awan begitu indah, langit di siang hari berwarna biru muda yang cerah dengan di temani sinar matahari yang bersinar dengan terang, menyinari bumi. siang hari jam 01:00 lima orang anak laki-laki sedang bermain di sebuah hutan yang begitu indah, memancing dan melakukan petualangan seperti hal nya mereka adalah petualang sejati.
di jam tersebut mereka sedang membakar sebuah ikan di atas api menggunakan kayu sebagai alat untuk membalikkan dua ikan besar itu, mereka mengobrol, tertawa ceria, dan bercerita ini dan itu. hingga salah satu dari mereka berkata. "hey apa kalian percaya bahwa peri itu ada?" sontak hal itu membuat ke empat pria itu tertawa, "hahaha apa kau percaya itu? itu sungguh memalukan" ucap pria yang sedang membakar ikan itu.
lalu kemudian pria yang bertanya itu diam dan memanyunkan bibirnya karena pertanyaan konyolnya yang di ejek oleh teman lainnya itu. "aku percaya itu" ucap teman yang duduk di sampingnya itu. itu membuat si pria yang bertanya itu senang tapi sedikit terkejut dengan jawaban temannya. "benarkah? kau yakin dengan hal itu Kaze?" ucap orang itu pada temannya. "yah tentu Rik" katanya sambil membuat senyum senang.
sedang mereka bertiga hanya diam melihat tingkah mereka, yah Erik dan Kaze adalah yang termuda diantara mereka, terutama Kaze yang selalu percaya dengan cerita masa lalu atau semacamnya lah. meski begitu mereka tetap selalu bersama-sama.
"hey Ben kenapa kau diam saja?" ucap seseorang di sampingnya yang membantu membakar ikan. "aku hanya..." ucapnya terhenti saat ingin mengatakan hal itu. "hanya apa?" kata orang yang di sampingnya itu dengan tidak sabar. "aku hanya sedang menahan panggilan alam!" ucapnya yang membuat yang lain tertawa. dari hal itu dia juga ikut sedikit tertawa kecil, "ya.. aku benar ini" ucapnya sambil memegang perutnya yang kesakitan.
"aku akan mengantarnya untuk menjawab panggilan alamnya" tanya Erik pada Boy, Steven, dan Kaze yang dimana di setujui oleh mereka. kemudian setelah itu mereka pergi dari sana dan pergi ke suatu tempat dimana tak ada orang disana.
karena bosan menunggu Beni, Erik berpikir untuk mencari sesuatu di sekitarnya seperti buah mungkin atau sayur-mayur biasanya kan ada. tapi tak ada yang dia temukan, kemudian setelah itu dia tak sengaja melihat cahaya kecil yang melintasi pohon pohon di sekitarnya. cahaya itu seperti terbang diantara pepohonan yang tinggi itu. saat dia akan mendekati cahaya yang berjalan itu sebuah tangan mengejutkannya.
"hey Rik kau mau kemana?" ternyata tangan di pundaknya adalah milik Beni, kemudian mereka pun pergi ke pesisir sungai dan pergi ketempat mereka berkumpul. Erik yang sedari tadi terus memikirkan cahaya apa itu membuat semua orang bingung dengan tingkahnya yang berubah diam.
"hey apa kalian percaya? kalau peri itu ada?" ucapnya membuat Boy dan Steven menjadi malas mendengarkan hal itu. "oh Erik yang benar saja kau. tadi jug.." ucapnya terhenti karena Erik mengatakan satu kata lagi. "tadi aku melihat sebuah cahaya yang terbang melintasi pepohonan saat aku menemani Beni, jika kalian tidak percaya, aku ingin mencarinya dan menemukannya" ucapnya yang membuat mereka saling menatap satu sama lain.
"baiklah kami juga akan ikut, anggap saja kita mencari harta karun" ucap Boy pada mereka semua. mereka pun pergi mencari peri itu dan singkatnya waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 dan saat itu hari sudah sedikit gelap, mereka harus memasang tenda dan menunda pencariannya.
saat malam hari Erik terjaga bersama dengan Kaze dan juga Beni, karena mereka bertiga memasang tenda berbeda dengan Boy dan Steven, "kenapa kau membangunkan ku?" ucap Beni yang sebenarnya mengantuk. "kita harus menemukan peri itu" ucap Erik yang bersemangat, sedangkan Kaze hanya diam memantau mereka berdua. saat itu ada sebuah cahaya kecil yang melalui tenda mereka, Erik yang melihat itu langsung menunjukkannya kepada Beni dan Kaze, mereka pun terkejut dengan apa yang mereka lihat, benar cahaya itu terbang dan entah apa yang ia cari.
"lalu bagaimana sekarang" ucap Beni
"kita pergi menangkapnya" jawab Erik
"tidak, biarkan saja peri itu" kata Kaze
saat itu mereka hanya saling menatap, Erik keluar dengan tiba tiba lalu mengikuti cahaya itu sedang Kaze dan Beni yang terkejut tiba-tiba berteriak nama Erik, Beni langsung mengejarnya sedang Kaze dia mencoba membangunkan Steven dan Boy.
saat itu Erik terhenti karena cahaya itu menghilang dan Beni yang di belakangnya juga ikut berhenti karena Erik berhenti, saat itu Erik terus menerus mencarinya kemana mana tapi tetap tidak menemukannya.
setelah beberapa menit berlalu Boy, Steven, dan Kaze juga sampai di dekat Beni dan Erik.
"Bagaimana? tidak ada kan?" tanya Boy yang kelelahan karena berlari
"sudahlah kita kembali sekarang, dan tidur, besok kita harus pulang" ucap Steven
sedang Kaze hanya diam mengamati hutan di sekitarnya itu, merasa ada yang aneh dengan pohon pohon di sekitarnya yang berubah warna menjadi berwarna gelap.
"teman teman berkumpul lah kemari" karena terkejut mereka pun segera berkumpul dengan memegang tangan masing-masing karena Kaze yang memegang tangan Seteven dan juga Beni secara bersamaan mereka juga akhirnya mengikutinya.
dan pohon disana berubah warna daunnya menjadi warna ungu dan bulan disana begitu besar dan indah, itu membuat mereka takjub dan tidak tau harus berkata apa. kemudian Erik yang melihat cahaya itu terbang kembali dia mengikutinya dan teman temannya juga ikut berlari mengikuti Erik.
.
.
.
.
.
singkat nya mereka berhasil menemukan peri itu dan melihat sebuah tepi pantai dan mereka berada di antara hutan di pantai itu, peri yang tadi mendekati mereka, menuntun mereka supaya ketempat itu. "peri" ucap Erik yang cahayanya tepat berada di samping mata Erik. sontak membuat mereka menoleh kearah Erik yang saat itu benar tepat disisinya terdapat sebuah cahaya yang bersinar terang.
.
.
.
.
Kaze mendekati peri itu dan menangkapnya tapi karena cepat sulit untuk menangkpanya. akhirnya membiarkannya terbang, "benarkan apa kataku peri itu ada?" ucap Erik pada Boy
"yah lalu bagaimana sekarang kita pulang" tanya Boy pada Erik
"benar! ini bahkan bukan tempat tinggal kita" ucap Steven.
dan mereka berlima pun tak ada ide untuk melakukan sesuatu, kecuali dengan peri itu, tapi perinya pergi karena Kaze yang mencoba menangkapnya dan alhasil mereka harus bermalam di hutan aneh itu tanpa sebuah tenda ataupun makanan.
.
.
.
selesai
.
.
.