Pagi itu setelah Upacara Bendera berlangsung Tommy kembali ke Kelas IC dengan wajah yang memerah karena kejadian memalukan yang tadi dia alami saat upacara bendera sedang berlangsung.
Hari ini adalah 15 Juni di Tahun 2000.
Tommy yang baru saja menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas tersebut. Mendapatkan julukan baru yaitu “Patung Bundaran,” Sebenarnya Julukan tersebut tidak cocok dengan Pria ini karena Tommy yang memiliki darah keturunan warga Tionghoa dan Pribumi asli. Memiliki wajah tampan dan tubuh tinggi. Jelas dapat menghipnotis para gadis-gadis muda di sekolah itu. Tetapi ada suatu cerita menarik dari Julukan tersebut.
Dia menetap di salah satu kota Indonesia. bernama Kota Air. Nama itu disematkan karena Kota Air diapit oleh dua sungai besar. Kota ini bahkan dulu menjadi kota strategis saat zaman Belanda, mereka bahkan mendirikan benteng pertahanan disana, selain itu kota ini terkenal pada zaman dahulu sebagai tempat Penahanan para tahanan Belanda.
Mengingat julukan yang dia terima pagi ini dari teman-temannya, membuat Tommy kembali teringat suatu cerita menakutkan di Kota itu yaitu tentang Legenda Patung Bundaran, di Kota Air tempat dia menetap dan bersekolah, ada sebuah patung pahlawan daerah setempat, yang bahkan menjadi Icon Kota itu, tapi dibalik nya tersimpan berbagai cerita sedih dan menyeramkan.
Konon kata nya sosok pahlawan tersebut meninggal karena berjuang melawan penjajah. Namun, karena dia meninggal sebelum pernah sekalipun menikah jadi setiap gadis yang keluar di malam hari melewati patung bundaran tersebut, jika mereka menatap patung itu maka patung itu akan menatap balik.
“Woy..!!”
Sebuah suara teriakan keras membangunkan Tommy dari lamunan nya, suara itu berasal dari Viktor sahabat dekatnya di SMP, yang sekarang satu kelas dengan Tommy di Kelas IC.
“Jangan jadi Patung.” suara Viktor kembali terdengar sekarang bahkan Tommy segera memperhatikan sahabatnya tersebut.
“Guru mau masuk kelas, cepat persiapkan semua murid.” ucap Viktor kembali.
Mendengar itu Tommy terkejut, sejak kapan tugas menyiapkan murid yang menjadi tugas ketua kelas itu disematkan padanya, tetapi semua siswa dan siswi yang dia lihat di kelas itu sekarang memberikan tatapan setuju.
Mereka bahkan sudah berkoalisi memilih Tommy kembali mengambil posisi ketua kelas yang penuh Tanggung Jawab tersebut. Mereka benar-benar licik, mereka menghindari semua itu, jika dia tahu akhirnya menjadi seperti ini. Dia tidak akan mengambil posisi sebagai pimpinan barisan tadi.
Saat upacara bendera berlangsung tadi Tommy dipilih secara sepihak seperti ini sebagai Pimpinan barisan Kelas IC. Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi guru jam pertama akan segera masuk.
Dengan cepat dia memperhatikan sekitar dan terlihat seorang guru wanita di awal usia 40 tahunan terlihat memasuki kelas mereka, guru itu jelas masih sangat Cantik, berkulit putih dan memiliki gaya yang gaul mengikuti perubahan, namanya bu Yulia guru pertama yang mengajar hari ini, bu Yulia adalah guru Matematika di sekolah mereka.
“Berdiri... Beri Hormat.”
Setelah memberi hormat pagi ini pelajaran pun di mulai, saat pelajaran berlangsung yang Tommy kerja kan hanya menulis di buku catatan kecil yang telah dia persiapan, memang keinginan awalnya memperhatikan pelajaran guru cantik tersebut, tetapi karena kejadian aneh yang dia alami beberapa hari ini jadi dia ingin mencatat beberapa Cerita Urban yang ada di kota mereka.
Selain cerita Legenda Patung Bundaran ternyata ada juga cerita yang beredar mencatat bahwa sekolah mereka sekarang adalah hasil pemugaran dari benteng belanda yang juga adalah penjara para tahanan di zaman belanda dulu.
