Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa wajah dengan polesan make-up tipis milik seorang gadis cantik yang kini tengah duduk disebuah kursi kayu yang terletak di kantin sekolah. Namanya Anjani Calista Ailia. Kerap dipanggil Anja. Mahasiswi semester empat jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada. Alumni SMAN 3 Dirgantara.
Sekarang Anja tengah berkunjung ke sekolahnya dalam rangka menghadiri acara reunian. Berteman dengan seorang jejaka yang kini duduk berseberangan dengannya, Anja memilih berangkat lebih awal agar dia bisa berkeliling sekolah sekaligus bernostalgia. Ah, rasanya Anja tidak percaya dia bisa kembali menginjakkan kaki di sekolah yang menyimpan begitu banyak kenangan untuknya.
Sekilas Anja menatap lawan bicaranya. Berbatas meja kayu berbentuk persegi panjang yang memberi jarak diantara keduanya, Anja menghembuskan napas pelan. Anja mengalihkan pandangannya ke arah cakrawala sekolah yang saat itu tengah menyuguhkan kebesaran Tuhan. Senja yang memanjakan mata dengan warna jingga yang begitu elok saat dilihat, membuat dua manusia yang tengah menyesap secangkir kopi susu hangat itu hanyut dalam pikiran mereka masing-masing. “Biar ku ceritakan kisah tentang masa putih abu-abuku disini. Supaya kamu tahu, ditempat inilah ribuan kenangan terukir indah.” Ucap Anja dengan senyum terbit disudut bibirnya. Kepingan memori yang terekam dua tahun lalu, seketika menghampiri Anja. Pikiran gadis itu melayang ke masa dimana dirinya menyukai seseorang yang entah sekarang bagaimana kabarnya.
“Siaaappp gerak!” suara lantang yang berasal dari lapangan sekolah menyapa indera pendengaran seorang siswi yang tengah menjalankan piket kelas. Gerakannya seketika berhenti begitu saja. Bagai magnet yang bisa menarik benda sekitarnya, siswi yang tak lain adalah Anja itu buru-buru menaruh sapu disebelah tempat sampah dan melongok ke bawah dari balkon, dilihatnya seseorang yang akhir-akhir ini selalu membuatnya penasaran itu sekarang tengah berdiri dengan begitu gagah. Pedang pora yang ditempelkan didada sebelah kanan membuatnya terlihat sangat berwibawa. Belum lagi tubuh proporsional yang menandakan bahwa pelatihan selama hampir tiga tahun tidaklah sia-sia. Sumpah demi apapun, saat ini Anja dibuat kagum. Bahkan sangat kagum.
Anja mendorong kacamatanya yang melorot ke depan. Dengan seksama dirinya memandang seseorang yang tengah berlatih di lapangan beralas paving. Sepersekian detik Anja termenung. Terlintas dibenaknya, kapan rasa kagum ini muncul? Apakah saat pertama kali mereka bertemu dan menjalankan tugas bersama?
Ah, berbicara tentang itu Anja sendiri bingung harus berkata apa. Dirinya juga tidak tahu pasti kapan rasa ini muncul.Yang pada intinya, sekarang rasa kagum itu benar-benar ada. Dan Anja mengaku, bahwa dirinya telah menyukai seseorang yang mustahil akan menyukainya balik. Mengingat bahwa seseorang yang dia kagumi sekarang adalah idaman banyak siswi di sekolahnya.
Azzam Aulian Putra. Lian, panggilannya. Berbicara tentang Lian si siswa tampan anggota paskibra yang dikagumi banyak orang, seketika membuat Anja nappropriate (tidak pantas). Dirinya yang hanya siswi biasa, cantik pun tidak seperti teman-temannya, tidak terlalu pintar dan cuek. Oh satu lagi, introvert (tertutup). Sedangkan Lian? Tampan, pintar, berprestasi dan ekstrovert (terbuka). Melihat kenyataan itu semua membuat Anja mengurungkan niatnya mendekati Lian. Tidak mungkin jugakan seorang Lian melirik Anja yang hanya seorang siswi biasa?
Huh, membuang pikirannya jauh-jauh, Anja kembali fokus ke lapangan. Matanya terus tertuju pada Lian. Padahal Anja tahu bahwa ada seseorang yang dengan setianya berdiri disampingnya. Karena kali ini Anja tak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan. Walau hanya dari kejauhan, setidaknya dia bisa melihat Lian yang tengah berlatih. Itu saja sudah cukup.
