Ren sepertinya harus tidur cepat di jam 7 malam sebelum anak kecil atau para remaja tidak tahu umur akan menggedor-gedor pintunya demi segenggam permen. Ia bukannya pelit, namun ia malas harus mendengar gosipan para ibu yang selalu berbicara persis di sebrang rumahnya karena dirinya satu-satunya penghuni komplek yang tidak berkeluarga. Alasannya karena agar ia tahu apa saja hal-hal yang ia lewatkan selama hampir seharian di kantor. Sebuah niat baik tetapi tetap salah karena mereka tidak langsung mengeluh kepadanya.
'Pasti Ren yang memberi permen paling banyak!'
'Dia tidak memikirkan bagaimana sulitnya merawat anak yang sakit gigi! Kepalaku mau meledak rasanya saat anakku rewel!'
'Seharusnya ia sadar jika anak-anak itu belum siap untuk makan gula banyak-banyak!'
"Wah... lebih baik kau pindah rumah saja, Ren!"
Saat ini Ren bersama 3 temannya, Selena, Dean, dan Yuan di sebuah cafè di dekat kantornya. Mereka tertawa mendengar keluhan Ren mengenai hal sepele. Apalagi Yuan, dia memang senang saat Ren sedang di fase seperti ini.
"Ah... aku tidak bisa pindah. Hanya rumah itu yang dekat dengan kantor. Lagian... masa sih aku harus pindah hanya karena ucapan mereka?" Timpal Ren yang terlihat begitu pasrah.
Pria dengan rambut ikal coklat menepuk punggung Ren keras dan tersenyum sumbringah, "Kalau begitu kita kerumahmu saja! Kau belum mengajak kami kerumahmu"
"Yuan, kau ini merepotkan! Ren sedang membutuhkan solusi, kau malah menambah bebannya!" celetuk pria berambut pirang panjang bernama Dean.
Tak lama Dean ditimpuk penanda nomor meja dan ditatap sinis oleh seorang perempuan berambut hitam panjang bernama Selena, "Kau itu kenapa sih??? Yuan hanya ingin membantu, dia biasa mengusir anak kecil... ya kan, Yuan?"
"Hihh... kau lebay, Sel! Kau setelah berpacaran sudah seperti singa bagi Yuan!" Kesal Dean dan Ren hanya tertawa renyah.
Akhirnya mereka berempat pergi ke rumah Ren setelah waktu bekerja Ren selesai. Mobil Dean dan Yuan diparkirkan di depan cafè karena mereka sepakat untuk memakai mobil Ren. Pergantian sore ke malam diwarnai oleh kemacetan dan suara klakson tiada henti. Kebisingan yang mereka rasakan mulai beralih saat waktu mulai jam setengah 8. Dean yang menyetir dan Ren yang duduk di kursi kemudi diam saja sedangkan Selena dan Yuan tertidur nyenyak dibelakang.
"Aku lihat-lihat rambutmu terlihat tidak berkilau seperti dulu kita SMA? Kau salah beli sampo?" ungkap Dean yang pandangannya tidak lepas dari jalanan.
Ren melirik sebentar dan mendengus geli, "Kenapa kau tidak langsung bilang kalau aku terlihat pucat saat ini? Kenapa mengarah ke rambutku?"
"Kau ini jujur saja, Ren! Kau bisa membaca pikiranku, kan?" canda Dean.
Ren melirik kearah spion tengah dan menperhatikan mereka berdua yang masih tertidur disana. Pria itu menggaruk alisnya sambil melipat sebelah kakinya diatas pahanya, "Terserah kau saja! Nanti jika tiba-tiba aku berubah jadi kucing, kau juga akan menanyakan, kau bisa berubah jadi kucing?"
Mereka berdua tertawa namun tidak sampai mengganggu Selena dan Yuan yang masih tertidur. Dean pun yang duluan meredakan tawanya berkata, "Berarti benar ya kalo kau bisa membaca pikiran? Kau yang bilang begitu!"
"Dean, Dean, kau ini... Eh! Itu ada pagar hitam agak besar, masuk saja kesana! Aih, aku baru sadar penanda perumahannya tertutup tanaman! Aku baru sadar itu tertutup!" heboh Ren dan Dean tertawa melihat tingkah Ren yang tidak berubah dari SMA.
