Kadar berjalan mantap ke arah yang dituju. Langkah kaki Kadar panjang karena ia tinggi dan berbadan kekar. Dulu ia hampir menjadi tentara namun kalah saing dengan anak Perwira yang berbarengan daftar dengannya. Ia sakit hati dengan kenyataan itu meski itu tidak ada bukti, ia menduga duga saja. Setelahnya ia frustasi dengan cita citanya. Bukankah dengan mendaftar jadi tentara orang tuanya tak perlu membiayai sekolahnya?
Kadar memilih bekerja serabutan dari pada melanjutkan sekolah karena orang tuanya juga tak mampu membiayai. Menggarap tanah sendiri dan bekerja apapun yang disuruh orang lain.
Kadang ia mabuk jika sedang menganggur. Keputus asaannya makin menjadi saat bapaknya pergi dengan wanita lain meninggalkan ia dengan ibunya yang sudah sakit sakitan.
Ia yang masih remaja sudah harus dihadapkan dengan kenyataan hidup yang pahit. Tanah yang biasa ia garap untuk hidup mereka bertiga telah dijual bapaknya untuk kawin lagi. Kadar hampir saja membunuh bapaknya saat tahu tanah keluarga mereka telah berganti kepemilikan.
Saat ini ia dan temannya Sono sedang menuju rumah seseorang yang akan menjadi perantaranya untuk mendapatkan uang yang banyak.
Temannya Sono berjalan tersaruk saruk di belakangnya.
"Ayo Son.. kamu ini.. lambat skali kayak keong!" bentak Kadar.
Mendengar bentakan Kadar.. Sono tak lantas sakit hati ia malah cengengesan. Dengan setengah berlari Sono menyusul mencoba menjajari langkah Kadar.
"Mas.. nanti aku dibagi yooo.. kan aku yang kasih tauuu.." rengek Sono.
Kadar berhenti, Sono yang kaget jadi ikutan berhenti juga. Tangan kanan Kadar merangkul.
"Apa gue pernah bohongin lu Son?" tanya Kadar dengan logat Betawi rasa Jawa. Kadar memang pernah lama tinggal di Jakarta, ikut orang bekerja jadi kuli bangunan.
Karena itu Kadar merasa jumawa di antara teman temannya. Hanya dia laki laki di kampungnya yang pernah merasakan kerasnya hidup di ibukota.
"Belum.. mas ndak pernah boongin aku.." jawab Sono polos dengan tetap cengengesan.
Mereka berjalan kembali, kali ini Kadar merangkul Sono pada bahunya.
Matahari sudah terbenam saat mereka sampai di depan sebuah rumah yang dilihat dari luar terlihat paling bagus di antara rumah lainnya di dusun terpencil itu.
"Assalammualaikuuuum... !" teriak Sono.
Tidak ada jawaban.
"Kulo nuwoooon...!" teriak Kadar.
"Yaaa.. sebentaaar..!" jawab seseorang dari dalam rumah
Seorang laki laki tua berbaju jarik & blangkon, keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan mereka.
"Mari.. mari nak masuk ke dalam.." ujar laki laki itu sambil mempersilahkan tamunya masuk ke dalam rumah menuju satu kamar.
Mereka semua masuk ke dalam kamar yang tidak berjendela, cuma ada tikar butut di tengah kamar. Sudah ada dupa dan kemenyan. Kamar itu berbau khas klenik. Setelah mereka duduk berhadapan bersila di atas tikar, si mbah membuka percakapan.
"Saya mbah Rohmat.. anak, namanya siapa?" tanya si mbah.
"Saya Kadar dan ini Sono." jawab Kadar.
"Baiklah nak Kadar.. mau ngopi dulu.. atau langsung?" tanyanya dengan senyum yang jelas dibuat buat namun terkembang sempurna.
"Langsung saja mbah.." ujar Kadar mantap.
".. wuaaahh.. baiklah, sebentar yo.." jawab si mbah kemudian.
Si mbah bangkit menuju keluar kamar.
