Chivana Arabella. Aku biasa disapa baik dari keluargaku dan teman-temanku dengan sapaan Ara. Aku anak pertama dari pasangan suami istri bernama Bagas dan Delena. Aku mempunyai adik berumur dua tahun bernama Chika. Kini usiaku memasuki lima belas tahun tepat dibulan Juli. Pada bulan Agustus, aku masuk ke SMA Danutama dengan jurusan ips.
Disini aku akan bercerita tentang suatu kejadian yang tak pernah aku lupakan seumur hidupku. Semua bermula dari rencana kemah pertama kalinya waktu Masa Orientasi Siswa. Semua teman-temanku begitu antusias mengikuti rencana kemah tersebut. Tetapi berbeda denganku, aku merasakan dikemah kali ini akan terjadi sesuatu yang sangat mengerikan. Kenapa?.
Kata kakek, aku mempunyai indera keenam yang hanya orang tertentu yang memilikinya. Hal itu aku tahu waktu umurku menginjakkan dua belas tahun. Dimana aku bisa melihat sesuatu yang berbeda dengan manusia. Mereka ada yang berjalan, terbang bahkan mengambang. Berbagai bentuk aneh pun aku pernah melihatnya. Sungguh, waktu itu aku benar-benar hampir gila karena tidak kuat untuk setiap saat melihat makhluk yang sangat mengerikan. Tetapi kakek selalu menyemangatiku karena itu adalah sebuah anugerah yang langka. Sejak saat itu aku mulai terbiasa dengan keberadaan mereka. Asalkan mereka tidak menganggu, aku pun akan bersikap biasa saja.
“Ra, kamu ikutkan kemah pertama kita disekolah?” Lili menghampiriku dengan membawa formulir pendaftaran bagi siapa saja yang akan mengikuti kemah pada hari jumat, sabtu dan minggu. “Aku ngga tahu, Li. Kayanya aku ngga ikut, deh. Pasti ayah melarang aku pergi kemah. Apalagi kemahnya di hutan, kan?” ucapku dengan alasan yang masuk akal. Masa iya, aku akan mengatakan apa yang aku rasakan jika nanti akan ada kejadian mengerikan sewaktu kemah?.
Ku lihat raut wajah kecewa Lili setelah mendengar jawaban dariku. “Ra, kamu bakal rugi lho kalau ngga ikut acara kemah pertama kita di sekolah. Ini juga bersifat wajib. Kamu harus ikut donk. Kata kakak pembina, kalau ada yang ngga ikut bakal dikenai sanksi, Ra.” Ada unsur pemaksaan dari ucapan Lili. Aku mendesah mendengar jika acara ini wajib diikuti. Mau tidak mau juga aku harus mengikutinya, dengan terpaksa.
Tak berapa lama Dion, Andre dan Siska datang bersamaan. “Gimana? Kamu ikut kemah juga kan? Ini wajib lho ra.” Siska langsung melontarkan pertanyaan padaku setelah duduk dikursi kosong didepanku. “Masa iya kamu ngga ikut kemah bareng kita, ra.” Celetuk Andre membuatku semakin mendesah berat. “Iya iya aku bakal ikut kemah kok. Puas?” jawabku dengan raut wajah kesal.
“Jangan marah donk, ra. Kita kan teman yang selalu bersama gitu. Masa iya waktu kita senang-senang bareng kamu ngga ikut. Kan jadi berasa ada yang kurang gitu, iya kan semuanya?” mereka semua mengangguk bersama atas ucapan Dion.
Waktu tiga hari untuk persiapan dan segala macam sudah terlewati. Kini aku dan para siswa lainnya sedang bersiap disekolah menunggu instruksi dari kakak pembina. Bus menuju tempat kemah pun sudah berjejer rapi di halaman sekolah yang luas. Tak berapa lama kami menunggu, kakak pembina datang dan memberi instrruksi pada kami untuk masuk ke dalam bus dan duduk dijok sesuai nomor acak. Dan untungnya, aku duduk bersama Lili. Sedangkan Siska duduk bersama Naura, si anak yang super pendiam. Dion dan Andre duduk tepat dibelakang jok yang ku duduki bersama Lili.
