"Dor... Dor... Dor..." Suara tembakan.
Lampu padam.
Orang-orang berlarian. Orang-orang berteriak.
"Dor... Dor... Dor..." Sekali lagi suara tembakan.
Suara kaca pecah.
Orang-orang berteriak. Orang-orang menangis.
"Dor... Dor... Dor..." Suara tembakan terdengar lagi.
"Akh...!" Sepertinya ada yang tertembak.
Setelahnya sekian menit berlalu suara tembakan tak terdengar lagi.Suara orang-orang pun bagai ditelan bumi.Malam pun luruh bermahkota sepi.
Satu lampu menyala tiba-tiba.
Lampu sorot yang berada persis di tengah-tengah panggung.Lampu sorot itu menyorot tepat ke sesosok tubuh yang terbujur kaku bermandikan darah.Dari bangku penonton suara tepukan tangan bergemuruh serentak.Penonton bangkit berdiri. Tirai ditutup.
"Jenderal bangun. Woii Jenderal bangun pertunjukan sudah selesai. Kamu berhasil. Woii Hans! Jenderal gadungan bangun loe!" Seseorang menepuk-nepuk muka sesosok tubuh yang tengah terbujur kaku bermandikan darah.
Sekian detik tak ada reaksi. Seseorang yang menepuk muka tadi kini ganti memeriksa nadi sesosok tubuh yang tengah terbujur kaku bermandikan darah.Telinganya ia rapatkan ke pergelangan tangan. "Woii Hans Mati...!"
"APA...!?" Orang-orang yang berada di sekitar panggung tentulah mendengar dan tentulah kaget.
"Hans Mati! Hans benar-benar mati!" Pekik ketakutan seseorang yang menepuk muka seseorang yang tengah terbujur kaku bermandikan darah itu--dia yang bernama Hans. Hansel Raditya Atmoko.
***
HANS ARTIS PAPAN ATAS YANG DUA HARI LALU BARU SAJA MENDAPATKAN PENGHARGAAN BERGENGSI INSAN FILM NEGERI SEBAGAI AKTOR TERBAIK SELAMA DUA TAHUN BERTURUT DIDAPATI TELAH MEREGANG NYAWA DI ATAS PANGGUNG PADA SAAT MEMERANKAN TOKOH SANG JENDERAL DARI PENTAS TEATER KOLOSAL SANG JENDERAL YANG DIBESUT OLEH SUTRADARA KENAMAAN PUTU SUTARDJO.
HANS TEWAS DENGAN LUKA TEMBAK YANG MENEMBUS TEPAT DADA KIRINYA.
***
"Aku mati!? Masak sih!?"
"Iya loe udah mati alias koit alias death alias die alis mangkat alias wafat alias..."
"Kok bisa!?"
"Pertanyaan apaan tuh!?"
"Kenapa gue bisa mati!?"
"Karena loe pernah hidup! Semua yang hidup bakal mati!"
"Maksud gue sebab musabab kematian gue apa!?"
"Iya karena nyawa loe gue cabut beleguk!"
"Loe siapa!?"
"Elvis Presley!!!"
"Elvis Presley!?"
"Gue malaikat pencabut nyawa loe dongok!"
"Kenapa loe cabut nyawa gue!?"
"Kalau nyawa loe gak cabut apa kata dunia!? Gak ada sejarahnya Mana orang yang ditembak tepat di dada kiri, noh pas di jantung loe noh bisa hidup dan sehat walafiat!"
"Gue ditembak!?Gimana..."
"Begini. Dor... Dor... Dor...!"
"Kenapa...!?"
"Mana ketehe!?"
"Siapa pelakunya!?"
"Tanyakan pada rumput yang bergoyang."
"ASU...!"
"Ayo segera menghadap."
"Menghadap!? Menghadap ke mana!?"
"Pos Pol terdekat! Dasar idiota! Iya pengadilan terakhir."
"Gue benaran mati ini!?"
"EGP....!"
***
Pagi hari di Minggu yang cerah.Dua hari setelah peristiwa yang menggemparkan tersebut. Percakapan di warung kopi hanya mencakapkan peristiwa tersebut.
"Kasihan Pak Putu kok bisa-bisanya dia yang dijadikan tersangka padahal dia kan..."
"Lah, sebagai sutradara dia memang kudu tanggung jawab."
"Lah, yang jederkan bukan dia."
"Dia lalai tidak memeriksa pistol yang akan digunakan oleh Seto untuk menembak Sang Jenderal."
"Lah kan bisa pistol itu ditukar."
"Ditukar gimana? Lah wong pak Putu sendiri mengakui kalau pistol yang digunakan untuk menembak itu memang pistol itu."
"Terus kenapa Seto tidak jadi tersangka?"
"Kenapa juga dia harus jadi tersangka!?"
"Lah yang nembakkan dia?"
"Lah dia nembakkan karena itu bagian dari cerita. Gimana sih!?"
"Iya kan yang ditembak mati beneran?"
"Terus gue harus bilang wow gitu!?"
"Jangan bercanda! Saya serius ini!"
"Serius udah bubar!"
"Oke pertanyaan saya ganti."
"Loe kata lagi main bola pake ganti-ganti segala. Jelas-jelas si Seto itu menerima itu pistol dari pak Putu. Pak Putu pun mengakui kalau ia memang memberikan pistol itu kepada Seto. Sekarang yang perlu dibuktikan oleh bapak disana adalah apakah itu sungguh-sungguh cuma kelalaian semata atau apakah memang ada unsur kelalaian."
"Maksudnya!?"
"Iya unsur kesengajaan. Kesengajaan yang sesungguhnya direncanakan."
"Oleh siapa!?"
"Iya siapa lagi!?"
"Pak Putu!"
