Peristiwa sok akrab terjadi kepada seseorang lelaki, lebih konkretnya seorang lelaki muda yang tampangnya agak sok dimirip-miripkan dengan artis Korea. Tetapi karena berkesan terlalu dipaksakan itu muka jadi lebih pas kayak kebanyakan kaum yang suka nebeng di sekitaran Taman Lawang .
Peristiwa itu terjadi di hari itu Senin. Pukul setengah tujuh pagi waktu Indonesia bagian ke barat-baratan. Dengan lokus delicti satu setengah meter sebelum halte Cawang UKI.
"Gimana? Gimana?" Begitulah lagak seseorang sambil cengar-cengir dengan sekonyong-sekonyong bodat main pelak-peluk bahu kiri si lelaki muda. Lelaki muda yang untuk selanjutnya minta dipanggil dengan sebutan 'Opa' dengan aksen Korea tentunya.
Kaget!? Puji syukur kalau cuma kaget, bagus gak mati! Lah yang meluk juga tampangnya kayak begitu, mana orang mana bekantan kagak jelas.
"Siapa loe!?" dengus Opa kw 11 berusaha melepaskan dekapan. "Kau! Sok kali kau ah! Mentang-mentang muka kau udah kayak Oppung-oppung di Korea sana lupa kau sama kawan!" Sahut Si pemeluk. Orang-orang yang ada di dekat-dekat mereka sekonyong-sekonyong mesem-mesem lucu.
"Oppung-oppung bapak moyang loe!!" Gerung Opa kw 11 mendorong tubuh si pemeluk. "Alamak si Bodat satu ini lupa dikau sama aku?! Si Ucok aku! Ucok Rajagukguk! Mantannya si Butet. Butet Naibaho!" Si pemeluk menuding-nuding dadanya.
Opa kw 11 melirik si pemeluk. Dari atas ke bawah dari bawah ke atas. Lima kali berulang. "Jempol kaki loe sih mirip. Tapi muka loe kok kayak..."
"Masih kayak Brad Pitt aku ini." Si pemeluk prengas-prengos membusungkan dada. "Kayak Alumni Bukit Lawang loe kata Brad Pitt. Cuihh..." Opa kw 11 berlagak sinis.
"Ihh... Dasar lah kau babiat! Kasar kali omongan kau! Kau samakan pula aku sama si Sarimin. Kalau gak kawan aku kau udah ku patahkan kelingking kau yang melintir itu." dengus si pemeluk.
Opa kw11 mundur setengah langkah dan terlihat masih ragu-ragu.
"Eh, Hotben. Hotben Hamonangan Sihotang anaknya bandar togel par-simpang mandala. Jangan banyak kali lagak kau adinda. Gak usah sok pura-pura lupa kau sama aku. Aku kemari ada urusan aku sama kau!" tuding si pemeluk.
"Ihhh sok kenal. Sorry ya gue tralala-trilili sama loe!" Opa kw11 mengibaskan tangannya.
"Apa pula kau tralala-trilili!?" Si pemeluk melongo bego. "Loe gak tahu tralala-trilili itu apaan!?" Opa kw11 membelalakkan mata. "Gak!" si pemeluk menggeleng.
"Same-same dong kalau gitu," ucap si Opa kw11 dengan aksen kebarat-baratan. Si pemeluk bertambah bingung. "Apa pula lagi itu!?"
"Tanyakan noh pada rumput yang bergoyang." Dengan jari yang melintir Opa kw11 menuding ke arah jalan besar. " Mana ada rumput di sini kalau jemb..."
"Mulut loe!" Gerutu si Opa kw11.
"Otak kau aja yang piktor, aku kan mau bilang jembatan." kilah si pemeluk. "By the way busway aku ada urusan sama kau. Ben."
"Ben, ban, Ben... Loe kata gue Bendot!"
"Iya nama kau kan Hotben. Di singkat jadi, Ben."
"Panggil gue Opa Seung." Sekali ini bukan jarinya yang melintir tapi bibirnya.Si pemeluk kaget. "Apa pula itu!?"
"Iya nama gue."
"Ah, terserahlah. Mau Seung kek. Meong kek. Lateung kek. Gak urusan aku. Pokoknya aku ke sini ini mau minta pertanggungjawaban kau. Sekarang atau tidak sama sekali."
"Udah kayak mau pemilu loe aja loe,"
"Gara-gara kau aku jadi putus sama si Butet. Dan gara-gara kau juga aku dikejar-kejar sama si Butet. Tahu kau! Kejam kali kau ah..."
"Udah kayak God aja loe main tuduh-tuduh gue!"