Bisa dibilang Dean lebih dekat dengan Ren. Selena dan Yuan baru dekat dengan mereka setelah 2 tahun mereka berteman. Ren yang selalu menggerutu tetapi pasrah jika seseorang mengisenginya memang ciri khasnya dari dulu. Dean yang bijaksana dan simple yang selalu membantu Ren akhirnya mempertemukan Selena dan Yuan saat mereka sedang mengikuti acara camping dari sekolah. Mereka berdua berteman dan pertemuan mereka yang terakhir adalah saat acara kelulusan. Sudah 10 tahun mereka berpisah dan 2 bulan yang lalu adalah waktu dimana mereka kembali berkabar meskipun canggung pasti terasa.
"Banyak sekali pernak-perniknya! Kawasan perumahanmu niat ya menyambut Halloween!" ujar Dean terpukau dengan hiasan disepanjang jalan perumahan.
Buah labu, pernak-pernik hallowen, lampu-lampu kecil, dan beberapa ada yang sudah berlalu lalang disepanjang jalan dengan ember permen. Itu memang bukan hal yang asing di dalam Halloween. Dean sengaja memperlambat mobil agar ia bisa merasakan antusias mereka menyambut malam ini.
"STOP!!!! BERHENTI!!!!"
Dean langsung mengerem mobil secara mendadak ketika Yuan menjerit ketakutan. Ren dan Dean langsung menoleh kebelakang. Selena yang ikut terkejut langsung meringis dan mendorong pundak Yuan.
"Ish! Kau gila???"
"Kita dimana??? Kenapa kita... kita... di..."
"Dimana Yuan? Kita ada kawasan perumahanku. Kau tidak lihat?" tanya Ren khawatir.
Saat itu Yuan menatap keluar jendela dan setelahnya ia hanya diam sampai mereka berada di kediaman Ren. Selena sebagai kekasih Yuan terus menenangkan sekaligus mempertanyakan kenapa ia diam terus. Ketika Ren izin mandi, Dean yang sedari tadi selalu disamping Ren langsung ditarik oleh Selena. Mereka bertiga pergi ke luar rumah secara tergesa-gesa.
"Kenapa Sel?"
"Pasti ada yang tidak beres! Yuan daritadi ketakutan disini dan sampai sekarang tubuhnya menggigil!" geram Selena sambil merangkul lengan Yuan erat.
Dean mengerutkan keningnya dalam, "Kenapa tidak kau tanya Yuan kenapa dia begini???"
"Bodoh! Kau kira aku datitadi disamping Yuan tidak menanyakan terus keadaannya?"
"Aku sama sekali tidak tahu! Daritadi aku mengobrol dengan Ren dan tiba-tiba Yuan histeris! Mungkin Yuan-"
Tangan Dean langsung ditarik Yuan kencang hingga dirinya agak mendekat didepannya. Pria itu tidak henti-hentinya merinding ketakutan dan kesulitan untuk bicara saking tubuhnya bergetar. Dean terus memperhatikan Yuan dan berusaha mengetahui apa yang Yuan ingin beritahu.
"Pulang... kita... ha-rus pulang..."
"Tapi Ren-"
"Please... pulang..." air mata Yuan mulai mengalir dan rasa tidak tega Dean muncul. Yuan tidak pernah menangis dan ketakutan separah ini. Malahan Yuan paling berani diantara mereka berempat.
Suara burung hantu tiba-tiba mengagetkan mereka bertiga. Mata bulat bercahayanya yang begitu mengintimidasi menarik perhatian mereka tanpa berkedip. Suaranya tidak berhenti dan terus mengeras seakan mengisyaratkan sesuatu. Dean yang merasakan bahaya langsung menarik kedua tangan Selena dan Dean menuju mobil.
"Kalian mau kemana?"
Mereka berdua terkejut ketika Ren sudah ada di depan mereka secara mendadak. Ia terlihat makin pucat dengan pakaian formal tahun 60-an. Detak jantung mereka terpompa keras ketika Ren menatap mereka bertiga satu-satu dengan tenang. Suasana senyap itu begitu menyiksa mereka. Dean menarik napasnya dalam-dalam dan tersenyum palsu.
"Kau mengagetkan, Ren! Kau tahu kalau ada barang yang tertinggal di dalam mobil?" ucap Dean berusaha bersikap biasa saja.
