#4 Dipuja Sekaligus Dibenci
Michikko sebenarnya adalah adik kandung Miwako. Mereka mewarisi bakat ibunya Ukkonawa yang mampu berkomunikasi dengan alam gaib. Kemampuan ini membuat Hiroshi, sang Ayah merasa tidak nyaman apabila berada di dekat 3 orang wanita itu, padahal mereka semua sangat menyayangi dan memperhatikannya. Justru perhatian dan kasih sayang itu, membuat Hiroshi makin tak nyaman. Sebagai pelampiasan rasa tidak nyamannya, Hiroshi pergi dari rumah dan tak pulang hingga berhari-hari. Hal itu membuat Ukkonawa harus pergi mencarinya kemana-mana, hingga pada suatu hari, dengan mata kepala sendiri melihat sang suami tidur bersama wanita lain dalam keadaan telanjang.
Melihat pemandangan itu Ukkonawa marah besar dan mengajukan cerai. Keputusan ini disambut Hiroshi dengan sebuah syarat, yakni : salah satu dari kedua putri mereka, Miwako dan Michikko, harus tinggal bersamanya.
Sebuah syarat yang cukup berat bagi seorang ibu. Saat Ukkonawa membicarakan persyaratan ini pada Miwako dan Michikko, Michikko memutuskan untuk tinggal bersama Sang Ayah dengan harapan bisa mengarahkan Ayahnya untuk kembali ke jalan yang benar, harapan yang terbesar adalah mempersatukan kembali Ayah-Ibunya.
Tapi, setelah tinggal bersama Ayahnya, justru Michikko menderita tekanan batin. Sang Ayah bukanlah sosok yang selama ini dikenalnya. Sang Ayah menjadi sosok yang berbeda : kasar, pemarah, berfoya-foya, main pukul dan main wanita. Bagi anak yang baru berusia 10 tahun, ia harus dihadapkan oleh perlakuan tak pantas dari Hiroshi. Lebih parah lagi, saat menginjak usia 12 tahun, Michikko harus menjadi objek pemuas nafsu birahi sang Ayah yang tak terkendali. Jika menolak, maka, lecutan cemeti Sang Ayah senantiasa mendarat di tubuhnya. Hingga suatu malam, Michikko berjalan menuju ke kamar Ayahnya. Sayup-sayup telinganya mendengar desahan nafas dan jeritan tertahan dari dalam. Sebuah suasana yang tidak asing bagi Michikko, di dalam sana Ayahnya tengah bercinta dengan seorang pelacur.
Mendadak sepasang mata Michikko seperti berkilat-kilat, tanpa ragu tangannya mementangkan daun pintu kamar lebar-lebar. Begitu pintu terbuka lebar-lebar, cahaya lampu menerangi 2 sosok tubuh tanpa busana, laki-laki dan perempuan. Michikko mengenal laki-laki itu yang kini tampak terkejut bercampur gusar, “Anak kurang ajar, berani benar menerobos masuk ke kamarku ! Apa kau sudah bosan hidup ?!” serunya. Baru saja menutup mulutnya, Hiroshi merasakan lehernya seperti dicekik oleh jari-jari tangan raksasa, tak ada kata-kata kasar lagi yang keluar dari mulutnya saat mendadak tubuhnya terangkat tinggi-tinggi di udara. Cekikan itu makin kencang, membuat Hiroshi kesakitan dan susah bernafas. Mata laki-laki itu terbelalak lebar, Michikko hanya menatap tajam ke arah Hiroshi, saat menggerakkan kepalanya ke kiri terdengar bunyi seperti tulang patah, “Krek !” itu adalah bunyi tulang leher Hiroshi yang patah. Tubuhnya mengejang sesaat sebelum akhirnya tak bergerak-gerak lagi.
Wanita yang berada di ruangan tersebut menjerit ketakutan dan hendak keluar, tapi, rambutnya seperti ditarik oleh sebuah kekuatan tak kasat mata. Dia berteriak-teriak kesakitan, tubuhnya mendadak melayang ke udara dan dihempaskan keras-keras ke dinding.
“Bruk!” punggung wanita itu beradu dengan tembok sementara sepasang matanya menatap Michikko yang hanya berdiri sambil menatapnya lekat-lekat. Wanita itu berteriak-teriak ketakutan, wajahnya pucat pasi. Ia minta dikasihani.
Jambakan pada rambut wanita itu semakin kencang, jeritan kesakitan wanita itu semakin keras, memenuhi ruangan yang remang-remang. “Breth !!” terdengar suara keras diiringi dengan percikan darah berhamburan hampir ke seluruh ruangan. Rambut wanita itu tercabut dari kepalanya, tak terdengar lagi jeritan kesakitan. Wanita itu mungkin pingsan, mungkin pula sudah tak bernyawa dengan kepala yang gundul bersimbah darah, tak terhitung berapa urat-urat dan pembuluh darah di kepalanya yang tercabut.