Bodo amat dengan ocehan gadis cantik disebelahnya, Anja hanya ingin menikmati keagungan Tuhan lewat Lian. Wajahnya yang hitam manis dengan rahang keras dan mata yang sipit membuat Anja benar-benar ingin egois, bisa memiliki Lian. Tapi bukan itu keinginan Anja sebenarnya. Yang dia mau hanyalah hubungan mereka yang tidak berubah walau nantinya Lian tahu bahwa Anja menaruh rasa padanya. Cukup, itu saja. Harap Anja.
Seseorang yang berdiri disamping Anja memajukan bibirnya karena kesal setelah mengetahui bahwa Anja mengacuhkannya. Pada akhirnya, dia melayangkan sebuah sindiran yang sontak membuat Anja merengut. “Nyawang kok ayang orang.” Lantas Anja menoleh dengan malas ke arah sahabatnya, Kaela namanya. “His, intropeksi donkkk. Kamu juga lagi nyawang ayang orang kan?” Anja yang tak mau kalah lantas membalas sindiran sahabatnya, Kaela.
Namun, tak seperti yang Anja duga sebelumnya, Kaela justru diam tak membalas. Gadis itu bergeming ditempatnya. Senyum yang tadi terukir dibibirnya pun perlahan surut. Tatapannya berubah sendu. Bulir bening mulai menggenang dipelupuk matanya.
Ucapan Anja membuat kenyaatan pahit yang seakan menampar Kaela begitu keras terasa kembali. Kaela menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak pecah sembari mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Namun usahanya gagal. Bulir bening yang yang menggenang itu tak bisa ditampung lebih lama lagi. Dan pada akhirnya mengalir membasahi pipi Kaela yang mulus.
Anja yang melihat bahwa sahabatnya sedang tidak baik-baik saja lantas memberikan pelukan. Diusapnya punggung yang bergetar akibat tangisan itu dengan lembut. Anja berusaha membuat Kaela tenang lebih dulu. Baru nanti akan dia tanyakan sebab Kaela menangis. Karena Anja sendiri pun tidak sadar sudah membuat sahabatnya harus merasakan tamparan kenyataan yang begitu menyesakkan dada ketika diingat.
“Nja, ternyata aku salah. Dia ngga sealim yang aku kira. Dia udah punya pacar dan itu temen aku sendiri.” Kaela meluapkan semua yang dia rasa kepada Anja. Karena hanya Anja yang tahu hubungannya dengan anggota paskibra yang kini juga tengah berlatih bersama dengan Lian.
Anja terus menenangkan sahabatnya. Dirinya pun merasa bersalah, setelah teringat ucapannya tadi. Ternyata kenyataan sesungguhnya telah terbongkar. Anja pun sempat tidak percaya. Tapi karena Kaela sendiri yang mengatakannya, Anja pun percaya. Tidak mungkin juga sahabatnya berbohong. Apalagi tentang hubungan yang dia jalani selama satu tahun lamanya.
Melepas pelukannya secara perlahan, Anja menatap Kaela dengan intens. “Kenyataan yang sebenarnya udah terungkap. Aku mohon sama kamu La, ikhlasin dia. Dia ngga pantes dapetin kamu. Makanya Tuhan jauhin dia dari kamu. Karena dia bukan orang baik yang kamu kira dan banggakan setiap hari didepan aku. Plise La, kali ini dengerin aku. Semua demi kebaikan kamu, ya?” Anja mengucapkan dengan begitu tegas. Berharap sahabatnya akan mengerti dan mau belajar mengikhlaskan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuknya.
Kaela menghapus bulir bening yang mengalir dipipinya lebih dulu sebelum membalas ucapan Anja. “Sulit, An. Aku deket sama dia udah hampir setahun. Kamu bisa bayangin ngga gimana rasanya ditampar sedemian rupa sama kenyataan? Sakit, An. Sakit banget. Tapi aku juga ngga bisa ngilangin gitu aja rasa ini. Itu jauh lebih sulit dan sakit.” suara Kaela perlahan melemah. Dapat Anja tangkap dari kornea berwarna hitam itu bahwa Kaela memang tengah berada dalam posisi sangat tidak diinginkan.
Anja menarik napas dalam-dalam, setelahnya berkata, “Semua ada ditangan kamu. Aku sebagai sahabat, cuma bisa ngasih tempat buat kamu bercerita dan berkeluh kesah. Apapun keputusan kamu nanti, aku bakal tetep dukung. Asal kamu ingat, kalau cinta menyakitkan itu bukan cinta namanya. Tapi siksa.”