Ren terlihat kebingungan, "Mobil? Yang mana?"
Saat Dean melirik mobil dibelakang Ren, entah bagaimana mobil itu raib. Ia begitu shock dan panik serta bertanya-tanya bagaimana bisa mobil yang ia lihat sedetik yang lalu hilang begitu saja.
"Ren, kita mau pulang!" bentak Selena dengan sorot mata tidak bersahabat.
Ren begitu kecewa dan menghela napasnya berat, "Kenapa? Kau tidak lihat pesta Halloween disekitar rumahku??? Malam ini baru dimulai!"
"Biarkan mereka pergi!" bentak Yuan dengan sorot mata ketakutan, "Hentikan ini semua! Aku mohon biarkan Selena dan Dean pergi! Aku yang pantas mendapatkan ini semua!"
Dean dan Selena menatap heran Yuan yang mulai mendekat kearah Ren sambil menangis. Reaksi Ren hanya datar dan memperhatikan Yuan yang menghampirinya.
Saat itu Dean tersadar akan sesuatu dan langsung menarik Yuan dibelakangnya. Sorot mata Dean begitu marah dan berusaha menjaga Selena dan Yuan dibelakangnya, "Apa ini??? Apa yang kau lakukan kepada Ren??? Kau bukan Ren yang kukenal!!! Kau siapa???"
"Hah, Yuan... kenapa secepat ini kau beritahu mereka? Bahkan tengah malam belum datang, kau malah membocorkannya!" kecewa Ren yang terlihat dibuat-buat.
Ren langsung menjentikkan jarinya dan seluruh pemandangan yang mereka kira hanya perumahan biasa berubah menjadi hutan belantara penuh lampu minyak yang mulai redup. Mereka bertiga begitu shock kecuali Ren yang begitu senang melihat wajah terkejut mereka. Makhluk halus dengan penampilan yang tidak sempurna sudah mengelilingi mereka. Suara-suara menyeramkan dari hantu-hantu tersebut membuat mereka bertiga refleks mendekatkan diri dengan tatapan waspada. Ren tiba-tiba memegang pundak Dean dengan erat dan meremas kedua pundaknya dengan keras. Dean mengaduh dan berusaha menahan rasa sakit yang Ren perbuat.
"Aku sudah mati, Dean. Aku. Sudah. Mati."
"Akh... apa maksudmu?"
"Aku bukan Ren yang dulu dan temanmu lagi! Aku penguasa disini. Aku menjebak kalian untuk dijadikan santapan penghuni hutan ini. Jiwa-jiwa kalian lebih manis dan memabukkan dari permen Halloween namun tidak berharga" Ren tersenyum bengis dan menatap mereka bertiga bergantian.
"Siapa yang duluan disantap?"
"TIDAK ADA!!!" bentak Dean sambil mendorong Ren. Ia menarik tangan Selena dan Yuan agar mendekat kearahnya.
Ren tersenyum tanpa dosa ketika Dean menatapnya galak. Kerumunan hantu yang tidak bisa dihitung perlahan mendekat. Selena dan Yuan waspada kecuali Dean. Wajah geramnya tiba-tiba dibasahi setitik air mata. Ren yang melihat itu langsung datar dan menatap lurus Dean.
"KENAPA KAU TIDAK MENGHUBUNGIKU??? KENAPA KAU MEMILIH MENGAKHIRI SEMUANYA DAN MENJADI BABU PARA HANTU SIALAN INI???" Teriak Dean hingga urat disekeliling lehernya muncul.
Yuan makin mendekatkan tubuhnya pada punggung Dean, "Jangan membentaknya..."
"Apa ini hanya kebohongan belaka??? Rasa rindu pada kami hanya kebohongan manismu agar kami masuk keperangkapmu??? Kau menang Ren! Silahkan! Kami siap!"
"Dean!" pekik Selena dengan raut ketakutan.
"Baiklah..."
Ren pun mundur kebelakang seraya para hantu bergerak maju kehadapan mereka bertiga. Selena dan Yuan sudah menggigil ketakutan namun Dean memegang mereka bertiga erat. Ia lalu menatap Ren tanpa ada rasa sedih dan penyesalan. Pria itu hanya ingin melihat betapa busuknya Ren yang senang setelah berhasil menjebak mereka bertiga. Dean sangat kecewa dan pertama kalinya ia merasakan sesesak ini dibohongi oleh teman dekatnya. Mungkin jika ia boleh jujur Ren adalah seseorang yang paling ia percaya sekaligus yang menghancurkannya sepanjang hidupnya.
