"Paket... Paket... Paket..." Seseorang dari luar pagar kost-kostan. Seseorang yang tak ada lain adalah seorang kurir. Dari dalam, seseorang datang menghampiri. "Mas ada paket nih."
"Copet!? Mana!? Mana!?"
"Paket!!!"
"To*et... Sembarangan loe! Gede nggak!?"
"Paket! Pa-pa Ke-ke + T. PAKET..."
"OOO..."
"Paham!?"
"Tentu saja."
"Apa coba!?"
"Ketpa..."
"Jenius loe..."
"Hadiahnya mana?"
"Nih bogem mentah mau loe!?"
"Boleh juga noh di rendang."
"Kepala loe tuh di rendang."
"Emang loe mau makan!?"
"Nih paketnya..."
"Apaan nih!? Segede Bagong gini!?"
"Mana ketehe!?"
"Lah disitu tulisnya apa!?"
"Loe baca aja diri."
"Gue bisanya cuma huruf Pallawa!"
"Sialan nambahin kerja gue aja loe."
"Lah derita loe,"
"Nih gue bacain buat loe,"
"Yang keras."
"Pake toa!"
"Noh siku gue nih toa-nya."
"Denger baik-baik."
"Siap, bapak guru."
"Emas dua puluh dua gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan Ka..."
"Bercanda aja loe..."
"Dari pada berjanda kan mending bercanda,"
"Dari Babah Liong buat Sadikin Van Damme. Sebuah kursi goyang peninggalan jaman kompeni. Sadikin Van Damme siapa!?"
"Lah loe yang baca,"
"Temen loe bukan!?"
"Bukan!"
"Lah berarti gue Ayu Teng Tong..."
"Ayu Teng Tong!?"
"Ntuh tuh yang nyanyi salah alamat,"
"Ayu Ting Ting goublok!"
"Ntar loe kena royalti."
"Kampret loe,"
"Nih, kursi goyang yang tidak goyang."
"Apaan!?"
"Loe congekan apa budek permanen!?"
"Kursi goyang yang tidak goyang itu maksudnya apa!?"
"Mana ketehe! Loe tanya aja sama pengirimannya. Dikin mana!?"
"Dinas."
"Lah ini loe terima."
"Iya loe angkat."
"Benar-benar dah loe."
Kursi goyang yang tidak goyang gimana ceritanya coba!? Mau tahu ceritanya!? Ntar, saat tuh anak kost pada balik.
Pukul tujuh malam. Anak-anak kost udah pada balik semua. Itu kursi goyang setia ngejogrok di sudut ruang. Tadi satu dua anak kost ada yang iseng menaiki. Dan benar adanya kursi goyang itu tidak bergoyang. Sama sekali tidak bergoyang!
"Lah si Boris Yeltsin. Si Kodrat yang badannya segede gajah aja kagak goyang apalagi loe, kring, cungkring."
"Mungkin gue orang yang beruntung siapa tahu."
"Lah loe coba dah,"
Boris Yeltsin pun duduk. Boris Yeltsin menggerakkan badannya. Dan benar saja itu kursi goyang tidak goyang. Sama sekali gak goyang!
"Goyang kagak!?"
"Kok bisa ya,"
"Mana ketehe,"
"Apa jangan-jangan..."
"Jangan-jangan kepala loe peang... Ini pasti ada ilmu hitung-hitungannya ini. Otak loe, otak horor aja. Sekali-kali loe nontonnya BF dong, horor melulu."
"Matematika sama BF apa hubungannya!?"
"Lah hubung-hubungin aja sendiri."
"Loe udah coba?"
"Sampai badan gue pada pegel-pegel."
"Gila benar nih kursi."
"Loe itu orang yang ke sembilan ratus sembilan puluh sembilan tahu nggak!?"
"Lebay loe,"
"Kin. Gawean loe nih udah loe coba."
"Ogah gue..."
"Terus kenapa loe beli?!"
"Siapa juga yang beli."
"Lah tadi paket,"
"Itu agunan."