Setelahnya, Anja mengajak Kaela turun dari lantai dua karena hari sudah mulai petang. Terdengar pula suara satpam yang menyuruh anggota paskibra untuk segera pulang. Anja sengaja memilih tangga yang langsung menuju ke parkiran daripada harus melewati lapangan. Dia takut luka yang Kaela dapat semakin bertambah ketika melihat atau bahkan bertemu si anggota paskibra yang tak dapat Anja sebutkan namanya, Entah kenapa menyebut namanya itu membuat darahnya mendidih.
Keduanya berpisah di parkiran dengan Anja yang menaiki motor dan Kaela yang dijemput dengan mobil yang disupiri oleh ayahnya. Sebelum berpisah, Anja menyempatkan lebih dulu pada Kaela, “Besok ikut upacara di sekolah kan?” tanyanya.
“Kayanya iya, katanya kalau ngga ikut tanpa alasan yang jelas nanti disuruh bersih-bersih wc hari berikutnya.” Jawab Kaela yang saat itu hampir masuk ke dalam mobil.
“Kalau kamu?” Kaela menyempatkan untuk bertanya balik. Sekedar memastikan apakah sahabatnya akan berangkat upacara atau tidak.
Anja nampak berpikir sebelum akhirnya memberi jawaban dengan anggukan, “Iya. Tahun terakhir di sekolah soalnya. Lagian dua tahun kemarin kan kita pandemi, jadi ngga upacara. Kesempatan juga. Hehehe.”
Suara adzan yang berkumandang membuat percakapan singkat itu usai. Dua sahabat itu pamit dan pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, Anja bergegas berangkat ke sekolah dengan sang adik, Sheila namanya. Dengan motor vario berwarna hitam kesayangannya, Anja melajukannya di jalan raya dengan hati-hati. Ditengah perjalanan, Sheila memberitahu rencananyaa setelah upacara di sekolah usai. Anja yang mendengar pemberitahuan dari adiknya sontak berbinar. “Tapi yakin Dion mau mbantu dek?” tanyanya dengan suara keras agar Sheila bisa mendengar. Mengingat sekarang mereka sedang di jalan raya yang cukup ramai.
Sheila mengangguk dengan yakin. “Yakinlah kak, apapun pasti dia lakuin demi aku.”
Anja mengacungkan jempol pada adiknya. Seketika hatinya bersorak ria, adiknya memang sangat peka apa yang dia inginkan sejak lama. Dan hari ini, dengan bantuan Dion, pacar Sheila, keinginannya akan terwujud.
Motor yang dikendarai Anja memasuki gerbang sekolah bertuliskan SMAN 3 Dirgantara. Anja segera memarkirkan kendaraannya di parkiran khusus kelas dua belas yang baru terisi setengah. Maklum, jam baru menunjukkan pukul enam lebih lima belas.
“Kak, aku ketemu Dion dulu ya. Mau nganter sarapan. Dah kakakku sayang.” Selepas kepergian Sheila, Anja lepas ke kelasnya untuk menaruh tas. Setelahnya turun dan bergabung dengan teman-temannya yang ternyata sudah berbaris di lapangan yang akan digunakan untuk upacara kemerdekaan, termasuk Kaela.
Sedangkan Sheila, gadis cantik itu tengah duduk berdua dengan kekasihnya yang sudah rapi disebuah kursi panjang yang terletak didepan ruang paskibra. Sheila menemani Dion yang sedang sarapan dari bekal yang dibawanya tadi sembari berbincang singkat. “Bantuin ya, A. Sekali ini aja. Kak Anja aja ngerestuin kamu jadi adik iparnya, masa kamu ngga mau bantuin dia jadi calonnya kak Lian si, durhaka banget kamu.” Cibir Sheila agar permintaannya dikabulkan oleh Dion.
Dion yang sedang asik mengunyah sarapannya pun hanya tersenyum sembari menahan tawa mendengar cibiran dari pacarnya. Karena tak ada balasan dari Dion, Sheila mencebik kesal. “His, ya udah deh aku ke kelas. Bye.” Sheila pun bangkit dari tempat duduknya karena sudah tidak tahan dengan pacarnya yang super cuek itu. Hingga saat tubuh Sheila hilang dipertigaan kelas, barulah Dion membuka suara. “Iya nanti aku bantuin deh.” Teriaknya. Membuat beberapa siswa maupun siswi yang lewat menggelengkan kepala dengan heran. Sedangkan si objek pun merasa bodoamat. Lekas Dion menghabiskan sarapannya dan bergabung bersama pasukan pengibar bendera di lapangan.
