Prang...
Prang....
Aini yang baru pulang dari warung untuk mengantarkan kue buatan ibunya, sesa'at terpaku di depan pintu, dia yang sudah biasa mendengar piring atau gelas atau barang lain nya yang ada di rumah bertebangan karena ulah bapak nya.
Ya, barang barang itu berterbangan karena bapak nya mengamuk, "pasti ibu tidak punya uang untuk di mintai nya" batin aini
Tak berapa lama, pintu pun terbuka dan nampak lah bapak nya dengan wajah yang penuh amarah, dia menoleh pada Aini "mana uang jualan kue kamu" bentak sang ayah .
"Uangnya belum ada pak, kue nya aja baru di antarin" jawab Aini
"Hasil jualan kemarin mana?" sentaknya lagi
"Uang yang kemarin sudah diambil ibu untuk keperluan dapur"
Sebenarnya Aini sudah sangat membenci bapak nya, karna bisanya cuma minta uang, dan kalau tidak dikasih dia akan marah dan tidak segan - segan memukuli ibunya.
"Kalian, ibu sama anak sama saja" marah sang bapak kemudian berlalu meninggalkan rumah.
***
"Ibu.... biar ku bantu " Aini yang melihat sang ibu sedang membersihkan pecahan gelas langsung membantunya.
"Tidak apa sayang... biar ibu saja, kamu pasti lelah habis dari warung, karna warungnya kan cukup jauh" ibu berkata sambil tersenyum, meskipun ada memar di wajahnya
"Besok kamu kan ujian, lebih baik bersihkan badan kamu dan belajarlah dengan baik, agar kamu lulus dengan nilai terbaik, semoga kelak hidup mu sukses nak, dan semoga nanti kamu mendapatkan suami yang baik" kata sang ibu lagi.
Ya, Aini Khairunnisa nama panjangnya, dia anak yang baru berumur sepuluh tahun dan sekaran dia sudah kelas 6 SD.
"Ibu,, kenapa ibu masih bertahan dengan bapak?, kenapa ibu tidak pergi saja dari bapak, bapak sangat jahat sama ibu, dia bukan pemimpin yang baik untuk kita" isak Ainun tak mampu lagi menyembunyikan kesedihannya.
"Ssttt,,, tidak boleh seperti itu sayang, insyaAllah bapakmu akan mendapat hidayah nak, dan suatu saat nanti bapakmu akan menjadi pribadi yang baik, karna ibu selalu mendo'akan bapakmu di setiap shalat ibu." ibu tetap tersenyum dalam berkata.
"Tapi kapan bu,,??" Aini masih menangis.
"kita serahkan pada yang maha kuasa, karna hanya ALLAH lah yang mampu membolak balikkan hati manusia, mungkin saat ini ALLAH sedang menguji iman ibu, apakah layak untuk menjadi bidadari surgaNYA nanti" ibu masih tersenyum meski dia mengusap sudut matanya, sepertinya ibu tidak mau air matanya membasahi pipinya.
Ibu merangkul Aini dan memeluknya. "sekarang Aini mandi dan shalat Ashar, habis itu belajar, capailah cita citamu nak, ubahlah hidupmu agar lebih baik dari ibu" ibu melepas pelukan dan mengusap sayang pipi anaknya yang basah.
Aini mengangguk lalu berdiri dan segera melaksanakan perintah ibunya.
***
Satu tahun setelah kejadian itu, ibu Aini hamil lagi, dia berharap, kehamilan nya sa'at ini membawa perubahan pada sang suami.
"Mas, mas dari mana? kenapa pulangnya larut sekali? perkiraan lahir anak kita satu bulan lagi, apa mas sudah ada uang persiapan lahirannya? Ibu lalu berdiri dengan kepayahan untuk menyambut dan mencium punggung tangan suami nya.
"Belum," jawab nya acuh " lagian tu anak belum tentu laki laki, aku ngak mau jika anak itu perempuan aku malu sama teman temanku , diledekin mulu karna ngak punya anak laki laki, sudah ah, aku capek mau tidur."
