Zeano, seorang anak laki-laki berumur 15 tahun yang bersekolah di SMA terkenal bernama SMA Starlight. Saat ini Zeano sudah berada pada bangku SMA kelas 2 semester 1.
Zeano memiliki postur tubuh yang tinggi dengan wajah yang terbilang cukup menawan untuk seorang remaja biasa sepertinya, Zeano memiliki hidung sedikit mancung, kulit berwarna putih seperti susu yang juga halus dan bola mata berwarna hitam gelap yang indah menawan jika dipandang serta rambut pendek dengan warna seiras seperti matanya.
Dikelasnya Zeano dikenal baik dengan kepribadian yang ramah, baik serta gemar membantu siswa-siswi lainnya. Kepribadian itulah yang membuat dirinya ramai disukai oleh murid lain serta menjadi anak kesayangan para guru disana. Di SMA nya Zeano mengikuti dia ekskul, yang pertama adalah ekskul musik dan yang lainnya adalah ekskul menggambar.
Zeano mengikuti ekskul musik karena dirinya yang menyukai hal-hal berbau musik sejak masih kecil, sedangkan untuk menggambar itu sendiri dia mengikuti hanya karena hobinya saja yang menggambar di waktu luang untuk menghilangkan beban pikiran juga sekalian menambah wawasan tentang seni.
Karena kebetulan sekali jadwal dari kedua ekskul tersebut tak bertabrakan membuat Zeano makin semangat karena dapat mengikuti keduanya tanpa khawatir dengan waktunya yang akan terganggu.
Di SMA Starlight ini memang mengijinkan seluruh muridnya untuk mengikuti lebih dari satu ekskul jika mereka ingin karena kepala sekolah sendiri percaya kepada murid-muridnya bahwa mereka dapat mengatur waktu mereka sendiri dengan baik.
Meski waktunya terbagi dengan mengikuti dua ekskul sekaligus, Zeano masih tetap dapat mempertahankan posisinya sebagai yang pertama di kelas. Di SMA nya Zeano memiliki dua teman yang dapat dikatakan akrab bernama Revan dan Revana, keduanya adalah sepasang anak kembar identik.
Revan memiliki tubuh lebih tinggi beberapa centimeter dibandingkan Zeano dan tampilannya di sekolah itu sudah hampir dapat dikatakan seperti anak brandalan.
Akan tetapi sebenarnya Revan itu kebalikannya, dia sangatlah penurut di sekolah. Selalu melakukan hal yang disuruh guru hingga akhirnya menjadi anak kesayangan guru juga seperti Zeano.
Revan memiliki wajah yang tampan dengan mata berwarna coklat dan rambut yang agak panjang yang membuat dirinya seringkali ditembak oleh murid perempuan untuk dijadikan kekasih.
Namun, sayang sekali karena Revan sendiri sudah mempunyai seorang kekasih tempat dirinya menaruh hati yang kini sedang berada di luar negeri. Dan juga, dirinya itu setia! Sekalinya berkomitmen maka akan selalu menjaganya.
Sedangkan Revana itu seorang gadis yang cukup tomboy dengan rambut panjang berwarna hitam langit malam, berbeda dengan kembarannya yang lahir beberapa menit lebih awal dirinya. Revana adalah seorang gadis yang cukup malas untuk melakukan sesuatu kecuali hal yang disukainya, tak seperti Revan yang disuruh maka akan langsung mengerjakan.
Tetapi sekalinya dia melakukan sesuatu maka dirinya akan sngat serius dan tak main-main.
Seperti kembar pada umumnya, Revan dan Revana juga memiliki perbedaan dalam beberapa hal. Salah satunya adalah sifat. Sifat keduanya dapat dikatakan cukup berbanding terbalik, jika Revan itu humoris dan ceria. Maka Revana itu lebih ke dingin dan datar. Karena itulah dirinya hanya memiliki sedikit teman disekolahnya.
Revan dan Revana terlahir dari keluarga yang dapat dikatakan cukup kaya, Ayah mereka yang bernama Edward adalah seorang pengusaha besar dibidang teknologi.
Sementara Ibu mereka yang bernama Clarissa adalah seorang designer baju terkenal dengan butik yang tersebar keluar negeri. Meski memiliki keluarga yang cukup kaya Revan dan Revana tak pernah sombong dengan apa yang mereka miliki.
Hal itu terbukti dengan keduanya yang bisa berteman dengan Zeano yang kastanya jauh lebih rendah dari mereka. Zeano terlahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, tidak kaya ataupun miskin.
Dirinya dilahirkan oleh kedua orang tuanya yang bernama Leon dan Gloria.
Zeano sendiri tinggal bersama kedua orang tuanya di rumah kecil yang jaraknya juga lumayan jauh dari sekolah.
Disekolahnya selain orang yang menyukai nya ada pula yang membenci dirinya. Salah satunya adalah Xavier, anak dari donatur terbesar disekolah mereka. Selain anak dari donatur terbesar Xavier juga merupakan salah satu dari sekian banyaknya anak-anak nakal, dia seringkali keluar masuk ruang BK karena ulahnya.
Memalak serta tawuran adalah hal yang biasa dilakukannya, sifatnya juga cukup kasar. Ada masalah sedikit pasti menyelesaikannya dengan otot bukan otak. Emosinya juga tak stabil, mudah sekali marah hanya karena hal kecil. Meski begitu Xavier adalah anak yang pintar, dalam kelasnya dia menempati posisi pertama dengan kemampuan otaknya.
Xavier memiliki postur tubuh yang tinggi, tingginya itu sekitar 179cm hanya lebih tinggi sekitar 4cm dari Zeano karena tingginya sekitar 175cm. Hal itu membuatnya menjadi idaman para murid perempuan di SMA mereka atau sekolah lain.