Perjalanan kami tempuh selama satu jam. Waktu bus memasuki hutan belantara, aku terbangun dari tidurku. Karena ada sesuatu yang membuatku bangun. Energi negatif bergesekan sepanjang perjalanan menuju tempat kemah. Kepalaku terasa sangat pusing disepanjang perjalanan. Belum lagi, penampakan yang banyak ku temui membuatku semakin bertambah pusing saja.
“Ra, kamu ngga papa kan?” ku lihat wajah khawatir Lili ketika melihatku terus saja memgangi kepala. “Cuma pusing saja, Li. Mungkin efek jarang naik bus.” Jawabku agar membuat Lili tidak curiga. “Kalau kamu kenapa-napa jangan sungkan buat bilang sama aku, ya? Aku takut kamu kenapa-napa.” Aku mengangguki ucapan Lili dan kembali memejamkan mata hingga bus sampai ditempat perkemahan.
Para siswa mulai keluar dari bus satu persatu. Setelah itu kami semua berkumpul membentuk regu yang terdiri dari lima anggota dan satu pemimpin regu. Aku, Lili, Siska, Dion dan Andre menjadi satu regu, dengan pemimpin regu dari kakak kelas. Semua sudah membentuk regu masing-masing dan semuanya pas.
Instruksi dari kakak pembina kami laksankan untuk membangun tenda. Suatu kesialan atau apapun itu, tenda kami berada paling pojok dari tempat perkemahan. Aku sebenarnya ingin protes tetapi tidak ku lakukan. Entah kenapa setiap aku ingin berbicara, seperti ada yang membuat lidahku kelu hanya untuk mengucapkan satu kalimat saja. Uh, rasanya sangat aneh sekali.
“Hei kamu, jangan bengong terus. Perbanyak doa kalau disini. Ayo cepat bantu teman-teman kamu supaya cepat selesai.” Suara pemimpin regu dari kakak kelas menegurku ketika melihatku yang hanya berdiri dan diam dengan pandangan kosong. “I-iya kak.” Jawabku terbata.
Kegiatan pembukaan acara kemah sudah selesai beberapa menit yang lalu. Semua kini sibuk bersiap untuk melakukan sholat maghrib berjamaah. Aku yang sedang datang bulan, tetap diam didalam tenda berukuran sedang untuk enam orang. Untung saja, aku tidak sendirian. Masih ada Siska yang juga sedang datang bulan. “Ra, temenin aku yuk. Aku kebelet pipis, nih.” Siska menggoyangkan tubuhku yang sedang bermain hp. “Tapi, inikan lagi maghrib, Sis. Aku juga ngga tahu arah jalan menuju sungai.” Ucapku jujur, memang aku tidak tahu jalan ke arah sungai terdekat dari tempat perkemahan.
“Aku tahu, kok. Aku tadi dikasih peta sama kak Julio. Yuk temenin. Takut aku ngompol disini. Udah kebelet banget.” Mau tidak mau aku bangkit dan tak lupa mengambil dua senter milikku dan milik Siska. Dengan peta dari kak Julio yang merupakan pemimpin regu kami, kami mulai berjalan menyusuri jalan kecil menuju sungai yang letaknya tak terlalu jauh. Tetapi, aku merasa jika perjalanan menuju sungai terasa sangat lama. Belum lagi banyak makhluk halus yang ku lihat disepanjang jalan.
“Jangan kelamaan. Jangan lupa permisi juga.” Aku memperingatkan Siska yang mulai turun ke sungai untuk buang air kecil. Siska tak menjawab ucapanku dan hilang diantara dedaunan pohon. Aku menunggu selama sepuluh menit lamanya, hingga akhirnya aku melihat cahaya senter yang berasal dari Siska. “Lama banget si. Aku juga kan takut disini.” Ucapku menggerutu pada Siska yang terus berjalan tanpa membalas gerutuanku.