Kadar berbisik pada Sono. "Awas lo.. lo ngga boleh makan dan minum dari si mbah.. kalo lo sampe brani.. jangan anggap gue mas lo lagi..!"
Sono yang kaget sekaligus bingung cuma bisa mengangguk. Belum sempat Sono berpikir, Kadar langsung mengepalkan sejumlah uang ke tangan Sono.
"Sekarang lo pergi ke warung, makan dan minum di sana.. tidur di musholla saja yo.. ujar Kadar lagi.
Setelah dipaksa Kadar, Sono segera bangkit pergi. Kadar ngga mau Sono jadi korban, meski Sono bersedia mengantarnya sampai sejauh itu.
Mbah Rohmat masuk dengan beberapa benda yang dibawa asistennya. Tampak pandangannya mencari Sono, air mukanya sedikit berubah dan Kadar melihatnya.
Kadar diminta si mbah duduk lebih tegap dari pada sebelumnya. Didekatkannya benda yang tadi ia bawa, baskom berisi air dan kembang.
"Apakah nak Kadar sudah mantap? Tidak menyesal? Karna tidak bisa berbalik lagi.. " tanya si mbah.
Kadar menjawab, "Ya mbah..monggo dimulai.."
Entah apa yang dirapal si mbah, Kadar perlahan merasa menjadi kosong. Matanya terpejam tapi kenapa ia masih bisa melihat apa yang ada di depannya.
Entah bagaimana bisa terjadi, tiba tiba kaki kiri Kadar yang sedang tertekuk sila, melurus ke atas ke arah mukanya si mbah yang dengan sigap menangkapnya lalu memegangi kakinya.
Seringaian si mbah diikuti mulutnya yang terbuka. Si mbah tiba tiba menggigit jempol kakinya dan darah Kadar terlihat keluar memancur deras. Pancuran darah segarnya diarahkan ke dalam baskom yang seketika menjadi bunga dalam genangan darah.
Kadar melihat dengan kengerian yang luar biasa tapi ia tak memiliki kuasa atas tubuhnya. Akalnyapun hilang tak bisa bekerja. Yang ada cuma rasa ngeri yang tak berdaya. Kaki kirinya perlahan jatuh, tersila kembali. Kadar merasa lemas sekali.
Si mbah marapal lagi.. lalu ia masukan jari telunjuk dan jari tengah ke dalam baskom memutarnya sekali membentuk pusaran. Air merah tersebut membentuk pusaran yang semakin cepat berputar.
Tiba tiba air merah itu meluncur cepat keluar baskom membasahi sekujur tubuh Kadar.
Kadar tergagap kaget mendapati tubuhnya kini basah oleh darahnya sendiri. Hanya tubuh Kadar, tikar butut itu bahkan tidak terkena setetespun air darah tersebut.
Bau anyir khas darah menyergap hidungnya. Ia juga merasa sakit yang menusuk nusuk seluruh tubuhnya. Tenaganya seperti tersedot kembali.
Dilihatnya si mbah tersenyum.
"Kau kini sudah siap nak.." suara si mbah terdengar berbeda lebih berat dari sebelumnya.
"Temanmu mana nak?"
"Jangan ganggu dia mbah. Dia masih murni. Cuma dia yang ku punya saat ini. Bahkan setelah jiwaku kau ambil nanti..." ucap Kadar tegas.
"Aaah baiklah. mbah suka padamu. Tidak akan mbah ganggu!" si mbah menyeringai.
Selepas Isa, berdua dengan asistennya, si mbah memapah Kadar yang masih basah itu menuju sebuah goa di atas bukit di belakang rumah si mbah.
Memakan waktu sampai tiga jam akhirnya mereka tiba di atas bukit. Mereka lalu menuju sebuah gua.
Ketika sampai di dalam gua Kadar didudukkan bersila lagi. Si mbah segera mengatur bawaan mereka ke depan Kadar. Kadar heran karena sudah tidak terlihat lagi asisten si mbah.
Kadar memandangi nampan di depannya yang terisi seperti otak manusia.. atau itu usus manusia? Tercium bau busuk olehnya. Kadar mau muntah namun ditahannya Di sebelah nampan ada sebuah cermin retak yang kotor dan baskom berisi air dengan macam macam bunga.