Ibu menghela nafas dan membuangnya perlahan.
"ya sudah pak, bapak istirahatlah jangan lupa shalat, semoga besok ALLAH memberi kita rizki dan mencukupkan segala kebutuhan kita."
Dengan keadaan hamil besar, ibu tetap membuat kue untuk di letakan diwarung warung sebagai usaha untuk mencukupi kebutuhan dan simpanan menyambut kelahiran sang anak.
Tanpa suaminya tahu, selama ini ibu selalu menyisihkan uang dagangan nya untuk keperluan mendesak seperti yang akan dialaminya sebentar lagi yaitu melahirkan, karna ia tahu bahwa suaminya tidak punya uang untuk biaya persalinannya nanti.
***
Benar saja, sa'at persalinan itu tiba, bukan cuma tidak memberikan uang, suaminya juga tidak menemaninya melahirkan.
"Owek,, owek,," suara tangis bayi begitu kencang membuat sang ibu melupakan segala sakit yang dirasanya.
"Selamat bu, anaknya sehat tidak kurang satu pun, anaknya begitu cantik" puji sang dokter.
"Alhamdulillaah, semoga jadi anak soleha, terima kasih dokter!." jawab sang ibu seraya menyusui anaknya untuk yang pertama kali yang dibantu sang dokter.
"Bu, adiknya kog ngak dapat - dapat mimik nya." Tanya Aini polos, Aini yang baru masuk ruangan bersalin karna di minta sang ibu untuk menemaninya, langsung mengomentari sang adik karna belum juga menyusu, padahal sang adik sedang mencari cari sumber kehidupannya.
"Iya, adiknya lagi usaha sayang, ini hal pertama bagi adik, jadi dia sedang mencari cara untuk melakukannya, kakak dulu juga kayak gitu kok." jawab sang ibu tetap dengan senyuman.
"Hehe..." Aini hanya nyengir mendengar sang ibu menyamakannya dengan sang adik yang baru lahir.
***
Ibu dan Aini hanya satu hari di rumah sakit, esoknya mereka pulang kerumah. Mereka pulang sore harinya. jam sembilan malam sang suami pun pulang.
"Mana anak mu yang baru lahir itu, laki laki apa perempuan? " tanya sang suami.
"Perempuan mas, " jawab sang istri, dia yang selalu menerima takdir apapun yang diberi ALLAH , tak memiliki kecewa sedikitpun karena anak keduanya masih perempuan. Berbeda dengan sang suami, dia yang sangat menginginkan anak laki laki begitu marah karna apa yang diinginkannya tidak terwujud.
"Kamu tidak bisa memberiku anak laki laki, maka aku akan mencari perempuan lain yang bisa memberikanku anak laki laki " ucapnya keras meluapkan kekesalannya. untung bayinya dikamar, sedangkan mereka diruang tamu, sehingga bayinya tidak terkejut.
"Iya mas, ma'af,, aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu memiliki anak laki laki, ma'afkan aku, jika kamu ingin menikah lagi, silahkan mas, aku ikhlas." jawabnya lirih sambil menyeka sudut matanya.
Satu bulan berlalu, si bapak tetap sama, dia tetap tidak peduli dengan istri dak kedua anaknya. Malah semakin menjadi perilaku buruknya, hingga suatu hari dia membawa perempuan muda yang di akuinya sebagai istri keduanya.
Betapa hancur hati sang ibu dan kecewanya sang anak, tapi ibu tetap menjamu tamunya itu dengan baik, meski hatinya menangis tetapi dia tetap tersenyum untuk menunjukkan ketegarannya didepan sang anak.
Waktu berlalu, hingga sang bapak benar - benar memiliki anak laki laki dari istri keduanya. Hari terus berganti, usaha si bapak yang dimodali sang istripun mulai berkembang, hingga ia semakin jarang melihat istri dan kedua anak perempuannya.
***
Beberapa tahun berlalu, Aini yang telah menamatkan pendidikannya, sekarang sudah membuka cabang ke tiga untuk toko kuenya di suatu kota.
