Aku ingin bercerita tentang seorang gadis yang tidak mengerti perasaannya sendiri, hati yang baginya selalu terasa asing...
Pada tanggal 2 Januari 2002, seorang bayi berjenis kelamin perempuan lahir dengan keadaan sehat. Kedua orang tuanya menyambut bayi pertama mereka dengan suka cita, tangis haru pun terdengar dari keduanya, begitu pula dengan keluarga dari sang ibu, namun tidak bagi keluarga sang ayah.
Bayi perempuan itu dinamai Enji, bayi yang sangat aktif dan juga sangat cantik. Enji dibesarkan dengan kasih sayang dari keluarga dari sang ibu, sedangkan kedua orang tuanya bekerja dengan keras. Kedua orang tua Enji hanya bekerja di bagian scurity dan katring di rumah sakit swasta, gaji mereka saat itu seharusnya cukup untuk membesarkan seorang putri.
Tahun telah berganti, kini umur Enji menginjak 6 tahun dan ini masa-masa paling aneh untuk anak seusianya. Kenapa aneh? karna saat itu ada suatu emosi yang tidak bisa dijelaskan oleh gadis cilik itu, suatu emosi yang membuatnya berubah menjadi gadis yang sangat nakal.
Dipertengahan umur 6 tahun, ia mencuri uang milik ayahnya dari celana jeans yang biasanya digantung di paku-paku. Uang yang ia dapatkan dari mencuri akan dia jajankan untuk teman-teman nya, terutama yang laki-laki. Enji juga sering mengajak teman-temannya untuk menonton power ranger di rumahnya yang tidah bisa dikatakan besar.
Namun Ayahnya tidak menyukai itu dan memarahinya, sedangkan dirinya hanya bisa menangis dalam diam. Hari berganti lagi dan kini anak laki-laki yang dianggapnya sebagai TEMAN mulai memperkenalkan sesuatu yang seharusnya tidak di mengerti anak diusianya yang sangat belia. Enji di ajak oleh salah satu diantara mereka untuk main kerumahnya dan berkata "Dirumah lagi gak ada orang, kita bisa main kartu sepuasnya!"
Dengan polosnya, Enji yang saat itu masih ditahap perkembangan harus mengerti hal yang dianggap tabu untuk anak seusianya. Tuan rumah yang mengajaknya tadi meminta Enji menghisap sesuatu dan teman yang satunya pun juga memintanya, dengan polos Enji menjawab "Jangan pipis loh ya!"
Setelah melakukan itu, Enji langsung pulang untuk gosok gigi dan kumur-kumur. Hal itu tidak terjadi lagi untuk yang kedua kalinya dan bahkan tanpa sadar Enji menghindari keduanya.
Tahun pun berganti dan kini Enji sudah berada belajar di Sekolah Dasar. Waktu terus berjalan dan Enji sudah melupakan perilaku 'nakal'nya, seperti mencuri uang. Sayangnya itu tidak berjalan lama, Enji mulai mencuri lagi saat kelas 3 SD dan ada yang mengadukan kelakuannya kepada sang Ayah. Itu membuat Enji di pukuli habis-habisan oleh sang ayah, Tangan, Kaki dan bahkan kepala tidak luput dari tendangan atau pukulannya. Seakan-akan saat itu Enji menjadi samsak manusia untuk sang Ayah. Bagaimana dengan sang Ibu? Ia hanya melihatnya, tanpa mencoba untuk membantu Enji sedikit pun.
Enji yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menahan sakit dan menahan tangisnya, karna semakin ia menangis, semakin keras pula pukulan yang di berikan oleh sang Ayah.
Seakan pukulan ataupun tendangan dari sang ayah hanya mimpi buruk, Enji melakukan itu lagi sampai dimana ia berhenti di kelas 5 SD. Saat-saat dimana materi reproduksi dijelaskan dengan rinci dan saat itu pula ia juga kecanduan nonton film blue. Enji biasanya menonton di hp Ibunya dan entah bagaimana ia bisa menyembunyikan hal itu dari sang Ibu.
Tahun berganti lagi dan kini ia memasuki masa putih biru, ia hanya bertemu sedikit teman. Menjadi gadis yang lebih pendiam dan tidak peduli terhadap sekitarnya, bahkan ada kejadian kecelakaan pun ia sama sekali tidak menoleh, padahal saat itu ia berjalan kaki dari rumah kesekolah ataupun sebaliknya.