Michikko berjalan mengamati 2 sosok yang tergeletak di tempat tidur. Jari-jemarinya bergerak meraih sebuah boneka yang diletakkan di sebelah kanan tempat tidur. Sebuah boneka wanita berambut panjang terurai. Sekilas boneka itu tampak lucu, tapi, sepasang matanya seperti hidup bergerak naik turun saat Michikko menggendong dan melangkah meninggalkan ruangan itu. Detik berikut dari tempat dimana boneka itu berada, memercik bunga-bunga api yang kemudian mendadak saja lidah-lidah api muncul dan menjilat-jilat membakar seluruh perabotan yang ada di ruangan itu. Nyala api terus membesar, menyambar dan membakar semua yang ada. Saat rumah dimana Hiroshi habis terbakar, tubuh Michikko menghilang ditelan kegelapan malam.
_____
Beberapa hari kemudian, Michikko datang menemui Ukkonawa dan Miwako, ia menceritakan kejadian yang dialaminya selama 2 – 3 tahun ini. Trauma yang dialami Michikko benar-benar membuatnya berubah. Jika dulu ia adalah gadis periang, suka senyum, mudah bergaul dengan siapa saja berubah menjadi gadis pendiam, pemurung dan tak banyak bicara. Ia lebih suka menghabiskan waktu bersama bonekanya. Baik Ukkonawa dan Miwako memaklumi keadaan Michikko. Butuh waktu yang cukup lamauntuk mengembalikan wanita itu menjadi seperti dulu sewaktu masih bersama-sama.
Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima keadaan Michikko. Saat usianya menginjak 13 tahun, Michikko tumbuh menjadi seorang gadis yang jelita. Bersamaan dengan itu kemampuan yang ada pada dirinya menjadi tak terkendali. Saat emosinya tidak stabil, orang-orang di dekatnya mendapat celaka. Ukkonawa mengajarkan bagaimana Michikko harus bisa mengendalikan kekuatannya, tak jarang ia menyalahkan diri sendiri karena memiliki kemampuan gaib dan menurun pada anak-anaknya. Di pihak Michikko, kekuatan yang ia punya adalah sebuah kutukan, bukan anugerah.
Hingga suatu malam, Michikko mendapati dirinya tengah berada di tanah lapang yang cukup luas. Hidungnya mencium bau hangus, telinganya sayup-sayup mendengar jeritan minta tolong dari arah yang cukup jauh. Di sekelilingnya tampak mayat-mayat bergelimpangan tak tentu arah dalam keadaan menghitam dengan asap mengepul disana-sini. Sebagian dari tubuh itu masih terbungkus oleh bara api. Diantara mayat-mayat yang hangus terbakar itu, ia juga mendapati mayat Ibu dan kakaknya. Tanah tempatnya berpijak mendadak bergetar hebat, diantara jeritan-jeritan itu terdengar pula ledakan dahsyat disusul batu-batu api sebesar gunung turun dari langit. Tapi, hujan batu itu sama sekali tidak mengenai tubuhnya. Menghancur leburkan segala yang ada di tempat itu. Rumah-rumah terbakar sebagian sudah menjadi puing-puing berserakan tak beraturan.
Mendadak, mayat-mayat yang bergelimpangan itu bergerak-gerak, merayap mengarah pada sebuah lubang menganga lebar dan di dalam lubang itu kawah api siap menelan apa saja yang masuk ke dalamnya. Tak terkecuali tubuh Michikko sendiri ikut terseret masuk ke dalam kawah itu. Michikko berteriak, ia tak mau mati begitu saja, setidaknya ia harus bisa bertahan agar tidak masuk ke dalam. Ia meraih apa saja untuk dijadikan pegangan. Tapi, jari-jemarinya serasa melemah dan akhirnya diiringi dengan jeritan menyayat, tubuh Michikko melayang-layang ke udara sejenak untuk selanjutnya dicampakkan ke dalam kawah api tersebut.
Jeritan Michikko berakhir saat merasakan bahunya dicengkeram kuat-kuat oleh jari-jemari lentik milik Miwako. Ia baru saja bermimpi. Udara malam itu memang panas tidak biasa, tak biasanya terjaga dalam keadaan tubuh basah kuyub oleh keringat. Saat Michikko bercerita tentang mimpinya, bagi Ukkonawa dan kakaknya yang ternyata mengalami mimpi yang sama, itu adalah sebuah peringatan ... dalam beberapa hari ke depan bencana itu pasti akan datang.