Xavier jelas sekali terlahir dari keluarga yang kaya, Ayahnya yang bernama Sean adalah pengusaha besar dalam bidang entertainment dan pendidikan. Dia juga menjadi donatur dibeberapa sekolah dengan berbagai jenjang, salah satunya sekolah mereka.
Sementara Ibunya yang bernama Wenny adalah mantan artis besar yang sudah pensiun dan sekarang beralih menjadi pengusaha produk kecantikan dengan banyak pelanggan setelah menikah. Produk kecantikan dari perusahaannya itu sangatlah laku keras hingga seringkali kehabisan stock.
Hubungan antara Xavier dan orang tuanya baik.. Sangat baik, mereka seringkali pergi berlibur dikala luang dan jarang ada pertengkaran. Di SMA nya Xavier juga anak yang berprestasi, dirinya seringkali memenangkan penghargaan dibidang beladiri dan olahraga.
Disekolah Xavier mengambil ekskul taekwondo, sebenarnya dirinya tak ingin mengikuti kegiatan apapun tapi dikarenakan adanya peraturan bahwa setiap murid wajib mengikuti minimal 1 ekskul serta ada ekskul taekwondo ini maka dirinya mengambil ekskul tersebut.
Di SMA nya Xavier memiliki banyak teman, mulai dari kakak kelas atau adek kelas. Namun, yang paling dekat dengannya adalah Raiden, anak dari sahabat Ayahnya serta sahabatnya.
Mereka berdua sudah berteman sejak masih berumur 5 tahun, jadi dapat dikatakan mereka itu sahabat kan?
Raiden itu orangnya baik dan ramah, dia seringkali menjadi penengah ketika Xavier akan mulai bertengkar dengan murid yang llain
Raiden memiliki postur tubuh dengan tinggi yang hampir sama dengan Xavier yaitu, 178cm. Hanya berbeda satu centimeter saja.
Raiden juga memiliki kulit putih yang sebelas duabelas dengan Xavier, wajah dari keduanya juga sama-sama menawan dimata para kaum perempuan.
Hanya berbeda auranya saja, jika Xavier memiliki aura khas bad boy yang sangat kental idaman para wanita. Maka Raiden memiliki aura soft boy yang manis dan lembut.
Keduanya saat ini sama-sama berada di bangku SMA kelas 2 semester 1 juga sekelas. Jika disekolahnya Xavier akan selalu terlihat bersama Raiden kemanapun, mau itu ke kantin, taman sekolah, atap sekolah dan lain-lain. Mereka akan selalu terlihat bersama terkecuali saat ada urusan penting.
Raiden juga seringkali menghentikan Xavier untuk tidak mengikuti tawuran. Namun, hal itu hanya terkadang saja berhasil karena Xavier sendiri terkadang juga langsung pergi bersama teman-temannya yang lain dengan cara melompati tembok sekolah sebelum Raiden dapat menahannya.
Di pagi hari yang indah pada hari senin yang terasa menyebalkan bagi para siswa/i, terlihatlah seorang anak laki-laki yang berusiakan 15 tahun dengan tinggi kira-kira 175cm sedang terduduk dibangku taman belakang sekolah yang terlihat sepi karena waktu masihlah sangat pagi.
Dia adalah Zeano yang saat ini terlihat menggambar sesuatu dibuiu gambarnya yang berukuran A5, senyuman terikir jelas diwajahnya setelah melihat hasil akhir dari gambarnya.
Yang digambar olehnya adalah sebuah sketsa berwarnakan hitam putih dan abstrak bila dilihat oleh mata orang lain. Namun, bagi Zeano sang pembuatnya itu sketsa buatannya ini memiliki arti tersendiri yang dalam.
"Hei, Zean. Apa yang kau lakukan ditaman pagi-pagi begini? " seru seorang anak laki-laki bertanya kepadanya. Dia terlihat seumuran dengan Zeano dan sedang menarik tangan seorang gadis dengan wajah yang mirip dengannya.
Mereka berdua adalah Revan dan Revana, teman dekat Zeano. Zeano yang merasa terpanggil pun menooeh kearahnya dan menjawab.
"Oh.. Hai Revan, Vana. Kalian datang kesini juga ya? Seperti biasa, aku hanya menggambar saja disini" raut wajah milik Revan yang tadinya sumringah berubah menjadi agak masam ketika mendengarnya.
"Oh, menggambar sketsa aneh lagi ya. Aku heran kenapa kau suka sekali menggambar sketsa aneh sep- Aduh!! Vana!!! Kenapa kau memukul kepalaku? " Revana hanya memutar matanya ketika mendengar keluhan saudara kembarnya ketika kepalanya dipukul oleh dirinya.
"Diam! Seharusnya kau berterimakasih padaku karena telah menghentikan mulut tanpa filter mu itu yang akan menyinggung topik sensitif" ketua Revana dengan wajah datar.
Revan yang baru sadar segera meminta maaf pada Zeano, sementara Zeano yang mendengar permintaan maafnya hanya tersenyum dan berkata tak apa. Ketiganya pun sedikit berbincang sebentar sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam kelas mereka masing-masing.
***
Waktu berjalan dengan cepat, tak dirasa bahwa kini sang mentari terlihat mulai turun kebawah. Suasana lorong kelas yang dingin serta sunyi cukup membuat bulu kuduk berdiri.
Namun, hal itu tak terjadi pada Zeano yang kini berjalan dengan santainya dilorong sunyi ini. Suasana sekolah saat ini benar-benar sepi dan sunyi, bahkan derapan langkah kaki milik Zeano yang berjalan terdengar sedikit menggema di lorong-lorong.
Bell pulang sudah berbunyi beberapa jam yang lalu dan sebagian besar murid yang ada disekolah sudah kembali pulang kerumah masing-masing, hanya tersisa beberapa saja yang masih berada di sekolah termasuk Zeano.