Aini begitu gigih dalam belajar hingga ia selalu jadi juara di sekolahnya, Aini mendapatkan beasiswa prestasi hingga ia sarjana. Setelah tamat kuliah Aini memberanikan diri menyewa ruko untuk bisnis kuenya. Dia bekerja keras untuk merubah hidupnya serta ibu dan adik perempuannya yang masih sekolah.
Beberapa bulan terakhir, ibunya sering sakit perut, setelah dibawa kedokter, ternyata ibu memiliki penyakit asam lambung akut. Dan disarankan untuk dirawat di rumah sakit. Tiga hari di rumah sakit, ibunya ingin pulang karna tidak tahan terus berbaring dan mencium bau rumah sakit
Aini dan adiknya terpaksa membawa ibunya pulang, mereka akan melakukan rawat jalan. Tapi makin hari kondisi sang ibu makin menurun hingga menyebabkannya tak sadarkan diri.
Dua hari di rumah sakit belum membuat kondisi ibu membaik, tapi ibu malah mengatakaan perutnya semakin sakit, makananpun tak ada yang dapat masuk keperutnya, hanya infuslah yang menggantikan makanan untuk sang ibu.
Satu minggu dirawat, tapi belum ada tanda kesembuhan pada ibu, dia malah semakin kurus karena tidak mau makan nasi.
Jam sembilan malam, ibu mengaduh kesakitan, perutnya benar - benar sakit hingga dia memanggil anak - anak yang tidur di sofa. Merekapun mendekat.
"Ada apa bu,,?? perut ibu sakit lagi,,?" tanya Aini dengan cemas, karna sang ibu sudah sangat pucat.
"Aku panggilin dokter dulu ya bu, " kata Rezi adik Aini bergegas hendak pergi.
"Tidak usah nak, ibu cuma mau bilang sama kalian, sepertinya ibu sudah tidak lama lagi," jawab sang ibu lirih.
"Ibu sudah tidak kuat, ibu hanya ingin bilang, tolong jangan benci bapak kalian, karna bagaimanapun dia adalah bapak kalian, terus do'akan beliau supaya mendapatkan hidayah, ibu ikhlas dengan semuanya." katanya dengan semakin lirih nyaris tak terdengar.
"Iya bu, kami akan mencoba mema'afkan bapak seperti ibu yang selalu memiliki ma'af untuk bapak, tapi tolong ibu sembuh, sekarang ibu tidak perlu lagi banting tulang mencari uang, anak ibu sekarang sudah sukses berkat do'a dan dukunganmu bu." isak Aini sambil memeluk ibunya
Tidak ada respon, biasanya ibunya akan mengusap kepalanya dan menenangkannya ketika dia menangis, Aini mengangkat kepalanya, tangis nya pecah ketika dia mnyadari ternya sang ibu tak lagi bergerak dan tak bernafas.
"IBU,,,,,, " Tangisan kakak beradik itu sangat menyayat hati. Sekarang mereka telah kehilangan separuh hidup mereka.
***
Enam tahun setelah kepergian ibundanya, Aini menemukan belahan jiwanya, wali nikah Aini di wakilkan oleh yang berhak karna, mereka telah mencari cari sang bapak tapi tidak menemukannya.
Alhamdulillaah, berkat do'anya dan do'a sang ibu diwaktu masih hidup, Aini mendapatkan suami baik, bertanggung jawab, rajin ibadah dan juga mapan. Satu tahun berselang mereka di karunia seorang anak laki laki tampan. Mereka memang tidak menunda kehamilan.
***
Hari pun berganti, tak terasa Asykara Aidan Putra, anaknya Aini sudah menginjak umur tiga tahun, dia sangat cerdas seperti ibunya. Seperti biasa, setiap bulan mereka, Aini dan suami beserta anaknya dan Rezi bersama suami serta kedua anak kembarnya yang baru berusia beberapa bulan.