Bangunan kayu tua tempat Tommy sekarang belajar yang tidak lain adalah merupakan salah satu kamar dari anak Kapten Belanda yang menetap disana, gadis yang tinggal disitu konon katanya sangat cantik jelita. Tetapi karena cintanya tidak direstui oleh sang ayah, gadis itu bunuh diri, bahkan katanya sering terlihat dibawah Kolong Kelas 1 karena bangunan ini jelas merupakan kamar sang gadis dulu.
Ada pula cerita yang menyebutkan bahwa setiap bulan akan ada anak kecil atau seorang pemuda tampan yang dia bawa ke bawah Kolong sekolah mereka ini saat malah hari orang yang dibawa bahkan tidak akan sadar sebab hantu gadis tersebut sangat cantik jelita jadi targetnya seperti di hipnotis dan diajak menghilang pergi ke alam lain.
“Tom kamu mencatat apa sih?”
Sahabatnya yang duduk disebelah Tommy ini jelas memperhatikan apa yang sedang dia lakukan jadi dia sedikit penasaran dengan apa yang sekarang sedang dicatat oleh sahabatnya tersebut.
“Sejarah sekolah kita dan cerita-cerita menakutkan di kota ini”
“Sudah menyambut zaman milenium kamu masih saja percaya cerita begitu”
“Bukan begitu tor, beberapa hari ini aku bermimpi terus didatangi sosok gadis bule cantik dengan rambut berwarna emas dan helaian rambutnya seperti bulu domba”
“Ah susah amat ngomong nya, bilang aja cewek bule rambut keriting berwarna pirang.”
“Beda lah Tor keriting kan banyak jenisnya”
“Ah terserah lu aja Tom, yang pasti jangan sampai ibu Yulia marah dan melihat mu sedang mencatat yang aneh-aneh”
“Aku perlu bantuan kamu nanti tor, kayanya kita harus ke perpustakaan”
“Ngak ah aku mau makan di kantin nantikan Icha ada disana”
“Ya elah lu tor mikirnya cewe mulu, kamu ga tau ya diperpustakaan ada cewe bule loh cantik banget”
“Eh yang bener? dari mana lu tau kan hari ini lu juga baru masuk sekolah”
“Iya bener, kamu ga tahu tadi aku sempat denger kakak kelas dua bilang mereka mau ke perpus liat kakak kelas cantik itu”
“Awas lu bohong ya!”
“Bener aku ga bohong, nanti ikut aku aja aku mau cari informasi tentang cerita ini disana”
**
Kadang sebuah cerita sering dilebih-lebihkan. Kadang cerita juga banyak yang dikarang. mimpi yang dialami Tommy saat itu adalah kilasan balik sebuah kejadian, dia seperti orang yang tidak kasat mata di kejadian tersebut. Dia dapat mengalami kejadian yang dialami oleh Putri dari Kapten belanda tersebut.
Ada seorang pemuda yang gagah berani dari daerah itu yang ikut berperang melawan kekejaman belanda di zaman itu, dia melakukan perlawanan dengan cara mencuri pasokan makanan dari lumbung-lumbung belanda dan membagikannya ke orang-orang pribumi yang menderita kelaparan kala itu.
Karena itulah sang pemuda tadi menjadi incaran Belanda dengan segala cara akhirnya mereka pun berhasil menangkap pemuda tersebut, dia dibawa ke benteng pertahanan dan ditahan disana.
Hari-hari dilaluinya dengan sengsara dibalik jeruji besi yang berada dibelakang bangunan benteng. Dia hanya diberi makan 1 kali dalam 2 hari, walaupun minuman yang mereka beri berlimpah. Semua perlakuan kasar selalu dia terima, hingga suatu hari Putri sang kapten melihat pemuda tersebut.
Hatinya sakit melihat perlakuan penjaga terhadap pemuda tersebut dan dia pun mencoba untuk membantu secara diam-diam pemuda tersebut, di malam pertama gadis belanda itu ingin memberi makan dia jelas di tolak oleh pemuda tersebut. Namun, dia tidak patah semangat, makanan tersebut di taruh nya dekat dengan sel tahanan.
Keesokan hari gadis belanda itu kembali datang, hari ini pun sama dia kembali ditolak, bahkan sang waktu saja mempermainkan kedua insan ini. Setiap Pria itu sekeras apapun hatinya, sekuat apapun amarahnya jika mendapat perlakuan tulus dari wanita jelas akan luluh hatinya.
Kejadian selanjutnya tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka berdua menjadi dekat satu dengan yang lainnya, membuat pria ini sekarang bahkan jatuh hati kepada sang gadis berambut emas. Sedangkan di sisi lain gadis itu pun menjadi silau hatinya setelah mengetahui ketulusan hati sang pemuda, yang bahkan memikirkan orang lain terlebih dirinya.