Dirinya baru saja selesai mengikuti ekskul musiknya yang memang ada jadwal pada hari senin. Saat berjalan dilorong dirinya tak sengaja tertabrak oleh salah seorang murid hingga terjauh ke lantai dan membuat buku yang dibawanya berserakan.
"Oh, maaf. Tak sengaja Zeano" kata murid itu dengan nada main-main.
Zeano menatapnya dengan perasaan lelah. Kenapa juga dirinya harus bertemu dengan Xavier dilorong ini? Dirinya cukup lelah hari ini.
Murid itu memang lah Xavier, dia juga baru saja selesai mengikuti ekskul taewondo nya dan tanpa sengaja melihat Zeano yang sedang berjalan sendirian menuju kearahnya.
Sebenarnya tabrakan antara dirinya dan Zeano itu disengaja olehnya karena merasa cukup kesal ketika melihat Zeano yang ada dihadapannya entah mengapa.
Zeano hanya tersenyum saja sekilas lalu mengambil satu persatu buku-buku nya yang berserakan dilantai, disaat dia ingin mengambil buku gambarnya yang berukuran A5 itu Xavier secara tiba-tiba menyautnya dan melihat-lihat isi dari buku itu.
"Xavier! Kembalikan bukuku, Itu milikku! " pintar Zeano sambil berusaha mengambil kembali bukunya dari tangan Xavier.
"Ck! Bisakah kau diam sebentar bodoh? Aku hanya melihat-lihat saja sebentar! "
Xavier pun kembali melihat-lihat isinya sambil menghindari tangan Zeano yang berusaha merebut buku ditangannya itu. Wajah Xavier tak lama berubah menjadi masa setelah melihat bahwa isinya hanya beberapa sketsa hitam putih yang abstrak.
Diapun lalu melemparkan buku itu kembali kepada si pemilik asli dan berkata dengan sinisnya.
"Cih! Hanya sekumpulan sketsa aneh saja kau sampai segitunya, kau itu benar-benar aneh dan memiliki selera yang aneh" dengan menahan emosi Zeano mengambil buku gambarnya itu yang berada dilantai dan berkata dengan lantangnya.
"Seleraku itu tidak aneh Tuan Muda Xavier.. Hanya saja otakmu itu yang terlalu lemah untuk memahami isi dari sketsa ku ini dan sampai jumpa lain waktu" katanya yang kemudian pergi dari sana, meninggalkan Xavier yang merasa marah karena ucapannya dan hampir meninju dinding sekolah jika saja Raiden tak datang untuk menenangkannya.
***
Dua hari berlalu semenjak pertemuan antara Zeano dan Xavier yang berakhir dengan Xavier yang hampir memukul dinding sekolah karena kesal dan semenjak itu pula keduanya belum bertemu kembali.
Kehidupan Zeano pun berjalan dengan biasa saja tanpa ada hal yang special. Hanya belajar, mengikuti ekskul, pulang dan kembali berulang lagi dari awal.
Namun, sepertinya hari ini adalah hari yang cukup soal bagi Zeano karena niatnya untuk pergi ke taman belakang sekolah malah berakhir dengan dirinya yang dipukuli oleh Xavier yang sedang emosi entah karena apa.
Tadi sewaktu dirinya selesai mengikuti kegiatan ekskul menggambarnya, Zeano seperti biasa pergi ke taman belakang sekolah hanya sekedar untuk menggambar sketsa hitam putih lagi sambil menenangkan pikiran sebelum pulang.
Akan tetapi ketika dirinya sampai ditaman dia malah disambut oleh puluhan kuat yang ternyata dilayangkan oleh Xavier. Bukan hanya satu saja, pukulan demi pukulan terus dilayangkan olehnya tanpa henti. Zeano yang pada dasarnya memang tak bisa beladiri atau berkelahi hanya dapat pasrah saja menerimanya.
"Bodoh! Kenapa kau hanya diam saja bodoh?! Ayo lawan aku balik! Tunjukkan bahwa kau itu bukan seperti apa yang mereka lihat!! " seru Xavier dengan lantangnya kepada Zeano tapi dirinya tetap diam, dia hanya diam menerima pukulan dari Xavier yang tanpa henti itu tanpa berkata apapun dan hanya menahan rasa sakitnya.
Setengah jam hampir berlalu, lama-kelamaan pukulan dari Xavier melemah dan akhirnya berhenti. Nafasnya pun kini sudah terengah-engah karena lelah.
"Kenapa.. Hah.. Hah.. Kenapa.. Kau tak.. Hah.. Pernah melawan? Hah.. " tanya Xavier sambil mengatur nafasnya yang masih tak stabil.
Zeano yang mendengar pertanyaannya hanya dapat tersenyum, dirinya perlahan bangkit dari tempatnya dan dengan perlahan berjalan mengambil tas miliknya yang terlempar cukup jauh tadi lalu berjalan pergi dari sana secara perlahan.
Xavier hanya dapat diam saja melihat apa yang dilakukannya sambil terus mengatur nafas, sebelum benar-benar pergi dari sana Zeano berhenti sejenak hanya untuk berbalik menatap wajah Xavier dan bertanya.
"Xavier.. "
"Apa?! "
"Apakah aku dapat bertanya mengapa kau terlihat membenciku? " untuk sejenak Xavier terdiam, dirinya menatap wajah Zeano yang kini sudah terhiaskan lebam lebam ungu kebiruan hasil karyanya.
"Bukankah sudah jelas aku membencimu karena kau yang membuat perhatian orang tuaku beralih sebagian besar padamu, aku heran apa yang dilihat oleh mereka dari orang bodoh sepertimu" jawabnya dengan yang terdengar tak mengenakan yang jelas ditujukan pada Zeano. Zeano tersenyum mendengar jawabannya.