Jika menanyai bakat dari Enji, tentu saja ia berbakat dalam bidang olah raga, matematika dan ipa. Sayangnya bakatnya itu terkubur dalam-dalam, karna sekolah yang ia tempati tidak dapat mengembangkan bakatnya tersebut.
Enji merasa kehidupannya sangat membosankan dan tidak ada sesuatu yang menarik, bahkan untuk menonton film blue lagi pun hanya membuatnya enek. Ia pun mulai beralih kepada film-film psyco yang sadis dan ia merasa ada kecocokan emosi, untungnya ia masih memiliki logika dan akal sehat untuk tidak melakukan hal-hal sembarangan.
Tapi, saat kelas 3 SMP, tepatnya sepulang dari perayaan kelulusan, ia dijegat oleh preman. Karna saat itu suasana juga sangat sepi dan cocok untuk melaksanakan kejahatan seperti pencopetan. Sayang sekali para preman itu memilih mangsa yang salah, karna saat itu Enji sedang berada di puncak kebenciannya kepada diri sendiri karna memiliki nilai yang sangat jelek dan tidak mendapat SMA negeri. Preman yang seharusnya dapat mengalahkan gadis SMP, kini tergelegak tak sadarkan diri di tanah bersama dengan Enji yang pingsan.
Sebangunnya Enji, bukannya mendapat tatapan ke khawatiran dari kedua orang tuanya, ia malah mendapatkan pukulan lagi dari ayahnya, karna telah membuang-buang waktu dan uang hanya mengurusi hal seperti ini. Ya, mau bagaimana lagi, saat itu dimulainya krisis ekonomi dari keluarganya.
Tahun berganti dan ia sudah memakai seragam Putih abu-abu. Sekolah yang ia dapat kali ini jauh dari lebih buruk dibanding SMPnya, Ia benar-benar sulit untuk mencerna semua ilmu itu. Tidak memiliki ekskul, bahkan beberapa gurunya tidak dapat menjelaskan dengan baik materi yang dibawanya.
Saat-saat ini pula ekonomi keluarganya berada dibawah, Enji hanya bisa membawa sedikit uang untuk membeli makanan, bahkan kadang ia tidak jajan. Enji saat di SMA terkenal dengan sifatnya yang baik, ramah dan rajin, tapi aslinya ia hanya melakukan yang biasanya ia lakukan di SMPnya dulu, tapi tidak memiliki niat apapun, bahkan memiliki perasaan saja tidak, hanya hampa yang ia rasa.
Tahun berganti lagi dan hal yang paling tidak ingin terjadi terulang lagi, tapi kali ini bukan preman yang ingin mengambil barang berharganya, tapi ingin menggodanya. Lalu apa yang ia lakukan untuk tidak menjadi samsak sang ayah? ia membunuhnya, ya... dengan cara yang sangat licik.
Awalnya ia jijik untuk menerima godaan dsri pria aneh tersebut, tapi untuk memuluskan rencananya, ia akhirnya menerima ajakan sang pria dan bertemu di sebuah taman. Enji juga tidak mengerti mengapa di taman, tapi baginya itu jauh lebih bagus.
Saat sudah ditaman, hal yang sudah di duga pun terjadi. Pria itu membawa 2 pria lainnya dan mencoba untuk memperk0sa Enji, tentu saja itu tidak di biarkan. Enji melawan dan menusukan satu pisau kecil ke leher salah satu pria, lalu menyerang kedua pria lainnya dengan satu pisau yang sama dan juga sebuah karambit. Mayat ketiga pria itu ia kubur di taman itu dan ia pulang dengan emosi hampa, tapi senyuman kecil terukir dibibir tipisnya.
Selulusnya dari SMA, selama 7 bulan ia tidak keluar kemana-mana. Ia berdiam diri dengan emosi hampa, terkadang juga tiba-tiba sedih dan juga tiba-tiba senang, marah, kesal dan luapan-luapan emosi lainnya yang tidak ia mengerti. Ayah maupun Ibunya sudah pergi dan meninggalkannya seorang diri, bukan pergi karna meninggal, tapi karna keduanya bercerai dan membiarkan Enji sendirian dengan emosi-emosi yang tidak stabil.
TAMAT