"Jangan berlagak dodong kau, Ben. Ku matikan kau nanti. Aku udah emosi kali aku sama kau!"
"Nama gue Opa Seung tahu loe!"
"Gak peduli aku! Tahu aku!"
"Kampret main teriak-teriak di muka orang! Nafas loe bau neraka tahu gak loe!"
"Oh, udah pernah rupanya kau neraka ya. Kangen kau, ya. Sebentar lagi biar ku kirim balik kau ke neraka."
"Emang loe gojek!?"
"Mana janji kau! Dulu kau bilang kalau aku inves jadi downline kau, aku bakal dapat untung gede! Bukan cuma untung, tapi bunga gede, segede bunga raflesia Arnoldi, kau bilang! Mana!?"
"Lah namanya juga usaha. Usaha itu kan bisa untung, bisa juga buntung, benar gak, Mbak."
"Gak!"Yang dimintai persetujuan malah menggeleng.
"Ah, apa kau! Mbak ini bilang, nggak!"
"Bahasa Indonesia aja belum khatam, sok-sokan jadi orang Korea loe. Yang namanya buntung itu dipergunakan untuk istilah untuk tangan atau kaki yang putus. Sementara itu kalau buat usaha namanya merugi atau rugi. Makanya ada istilah laporan neraca laba-rugi. Bukan laporan neraca laba-buntung."
"Apa lagi laba-laba iyakan, Mbak?!"
"Pinter loe!"
"Terserah, terserah yang pasti itu usaha udah gulung tikar alias bangkrut alias pailit."
"Nah dia salah lagi ini, pailit itu gak sama dengan bangkrut atau gulung tikar. Pailit itu dinyatakan melalui putusan pengadilan. Namanya itu putusan pengadilan niaga. Gak boleh sembarangan mengatakan usaha itu pailit mesti putusan pengadilan. Suatu usaha yang pailit belum tentu gulung tikar. Salah satu dari beberapa tujuan dari lahirnya putusan pailit itu adalah semata-mata untuk memberi kesempatan bagi si pengutang untuk melakukan penundaan pembayaran kewajiban utangnya terhadap si pemilik utang. Istilah hukum niaganya itu adalah insolvensi."
"Berarti dia melanggar hukum nggak ini, Mbak?"
"Kalau niatnya untuk menipu iya bisa. Bisa banget malah."
"Kau dengar itu, Hotben. Bisa dihukum kau."
Kontan mendengar kalimat tersebut si Opa kw11 kaget bercampur takut. Dia pun sibuk celingak-celinguk kanan-kiri.
"Apa kau!? Kok gitu muka kau! Gara-gara aku hampir mati dicekik sama si Butet. Sekarang kau kemanakannya hepeng ku itu."
"Sabar, Cok, tenang, Cok."
"Apa kau Cak-Cok-Cak-Cok kau! Tadi kau bilang gak kenal sama aku! Mentang-mentang dibilang Mbak ini kau bisa dihukum mengkerut kau!"
"Sabar, Friend."
"Bukan Friend nama ku, Seong Hyung Joon nama ku!" Ternyata si pemeluk adalah si Ucok. Benar-benar si Ucok. Ucok Rajagukguk mantannya si Butet. Butet Naibaho. Setelah sebelumnya ke-auntentikan-nya sempat diragukan.
"Lah si Butet. Tet, ngapain loe?" Sekonyong-sekonyong monkey si Opa kw11 teriak ke satu arah. Berteriak memanggil sambil melambaikan tangan. Dengan serta merta sambil terkaget Ucok Rajagukguk menolehkan pandang ke arah lambaian tangan tersebut. "Alamakjang si Butet! Mana?"
Malang tak dapat ditolak, seperti Spider-Man si Opa kw11 pun meloncat naik ke sebuah Metro Mini yang menepi mendekati halte. Ketika kakinya mendarat di tangga bis dengan sekencang-kencangnya Si Opa kw11 kepada si supir. "Cabut, Lae!"
Sadar dikibuli Ucok Rajagukguk teriak memanggil. "Eh, Hotben Bajingan. Mau ke lobang semut ku cari kau! Lihat aja kau ya!"
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air ada pun peristiwa tersebut bukanlah peristiwa sok akrab seperti yang dikatakan sebelumnya. Sesungguhnya si pemeluk mengenal orang yang dipeluk begitu pun orang yang memeluk mengenal orang yang dipeluk.
Ternyata, saya salah.
Mohon untuk dimaafkan.
Demikianlah tulisan ini saya perbuat dengan sebenar-benarnya tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun juga.
Wassalam!