"Xavier.. Meskipun perhatian orang tuamu itu terbagi, setidaknya kau masih beruntung memiliki keluarga yang utuh dan harmonis. Tak semua orang mendapatkannya kau tau? Daripada kau menghabiskan waktu untuk membenciku ini lebih baik kau fokus saja untuk mempererat hubungan kalian. Hanya itu saja yang ingin kukatakan, tolong ucapkan terimakasih pada orang tuamu yang sudah memperhatikan ku juga. Sampai jumpa di lain waktu, itupun kalau kita masih dapat bertemu kembali" akhir Zeano yang kemudian berjalan pergi dari sana.
Meninggalkan Xavier yang masih berusaha mencerna ucapannya tadi, bahkan setelah dicerna pun dia masih tak bisa memahami apa yang dimaksud dari perkataannya tadi.
***
Disisi Zeano sendiri sudah hampir sampai di rumahnya, hanya tinggal beberapa meter lagi untuk sampai didepan rumah. Lingkungan tempatnya tinggal saat ini terasa sangat tenang.
Namun, ketenangan inilah yang membuatnya menjadi cemas. Dengan cepat dia berjalan menuju pintu rumahnya, tepat saat dirinya akan membukanya pintu itu sudah terlebih dahulu dibuka dari dalam.
Dari dalam keluarlah seorang wanita setengah baya dengan wajah yang masih awet muda dan cantik, dia adalah Ibu Zeano yang bernama Gloria. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihat anaknya yang sudah ada didepan pintu rumah.
"Bu.. Apakah kalian baik-baik saja? Atau kau dan Ayah sudah berhenti bertengkar sekarang? Tidak terjadi apa-apa bukan" tanya Zeano dengan nada khawatir.
"A- ah, kau sudah puang Zean? Kenapa dengan wajahmu ini, apakah kau bertengkar dengan orang? " bukannya menjawab Ibunya ini malah balik bertanya kepadanya. Hal itu membuat Zeano menatap tajam sangat Ibu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Bu! Jawab Zean sekarang, kalian masih baik-baik saja bukan? " tanya Zeano sambil menahan emosinya. Gloria yang mendengarnya hanya menghela nafas lalu menggeleng pasrah, membuat Zeano terdiam seketika.
"Maaf nak, kami.. Kami berdua sudah tak bisa mempertahankan hubungan ini lagi. Maaf karena sudah membuatmu merasakan ini semua, sekarang kami sudah sepakat untuk menandatangani surat cerai. Sekali lagi Ibu minta ma- Zean!! Kembali nak!" seru Gloria memanggil Zeano ketika anaknya itu berlari pergi secara tiba-tiba.
Zeano tak mendengarkannya, dia masih terus berlari dan berlari lebih jauh seakan tak menerima kenyataan pahit itu. Hatinya sudah terasa hancur.. Hancur sudah dunianya pula, sekarang kedua orang tuanya telah berpisah sepenuhnya. Tak lagi bertengkar memang. Namun, hal ini jauh lebih parah baginya.
"ARGHHH!!! " teriak Zeano dengan frustasi. Lari annya perlahan berhenti hingga akhirnya Zeano berada tepat di sebuah taman yang sangat sepi, dirinya perlahan berjalan mendekati sungai ada di taman tersebut dan duduk pinggir nya.
Kristal bening yang sedari tadi turun dari kedua matanya semakin menderas, langit yang sudah gelap itu semakin gelap ketika datang sebuah awan mendung yang akhirnya menutupinya.
Tetesan demi tetesan turun hingga menjadi rintikan dan akhirnya pun hujan yang turun dengan derasnya seakan ikut menangis atas kesedihan Zeano dan berusaha menutupi agar tak terlihat.
Zeano tak perduli, dirinya tak perduli akan apapun. Mau itu hujan yang kini sudah membasahi dirinya ataupun hembusan angin yang datang kencangnya hingga membuat tubuhnya yang kini sudah basah kuyup itu terasa dingin.
Dirinya hanya... Dirinya hanya peduli akan hatinya yang sekarang sudah hancur lebur. Harapannya.. Harapannya tentang kedua orang tuanya yang akan kembali berdamai dan bersatu telah hancur dengan cepat bagaikan kaca yang pecah berkeping-keping karena terkena panasnya lava, semuanya sudah hancur hanya karena secarik kertas.
Tak ada lagi yang bisa diperbaiki.. Tak ada lagi! Harapan Zeano untuk hidup dengan keluarganya yang damai dan utuh pun juga hancur.
Air hujan yang turun itu semakin deras kian lamanya, kristal bening yang keluar dari kedua mata Zeano pun tersamarkan akibatnya. Namun Zeano hanya diam saja, diam tak bergerak ataupun mengeluarkan suara.
Dirinya hanya.. Hanya terdiam menikmati suasana taman yang kian mendukung dirinya untuk bersedih ini.
Hingga beberapa saat lamanya Zeano terdiam seperti itu dirinya akhirnya bergerak juga, dia berdiri dari tempatnya duduk itu.
Tatapan yang diarahkan nya pada sungai itu kosong, seakan ada sesuatu yang memanggilnya untuk masuk kedalamnya Zeano perlahan melangkah. Melangkah masuk kedalam air sungai yang dingin bagaikan air es tersebut.
Ketika Zeano sadar dirinya sudah berada di dalam sungai itu, tubuhnya perlahan turun kebawah menuju dasar sungai ini.
Zeano yang melihatnya hanya diam saja, dia sudah pasrah dengan keadaan. Lagipula tak ada lagi harapannya untuk hidup bukan? Kedua orang tuanya sudah bercerai, mereka sudah tak bisa kembali bersama.