"Agunan!? Kepala loe bau kembang!? Dimana-mana tuh yang namanya agunan tuh surat tanah, BPKB kendaraan, ijasah, terus..."
"Ketahuan urat miskin loe..."
"Mending gue ketahuan miskin daripada loe..."
"Udah-udah pada ribut aja loe."
"Terus gimana ini,"
"Lah urusan apa sama loe,"
"Gimana kalau kursi goyang ini tiba-tiba goyang!?"
"Maksud loe!?"
"Ntar malam ini kursi goyang tiba-tiba goyang tanpa ada yang tunggangi."
"Tunggangi? Loe kata kuda ditunggangi!?"
"Iya berarti benar dugaan si Cungkring ini kursi goyang memang ada penunggunya."
"Sialan! Serem amat!"
"Masya Allah."
"Bisa-bisa kita pada mati berdiri ini."
"Loe aja kali gue mah kagak."
"Sombong sekali dikau Sadikin Van Damme."
"Lah emang ada ceritanya orang mati karena melihat hantu."
"Kagak! Tapi kalau dicekik ada!"
"Siapa!?"
"Neneknya si Murad noh."
"Berarti loe kakek gue dong! Tahu-tahuan loe nenek gue mati dicekek hantu."
"Emangnya nenek loe matinya kenapa, Rad!?"
"Neneknya mati keinjek semut. Hahaha..."
"Lah berarti dia kakek tiri dong, Rad."
"Bukan! Dia selingkuhan kakek gue!"
"Kakek loe belok!"
"Kakek gue kanan-kiri ok!"
"Emang loe udah pernah dicobain kakek loe, Rad?!"
"Sama kakek loe sekalian udah pernah nyobain gue."
"Pantes kakek gue kan matinya kena rabies!"
"Dasar gukguk loe kata si Murad... Mentang-mentang giginya pada sok aksi..."
"Udah. Udah pada ngalor ngidul gak jelas loe. Bulanan loe pada kemarin. Buruan sebelum Tante Rita mencak-mencak noh."
"Lah kemarin kan udah pada kita setor sama si Van Damme."
"Apa urusannya loe setor ke dia!?"
"Lah wong katanya Tante Rita yang nyuruh bukan begitu saudara-saudara.
"BEGITU...!" Puluhan orang berteriak mengiyakan.
"Loe udah berani main belakang sama gue, Kin. Kalau mau bersaing di depan dong."
"Loe enak juga makan sendiri, gimana orang nggak ngiri, benar gak, Yul!? Woii Tuyul...!"
"Iya, Nold. Jangan kata si Sadikin lah gue kan juga pengen."
"Pengen!? Pengen apa maksud loe!?"
"Hmmm... Hmmm..."
"Gila loe ya! Eh, Tuyul kadaluarsa itu orang adik emak gue gimana ceritanya gue..."
"Tante Rita adik emak loe!?"
"Adik Tiri emak gue!?"
"Bapak loe selingkuh!?"
"Dari tadi mulut loe ya selingkah-selingkuh Mulu! Otak loe kagak pernah jauh-jauh dari selangkangan. Kurang-kurangi nonton begituan!"
"Lah loe juga ikut nonton gimana. Eh ini ada film baru nih, bintang baru, settingan baru, tema juga baru."
"APAAN!?" Puluhan orang serempak berseru.
"Judulnya, BERCINTA DALAM KUBUR..."
"Loe aja yang nonton, dasar Eek Gorila loe!"
"Eh, Sadikin Van Damme mana tuh duit kostan anak-anak."
"Tuh..."
"Tuh?! Tuh apaan!?"
"Iya itu kursi goyang!"
"Maksud loe apaan!?"
"Iya itu kursi goyang kok malah pake nanya."
"Maksudnya tuh duit loe kasiin Babah Liong!?"
"Gue pinjemin. Ntar juga dia balikkan."
"Dasar Monkey loe! Otak loe dibuat kemana!? Gimana kalau tuh orang ngemplang!?"