Malam itu juga keluarga Ukkonawa memberitakan apa yang didapat dari mimpi mereka kepada penduduk yang lain. Sebagian penduduk mempercayainya, tapi, sebagian lagi mencemoohnya malah mengusirnya. Bagi penduduk yang percaya dengan penglihatan Keluarga Ukkonawa, segera berkemas dan mengungsi ke tempat yang dirasa aman sementara yang lain hanya tertawa mengejek. Dan, 1 minggu setelah keluarga Ukkonawa pergi, bencana itu terjadi, tak ada seorang penduduk pun yang selamat.
Sebagai balas jasa para penduduk yang diselamatkan oleh Keluarga Ukkonawa, mereka menjamin kehidupan keluarga itu sepenuhnya. Keluarga Ukkonawa menjalani hidupnya sebagaimana mestinya, tidak lagi dikucilkan oleh orang dan Michikko harus melanjutkan sekolah. Untuk sesaat Keluarga itu hidup tenang dan damai, tapi, seiring dengan bertambahnya usia, 15 tahun, kecantikan Michikko makin membuat kaum Adam tergila-gila. Tapi, Michikko lebih memilih menutup diri, beberapa pemuda yang sakit hati gara-gara cinta ditolak, memilih jalan nekad. Mereka harus menyadari bahwa, Michikko bukanlah gadis biasa, ia memiliki kemampuan yang tidak biasa, dan harus rela kehilangan nyawanya secara mengenaskan.
Banyaknya pemuda yang menghilang dari desa tempat tinggal keluarga Ukkonawa yang baru, menimbulkan kecurigaan para penduduk terhadap keluarga Ukkonawa. Harap dimaklumi, Nyonya Ukkonawa memiliki dua anak gadis yang sama-sama cantik jelita, tak terhitung berapa banyak lamaran yang disodorkan orang terhadap Miwako dan Michikko, tapi, harus pulang dengan tangan hampa mungkin juga kecewa.
Selain itu Nyonya Ukkonawa, sekalipun usianya berangkat senja, namun, sama sekali tak terlihat garis-garis ketuaan di wajahnya. Ia malah semakin cantik. Untuk kesekian kalinya, Ukkonawa harus menghadapi kemelut. Puncaknya, saat ada seorang pemuda berkunjung ke rumah Nyonya Ukkonawa untuk meminang Michikko. Michikko menolak, dalam perjalanan pulang pemuda itu menghilang. Beberapa hari kemudian ia ditemukan oleh beberapa penduduk dalam keadaan sudah menjadi mayat. Hal itu juga menimpa pemuda-pemuda yang lain. Mau tak mau kecurigaan penduduk makin menjadi dan bersepakat untuk mengusir Keluarga Ukkonawa bilamana perlu dihakimi massa.
Demi masa depan anak-anaknya, Nyonya Ukkonawa harus rela meninggalkan tempat itu. Berpindah ke suatu tempat ke tempat lain, demikian pula sekolah Miwako dan Michikko. Dimanapun mereka berada, kejadian yang sama terulang dan terus terulang, hingga akhirnya tibalah di Indonesia. SMA Tidar I. Di sekolah itu, Michikko mendapat perlakuan yang tidak manusiawi oleh teman-temannya karena dianggap sebagai orang aneh. Amarah Michikko mencapai puncaknya, membakar seluruh bangunan sekolah beserta isinya. Dikarenakan adanya suatu hal, Miwako tak melanjutkan sekolah, akan tetapi, memilih menemani ibunya sehingga Michikko harus merantau seorang diri di negeri orang. Tapi, belakangan baik Ukkonawa dan Miwako tidak lagi mendengar kabar tentang keberadaan Michikko.
Pada suatu malam, lewat mimpi, Miwako bertemu dengan Michikko. Tubuh Michikko basah kuyub, wajahnya terlihat lebih murung dari biasanya. Saat menyampaikan berita ini kepada ibunya, Miwako diminta untuk segera menemukan Michikko, hidup atau mati. Perasaan Nyonya Ukkonawa mengatakan bahwa, Michikko sudah meninggal dan jiwanya terjebak di sebuah tempat. Ia membutuhkan wadah / raga baru untuk... kemungkinan membalas dendam pada orang-orang yang mencelakainya. Dan, tubuh yang diinginkannya adalah tubuh Arimbi karena memiliki kemampuan sama dengan Michikko. Itulah alasan mengapa Miwako datang ke Indonesia dan menemui Arimbi. Dengan bantuan Arimbi dan teman-temannya, harapan untuk menemukan jasad Michikko akan lebih besar dan Arimbi tidak harus dihantui oleh Michikko.Batas waktu sudah ditentukan, 7 hari lagi. Jika dalam waktu tersebut mereka belum menemukan jasad Michikko, maka, sesuatu yang buruk akan menimpa Arimbi ... bisa jadi, Cindy dan Maribeth juga terkena getahnya.
____
Bersambung Jilid V