Sebenarnya Zeano tau bahwa hal itu tak bisa diharapkan, namun.. Namun dirinya masih saja tetap berharap pada harapan semu yang akan menghilang kapan saja ini.
Dirinya sudah lelah sekarang, jadi... Jadi biarkan dirinya beristirahat sejenak.. Atau mungkin selamanya saja agar dirinya tak menderita kembali.
"Dasar bodoh!! "
Tepat sebelum Zeano kehilangan kesadarannya dia melihat siluet seseorang yang terjun kedalam sungai, berenang kearahnya dan berusaha menggapainya.
'Xavier.. ' batinnya melihat wajah sosok tersebut lalu kehilangan kesadaran.
Xavier yang melihatnya menutup matanya pun segera meraihnya lalu dengan cepat berenang kembali keatas.
"Buah! Hah.. Hah.. Hah.. Dasar bodoh! "
Xavier yang sudah kembali ke permukaan sungai itu pun membawa Zeano menuju ke pinggir sungai, disana dia pun segera berusaha membangunkan Zeano dari pingsannya itu.
"Hei bodoh! Bangunlah kumohon, ayo bangun dasar bodoh! " ujar Xavier sambil menepuk-nepuk pipi Zeano dengan kencang, berusaha membangunkannya.
Suara langkah kaki melewati air yang tiba-tiba terdengar itu membuatnya menolehkan kepala, disana terlihat seorang gadis berambut hitam panjang yang dikuncir sedang berlari menuju arahnya dan Zeano yang masih pingsan.
Di tangannya terdapat payung yang agak basah dan kini sudah dilipat karena hujan yang juga sudah berhenti.
"Zean! Apa yang terjadi padanya? " tanya gadis itu, Xavier yang melihatnya cukup terkejut namun tetap menjawabnya.
"Ah Vana, tadi dia sepertinya berniat untuk bunuh diri dengan tenggelam di sungai dan sekarang pingsan. Aku tak bisa membangunkannya! Apa yang harus ku lakukan? " balas Xavier dengan bingung.
Benar, gadis itu adalah Revana atau lebih dikenal sebagai Vana teman akrab dari Zeano. Dengan cepat Revana berjongkok dan menempelkan telinganya pada dada Zeano yang kini pingsan serta meletakkan jarinya pada denyut nadinya, beberapa kali Revana melakukan hal itu dengan berulang.
Setelah memastikan bahwa Zeano masih bernafas dia pun segera berkata. "Dia masih bernafas! Namun suhu tubuhnya sangat dingin dibawah rata-rata dan nafasnya juga hampir bagaikan es, ini lumayan berbahaya! Bantu aku membawanya ke rumah sakit, akan lebih baik jika dirinya dirawat disana" kata Revana yang langsung membawa tubuh Zeano dibantu oleh Xavier juga.
***
"Permisi! Tolong biarkan kami lewat! "
"Perawat! Perawat! Tolong bantu kami disini! " seru Xavier memanggil perawat di rumah sakit ini lalu tibalah seorang perawat yang mendatangi mereka.
"Ada yang bisa saya bantu tuan? "
"Tolong, si bodoh ini baru saja berniat untuk bunuh diri dengan tenggelam di sungai.. Tubuhnya saat ini berada dibawah suhu rata-rata normal! Cepat rawat dia! " jelas Xavier, perawat itu pun segera memanggil temannya untuk membawa tubuh Zeano yang masih pingsan.
Perawat itu terlihat sedikit terkejut ketika dirinya menyentuh kulit Zeano yang kini dingin bagaikan es itu. Setelahnya hanya fokus pada tugasnya sendiri. Dan disinilah akhirnya Xavier dan Revana berada.. Terduduk di depan pintu ruang UGD, menunggu sangat dokter yang berada di dalam keluar.
Keduanya menunggu dengan perasaan khawatir, tak ada yang berbicara diantara mereka. Keduanya hanya diam dan sesekali melirik kearah pintu dengan cemas.
Satu jam telah berlalu dengan cepatnya dan kini pintu itu masih belum terbuka membuat keduanya maskin cemas setiap detik.
Xavier menatap khawatir pintu ruang UGD, ini sudah satu jam lebih lamanya dan bahkan sekarang dia sudah mengganti bajunya yang basah dengan pakaian kering.
Tadi dirinya memang sudah ganti baju, itupun dengan paksaan Revana yang berkata dengan ketusnya "Kau pergilah sana membeli pakaian kering dan gantilah segera pakaianmu itu, biarkan saja aku yang berbahaya disini. Aku tak Terima bantahan apapun, akan lebih merepotkan kalau kau juga masuk rumah sakit hanya gara-gara hal sepele".
Sebenarnya Xavier tak mau dan ingin menolak. Namun, setelah dipikirkan kembali perkataannya itu ada benarnya juga.
Akan sangat merepotkan kalau dirinya juga ikut masuk rumah sakit ini, jadi mau tak mau Xavier pun menurut saja. Pintu ruang UGD yang terbuka sontak membuat Xavier dan Revana berdiri.
Dari dalam keluarlah seorang dokter laki-laki muda yang sepertinya seumuran dengan mereka mengenakan kemeja biru, jas putih yang terdapat nametag bertuliskan 'Kevin Smith' dan menggunakan masker serta stetoskop di lehernya.
"Kevin! Bagaimana keadaan si bodoh itu? Dia baik-baik saja kan? " tanya Xavier dengan cepat ketika melihat orang yang dikenalnya itu keluar.
Dokter bernama Kevin Smith yang biasa dipanggil Kevin itu membuka maskernya lalu tersenyum menjawab.