"Loe tuh negatif thinking Mulu loh. Orang kayak loe susah majunya. Jadi orang tuh harus positif thinking. Kayak si Murad noh. Benar, gak, Rad."
"Apa loe kata dah, Kin."
"Gue serius ini, Kin."
"Serius udah bubar jalan!"
"Jangan gara-gara ini kursi kita bunuh-bunuhan, Kin."
"Rendah amat martabat loe."
"Eh itu nyangkut masa depan kita semua setan!"
"Masa depan loe itu di tangan Tuhan."
"Tuhan, Tuhan loe kata!? Besok loe mau tidur di emperan!"
"Lah loe mikir dulu napa, Kin. Gue susah apa kumpulin tuh duit. Nah loe main pinjam-pinjam begitu aja."
"Tuh dengar tuh keluh kesah si Cungkring!'
"SETUJU..."Puluhan orang berteriak menyahut.
"Ntar kalo tuh duit dibalikin loe gak gue bagi."
"Bagi-bagi kepala loe!"
"Mau loe!? Ambil!!"
"Ogah! Kepala loe kagak ada otaknya!!!"
"Lah, Nold loe ngajak ribut ama gue, loe. Gue beli."
"Gue beli! Loe kata gue miskin apa!?"
"Let's get it on! seru Murad.
Sadikin menyerbu. Arnold pun menyerbu. Mereka pun berjibaku. Murad menjadi wasit. Puluhan orang jadi penonton "Serang! Hantam! Tendang! Gigit kupingnya! Sekalian pusernya...!"
Ruangan seketika riuh bergemuruh. Sampai-sampai tanpa mereka sadari itu kursi goyang tengah bergoyang-goyang...
Sepuluh menit berselang seseorang dari penonton, sambil mengucek-kucek matanya baru menyadari kalau kursi goyang itu sedang bergoyang-goyang. Kursi goyang itu bergoyang-goyang... tanpa ada yang menunggangi!
"Woii.... Berhenti. Berhenti. Berhenti...!"
"Apaan sih loe!? Lagi tanggung nih!!"
"Tuh kursi, tuh kursi, tuh kursi... Goyang. Lagi bergoyang-goyang."
PULUHAN PASANG MATA SEKETIKA MENGHUJAMKAN PANDANG KE ARAH DI TUNJUK...
LALU SERENTAK BERSUARA...
SETAN....
BERHAMBURAN KELUAR ARENA.
Kursi goyang yang katanya tidak bergoyang sekarang sedang bergoyang-goyang. Kok bisa!? Sepertinya benar tuh kata salah seorang anak kost, kalau kursi goyang itu ada penunggunya.
Gak! Itu gak benar! Kalau loe kagak percaya lihat aja noh dibalik pohon mangga yang selemparan batu dari rumah kost-kostan tersebut. Di sana seseorang lagi bersembunyi sambil memainkan remote control kegemarannya. Tuh orang namanya Babah Liong. Orang yang punya maksud dan tujuan ingin membeli tanah dan bangunan rumah itu. Hasratnya sudah sekian purnama. Dan sebentar lagi sepertinya bakal terwujud... "Mampus loe gue kasi telol hantu loe Hahaha..."
Pada saat itu jam telah menunjuk pukul satu dini hari. Babah Liong ketawa kegirangan sampai jejingkrakan dia. "Ini yang namanya dlone bego!"
"Drone apa Dlone koh!?" Suara bertanya dari belakang pundaknya. Sekonyong-sekonyong Babah Liong amuk, dia merasa dikatai. Dia pun berniat menghajar si pemilik suara. Dia pun berbalik badan. Dia berniat untuk mencekik mati itu orang."Loe nyindir gu..." Tapi nafas di tenggorokannya tiba-tiba tercekat begitu rupa.
Bak orang kesurupan dia pun berlari tunggang langgang tak lupa ia juga berteriak: SETAN...!
"Terus gue harus bilang Wow gitu!" kata si Setan balik kandang sambil meloncat-loncat sudah pas seperti pocong.
"LAH EMANG GUE POCONG GIMANA SIH!?"