Hidup Rezi sekarang juga sudah mapan, dia menjadi desainer hebat, dia telah menyelesaikan kuliah desainernya berkat bantuan sang kakak yang mau menguliahinya.
Mereka akan berkumpul untuk mempererat tali silaturahmi, setelah itu pergi ziarah kemakam sang ibu tercinta.
Ketika keluar rumah, mereka melihat seorang gelandangan didepan gerbang rumah mereka yang tampilannya sangat kumuh yang terus melihat kearah rumah mereka, mungkin ingin minta makanan.
Tanpa pikir panjang, Asykara yang begitu penyayang dan mudah kasihan menarik ibunya dan berkata " bunda, ayo kita kasih uang kakek itu, supaya dia bisa beli makanan, sepertinya dia kelaparan".
"Baiklah naak,, ayo kita kesana," Ainun berkata sambil mengusap kepala anaknya.
Akhirnya mereka mendekat, dan betapa terkejutnya mereka ketika menyadari gelandangan itu adalah ayah mereka, si bapak mendekat membuka gerbang lalu bersimpuh dikaki sang anak.
"Ma'afkan bapak naaak.. ma'afkan bapak yang selama ini tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab untuk kalian, bapak benar - benar minta ma'af pada kalian, bapak benar benar bodoh telah menyia nyiakan istri soleha seperti ibu kalian, dan telah menelantarkan anak anak hebat seperti kalian. Ma'afkan bapakmu yang bodoh ini naaakkk..." sesal sang bapak didalam tangisnya.
"Pak, ayo berdiri,jangan seperti ini, malu dilihat orang," kata Aini seraya menuntun bapaknya berdiri.
"Bunda, kenapa kakeknya berlutut dikaki bunda? dan kenapa kakeknya menangis,?" tanya Asykara bingung karna menangis di kaki sang bunda.
Aini tersenyum kepada anaknya" dia kakek Asykara sayang"
"Owoooh,, halo kek, namaku Asykara" katanya sambil mengulurkan tangan kemudian mencium punggung tangan sang kakek setelah uluran tangannya disambut si kakek. Membuat si bapak terharu.
"Bapak kenapa seperti ini ? mana anak dan istri bapak?" tanya Rezi
"Bapak,, bapak diusir istri dan anak bapak beberapa bulan lalu, karna usaha bapak bangkrut dan mereka tidak mau menampung orang bapak lagi, ma'afkan bapak nak" isaknya lagi.
"Ibu kalian mana? bapak ingin meminta ma'af padanya, ibu kalian adalah wanita hebat" tanya nya lagi
" Ibu sudah menjadi bidadari surga, dia sudah meninggal beberapa tahun lalu, bapak benar, ibu adalah wanita hebat, dia selalu ikhlas dan ridho dengan setiap perlakuan yang bapak berikan." isak Aini
Si bapak terisak " m'afkan bapak Ainun, Rezi, ma'afkan bapak"
"Iya pak, kami mema'afkan bapak, karna ibu selalu mengajari kami jadi pema'af dan mengingatkan kami untuk mema'afkan bapak, sekarang do'a ibu telah terkabul, bapak telah berubah meskipun ibu tidak dapat lagi menikmati perubahan bapak" isak Rezi juga.
" Sekarang bapak boleh tinggal disini lagi," kata Aini, dia tidak tega melihat bapaknya jadi gelandangan.
" Terimakasih nak, sekarang kalian mau kemana?
" Kami mau kemakam ibu, apa bapak mau ikut.?"
Dengan cepat iya mengangguk" Iya nak, bapak ingin meminta ma'af di pusara ibu kalian"
" Baiklah, tapi gantilah baju bapak dulu, pakaian bapak masih ada dilemari ibu, ibu tidak membolehkan kami membuang pakaian bapak, katanya suatu sa'at bapak akan pulang" Kata Aida lagi.
Bapak mengangguk, merekapun kembali kedalam rumah, dihati, si bapak sangat menyesali perbuatannya dimasa lalu. Dia berjanji akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya.
*****