga pemberian Bintang dengan penuh tanya “Mengapa mawar hitam?” tanya Starla, “Karena…semua kesenangan kita berdua usai sampai di sini saja,” jawab Bintang. Starla menangis sejadi-jadinya mendengar jawaban dari Bintang. “Kenapa…Kenapa harus berhenti di sini? Hari masih panjang. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Aku tidak mau bertemu psikiater lagi, Aku tidak mau meminum obat lagi dan aku tidak mau depresi lagi. Bahkan aku pernah mengiris pergelangan tanganku dengan pisau, untungnya bi Inem melihat semua itu dan membawaku ke rumah sakit. Itu semua gara-gara kau, gara-gara dirimu Bintang. Aku menggila karena kehilanganmu Bintang,” jelas Starla pipinya basah karena air mata. Bintang menangkub wajah Starla lalu menghapus air mata Starla menggunakan ibu jarinya.
“Maafkan aku. Gara-gara aku kau menyakiti dirimu sendiri.” Bintang memeluk Satrla dan laki-laki itu menangis dalam diam. “Aku mohon jangan pergi lagi,” lirih Starla. “Maaf tidak bisa aku harus pergi.” Mendengar hal itu membuat Starla marah, gadis itu kemudian mendorong tubuh Bintang agar melepas pelukannya “Lantas kenapa kau kembali lagi ke sini? seharusnya kau itu tidak pernah menemuiku lagi. Seharusnya takdir tidak mempertemukan kita berdua. Aku memang cocok hidup sendiri, pantas saja semua orang menjauhiku karena aku ini pembawa sial. Tidak ada yang menyayangiku, bahkan kedua orang tuaku yang hanya sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka tidak peduli dengan anak semata wayangnya. Dan juga aku yang membuatmu tiada karena kecelakaan waktu itu. Aku ini memang anak pembawa sial!!”
“Stop Starla please stop!! Jangan jelekin diri kamu sendiri kamu itu berharga buat orang tua kamu. Kedua orang tuamu sayang sama kamu, hanya saja keadaan yang membuatnya sulit untuk menyalurkan kasih sayangnya kepadamu. Kamu bukan pembawa sial tapi kamu itu pembawa kebahagiaan.”
Starla melihat tubuh Bintang mulai melebur menjadi serpihan kecil-kecil “Bintang tubuhmu kenapa?” tanya Starla panik. “Ternyata waktuku untuk bersamamu sudah habis.” Starla mengulang ucapan Bintang “Waktumu sudah habis?”
“Sebenarnya dunia ini hanya dunia fantasiku saja, karena Starla yang memintanya kepada Tuhan. Starla yang ingin melihat wajahku, Strala yang ingin membelai wajahku, Starla yang ingin melihat aku tersenyum dan juga Starla yang ingin mendengar suara tawaku yang keras kan. Itu semua sudah terpenuhi jadi–“
“Jadi Bintang akan pergi lagi tinggalin Starla?” potong Starla. Perlahan tapi pasti, tubuh Bintang perlahan menghilang Starla ingin memeluk Bintang tapi tidak bisa. “Maafkan aku Starla. Aku tidak bisa membahagiakan mu bahkan sampai akhir hayatku,” ucap Bintang.
“Tidak Bintang, jangan pergi aku minta maaf karena aku membentakmu tadi dan aku marah- marah di depanmu.”
“Tidak Starla dunia kita sudah berbeda. Kamu masih hidup di dunia nyata sedangkan aku, aku udh jadi arwah. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan yang terjadi bersamamu Starla. Jika aku diizinkan terlahir kembali ke dunia aku berharap aku bisa bertemu denganmu sekali lagi. Aku sayang kepadamu Starla Arkatama, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakanmu. Sampai Jumpa Starla Sayang.”
“Tidak-tidak BINTAAAANNNGGG…!!”