Kisah cinta mereka berdua lama kelamaan diketahui oleh sang ayah...
Akhirnya sang lelaki menjadi icon patung bundaran dikota itu sedangkan sang perempuan tak diketahui kabarnya
**
Setelah jam istirahat tiba, kedua sahabat tadi pun melangkahkan kaki mereka menuju perpustakaan, benar saja disana ada seorang penjaga perpustakaan anak Kelas III yang sebenarnya adalah Blasteran keturunan indonesia dan australia.
Gadis Blasteran tidak perlu diragukan lagi kecantikannya, Kulit Putih Bersih, Hidung Mancung bermata cokelat dengan rambut yang juga kecokelatan. menampilkan kecantikan yang tiada tara.
Viktor jelas tertarik kepada kakak kelas mereka ini sehingga terlihat dia sekarang mencoba mendekati gadis tersebut, sementara Tommy asyik mencari buku referensi tentang mimpi yang dia alami terkait Cerita Urban di Kota mereka tersebut. Tanpa dia sadari sang gadis penjaga perpustakaan tersebut terus melirik ke arah Tommy dari jauh, membuat Viktor juga sedikit kesal.
Empat puluh menit berlalu Tommy tidak juga menemukan buku yang dia cari, yang ada hanya sejarah singkat daerah mereka juga beberapa nama-nama kepala daerah yang pernah memimpin kota itu.
Karen terlihat sedang kesulitan gadis yang menjaga perpustakaan tersebut menghampiri Tommy, belum lagi kelakuan Viktor yang terus mengajaknya berbicara membuat dia sedikit risih. Jadi dia harus memberikan referensi buku segera agar kedua orang ini dapat meninggalkan perpustakaan.
“Kamu sedang mencari apa?”
“Oh kak Erla, ini aku sedang mencari referensi tentang Cerita Urban yang ada di kota ini”
“Maksud mu Urban Legend?”
“Benar, kakak bisa bantu aku mencarikan nya”
Gadis Blasteran cantik tersebut terdiam cukup lama memandangi Tommy yang sekarang berdiri di depannya.
“Kak Erla kenapa? ada yang salah dengan ku? Apa aku setampan itu?”
“Eh, ngak maaf aku hanya teringat cerita uban yang sering ku dengar”
“Hah, kakak tahu boleh ceritakan?”
“Ceritanya sih sudah saat aku dari kelas I dulu, katanya bangunan gedung kelas I di sekolah kita ini berhantu dan ada beberapa kasus dulu selama aku bersekolah di sini sudah 2 orang siswa menghilang”
“Bahkan sampai sekarang mereka tidak ada ditemukan”
“Terus kak bagaimana kelanjutannya” ucap Tommy yang semakin penasaran.
“Hey... enak banget ya kalian berdua ngobrol gak bawa-bawa aku” Viktor yang saat itu sedang memperhatikan mereka berdua jelas terlihat cemburu jadi dia langsung memotong pembicaraan mereka berdua.
“Ya udah kak, aku sama Viktor ke kelas dulu maaf sudah mengganggu waktu kak Erla, makasih banyak loh kak sudah ngasih tau cerita itu”
Pagi itu karena sedikit bantuan dari Gadis cantik yang ternyata memiliki panggilan Erla itu Tommy terlihat sedikit senang, membuatnya kembali ke kelas mereka dengan beban yang sedikit terangkat.
**
Siang itu saat jam pelajaran sekolah sudah selesai Tommy sedikit lambat pulang dari siswa lainnya hanya Viktor yang sekarang terlihat sedang menemani sahabatnya tersebut.
“Kemana sih kamu taruh kunci motorku?”
“Aku ga tau tor serius, tadi memang ada di tas ku”
“Aduh kacau bagaimana kita bisa pulang kalau begini”
“Maaf tor aku serius tadi benar-benar ku masukin ke tas ku.”
Hilangnya kunci sepeda motor Viktor yang mereka pakai hari itu untuk pergi ke sekolah adalah penyebab keterlambatan dua orang ini, bagaikan ditelan bumi kunci itu menghilang dari tas baru milik Tommy. Tas itu adalah tas sekolah baru tanpa lubang dan memiliki kunci yang selalu dibawa Tommy. Jatuh tidak mungkin. Dicuri pun tidak mungkin.