Bel sekolah berbunyi. Pertanda upacara kemerdekaan akan segera dimulai. Semua siswa dan siswi berbaris dengan rapi sesuai kelas masing-masing. Susunan upacara sudah mulai dibacakan oleh protokol. Suasana hening seketika. Semuanya khusyu’ mengikuti upacara yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Setelah upacara selesai, Sheila pun segera mencari kakaknya. Kemudian mengajak kakaknya yang saat itu tengah mengobrol dengan Kaela.
“Maaf ya kak Ela, aku mau bawa kak Anja ketemu jodohnya dulu.” Ijin Sheila pada Kaela. “Jodoh? Kamu mau ketemu sama Lian. Nja?” Alis tebal itu saling bertautan mendengar ucapan Sheila. Lantas Kaela pun bertanya pada sahabatnya. Dengan malu-malu Anja pun mengangguk.
Kaela melotot seketika. “Serius??? Aku harus ikut pokoknya! Ngga ada penolakan! Yok!” Anja yang tak bisa menolak pun akhirnya membawa Kaela bersamanya ke taman belakang sekolah.
Saat ketiganya hampir sampai di tempat yang Sheila rencanakan dengan Dion, Anja beringsut mundur. Tiba-tiba dirinya takut bertemu dengan Lian. Belum lagi jantungnya yang terus berdetak tak karuan. Dan wajahnya yang tak bisa berhenti menampilkan senyum.
“Kak! Ini kesempatan lho. Lagian juga kata Dion, kak Lian mau kok. Yakin deh sama aku. Yuk.” Sheila membujuk kakaknya agar terus melanjutkan langkah, karena sudah semakin dekat dengan tujuan. “Iya, Nja. Jangan ngilangin kesempatan.” Ucap Kaela meyakinkan.
“Tapi kamu ngga papa ketemu dia disana, La?” tanya Anja khawatir.
Kaela menggeleng, “Tenang aja. Ngga papa kok.”
Akhirnya ketiga gadis itu melanjtkan langkah sampai di taman belakang sekolah yang kini ramai oleh anggota paskibra, Saat akan menghampiri Lian, Anja sontak menghentikan langkahnya saat anggota paskibra menghampiri mereka.
“Oh ini ya yang deketin Lian?” Satu diantara mereka tersenyum mengejek setelah melihat Anja dari atas sampai bawah, “Emang ngga pantes si dia sama Lian. Lian itu pantesnya sama Luna. Lihat tuh! Mesra banget kan?” tunjuknya dengan dagu.
Ketiga gadis itu langsung mengikuti arah yang ditunjuk oleh anggota paskibra yang dengan percaya dirinya menghalangi jalan. Seketika tubuh Anja menegang. Lidanya terasa kelu untuk sekedar berbicara. Tangannya terkepal kuat. Bagai tombak yang menancap, Anja merasakan sakit luar biasa. Anja mundur beberapa langkah dengan air mata menggenang dipelupuk matanya.
“Ngga mungkin.” Tanpa berkata apapun lagi Anja berlari. Tak peduli dengan teriakan Sheila dan Kaela. Hatinya hancur setelah melihat pemandangan yang tersuguhkan untuknya di taman belakang sekolah. Dimana Lian yang tengah berfoto sambil merengkuh pinggang seorang siswi yang juga merupaka anggota paskibra.
Anja terus berlari tanpa peduli sekitarnya. Bahkan beberapa kali dia menabrak siswi yang berjalan searah dengannya. Karena saat ini, Anja hanya ingin meredakan gemuruh dihatinya yang terluka. Anja terus berlari hingga tanpa sadar ke luar sekolah.
Tak berapa, Anja merasakan dirinya terbang begitu tinggi dan akhirnya dijatuhkan dengan sangat keras.
Seketika penglihatan Anja menjadi gelap. Gadis berkacamata itu terpelanting jauh. Seragam putihnya berganti dengan warna merah darah. Kacamatanya hancur karena terlempar ke jalan raya. Sayup-sayup Anja mendengar namanya diteriakkan bersama isak tangis. Setelahnya Anja tak mengingat apapun lagi.
Uhuk! Uhuk!
Melihat jejaka disampingnya tersedak sontak membuat Anja panik, “Kamu ngga papa?” tanyanya khawatir. Yang ditanya pun tersenyum manis. “Ngga papa, cuma kaget aja. Sampai segitunya kamu suka sama seseorang? Nyawa pun kamu pertaruhkan?” cecarnya pada Anja setelah teringat cerita yang baru Anja ceritakan padanya.
Mendapati cecaran seperti itu, Anja melipat bibirnya. Dia yang tadi berdiri kini duduk kembali. Sejenak Anja menunduk. Lalu menatap ke depan dan menghembuskan napas pelan. “Aku ngga bisa jawab, By.” Lirihnya sebagai jawaban.