Sepanjang jalan kembali ke tenda, taka ada pembicaraan dari kami berdua. Aku merasa ada yang aneh dengan diri Siska. Dia tampak diam dan wajahnya juga pucat. Tiba-tiba bulu kudukku meremang, tanda ada makhluk halus disekitarku. Hingga kami sampai di tenda yang sudah ramai masih saja bulu kuduku meremang. Semakin aneh saja hawa yang ada ketika kami sampai di tenda.
“Kamu lagi, kamu lagi. Habis darimana kamu?” kak Julio langsung melontarkan pertanyaan ketika aku baru saja sampai di tenda. “Jalan sendiran lagi. Pokoknya kamu jangan macam-macam. Ini bukan hutan sembarangan.” Kak Julio kembali melanjutkan ucapannya membuatku mengernyit. Sendirian?. Bukannya tadi Siska udah masuk duluan ke tenda? Apa mereka tidak melihat aku datang bersama Siska?.
“Ra, kamu kenapa jalan sendirian? Terus Siska mana? Bukannya sebelum kita sholat jamaah kamu sama Siska?” Lili pun langsung menghampiriku dan melontakan pertanyaan yang membuatku semakin bingung saja. “Aku jalan sama Siska tadi. Kita habis ke sungai. Siska bilang dia kebelet pipis, jadi aku temenin ke sungai. Tadi juga Siska udah masuk duluan ke tenda kok. Masa ngga ada yang lihat Sama sekali, si?” jawabku sembari membuka tenda dan tak menemukan siapapun.
Dion dan Andre menepuk pundakku yang tengah mengedarkan pandangan untuk mencari Siska didalam tenda. “Ra, cari apaaan? Kita lagi tanya Siska kemana, kok kamu malah masuk ke tenda?” Dion kembali bertanya soal Siska padaku dan apa yang aku lakukan. “Tadi Siska udah masuk duluan ke tenda. Sumpah Demi Allah. Tapi kok ngga ada, ya?” jawabku membuat semua yang mendengar menatap tak percaya padaku. “Ra, dari tadi aku disini ngga lihat sama sekali Siska masuk ke tenda. Jangan halu, Ra.” Kini giliran ucaoan Andre yang menbuatku tak percaya.
Kalau mereka ngga lihat Siska masuk ke tenda? Terus yang aku lihat tadi siapa?. Tanyaku dalam hati.
Tak berapa lama beberapa kakak pembina datang bersama dengan kak Julio dibelakangnya. “Apa benar teman kalian hilang?” tanya salah satu kakak pembina pada kami yang sedang berjejer di depan. “Benar kak. Kami sudah cari kemanapun tapi tetap ngga ketemu.” Andre memberanikan drii untuk menjawab.
“Ada yang terakhir kali bersama teman kalian yang hilang itu?” kakak pembina satunya lagi bertanya. “Saya kak.” Ucapku dengan mengangkat tangan. “Dimana terakhir kamu bersama dia?” tanyanya menyelidik. “Tenda kak. Waktu maghrib tadi, dia minta ditemenin pipis ke sungai kak. Dia juga ngasih peta ini sama aku. Setelah itu kami berdua pergi ke sungai. Dan kami pulang bersama. Saya lihat teman saya sudah masuk terlebih dahulu ke tenda kak. Tapi, waktu saya cek tidak ada siapapun ditenda.” Aku mulai berterus terang pada semua orang dengan apa yang terjadi sebenarnya.
Ku berikan peta yang tadi Siska berikan untukku. Semua kakak pembina saling pandang satu sama lain setelah menerima peta yang aku ulurkan. “Dari siapa peta ini dia dapat?” sembari membuka gulungan peta. “Kak Julio.” Jawabku yang sontak membuat kak Julio terkejut. “Aku?” tunjuknya ppada diri sendiri.
Peta perlahan dibuka oleh kakak pembina paling tua. Kami semua langsung terkejut ketika peta terbuka sempurna. Bercak darah segar dengan nama ‘Siska’ ada didalam peta. Padahal waktu aku menuju sungai, aku melihat jika peta itu berupa jalan. Tetapi, kenapa sekarang berubah menjadi bercak darah dengan tulisan nama?
