Dunia ini tak selebar yang kubayangkan, ternyata. Padahal sudah berusaha mati-matian untuk menghindar, tetapi akhirnya...
Ah kupikir bunyi peribahasa yang sering muncul di ujian mata pelajaran bahasa Indonesia benar adanya, rupa-rupanya... "Dunia ini gak selebar daun kelor! Begitu pikirmu kan!? Kau salah! You wrong, Bro!"
Sialan! Harus gimana lagi sekarang...
"Mau apa lagi?! Mau sembunyi ke mana lagi!? Ke ketek Emak loh!? Gak pake ke lubang semut, ke lubang upil, ke lubang kubur Kakek Moyang mu juga bakal aku cari!"
Alamak!? Yang bosan hidup dia apa aku!? Sampai bawa-bawa lubang kubur segala, apa barangkali dia sudah lelah juga ya, bisa jadi! Kasihan, kasihan...
"Kenapa senyum-senyum! Kamu pikir aku dokter spesial gigi apa!? Mentang-mentang gigimu pada kuning begitu!? Kamu pikir aku peduli!? Gak!!!"
Kurang asem ini makhluk, pake ngatai segala, kayak giginya sudah kebagusan aja. Mending gigiku kuning, lah, dia...
Eh, bego-bego begini ingatan aku masih ini tajam, aku masih hafal, kalau giginya itu bolong tiga.
"Gigiku sudah ku tambal, tahu kamu! Jangan sok ngatai-ngatai aku...!"
Mani rodok ini satu dedemit! Kok bisa-bisanya tahu isi kepala aku!? Apa jangan-jangan setelah sekian purnama tidak bertemu ia tengah menuntut ilmu dengan Mak Erot ya!?
"Eh, bocah tua tengik kalau kau masih punya nyali kau tatap ini mata aku! Jangan beraninya kau main belakang! Apa kau sudah salah jurusan...
Salah jurusan matamu soek! Mentang-mentang mantan kondektur Rambutan-Kampung Melayu ngomong gak pake ditakar...
"Mentang-mentang kau berlagak kayak begitu, kau pikir aku takut sama kau! Gaya kau itu lah guk-guk! Sok-sokan kau pake celana bolong-bolong kau! Kaus ketat loreng-loreng, udah kayak banci taman margasatwa kau! Apalagi muka kau itu, udah macam setahun gak kena air, gak ada potongan preman kayak kau! Jangan-jangan dalaman kau pun udah robek-robek juganya itu! Lagak kayak kau ini pasnya itu disebutnya gembel, tahu kau! Kau pikir aku takut sama kau!"
Dasar moyangnya setan itu mulut apa petasan banting...
"Kau yang Lucifer tahu kau...!"
Dasar cacing kremi kok dia bisa-bisanya tahu sedang dikata-katain, mulai dari sekarang aku harus lebih berhati-hati...
"Udahlah gak banyak cakap kau! Bayar hutang kau...!"
Sedari tadi mulut ku diam terkunci, pet, pet, rapat terkunci. Semut yang usianya orok sekalipun tahu kalau yang sedari tadi berkecap-kecap itu dia... Begini ini model orang kalau cita-citanya gak kesampaian, pengennya jadi pengacara keturutannya jadi tukang tagih...
"Jangan kau banyak omong kau! Ngomong-ngomong dalam hati kau, busuk hati kau itu, tahu kau! Pinjam gampang kau, giliran bayar kau... Pikirmu aku tukang cetak duit apa!? Waktu Tuhan bagi-bagi otak dimana kau!?"
"Lagi minum cendol, Tet, di tempat kita biasa malam mingguan itu, masak kau lupa, say..."
"Oh ada juganya bacot kau rupanya,"
"Aku kan masih seperti yang dulu, Tet."
"Mak, macam Pance Pondang aja kau..."
"Iya begitulah kira-kira..."
"Udah, udah gak usah banyak cakap kau, bayar hutang kau..."
"Utang apa emangnya aku sama kau, Tet..."
"Tet, tat, tet... Kau pikir aku burung Betet!?"
"Nama kau kan Butet,"
"Udah ganti nama aku sekarang, tahu kau, gara-gara kaunya ini semua..."
"Jadi siapa?!"
"Betharia Sonata, apa kau!!"
" Ihh... Cantik kali nama kau, say, kok, ngundang-ngundang kau..."
"Kok kira aku kotak suara apa bikin Undang-undang!"
"Apa pula hubungannya, Bet, eh, Tet..."
"Betul-betul kau ngejek aku ya.."
Si burung Betet, eh, si Butet galak menghambur, dengan ganas ia piting leher tuh orang...
"Betul, betul kumatikan kau sekarang, Cok!"