"Tenanglah Xavier, dia sudah aman sekarang dan akan dipindahkan ke ruang ICU.. " Xavier menghela nafas lega mendengarnya. Namun, kembali tegang ketika temannya yang sudah menjadi dokter muda itu melanjutkan kalimatnya.
"Tapi ini harus ku tanyakan pada kalian. Apakah kalian tau bahwa dia mengonsumsi obat antidepresan? " tanya Kevin dengan wajah yang serius. Xavier terdiam mendengarnya, obat.. Antidepresan? Dirinya sungguh terkejut mendengar hal itu.
Sementara Revana hanya menghela nafas saja, dirinya sudah tau akan hal in- tidak! Sebenarnya dia tak tahu. Namun, sudah lama dia menduga akan hal ini. Zeano benar-benar mengonsumsi obat itu.
Melihat reaksi dari keduanya ini sudah bisa membuat Kevin paham, diapun melanjutkan kembali penjelasan nya tentang keadaan Zeano.
"Pasien saat ini memang sudah dapat dikatakan aman. Namun, setelah kami periksa kembali tadi ada dugaan bahwa pasien kemungkinan mengalami depresi dan akhirnya meminum obat antidepresan dalam jumlah yang cukup banyak hingga overdosis dan mengalami salah satu efek sampingnya yaitu halusinasi. Saya anjurkan untuk dirawat inap selama beberapa hari hingga keadaan pasien membaik. Hanya itu yang ingin saya sampaikan, tolong jaga perasaan pasien ketika kalian menemuinya. Saya izin undur diri dan jagalah temanmu Xavier" ujar Kevin diakhiri gumaman yang ditujukan pada temannya itu yang kini terdiam. Setelahnya pun dokter muda itu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang kau ketahui tentang temanku, Tuan muda Xavier? " ditengah keheningan itu Revana bertanya dengan nada dingin khasnya.
"Tak banyak" jawab singkat Xavier.
"Katakan! "
"Hah.. Aku hanya tau bahwa si bodoh itu aneh sebelumnya. Namun, sekarang aku tahu keanehannya itu ada penyebabnya. Si bodoh itu ternyata anak brokenhome, kau tau? Tadi setelah aku memukulnya karena kesal dengan orang tuaku yang selalu membicarakannya, dia mengatakan sesuatu yang aku tak mengerti dan membuatku bingung hi-"
"Hingga akhirnya kau mengikutinya pulang kerumah dan mengetahui kenyataan itu. Disana kau juga melihat serta mendengar pembicaraan Bibi dan Zean tentang Paman dan Bibi yang sudah bercerai bukan? " potong Revana dengan cepat. Xavier yang mendengarnya hanya mengangguk pelan dengan kebingungan.
"Kau tau? Sebenarnya aku sudah menebak lama akan hal ini, hubungan antara Paman dan Bibi memang buruk. Sangat buruk hingga dapat dipastikan akan berpisah dengan jangka waktu yang cepat atau lambat dan kau tau Xavier? " Xavier menggeleng pelan.
"Zeano itu memang aneh.. Dia aneh serta unik disaat bersamaan, tetapi anehnya itu memiliki alasan sendiri. Kau pasti pernah melihat sketsa hitam putih buatannya kan? Jangan berbohong, aku tau segalanya. Sketsa itu adalah isi perasaan dari hati terdalamnya dan jika kau perhatikan baik-baik maka disana akan terlihat sebuah gambar samar tentang keluarga harmonis dan hancur" hati Xavier terasa sakit entah mengapa mendengar nya. Revana yang masih melihat dirinya yang diam pun melanjutkan kembali.
"Zeano itu bodoh karena telah menyembunyikan masalahnya. Namun, kau juga bodoh Xavier.. Kau membenci seseorang tanpa melihat bagaimana dirinya yang sejati, dirinya yang asli bukan hanya topeng belaka. Seharusnya kau tak membenci Zeano hanya karena kedua orang tuamu yang memperhatikan nya juga. Kau iri itu boleh, iri dengan Zean yang nampak bahagia dari luar namun terpuruk di dalam adalah hal berbeda"
"Dia tak punya apa yang kau punya. Kau ingin sepertinya bukan? Yang diperhatikan serta dibanggakan oleh orang tuamu karena prestasinya dalam sekolah. Maka dia ingin menjadi sepertimu yang memiliki keluarga harmonis! Dia selalu ingin.. Dalam hati kecilnya dia ingin, meskipun kata yang keluar adalah tidak. Dia selalu berkata ya dalam hatinya"
Xavier hanya terdiam, hatinya terasa terisis mendengarnya.
Hal ini memang benar, dirinya selalu merasa ingin.. Ingin menjadi Zeano yang dibanggakan karena prestasi. Dia ingin membanggakan orang tuanya dan membuat seluruh perhatian mereka hanya tertuju padanya, bukan terbagi.
Dirinya hanya fokus dengan hal itu hingga tanpa sadar membenci sosok tak bersalah seperti Zeano yang pada dasarnya juga iri kepadanya dan sekarang.. Dirinya merasa seperti orang jahat.
Tanpa sadar pun airmata turun secara perlahan dari kedua matanya itu. Revana yang melihatnya tersenyum tipis, dia mendekat kepada Xavier lalu menepuk bahunya dan berkata.
"Xavier, akan kuberi kau satu nasehat. Ini sama halnya dengan peribahasa 'you can't judge a book by its cover'. Kau tak bisa hanya menilai buku dari sampulnya, begitupun dengan orang. Kau tak bisa hanya menilai seseorang hanya sekedar dari penampilan luarnya.. Kau perlu melihat kedalamnya untuk melihat kebenaran yang ada, bagaimana sebenarnya orang tersebut. Kuharap setelah ini kau paham dengan apa yang kukatakan, kau takkan mengulanginya kembali bukan? " Xavier mengangguk cepat dengan air mata yang masih menetes membuat senyuman Revana lebih melebar.