“Lebih baik kita segera cari teman kalian yang hilang sebelum jam dua belas malam. Ayo kita ke sungai.” Beberapa pembina langsung bersiap menuju sungai yang tadi ku tuju bersama dengan Siska. Sesampainya kami disungai, taka ada siapapun disana. Hanya gemericik air yang terdengar. Kami berpencar agar memudahkan pencarian. Aku, Dion dan kak Julio pergi menyusuri sungai. Tetapi sepanjang sungai yang kami lewati, taka da tanda-tanda ada seseorang disana atau hanyut.
Hingga pukul setengah dua belas malam, Siska tak kunjung ditemukan. Membuatku semakin takut jika temanku itu sampai terjadi apa-apa. “Sebaiknya kita kembali ke tenda. Sebentar lagi jam dua belas malam. Saya tidak mau lagi ada korban selanjutnya. Mari kita kembali ke tempat perkemahan.” Instruksi kakak pembina membuat kami semua segera kembali ke tempat perkemahan.
Setengah jam tepat kami sampai di tempat perkemahan, suara jeritan terdengar dari berbagai arah. Bergegas kami semua berkumpul dilapangan tengah kemah. Hal yang membuatku sangat terkejut adalah banyak siswa mengerang dengan memukul dirinya sendiri, mencakar wajah dan mengamuk. Ku lihat banyak sekali makhluk halus yang datang dan mengerumuni siswa yang kesurupan.
Kak Julio menggandenga tanganku menuju tenda miliki kakak pembina. “Kamu diam disini. Jangan melamun. Saya sudah tahu jika kamu adalah anak indigo, saya takut kamu juga akan menjadi incaran mereka. Tetaplah disini sampai saya kembali. Mengerti?” ucapan kak Julio membuatku tercengang. Darimana kak Julio tahu jika aku ini indigo?
Aku mengangguk paham. Kemudian, kak Julio meninggalkan aku di tenda dan kembali ke tengah lapangan perkemahan. Aku melihat jika kak Julio mengobati satu persatu siswa yang kesuruoan tak jelas. Sesaat kemudian, aku melihat sesuatu dibelakang kak Julio. Tubuhnya tinggi setinggi pohon kelapa, tubunya hitam dipenuhi dengan bulu seperti serigala, bertanduk juga dan matanya menyala berwarna merah.
Aku ingin berteriak ketika makhluk tersebut hendak memukul tubuh kak Julio yang sedang mencoba mengeluarkan makhluk yang berada ditubuh Dion. Tetapi apalah dayaku yang secara tiba-tiba mendadak menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku mencoba berdzikir dan membaca beberapa surat pendek yang aku hapal. Entah kenapa aku tetap tidak bisa bergerak juga.
Hingga ku rasakan tubuhku seperti melayang ke udara. Dan semuanya langsung gelap. Aku tidak merasakan apapun, sama sekali.
“Ara! Bangun Ra! Sadar Ra!” ku dengar seseorang berteriak ditelingaku, aku ingin membuka mata untuk melihat kenapa mereka berteriak dan menyebut namaku. “Bismillahirrohmanirrohim…” ku dengar lagi seseorang mengucapkan basmalah dan ayat kursi serta sueat yasin tepat ditelingaku. Ku rasakan tubuhku kembali turun dan akhirnya ku bisa membuka mataku kembali.
“Aghhrrr!!!” aku berteriak ketika melihaat makhluk halus berbulu lebat berwarna hitam dengan bola mata merah menyala ada dihadapanku saat itu. Saat itu juga tubuhku terasa kejang. Panas, sakit dan kaku. KItu yang ku rasakan.
“Astaghfirullahal’adzim… Allahu Akbar… Lailaha illallah…” ku dengar suara kak Julio tepat ditelingaku. Tubuhku semakin kejang dan semakin tak terkendali. Kak Julio merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan tasbih berwarna coklat tua dan langsung mengalungkannya dileherku. Lalu tangannya menyentuh ubun-ubunku dan meniupnya sembari membaca doa. Setelah itu tubuhku mulai stabil dan terasa ringan. Sangat ringan dan akhirnya aku sama sekali tak merasakan apapun.
Bersambung…