***
“BINTAAANNNGGG!!” Starla terbangun dari mimpinya. Nafasnya tidak beraturan, keringat mengucur deras di pelipis serta lehernya, jantungnya berdetak tidak karuan. “Apa itu tadi? Apa itu sebuah mimpi?” Starla bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Saat melihat sekeliling kamarnya Starla tertuju ke meja belajarnya. Dari jauh Starla melihat sebuah mahkota dari bunga serta setangkai bunga mawar hitam tergeletak di meja belajarnya. Starla bangkit dari ranjangnya dan menuju ke meja belajarnya. Dan benar saja di atas meja belajarnya ada sebuah mahkota dari bunga dan setangkai bunga mawar hitam. Starla terkejut saat melihat mahkota bunga yang ada di atas surat itu sangat mirip dengan mahkota bunga yang ia buat untuk bintang.
Saat itu juga Starla menangis sejadi-jadinya hingga sesenggukan karena hal itu depresinya kumat lagi. Starla cepat-cepat mengambil obat penenang di dalam tas sekolahnya agar dirinya tidak berbuat yang tidak-tidak. Starla meminum obat penenangnya dengan kasar entah berapa butir pil penenang yang Starla telan, intinya setelah ia minum pil itu pikirannya merasa tenang dan stabil.
Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Starla, saat ia menoleh siapa yang membuka pintu kamarnya pagi-pagi buta ini ternya yang membuka pintu kamar Starla adalah kedua orang tuanya. “Ayah, Bunda ada apa ke kamar Starla? Bukankah Ayah dan Bunda sibuk dengan pekerjaan kantor?” mendengar hal itu kedua orang tua Starla mendekatinya dan memeluk Starla.
“Maafkan Bunda sayang. Maafkan Bunda tidak memerhatikanmu hingga Starla bolak-balik dari psikiater,” ucap Bunda Starla.
“Maafkan Ayah juga Sayang. Ayah tidak pernah memanjakanmu seperti anak perempuan yang lainya. Ayah tidak pernah mengajak Starla jalan-jalan keliling ibu kota bahkan Ayah dengan Bunda tidak pernah mengambilkan rapor saat kamu naik kelas. Dan juga Ayah dan Bunda tidak datang saat acara kelulusan Strala saat SMP”
Mendengar ucapan dari kedua orang tuanya membuat hati Starla tenang. Starla menangis di pelukan kedua orang tuanya “Bunda nggak salah, yang salah itu Starla. Starla enggak bisa jaga diri Starla sendiri. Ayah nggak perlu manja in Starla dengan ayah peluk Starla aja Starla udah senang.” Pecah sudah tangis kedua orang tua Starla.
Bunda Starla tidak sengaja melihat obat penenang Starla yang dia taruh di atas meja “Starla tadi kamu habis minum obat penenang ya?” tanya Bunda. Starla hanya menjawabnya dengan anggukan. “Kamu sebenarnya kenapa Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu?” tanya ayah Starla. “Ceritanya panjang Ayah Bunda. Oh ya ngomong-ngomong kenapa Ayah sama Bunda masuk ke kamar aku pagi-pagi buta?” tanya Starla. “Pagi-pagi buta? Ini baru jam setengah sembilan malam loh” ucap Bunda.
Mendengar ucapan dari Bunda Starla terkejut karena dirinya merasa bahwa ia sudah tidur beberapa jam. Gimana kok bisa baru jam setengah sembilan malem? Padahal tadi aku berasa tidur Berjam jam batinnya. Tiba-tiba Starla mendengar bisikan yang berbisik di telinganya Satu Detik “Satu detik” ujar Starla. Kedua orang tua Starla bingung “Apa yang satu detik?” tanya Ayah, “Nggak yah, itu novel yang Starla suka judulnya Satu Detik rencananya mau Starla beli besok di toko buku deket sekolah,” jelas Starla. “Sayang kamu udh makan malam belum?” tanya Bunda, Starla menjawabnya dengan gelengan kepala. “Kalau begitu kita makan malam di restoran kesukaan ayah gimana?” tanya Ayah.
“Boleh, kalau Starla gimana?” tanya Bunda. Starla sangat bersemangat, benar yang dikatakan oleh Bintang di dalam mimpinya bahwa kedua orang tuanya sayang kepadanya hanya saja keadaan yang membuatnya mereka sulit untuk bertemu. “Iya Boleh” Jawab Starla dengan senyuman.
TAMAT