"Good boy! Sekarang hapuslah air matamu dan pergi temui Zean, mungkin dia sudah sadar sekarang? Aku akan mengurus bagian administrasi dulu" Xavier menuruti perkataan Revana, dia mengusap bekas air matanya lalu berjalan pergi menuju ruangan ICU Zean dan meninggalkan Revana yang masih tersenyum dibelakang sana menatapnya.
Saat sampai di ruang ICU Xavier langsung diizinkan masuk oleh perawat yang berjaga disana dengan syarat untuk tak berisik karena takut mengganggu pasien dan langsung di iyakan saja olehnya. Kini Xavier diam menatap Zeano yang masih pingsan, dirinya perlahan duduk lalu menggenggam tangannya.
Lebih hangat.. Sekarang tangannya lebih hangat dari sebelumnya yang dingin bagaikan es itu. Senyuman terukir tipis di wajah Xavier dia menatap Zeano yang masih memejamkan matanya.
"Bodoh.. Cepatlah bangun, Aku.. Aku ingin meminta maaf padamu. Aku tau sekarang bahwa aku salah karena membencimu, aku ingin minta maaf. Aku tak akan membencimu lagi mulai sekarang" gumam Xavier pelan manatap tangan Zeano.
"Benarkah? " sontak Xavier terkejut ketika mendengar suara yang menyahuti perkataannya. Dia menatap terkejut pada Zeano yang kini sudah membuka matanya dan menatap dirinya.
"Kau.. Kau, sejak kapan kau bangun?! " Zeano tertawa kecil mendengarnya.
"Sejak kau masuk Aku juga sudah bangun, sekarang jawab pertanyaan ku. Kau benar-benar takkan membenciku lagi? " tanya Zeano sekali lagi.
"Tentu saja bodoh! Aku janji takkan membencimu lagi"
"Kalau begitu bisakah kau jangan panggil aku bodoh lagi? Aku tak sebodoh itu kau tau"
"Tak bisa, sudah kebiasaanku bodoh dan kau itu bodoh. Main menenggelamkan diri sendiri di sungai taman. Kau itu bodoh! Bukan bodoh dalam otak tapi hati" ujar Xavier tanpa sadar yang membuatnya terdiam didetik kemudian.
"Eh? Ma- maaf kan Aku bodoh! Astaga, kenapa mulut bodoh ini main bicara tanpa filter sih?! " Zeano hanya terkekeh kecil saja melihat kelakuannya.
Xavier itu memang pada dasarnya blak-blakan, jadi dirinya hanya akan maklum saja bila Xavier langsung berkata tanpa berpikir. Itu sudah menjadi kepribadian nya sendiri.
"Tok, tok. Hei Tuan Muda, sudah berbicaranya dengan temanku? Sekarang giliranku untuk bicara dengannya" Revana berkata dengan nada malasnya, dirinya sudah berdiri di ambang pintu sejak tadi dan melihat interaksi antara dua orang itu.
"Ah, Vana! Hai! "
"Hai juga Zean, jadi bisakah kau keluar Tuan Muda Xavier? Ada yang perlu ku bicarakan dengan temanku ini"
"Apakah Aku tak bisa disini saja? Aku masih ingin berbicara dengan teman baruku! "
"Ayolah, jangan kekanak-kanakan. Kau itu sudah dewasa dan juga diluar sana ada orang yang ingin bertemu denganmu"
"Siapa? " tanya Xavier penasaran.
"Cari tahulah sendiri! Cepat keluar sana! " usir Revana, Xavier pun akhirnya keluar. Bukan karena mengalah pada gadis itu melainkan karena penasaran dengan orang yang ingin menemuinya.
Setelahnya pun hanya tersisa Revana dan Zeano seorang di ruangan itu. Revana menatap Zeano dengan tayspn rumit, sementara yang ditatap merasa canggung sendiri.
"Zean.. Kau itu bodoh"
"Ee.. Apa? " bingung Zeano.
"Kau itu bodoh seperti yang dikatakan Xavier, meminum obat antidepresan dalam jumlah banyak hingga overdosis. Apakah kau ingin mati? Untung saja kau masih bisa diselamatkan! Apa yang akan terjadi nanti pada Bibi kalau tau anaknya begini? " Zeano hanya terdiam mendengarnya membuat Revana pun melanjutkan kembali perkataannya.
"Zean.. Kau itu kenapa selalu saja menyembunyikan masalahmu? Jangan selalu bertingkah kau baik-baik saja, tolong. Jika kau ada masalah katakan saja, jangan kau pendam hingga dirimu sendiri hancur karena itu. Aku tau bahwa kau hanya tak ingin menyusahkan orang lain tapi jangan selalu kau pendam. Itu hanya akan membuat dirimu sendiri hancur"
"Jangan terlalu bodoh hanya untuk menyembunyikan masalah, pikirkan lah orang-orang yang menyayangimu. Jangan berpikir bahwa kau itu sendirian didunia ini, masih ada Revan, Bibi, dan Aku yang bisa kau jadikan tempat bercerita dan istirahat"
"Zean.. Tolong, tolong sekali lagi untuk jangan pernah menyembunyikan masalah mu. Menyembunyikan nya itu boleh saja. Namun, bila kau susah merasa tak sanggup lagi tolong katakan saja. Ceritakan saja kepada orang lain, jangan kau buat menjadi bebanmu sendiri hingga akhirnya kau mengambil langkah yang salah. Kumohon" pinta Revana.
Dia sudah lelah.. Lelah melihat temannya yang menjadi seperti ini. Dia menyayangi Zeano itu sudah bagaikan saudara sendiri sama halnya seperti Revan. Dirinya sendiri merasa sakit saat melihat Zeano yang menjadi seperti ini. Sakit rasanya..