"Ampun, ampun... Bet, eh, Tet... Maksudku..."
"Dasar kerbau pendek kau, Cok..." Si burung Betet, eh, si Butet amuknya makin menjadi-jadi.
"Udah ganti nama aku sekarang, Bet..."
"Terus aku harus bilang wow gitu..."
"Jangan gitu, say, mati aku nanti, gak ada calon bapak anak-anak kita..."
"Anak keonglah anak kau..." Cengkeraman makin diperkuat, sekonyong-sekonyong yang dicengkeram nampak kesusahan bernapas, tak berapa lama setelahnya ia malah kelonjotan... Si burung Betet, eh, Butet kaget juga dibuatnya. "Alamakjang kumat epilepsi si kawan! Ucok, Ucok..." Dari yang kaget kini berganti panik. Wajah mulai yang membiru ia tepuk-tepuk.
Orang-orang pun berhamburan mendekat. Mereka-mereka yang sedari tadi sebisanya asyik menonton pertengkaran tersebut.
Asyik menonton dengan lagak masing-masing.
Ada yang santai serupa tupai, sambil menyeruput kopi kenangan, senggang mereka mengunyah kaca, eh, kacang deng..
Serupa marmut juga ada, kalau ini santainya agak elegen, seruput kopinya kopi putri duyung bermahkota bintang, sambil memamah kuali, eh, kwaci deng...
Serupa jerapah juga tak kehitung jari, mengintip dari balik kisi-kisi jendela... Serupa ular kadut ada juga ternyata, tiarap dari atas loteng rumah.
Yang gak ada itu ya serupa Cebong dan Kampret soalnya mereka lagi sibuk dengan hajatan masing-masing...
Yang Ono rerirung di medsos... alias buzzer... Yang ono-nya lagi rerirung di jalanan alias pasukan nasi bungkus.
"Cepat pertolongan P3K..." seru salahsatu anggota komplotan si tupai menunjuk-nunjuk ke calon jasad yang tengah dibaringkan di tanah. "Pikirmu ini luka gores pake kotak obat... Serius ini, harus nafas buatan ini, jangan macam-macam kau..." Protes anggota komplotan Marmut.
"Tanggung jawab kau, Tet. Kalau mati dia, bisa masuk penjara kau, Tet. Mau kau masuk ke penjara. Di hukum loh..." Ujar komplotan Jerapah.
"Yang bilang di wisuda siapa!? Dasar hantu kau!" Protes si Ular kadut.
Butet si burung Betet bingung gak ketulungan terlihat dari raut mukanya yang pas kayak burung Betet.
"Cepat, Tet, sebelum telat..." tunjuk si Tupai.
"Kau pikir dia lagi datang bulan..." Lagi-lagi si ular kadut protes.
"Iya kalianlah yang buat aku kan masih gadis." seru Butet kebingungan.
"Iya gadisnya kau? Kupikir kau abang-abang!? Lagakmu ngeri kali tadi kutengok!? Udah kayak si Jampang tadi kutengok." tuding si Marmut.
"Iya kaulah, Tet, kemana juga dia kan mantan kau. Secara kau kan udah tahu rasanya, kalau aku...iya kek manalah kubilang ngamuk pula nanti bapak Tigor. Gini-gini masih takut dosa aku, Tet." ujar komplotan si Tupai.
"Apalagi aku, Tet, belok-belok gini masih pilih-pilih aku, Tet." timpal komplotan si Marmut.
"Ah, udahlah biar aja dia mati, hidup pun gak ada manfaatnya orang kayak dia ini..." ujar si Butet membuat keputusan.
"Udah siap kau di penjara rupanya? Di hukum loh," si komplotan Jerapah coba mengingatkan. "338 loh , Tet... Ancaman hukumannya berat loh, Tet..."
"Mau tiga-tiga lapan kek... Mau sembi-sembi kek gak peduli aku..." seru si Butet bersiap berbalik badan.
"Ihhh, Tet, udah dikerubungi lalat dia itu, Tet..." tunjuk komplotan si Ular kadut.
"Udah kalian bawa aja pulang, kalian rica-rica sekalian..." Si Butet alias si Burung Betet berjalan bergegas meninggalkan si calon jasad yang berkali-kali telah bermandikan semburan ludah, baik dari komplotan si Ular kadut, Jerapah, Marmut, dan si Tupai.
Dan tak sampai hitungan detik mereka pun ikutan balik kanan bersamaan. Di tanah si calon jasad ditinggal sendirian meratapi nasib. Hingga sore berganti malam, malam berganti pagi...
Ketika membuka mata tahu-tahu dia sudah berada di atas gunungan sampah di Bantar Gebang... Ternyata, alam masih berpihak kepadanya. Untunglah.... Untunglah...