Karena putus asa kedua sahabat itu pun memutuskan untuk mendorong saja sepeda motor tersebut, saat berdiri dari bangku mereka, Viktor secara tidak sengaja menyenggol meja milik Tommy dan membuat meja itu terjatuh menimbulkan suara hentakan kayu yang sangat besar.
“Tor pulpen kesayangan ku.”
“Ups..”
Pulpen kesayangan Tommy yang ada diatas meja sebelumnya bersama dengan seluruh kertas dan buku-buku yang tadi dia keluarkan dari dalam tas saat mencari Kunci motor itu pun berhamburan dilantai, sedangkan Pulpen miliknya sekarang jatuh melalui celah-celah lantai ruangan kelas mereka.
Ruangan kelas tersebut memang sedikit Tua sebab selain bangunan peninggalan zaman belanda kelas itu juga belum pernah direnovasi sama sekali, lantai-lantai kelas itu sedikit memiliki celah satu dengan yang lainnya. Sehingga jika ada sesuatu terjatuh akan langsung jatuh ke bawah kelas mereka.
Karena bentuk bangunan tersebut adalah bangunan panggung jadi berdiri dibawah kelas pun mudah dilakukan oleh orang-orang, sehingga Tommy yang sangat suka dengan pulpen nya tersebut tidak ingin pulpen tersebut hilang begitu saja, akhirnya dia mengajak Viktor mencari pulpen tersebut ke bawah kolong ruang kelas mereka.
“Kenapa aku sih juga harus mencari”
“Kan kamu yang menjatuhkan pulpen ku kamu harus tanggung jawablah”
“Lah terus kunci ku? bagaimana kamu bertanggung jawab?”
“Nanti kita bawa ke tukang kunci deh biar dibuatkan baru”
“aku gak mau masuk ke bawah kelas, soalnya di sini angker, kamu berani masuk ke sini nanti malam aku akan datangi oleh hancur berbaju putih di sini”
“Ah terlanjut tor kita sudah dibawah ini ayok masuk saja”
Setelah berdebat sebentar mereka berdua pun segera masuk ke bawah kebawah kelas bangunan kayu tersebut, disana memang luas karena pada ujung bangunan itu ada beberapa papan yang lepas jadi mereka berdua masuk lewat sana.
Dibawah sana mereka bisa melihat bahwa Kolong kelas mereka itu sangat luas dan agak gelap, walaupun bangunan itu tinggi tetapi karena sekelilingnya sudah ditutupi papan kayu, membuat tidak ada cahaya yang masuk kesana.
Dibawah sana merek berdua juga bisa mendengar beberapa siswi yang ternyata sebagian belum pulang dan masih bergosip, beberapa dari mereka juga melakukan latihan gerakan tari. Viktor jelas memiliki pikiran lain sekarang dia bahkan semangat dan tidak memiliki rasa takut lagi.
Karena dengan jelas dia dapat melihat dengan baik semua pemandangan itu dari bawah akibat adanya celah lantai yang cukup besar. Karena ruangan sedikit gelap jelas orang diatas tidak akan melihat dia yang berada dibawah.
“Hey Tor ngapain lu sini disana masih ruangan kelas lain”
“ruangan kita di ujung sini”
“Kamu cari sendiri ya, aku disini aja”
Viktor bahkan tidak berani menjawab keras-keras sekarang takut posisi nya diketahui musuh yang berada diatas, baginya sekarang seorang ninja harus dapat menyatu dengan keadaan sekitar, bahkan dia saja sudah terlihat memasang kacamata transparan miliknya agar debu-debu yang berjatuhan diatas tidak terkena mata.
“Dasar bodoh, ini Icha tom Icha, tidak mungkin ku sia-siakan kesempatan ini” ucap Viktor dalam hati yang saat ini sedang melihat pemandangan indah dari sang gadis pujaan hatinya.
Sedangkan Tommy dia bahkan tidak memperdulikan Viktor lagi, dia semakin menjauh dari Viktor sedikit lebih ke ujung bangunan tersebut sebab kelas mereka memang berada dibelakang dari kelas lainnya.
“Ah ketemu..”
Disana dia melihat banyak sekali pulpen, dan benda-benda lain terjatuh, bahkan Kunci sepeda motor Viktor pun ada disana, setelah mengambil beberapa barang ada satu benda yang menarik perhatian Tommy.