"Kok bisa?"
"Skandal asmara."
"Skandal asmara!?"
"Cinta segitiga!"
"Cinta segitiga!?"
"Iya si Ayu pacarnya Hans itu kan..."
"Kamu jangan bikin gosip."
"Lah..."
"Si Ayu itu kan anaknya Pak Putu."
"Anak tiri."
"Emang kenapa?!"
"Lolita loe pernah baca nggak cerita itu."
"Sorry gue sibuk gak punya waktu."
"Sibuk pala loe bau Pete! Sepertinya pak Putu itu menaruh hati pada anak tirinya itu."
"Sok tempe kamu!"
"Ini udah bibir tahu gak!?"
"Bibir atas apa bibir bawah!?"
"Bibir Setan...!"
"Loe setannya!"
"Loe bapaknya!"
"Nantangin loe!?"
"Loe jual. Gue beli!"
"Siapa takut!"
"Oke!"
Sepertinya adu gelut tak akan terelakan.
Satu... Dua... Tiga...
Setan dan bapaknya setan berusaha untuk jambak-jambakan tapi apa mau dikata rambut pun mereka tak punya. Niatnya sih pengen gigit-gigitan, tapi sayang seribu kali sayang, gigi pun sudah pada tandas. Mau gebuk-gebukan, jari pun pada kutilan. Mau tendang-tendangan, jempol pun pada cantengan. Satu-satunya cara ya cuma adu lidah. Tapi tuh orang ngakunya masih pada demen yang bahenol-bahenol. Trus apa solusinya!? Iya adu jangkrik!
***
Pengadilan terakhir.
"Nama saudara?"
"Hans! Hansel!"
"Hansel. Apa kabarnya si Gretel?"
"Maksudnya?"
"Kamu Hansel kan?"
"Saya bapak hakim."
"Trus?"
"Apanya?"
"Maksudnya?"
"Gretel?"
"Kakak kamu?Apa pacar kamu?Apa selingkuhan kamu?!"
"Sebenarnya kita lagi membahas apa sih!?"
"Gretel!"
"Saya gak kenal pak hakim."
"Trus gue harus bilang wow begitu!?"
"Pak Jaksa saya salah apa sih? Kok saya...!?"
"Ini pengadilan terakhir."
"Tapi hubungan dengan Gretel apa!?"
"Tanya pak hakim, jangan tanya saya."
"Hubungan saya dengan Gretel apa ya pak hakim."
"Di sini yang punya urusan saya apa kamu!?"
"Lah saya aja gak tahu kenapa saya ada disini!?"
"Eh, Pak Jaksa kamu gimana ini masak ini orang gak tahu dia punya urusan apa disini!?"
"Lah saya juga disodori sama si malaikat pencabut nyawa pak hakim. Katanya bawa kemari, saya bawa kemari."
"Panggil malaikat pencabut nyawa kemari."
"Lah makhluknya disamping saya pak hakim."
"Dia!? Saya kirain cacing kremi tadi. Loe eksis boy!?"
"Saya pak hakim."
"Eh Loe Olang ada ulusan apa bawa ini cecunguk busuk kemali ah. Hotverdome!"
"Kok jadi VOC gini ya!?"
"Answer me please..."
"Gini Pak hakim..."
"Kenapa harus begini kenapa bukan begitu!?"
"Ini hakim salah minum obat kali ya."
"Saya punya teling ya. Saya dengar apa kamu punya omong! Siapa kamu punya nama tadi!?"
"Hansel, Pak hakim."
"Oh iya kamu belum jawab saya punya tadi. Kamu dan Gretel..."
"Saya gak kenal pak hakim!"
"Oke! Teruskan!"
"Apanya yang mau diteruskan!?"
"Kamu punya soal apa beleguk!?"
"Lah, yang punya soal bukan saya pak hakim tapi tuh si malaikat pencabut nyawa."
"Eh, cacing kremi yang punya soal kamu apa dia!?"
"Iya dia pak hakim."
"Terus kenapa dia bilang kamu!"
"Mana saya tahu!?"
"Eh, kamu, siapa tadi kamu punya nama?"
"Hansel Pak hakim."
"Iya, kamu kenapa tuduh-tuduh dia?"
"Lah yang bawa saya kemari kan dia."
"Eh, kamu, cacing kremi ngapain kamu bawa dia kemari!?"
"Untuk ditimbang kesalahannya pak hakim."
"Kamu salah tempat dongok ini bukan tempatnya. Ruangannya disana. Bego...! Ini buat tempat orang yang keberatan."
"Saya keberatan pak hakim!"
"Berarti kamu harus diet!"
"Hakim SARAP!!"
"Campakkan dia ke... Siapa tadi nama kamu!?"
"Seto pak Hakim."
"Campakkan Si Seto beleguk ke NERAKA... Kata-kata saya ini final. Tidak bisa ditarik kembali."
"Berarti... Pak hakim...?"
"Siapa nama kamu tadi!?"
"Hansel."
"Apa kabar Gretel?"
"Sehat Alhamdulillah pak hakim."
"Bagus. Masukkan dia ke surga. Dia sudah berbuat baik kepada Gretel.
"Saya minta disposisi pak hakim. Saya kangen sama Gretel. Saya pengen ketemu Gretel pak hakim."
"Gretel ada dimana?"
"Bumi pak Hakim."
"Karena kamu sudah merawat Gretel dengan baik. Kamu saya beri kesempatan untuk bertemu dengan dia. Cacing kremi balikan ke Bumi."
"Apa kata Neraka pak hakim."
"Iya kamu masukkan Seto ke neraka. Gitu aja pake tanya. Sudah waktu sidang telah berakhir. Sekian dan terima gaji."
Kampak diketok! Meja ambruk!
***