Suatu hari di Bogor. Meski kecil, kota yang sering dibayangkan sebuah pegunungan. Sejak lahir, di seberang jalan, ada putra dan putri yang lahir di hari yang sama, melewati masa kecil bersama hingga mamasuki jenjang SD, bahkan sampai SMP. Dan layaknya bukan seperti seorang teman tetapi seperti saudara kembar. Menurutku tidak ada yang menyadarinya, Aku, Jatuh cinta pada gadis teman masa kecil ku ini. Namaku adalah Astra, dan Dia, gadis yang dapat membuat jagatku berhenti, bernama Thea, Namun.. Cinta tidak semudah yang dibayangkan.
Awalnya bahagia, aku menyatakan perasaanku di kenaikan kelas 9 sewaktu study tour, Aku yang saat itu hanya sebatas teman masa kecil berubah status menjadi sebuah pasangan cinta. Cinta monyet tentunya, hari hari kami jalani dengan sangat menyenangkan, canda tawa menghiasi hari hari kami, dan seperti normalnya pasangan yang dimabuk cinta, kami hampir tidak pernah berpisah. Sambil menyembunyikan hubungan kami kepada orang tua masing-masing, meskipun rumah kami hanya bersebrangan, entah kenapa aku mudah sekali merindukan kehadirannya.
Dulu kupikir kisah hidup ini akan berjalan sesuai rencana, ternyata.. Tuhan berkata lain. Hingga di suatu hari. Ibuku memanggilku, Aku duduk di sofa ruang tamu, melihat Ayah dan Ibuku. Dan di saat itulah hatiku benar benar hancur, Ibuku bilang bahwa kelak kami sekeluarga akan pindah ke Padang, kampung halaman kami. Lalu aku diamanatkan oleh ibuku untung memutuskan hubunganku dengan Thea. Aku terkejut, bagaimana Ibu bisa tau?.. dan saat itulah Ibuku memberitahu segalanya, Ibu ternyata sudah tau dari dulu, karena Ibu sudah curiga padaku karena tingkah laku ku yang tidak seperti biasanya. Ibuku mulai mencari tau apa penyebab sikap ku yang berubah, Dan disaat itulah Ibuku tahu bahwa aku sedang menjalani hubungan. Hubungan bersama orang yang sangat spesial di mataku. Namun, aku masih tetap kebingungan. Kenapa harus pindah? Bukankah kita sudah berada disini dari waktu aku kecil? Bukannya sayang kalau pindahh? Itulah kata kata yang aku lontarkan kepada Orang tua ku. Aku kesal, Ayahku berkata bahwa kita sudah tidak bisa mempertahankan rumah ini dan harus pindah karena masalah keuangan, Ayahku sudah tidak sanggup membayar uang sewa bulanan, jadi kami harus pindah ke kampung. Disitulah Aku sadar. Bahwa Aku, bukan dari keluarga yang berada.
Ibuku memberi tahuku bahwa kami akan pindah saat kenaikan status, yang awalnya sekolah menengah pertama menjadi sekolah menengah utama. Atau bisa dibilang kami akan pindah saat aku masuk SMA. Aku bingung, karena hanya memiliki waktu sekitar 2 bulan, aku tidak seegois itu untuk mempertahankan hal yang tidak pasti. Jadinya, aku mulai mencari cara agar dapat menyampaikan kepindahan ku nanti. Aku semakin kebingungan, hari hari kujalani dengan kebanyakan melamun, Thea yang saat itu sadar bahwa aku sedang tidak baik baik saja mulai ikut kebingungan serta tanya kenapa sikapku berubah dan tidak seperti biasanya. Tentunya aku menjawab bahwa aku baik baik saja, mungkin sakit dikit.
Selang beberapa hari kemudian. Di sekolah, Pak Guru bilang akan ada perpisahan dalam sebulan lagi, aku befikir mungkin ini waktu yang pas untuk mengucapkan selamat tinggal, bukan hanya kepada teman seangkatan ku, tetapi juga kepada orang yang spesial dimataku. Aku harus meninggalkan kenangan yang kubuat bersamanya, meski hanya sejenak tetapi sangat sayang untuk ditinggalkan. Kami bertemu di hari itu, Thea mengatakan bahwa ia ingin masuk ke SMAN Ngawi, SMA negeri yang bergengsi di Bogor, ia bertanya kepadaku, kemana aku akan melanjutkan sekolahku, Aku melempar jawaban dengan berbohong dan berkata bahwa aku masih belum dapat tujuan dimana aku akan sekolah, meskipun di dalam hatiku berkata bahwa akan meninggalkan gadis itu.
Sehari sebelum perpisahan. Ya, waktu berjalan sangat cepat tanpa kita sadari, aku berkata pada Ibuku kalau aku akan melakukan perpisahan dengan Thea, Ibuku meminta maaf, tetapi aku sudah bertekad untuk tidak egois. Hingga esok hari pun tiba, kami seangkatan berangkat jam 3 subuh untuk menghadap puncak Bogor, sebuah tempat iconik di Bogor yang akan sekolah kami gunakan untuk mengadakan acara perpisahan. Kami menginap di Villa selama 2 hari, saat itulah aku menikmati momen bersama teman, dan Thea tentunya.