“Batu ini kok aneh bentuknya”
“ini tidak mungkin ada rayap yang memakan batu”
“Sebaiknya ku bawa saja mungkin kotor karena tanah”
Tanpa sadar dia mengambil sebuah batu berwarna hitam tetapi sedikit mengkilap seperti sebuah besi namun batu itu berongga seperti sudah dilubangi dan dimakan oleh rayap.
“Jangan ambil batu itu...”
Sebuah suara bisikan perempuan terdengar oleh Tommy jadi dia menoleh kiri dan kanan tetapi tidak menemukan suara tersebut. Karena sedikit merinding dia sekarang segera melangkahkan kaki meninggalkan tempat gelap itu dan segera melempar kan batu aneh tadi.
Saat perjalanan kembali menuju celah papan tempat Dia dan Viktor tadi masuk, Tommy sekarang tidak bisa menemukan sahabatnya itu. tidak mungkin orang bisa keluar dari jalan lain selain dari celah yang mereka berdua tadi gunakan.
“Tor, kemana lu jangan nakuti”
“Cepat keluar”
Tidak ada jawaban dari sahabatnya tersebut beberapa kali pun Tommy memanggil tidak ada jawaban dari sahabatnya tersebut.
“Aduh Tor jangan nakut-nakutin gua kemana sih lu”
Sedikit gemetaran Tommy yang sekarang berdiri tempat Viktor tadi dia melihat kiri dan kanan kolong kelas yang terlihat gelap dan menakutkan itu sekali lagi,
Dia tidak berharap ingin mendengar suara bisikan perempuan lagi disana, apalagi posisinya dipojok kan kolong gelap yang jauh dari jalan keluar dan ditambah suara angin bertiup dari celah lantai kelas membuat suasana di kolong gelap itu semakin menakutkan. Tiba-tiba Tommy dikejutkan oleh teriakan Histeris Seorang Perempuan. Membuat bulu kuduk nya kembali menjadi berdiri seketika itu.
Kyaaaaaaaa
Tidak lama kemudian dia mencari sumber suara yang membuatnya merinding tersebut saat dia menatap ke atas dari celah lantai itu. Dia jelas dapat melihat Icha menatapnya dari sana tanpa sengaja juga dia sudah melihat keindahan yang Viktor lihat tadi. Namun, Tanpa bisa menjelaskan guyuran air sangat banyak dari atas dia terima dengan lapang dada, membuat Tommy basah kuyup seketika. Bahkan celah lantai itu memberikan efek pancuran lain yang dia rasakan.
“Ngapain kamu disana Dasar Patung Bundaran, buruan kabur jangan diam berlama-lama disana”
“Nanti ketahuan, cepat, cepat”
Suara Viktor mengejutkan Tommy dengan segera dia kabur dari sana dan mendatangi Viktor yang ternyata sudah diam menunggu nya dari celah papan yang mereka gunakan untuk masuk tadi. Kedua Pria Tampan ini berlari dengan cepat dari sana. sementara suara teriakan Icha terdengar sangat keras penuh amarah memanggil Tommy.
“Tommy Awas Kamu Besok! Ku Laporin Mamah ku”
Jauh di dalam hati Tommy hari itu saat berlari, dia yang sudah basah kuyup hanya dihari pertama masuk sekolah bahkan tidak membuatnya merasa sedih dan marah kepada sahabatnya Viktor yang sudah membuat kesalahpahaman itu terjadi. bahkan nasib sialnya karena Icha adalah anak guru Matematika cantik yang mengajar dijam pertama tadi.
Jelas tidak ada cerita urban tersebut, yang ada mungkin karena Tommy beberapa hari ini sedang menonton serial TV Siti Nurbaya sehingga membuat dia bermimpi aneh-aneh tentang zaman Belanda.
Jelas tidak ada Cerita Urban Legend, yang ada hanyalah tekanan dari Pihak sekolah agar orang yang mengintip siswi di sekolah itu harus pindah sekolah dan mereka yang malu diketahui orang-orang jelas memilih pindah ke Kota lain sehingga mereka tidak ditemukan.
Mungkin itu juga lah yang akan dialami oleh Tommy dan Viktor ke depan, bahwa setelah hari ini kedua siswa itu mungkin juga akan menghilang seperti cerita-cerita lalu, mereka akan mendapat ganjaran setimpal sebab telah menonton keindahan yang bahkan tidak bisa Tommy lupakan sepanjang jalan saat berlari itu.
“Aku ingin kembali ke waktu ketika kamu pertama kali memperkenalkan diri Cha”
-The End-