"Ini salahku... dulu aku sering bersikap kasar dengannya... aku... membuat kalian begini..." tangis Yuan dan Dean tersenyum tipis.
"Jangan menyalahkan dirimu! Ren yang kita kenal pengertian dan peduli. Dia bukan Ren dan kau tidak salah. Dia sekarang hanya orang asing yang tidak tahu siapa yang menyakiti dan siapa yang tersakiti. Jika dia begini kepada kita..."
"... maka aku tidak akan membiarkan ia melukai apa yang bisa kujaga saat ini..."
Kerumunan hantu tersebut berhenti bergerak. Ren mengerutkan keningnya dan berusaha untuk melihat keadaan mereka bertiga. Apa jiwa mereka sudah diambil?, gumamnya dalam hati.
"Aku benci padamu, Ren! Aku sangat-sangat membencimu! Orang yang kupercaya dan kuanggap sangat baik ternyata mengkhianatiku! Aku tidak akan membiarkanmu tenang! Aku tidak akan membiarkan kau lolos sekarang!" teriak Dean dan kerumunan hantu langsung berbalik kearah Ren.
"Kenapa tidak bisa??? Hey kalian! Habisi mereka! Jiwa-jiwa mereka sangat manis, bukan?" Ren mulai ketakutan saat hantu-hantu itu mulai mendekat kearahnya.
"Mereka sudah tidak mempan dengan perintahmu! Trick or Treat, give them your soul right now!"
Ren mulai tenggelam diantara hantu-hantu tersebut. Lolongan kesakitan dan kesedihan bergema diseluruh hutan. Mereka bertiga hanya menyaksikan hantu-hantu tersebut yang bergerak seolah-olah memakan tubuh Ren. Selena terus mengucek-ngucek matanya karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Aku tidak percaya... Ren... musnah karena kita..."
"Sepenuhnya ini salahku!" tegas Dean sambil tersenyum getir, "Aku tidak bisa menjaga Ren bahkan diriku sendiri..."
"Apa maksudmu?" heran Yuan dan Dean menatap mereka sendu.
"Jiwa yang ketakutan dan menyedihkan akan musnah oleh jiwa yang penuh amarah dan penuh dendam. Yang pertama akan pergi, yang kedua akan bertahan. Aku... tidak bisa pulang..." mata Dean mulai berkaca-kaca.
Yuan dan Selena terkejut saat para hantu sudah berdiri dibelakang Dean. Mereka berdua ketakutan, namun tidak ingin Dean ada disini.
"Tidak... kau harus ikut. Kita teman... kau tahu itu, kan?" pinta Yuan berusaha meraih tangan Dean.
"Maaf... aku tidak bisa... selamat tinggal!" selepas itu Dean langsung mendorong tubuh Yuan dan Selena secara bersamaan.
Secara sekejap mereka kembali ke cafè tempat awal mereka berempat bertemu. Kursi tempat Ren dan Dean duduk kosong dengan 2 cangkir minuman hanya untuk mereka berdua. Seorang pelayan mendatangi mereka dan berkata, "Sudah 4 jam kalian berdua ada disini. Apa ada yang ingin kalian pesan lagi?"
Selena mengerutkan keningnya, "Meja ini pesanan atas nama Ren dan sebelum kami datang ada pria bernama Dean. Apa kau melihat mereka ber-"
"Sejak siang sampai sore ini hanya kalian yang ada dikursi ini. Meja ini bahkan pesanan atas nama Yuan" Pelayan itu pun tersenyum sopan dan pergi meninggalkan mereka berdua.
Selena dan Yuan saling bertatap-tatapan. Mereka tidak menyangka bahwa kejadian tadi seperti hal yang tidak pernah terjadi. Ren dan Dean, 2 orang yang tiba-tiba hilang di kehidupan Yuan dan Selena di hari Halloween. Malam ini yang harusnya penuh dengan senda gurau dan suka cita menjadi terasa hampa dan sendu. Semua berakhir tanpa ada perpisahan baik didalamnya.