Hingga dimalam terakhir, disaat api unggun di nyalakan, murid dibebaskan melakukan hal yang diinginkan. Aku menguatkan tekadku, aku mengajak Thea untuk ke taman, kami bercerita, bercanda, mengenang masa lalu saat kami kecil hingga saat ini dan tertawa bersama. Dan mungkin itu adalah canda tawa terakhir yang aku lihat dari wajahnya, hingga saatnya aku bercerita tentang apa yang akan aku lakukan kedepannya, raut wajahnya yang tersenyum manis.. mulai meneteskan air mata. Thea menangis, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan, ia bertanya kenapa? Kenapa harus begini? Dan kenapa baru bilangnya sekarang? Sambil menutup wajahnya yang dipenuhi air kesedihan.
Di malam yang dingin. Aku hanya bisa meminta maaf, aku tak tahu harus berbuat apa karena aku juga tidak menginginkan ini. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah aku inginkan, tetapi harus aku dapatkan. Aku berkata alasan aku pindah karena masalah keuangan, Ayah yang tidak sanggup bayar sewa harus pindah ke kampung untuk mendapatkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga. Thea pergi dengan wajah kecewa, aku hanya dapat melihat ia pergi menjauh dengan wajah yang masih ditutupi tangannya, aku tidak dapat mengejarnya karena berfikir bahwa ini adalah yang terbaik.
Di Sekolah, Hubungan kami mulai merenggang, ia menjauh dariku. Hanya tersisa 2 minggu sebelum perpindahan ku, dan sekolah pun hanya tersisa beberapa hari saja. Aku tidak dapat melihat wajahnya karena perasaan bersalah, bahkan chattingan saja sudah berdebu. Hari terakhir sekolah pun tiba, kami melakukan perpisahan yang sebenarnya kepada Guru yang telah membimbing kami. Banyak tangisan yang pecah saat itu, termasuk Thea. Kami di nyatakan lulus di hari itu, tetapi bukannya senang, aku malah tetap bersedih karena perpisahan ku dengan Thea. Aku pulang dengan wajah sedih, sambil mengemas barang barang untuk perpindahan, perpindahan akan dilakukan dalam 3 hari lagi. Jadi aku harus cepat cepat mengemas barang barang bersama keluarga ku. Keluarga Thea pun ikut membantu, tetapi Thea tidak pernah kelihatan lagi.
Hari perpindahan pun tiba, aku menitipkan surat kepada Thea melalui Ibunya, berharap ia membaca surat singkat yang kubuat hanya untuknya, Kami berpamitan kepada tetangga, dan kepada keluarga Thea yang sudah membantu mengemas barang barang, Dan kami sekeluarga pun pergi meninggalkan Bogor, tempat yang aku tinggali dari aku kecil hingga saat ini. Aku mencoba mengirim pesan lewat Whatsapp, namun sepertinya itu tidak berhasil, Whatsapp ku di Blok dan aku tidak dapat mengirim pesan kepadanya, sepertinya dia benar benar kecewa. Namun aku tetap berharap agar ia membaca surat yang kutulis. Dan di saat itulah sebuah petualangan cinta drama romantis mungkin berakhir.
Melewati masa SMA, Aku akhirnya beranjak kuliah, Aku kuliah di Universitas Pakuan, Bogor. Ya, aku ke Bogor lagi, setelah melanjutkan SMA di Padang, aku bertekad untuk mendapat beasiswa agar dapat merantau ke tempat ini lagi, dan Aku bersyukur dapat kembali ke sini lagi. Aku kuliah di Bogor dengan harapan dapat menemuinya lagi.
Aku pergi ke rumahnya dan ternyata mereka masih menempati tempat itu, Rumahku yang lama sudah di tempati orang lain, tetapi depannya masih terdapat tempat yang diisi oleh orang yang pernah membuat banyak kenangan. Namun saat itu, Thea sedang tidak ada. Kata Ibunya, sejak Aku meninggalkan tempat ini, Thea menjadi sangat murung, Ibunya sangat susah dalam menyemangatinya, lalu Ibunya memberi surat yang sempat aku titipkan, dan saat itulah Thea menangis kembali, tetapi ia menjadi lebih semangat. Sebuah pesan singkat dari surat itu dapat membuatnya semangat kembali. Dan sekarang ia sedang kuliah di Universitas IPB.
Aku sangat ingin bertemu dengannya, entah kenapa rasa rindu ini sama seperti yang Aku rasakan dulu. Karena tidak mendapat apa yang Aku inginkan, Aku pamitan dengan Ibu Thea. Membalik badan menuju pintu keluar, kubuka pintu lalu pintu itu menabrak seseorang.
“Maaf” ujarku sambil membuka pintu perlahan “ Enggak apa apa.” Jawab suara lembut.
Aku hendak keluar untuk melihat orang yang dibalik pintu, ketika tatapan kami, untuk pertama kalinya, bertemu. Entah karena rambut panjang berombaknya berpendar, disapu kuning lembayung yang mengintip dari sela bangunan, entah karena struktur wajahnya yang mengingatkan ku pada gadis yang menjadi impianku, atau karena mata emasnya yang mampu menyesatkan seseorang yang memandangnya, gadis itu telah membuat jagatku sejenak berhenti. Sang gadis tersenyum, seakan sadar siapa diriku. Ia membuka mulutnya, kata kata terlontar dari bibirnya yang mungil. “ Sekarang Kamu masih sayang ngga sama Aku? “ .
ㅤㅤ
ㅤㅤ
ㅤㅤ
ㅤㅤ
“ Semesta
Semesta lah yang mempertemukan kita Semesta pula yang memisahkan-kita Aku harap kamu baik baik saja; Dan Ketahuilah. Bahwa Aku, akan selalu Mencintaimu.
Tunggulah Aku, Astra. “
ㅤㅤ
ㅤㅤ
ㅤㅤ
.
.