Setelah selesai, si mbah duduk dan kembali merapal bacaan. Matanya terpejam.
Tiba tiba dari kegelapan muncul tikus yang berlari cepat ke hadapan Kadar. Kadar terkejut. Belum hilang terkejutnya, Kadar melotot melihat sang Tikus berdiri tegak. Muka si tikus berubah layaknya muka manusia tua yang keriput. Jenggotnya panjang sampai ke kaki. Jenglot? Pikir Kadar.
Mata sang jenglot nyalang menatap Kadar. Kadar tersentak. Ia seperti terhisap ke dalam perasaan aneh luar biasa. Ingin sekali ia berpaling tapi ia tak ada daya. Si jenglot lalu menuju baskom berisi usus atau otak itu. Lalu dimakannya dengan rakus. Mulutnya sampai berlepotan darah.
Selesai makan sang jenglot sempat menengok kembali ke arah Kadar. Tatapannya menembus bathin Kadar menyebabkan energi Kadar seperti tersedot lagi, ia bertambah lemas. Kadar cuma bisa menatapnya nanar. Lalu dengan cepat si jenglot menghilang dalam kegelapan gua secepat datangnya tadi.
Si mbah yang sedari tadi terpejam, perlahan mulai membuka mata. Air mukanya terlihat lelah. Perlahan dia berdiri, lalu berjalan melewati Kadar yang masih lemas. Si mbah menepuk dua kali pundak Kadar.
"Tutup mata, mulailah tapamu!" bisik si mbah, lalu keluar gua, pulang.
Malam merambat terasa sangat lama bagi Kadar. Beberapa penampakan mulai mengganggu konsentrasi Kadar karena ia masih tetap bisa melihat walaupun terpejam. Dari kuntilanak yang cantik sampai gendruwo yang seram dan berbulu lebat.
Dikuat kuatkannya hati. Ia bayangkan wajah sang istri yang kabur bersama teman lamanya dengan membawa satu satunya anak mereka, Indah. Teman lama si istri menjanjikan kehidupan yang lebih mewah karena ia yang seorang pegawai negeri, sudah punya rumah & mobil pula.
Lewat tengah malam jelang subuh, Kadar merasa ada tiga sosok di hadapannya yang seakan memerintahkan dan memaksa ia membuka matanya.
Tiga sosok itu, satunya berwujud wanita cantik, satunya berwujud ular yang bergerak gerak liar, dan yang terakhir sosok tinggi besar hitam berbulu, bermata merah.
Kadar melihat di dalam nampan yang berisi usus kini sudah berisi tumpukan uang kertas seratusan yang tak beraturan. Kadar merasa sangat senang. Segera ia raup berkali kali dan menyesakkannya ke dalam tas yang ia bawa. Tumpukan uang di atas nampan itu seperti tak berkurang.
Para sosok itu memberi isyarat agar Kadar menatap mereka. Mereka bertanya pada Kadar tanpa suara, siapa yang akan dia berikan kepada mereka sebagai hadiah.
Terucap lantang dan yakin, Kadar menjawab; "istriku, Evelyn!".
Makhluk yang berbulu lebat menggeram lalu menggeleng gelengkan kepalanya dan mengangkat tangannya mengibas di atas cermin kotor.
Tiba tiba cermin itu berubah layaknya monitor TV menampilkan visual seorang anak kecil berumur dua tahun yang sedang berlarian di depan sebuah rumah yang bagus. Ia memakai baju muslimah yang cantik, dengan satu buku di tangannya.
Spontan Kadar berteriak, "Tidaaak!.. kalian tidak boleh mengambil anakku!.. Tidak akan pernah ku serahkan.!"
Ke tiga sosok itu berbarengan bereaksi.
Yang berwujud wanita terkikik menyeramkan.
Yang berbulu lebat hitam menggeram geram.
Yang berwujud ular mendesis desis bergerak liar.
Semuanya terlihat sama, marah.