"Maaf Vana.. Maaf, maaf karena telah membuatmu khawatir. Aku.. Aku janji takkan mengulanginya lagi" ujar Zeano meminta maaf dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Revana yang mendengarnya tentu saja tersenyum.
"Jangan hanya katakan dalam mulut Zean, buktikan bahwa kau akan melakukannya. Aku tak ingin melihatmu begini lagi nantinya"
"Hm.. Baiklah! Akan kuusahakan, lihat saja nanti! " dengan senyuman Zeano berkata.
Brak!
"Hei! Aku punya berita baik semuanya! "
***
Tak terasa waktu lima tahun telah berlalu dengan cepat semenjak Zeano dirawat di rumah sakit karena menenggelamkan diri di sungai taman.
Sekarang ini kehidupannya sudah berubah menjadi lebih baik, perasaan depresi yang dimiliki pun telah lama hilang, Zeano yang sekarang adalah Zeano yang baru dengan kehidupan ceria dan lebih berwarna.
Zeano dan temannya yang lain sekarang telah menginjak masa-masa kuliah yang padat setelah lulus SMA, mereka masing-masing sibuk dengan kerjaan mereka dan jurusan kuliah yang mereka ambil. Namun, hal itu tak membuat hubungan mereka menjadi jauh.
Terkadang mereka juga menyempatkan diri untuk saling bertemu satu sama lain. Zeano melangkah menuruni tangga dengan cepat, dirinya sudah hampir terlambat untuk masuk kelas paginya hari ini.
"Morning Mom, Dad" sapanya kepada kedua orang tuanya yang berada di meja makan itu.
"To sayang"
"Aku tidak kau anggap kak? Ayolah Aku bukan benda kasat mata hingga tak bisa kau lihat, sepertinya matamu akhir-akhir ini buram ya. Butuh kacamata sepertinya" sindir Xavier. Zeano tertawa kecil mendengar sindiran itu.
"Iya, iya. Pagi juga untuk adikku ini, kau itu dewasalah sekali-kali. Jangan selalu ingin ku manja saja" ujarnya menepuk-nepuk kepala Xavier membuat si empu mendengus.
"Biarkanlah Zean, kau itu tau sendiri kan sifatnya bagaimana setelah kau menjadi anggota kami lima tahun lalu. Dia itu selalu ingin dimanja olehmu dan sepertinya tidak akan mau dewasa" ujar Wenny menatap kedua anaknya itu.
Lima tahun benar-benar telah berlalu dengan cepat dan banyak hal menarik yang terjadi, mulai dari Zeano yang resmi diangkat oleh Ayah dan Ibu Xavier menjadi anak angkat mereka, perubahan cepat sifat Xavier kepada Zeano dan masih banyak lagi yang telah berlalu.
Mengingatnya kembali membuat Zeano tersenyum tipis, dirinya tak menyangka bahwa dia akan menjadi saudara Xavier. Mungkin tepatnya kakak karena ternyata dirinya dan Xavier itu berbeda satu tahun.
Sangat banyak perubahan dalam hidupnya ini, Wenny dan Gloria itu ternyata adalah teman dekat semasa bangku SMP hingga SMA. Keduanya pun masih berkontak hingga sekarang.
Berbicara tentang Ibunya itu Zeano jadi ingat bahwa Ibunya akan menikah dengan seorang laki-laki berkenegaraan luar bernama Vincent dan waktu pernikahan hanya tinggal lima hari saja.
"Mom, Dad. Nanti Zean bareng kalian ya pergi kepernikahan Ibu"
"Iya Zean, nanti kita bakal berangkat bareng. Kalau Xavier gimana? Mau berangkat juga bareng Daddy, Mommy kayak Zean? " tanya Sean yang dibalas gelengan oleh Xavier.
"Enggak Dad. Nanti Xavier Mau berangkat bareng Nella, udah janjian tadi" jawab Xavier yang mengambil potongan ayam dari piring Zeano, membuat si pemilik menatapnya tajam.
"Si Nella temen cewek mu itukan? Kapan mau ditembak, cepet-cepet sana. Jangan sampai ada yang ngambil start mu loh Xavier" timpal Zeano yang merebut kembali potongan ayamnya. Nella adalah teman perempuan Xavier yang juga menjadi pujaan hati adiknya itu, mereka berdua bertemu lima tahun lalu di rumah sakit.
Itupun karena Zeano yang menyuruhnya untuk membelikannya permen kapas di depan rumah sakit, aneh memang ada orang berjualan permen kapas disana.
"Iya, iya. Udahlah, Xavier berangkat dulu ya. Bye! " Xavier lalu berjalan keluar setelah mencium pipi sang Mommy.
Meninggalkan Zeano yang masih sibuk dengan ayamnya. Zeano yang ditinggal itupun segera buru-buru menyusulnya.
"Eh, tunggu Xavier! Mom, Dad. Zean pamit dulu ya, bye! " Zeano pun segera berlari keluar menyusul Xavier.
Dengan senyuman lebar Zeano berlari sambil memikirkan jalan hidupnya. Kehidupannya yang sekarang adalah kehidupan yang dari dulu diidam-idamkan olehnya. Punya keluarga yang harmonis, sejahtera dan damai.
Terdapat canda tawa serta kehangatan didalamnya ini adalah hal yang diinginkan olehnya sejak dulu. Dirinya tak pernah menyangka bahwa kepahitan dimasa lalu yang dialaminya itu akan membawa sebuah kemanisan tiada tara di kedepan hari.
"Seperti kata orang memang, bila ingin merasakan kemanisan hidup yang panjang maka harus merasakan terlebih dulu pahitnya kehidupan. Agar kita dapat menghargai hidup sendiri" gumamnya dengan senyuman lebar.
TAMAT