Sekali lagi Anja tertunduk dalam. Kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan membuatnya merasa sesak. “Aku heran sama kamu. Katanya kenangan indah, tapi kok menyakitkan ya?” gumam Byan sembari menautkan jari-jemarinya.
“Maaf udah buat kamu sakit.” Anja yang tadinya tertunduk seketika mendongak. Tubuhnya menjadi kaku. Suara itu. Ya. Suara yang masih begitu familiar ditelinganya. Detik ini menyapanya. Apakah ini mimpi?
Perlahan Anja menoleh. Begitupun Byan yang sudah menoleh lebih dulu setelah suara yang juga tidak asing itu menyapanya. Mata berkornea hitam bersoflens abu-abu itu tak berkedip saat mendapati seorang jejaka berpakaian TNI tengah berdiri dengan gagah dibelakangnya. Keduanya saling bersitatap. Begitu dalam hingga keduanya hanyut.
“Lian?” lirihnya dengan bibir bergetar.
Seseorang yang dipanggil namanya itu pun melangkah untuk mengikis jarak. Senyum manis terbit dibibirnya dengan tulus. Namun mata hitamnya terlihat sendu, menandakan dia merasa sangat bersalah atas sesuatu. Anja dapat melihatnya.
“Nja, maaf.” Ucapnya lirih, namun terdengar begitu tulus.
Anja tak dapat membendung air matanya. Sekelebat memori menghampirinya begitu saja. Seketika sakit itu datang kembali tanpa dia suruh.
“Anja.” Saat Lian hendak menyentuh pundak yang bergetar itu, sebuah tangan menghalanginya. “Jangan berani menyentuh, Anja.” Tegasnya.
Lian menatatap seseorang yang kini berhadapan dengannya, “Bang Byan?” Mata Lian seketika memicing saat mendapati seseorang yang dengan tegasnya menghalanginya.
Byan yang merasa terpanggil itu membalas, “Iya. Ini aku, Byan. Kenapa? Kamu terkejut?” tanyanya datar.
Lian menjadi gugup seketika saat dia tahu, bahwa orang yang sudah menghalanginya adalah mantan komandan paskibra, Fabyan Diandra. Namun untuk menutupinya, Lian melontarkan pertanyaan, “Maaf bang, apa urusannya abang dengan Anja? Saya ingin berbicara dengan Anja.” Ucap Lian dengan sopan.
Byan tersenyum mengejek, “Berbicara? Untuk apa? Untuk membuat Anja merasakan sakit lagi? Udah cukup kamu buat Anja menderita, Lian. Sekarang waktunya Anja bahagia.” Tegas Byan pada Lian. Mengingatkan jejaka itu agar berhenti mendekati Anja yang kini berstatus calon istrinya.
Lian pun membalas, “Aku sudah sadar. Dan akulah orang yang akan membahagiannya, bang.” Dengan percaya diri Lian berkata.
Mendengar ucapan Lian yang begitu percaya diri membuat Byan lagi-lagi tersenyum mendengarnya. Jejaka itu menggeleng sembari menampilkan setitik gigi putihnya. “Kamu salah. Jangan berharap bisa menjadi orang yang akan membuat Anja bahagia. Karena akulah orangnya. Lihat cincin ini dan ingat itu baik-baik.” Byan memperlihatkan cincin berwarna silver yang juga dikenakan oleh Anja.
Lian menatap dua orang yang berada didepannya bergantian. Byan benar-benar membuat Lian tak bisa berkata apapun lagi. Dia hanya bisa melihat dengan tatapan kecewa.
Tanpa berpikir lama, Byan membawa Anja pergi dari kantin sekolah. Meninggalkan Lian sendirian disana bersama kekecewaan yang harus dia telan.
Lian hanya bisa berdiri mematung ditempatnya sembari melihat punggung Anja yang masih bergetar menghilang tertelan tembok lantai dua. Jejaka itu mengambil alih kursi yang tadi diduduki oleh Anja. Lian duduk disana dengan segala rasa yang tak bisa dia ungkapkan.
“Aku percayakan kamu bahagia bersama, bang Byan. Maafkan aku karena telah memberimu rasa sakit yang begitu luar biasa. Sekarang waktunya aku yang merasakan rasa sakit itu semua. Terima kasih karena pernah memberi ruang dihatimu, Anjani Calista Ailia.” Lian menutup buku berisi curahan hatinya. Lalu memeluk buku diary itu dan mengecupnya sesaat. Sebelum akhirnya sebuah tembakan mengakhiri segalanya.
END.