Namun Kadar, seorang laki laki yang sudah berpengalaman hidup dengan rasa takut.
Kemarahan mereka tak membuatnya gentar.
Ditatapnya nyalang ke tiga sosok di depannya.
Dasar hatinya mengingat sebaris doa. Doa yang telah lama tak ia ucapkan. Doa yang sering ia hapalkan saat mengaji dulu, kini terbaca oleh hatinya.
Tiba tiba salah satu dari mereka yang berwujud tinggi hitam, mengangkat tangannya menyentuh pundak Kadar.
Sesaat kemudian Kadar merasa dilesatkan terbang sangat tinggi lalu dijatuhkan dengan cepat, timbul kengerian ia akan jatuh deras ke bawah. Kadar pasrah.
Kadar terbangun oleh suara suara teriakan penduduk yang bersahutan. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Kadar merasakan sakit bertubi tubi di tubuhnya.
"Pukuuul!!!.. "
"Pasti dia malingnyaaa!..."
"Jangan kasih ampuuun!.."
"Bunuh sajaaaa..!"
Kadar tiba tiba saja berada di kebun cabai. Di dusun kecil itu sedang heboh dengan pencurian cabai karena harga cabai sedang tinggi.
Rasa sakit seperti itu sudah biasa dia rasakan. Malang melintang hidup seadanya merasakan kerasnya Jakarta membuat ia mengenal dan terbiasa dengan rasa sakit itu.
Saat ini ia sudah tidak perduli lagi dia bisa bertahan atau tidak. Baginya cukup sudah dia berjuang.
Kadar terlahir dengan nama Arjuna namun dari kecil dia selalu sakit sakitan. Menyebabkan bapaknya menjadi tak suka padanya dan berkali kali mengharapkan dia mati. Kadar kecil cuma berharap Bapaknya sayang padanya. Hingga pada akhirnya dia bisa bertahan hidup setelah namanya diganti menjadi Kadar.
Di sekolah ia kenyang di"bully" sebagai seorang anak dari keluarga miskin. Lalu cita citanya yang kandas menjadi tentara.
Bapak yang mengecewakannya karena asyik dengan hobinya menyabung ayam dan kabur dengan janda.
Sampai Kadar harus merantau ke Jakarta untuk menghidupi ibunya. Saat ibunya wafat, Kadar kehilangan tumpuan dan alasan untuk hidup. Lalu ia bertemu dengan perempuan yang dia kira baik, menikah dan memiliki anak. Kadar sempat merasakan bahagia memiliki keluarga. Pekerjaan apapun dia lakukan agar istri dan anaknya senang karena tercukupi. Hingga takdir buruk kembali menghantamnya, sang istri bertemu dengan teman lamanya. Istrinya terpikat. Kadar merasa terkhianati, padahal ia sangat menyayangi Linda istrinya. Kadar merasa sangat hancur hingga lidahnya tak mau lagi menyebut nama istrinya Linda melainkan menggantinya dengan Evelyn (iblis betina).
Kemewahan yang mengambil alih kebahagiaan Kadar, menjadikan Kadar mendendam pada kemewahan. Hingga akhirnya ia menempuh jalan sesat itu agar istrinya tak memandang rendah lagi padanya. Juga agar ia dapat merebut kembali Indah ke tangannya. Pengadilan pasti berpihak kepadanya jika ia punya banyak uang. Tapi..
Jika yang harus dikorbankan untuk uang haram itu adalah anaknya, untuk apa ia berlimpahan uang?
Saat Kadar sudah tak tahan, ia pejamkan matanya.
"Ampuni kulo ya Allah.. Indah.. tolong doakan bapak ya..." lirihnya pasrah.
"Eeeh.. eeeh... hentikaaan! Tolong hentikaaan!...Itu tamu sayaaa. Jangan digebuki terooos.. berhentiiii...!" si mbah berteriak teriak marah. Ia lantas membubarkan kerumunan.
Namun Kadar sudah tak mendengar apa apa lagi dan tas yang berisi uangpun kini kosong tak terisi.
inspired by friend.