“Ra, sini duduk bentar” panggil mama setelah aku mengembalikan nampan minuman dari dapur. Aku pun duduk di sebelah mama.
“kenalin om Wisnu dan tante Yuli” papa memperkenalkan kedua orang yang seumuran papa.
“malam om, malam tante” salam ku ke mereka
“anakmu cantik ya jeng” puji tante Yuli
“iya, ga salah kita menjodohkan nak Rara dengan Rendra anak om”
Aku sempat terdiam sebentar mendengarnya “maaf om, maksud om apa kalau boleh tau?” Tanya ku ke om Wisnu
“kamu belum kasih tau anakmu Tio?” Tanya tante Yuli ke papa tanpa memperdulikan pertanyaanku, dan aku lihat papa hanya menggeleng
‘ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku dijodohkan begini? Siapa Rendra?’ batin ku
“kami kira kamu sudah memberitahunya” ucap om Wisnu sambil menghela nafas
Aku masih dengan wajah yang bingung menatap mereka berempat, karena aku ada kuliah pagi aku pun berpamitan dengan mereka.
“permisi om tante, Rara ada kuliah pagi. Boleh Rara pamit untuk tidur duluan?”
“oh, silakan. Besok tante akan kesini lagi dengan Rendra agar kamu tidak bingung seperti tadi” ucap tante Yuli sambil tersenyum
“baiklah tante, Rara aku menunggu tante dan anak tante”
Aku pun segera masuk ke kamarku. Oh iya sampe lupa, perkenalkan namaku Ratih Ajeng Kusuma, biasa dipanggil Rara sama orang tua dan kedua kakakku yang bernama Yuda Kusuma dan Elang Kusuma, dan dipanggil Ajeng saat di kampus. Aku punya dua orang sahabat yang ku kenal dari TK hingga sekarang, mereka Clara Husni dan Clarisa Husni. Tebakan kalian benar mereka kembar, tapi sifat mereka sangat bertolak belakang, Clara yang extrovert dan Clarisa yang introvert sedangkan aku di antara mereka ambivert. Itu lah kenapa kami sangat cocok bertiga, sekian perkenalanku. Aku akan tidur karena takut telat besok pagi.
Keesokan harinya
“pagi ma” mencium pipi mama
“pagi pa” mencium pipi papa
“pagi Ra” sahut mama
“maafin papa tidak memberitahumu soal perjodohan itu” sahut papa tanpa membalas salam ku
“gpp pa, aku tau papa pasti ada alasan untuk menjodohkan aku. Tapi aku tetap menunggu penjelasan itu. Aku sangat bingung kemaren pa”
“nanti kamu bisa langsung pulang? Kita akan ketemu mereka. Kedua kakakmu akan menyusul juga” tanya papa
“wow tumben duo workaholic itu bisa ikut datang” sambil tersenyum
“kamu ditanya apa malah jawab apa” cela mama
“bisa pa, mau gak usah kuliah juga bisa” ucapku dengan nada bercanda
“berani?” Papa melotot
“berani dong, wong dosennya tadi ngabarin gak bisa datang karena istrinya lahiran” jawabku dengan santai
“kamu serius atau emang mau bolos?” Tanya papa tidak percaya, aku pun membuka hpku dan menunjukan foto chat dosen dengan salah satu mahasiswa di chat kelas
“ok, kamu tidak bohong. Kalau gitu bantu kakak keduamu itu, pusing papa lihat dia”
Aku hanya menjawab ok dan tertawa dengan perkataan papa.
Di kantor kedua kakakku
“pagi mbak Ajeng, cari mas Yuda atau mas Elang?” Tanya resepsionis kantor yang ku tau bernama mbak Dian
“keduanya mbak, mau saya jadikan OB sehari seperti biasa mbak” jawabku dengan candaan
Orang-orang di kantor pada tau aku sering membuat kedua kakakku menjadi OB sehari apabila aku sedang ke kantor mereka.
“hati-hati mbak, mas Elang hari ini lagi badmood. Karyawan banyak dia marahin hari ini”
Aku hanya menghela nafas, aku tau kenapa kakak kedua ku itu badmood hari ini, aku pun segera ke ruangannya tidak lupa berterima kasih dengan mbak Dian atas infonya. Aku akan ke ruangannya mas Yuda dulu baru ke ruangannya mas Elang.
# ~tok tok tok~
“masuk”
“mas” panggil ku
“oh Rara, kenapa kesini? Gak kuliah kamu”
“dosennya lagi nemenin istri lahiran, aku disuruh papa kesini buat urus mas Elang”
“iya, kamu urus itu mas keduamu itu, mas aja yang tua dari dia bingung hadapinnya”
“aku kesana dulu ya mas”
“ok, nanti makan siang ingat kan apa yang papa bilang”
“iya mas. Rara aja udah mau menikah mas Yuda dan mas Elang masih aja jomblo” godaku ke mas Yuda sambil jalan keluar
“gak sopan kamu, mas udah ada tau”
“iya, komputer dan berkas-berkas di depan mas”
“eh serius, mas sudah ada calon”
“iya mas, Rara tau siapa. Nanti suruh ikut gih, buat kenalin ke papa dan mama”
“Elang gimana?” Tanya mas Yuda
“biar aku yang urus mas Elang. Dia hanya belum bisa move on dari j*l*ng itu”
“eh mulutnya”
“hehe, maaf mas. Kebawa suasana”
“udah sana ke Elang”
Aku pun langsung keluar menuju ruangan mas Elang
# ~tok tok tok~
“SAYA BILANG JANGAN GANGGU” teriak mas Elang
“BUKA GAK PINTUNYA MAS ATAU RARA TENDANG NIH” aku juga teriak, karyawan disini hanya bisa tersenyum karena kelakuan kami. Mas Yuda aja hanya menggelangkan kepala saat melihat aku teriak dan masuk kembali.
Aku tau mas Elang lagi sibuk membersihkan ruangannya yang penuh dengan minuman keras hasil tadi pagi.
Cekrek... Pintu terbuka dan menampilkan mas Elang yang setengah rapi dan setengah berantakan
“udah puas?” Tanyaku tanpa basa basi
“...” Mas Elang diam dengan menunduk
“Rara tanya sekali lagi, mas udah puas?”
“...” Mas Elang masih diam dan masih menunduk
“mas sayang Rara gak?”
Mas Elang langsung melihat wajahku
“...sa...sayang”
“kalau Rara hilang dari sini dan mas gak bisa lihat Rara baru mas mau berubah?”
“kok Rara bilang begitu?” Sambil mau memeluk ku
Aku menghindar dan masuk ke ruangannya, mas Elang pun masuk dan menutup pintu ruangannya.
“mas, Rara capek lihat mas seperti ini karena orang itu”
“...”
“bisa gak mas melupakan dia, Rara gak minta mas menghilangkan mbak Reka dari hati mas. Rara hanya minta mas melupakan dia, dan kesalahan dia kepada mas. Rara juga benci dengan mbak Reka, dengan apa yang dia lakukan ke mas. Tapi tolong mas, lupakan lah apa yang sudah mbak Reka lakukan ke mas semasa hidupnya, mbak Reka sudah tenang disana”
Ya benar mbak Reka sudah meninggal, walaupun tadi aku menyebutnya j*l*ng dia tetap lah calon kakak iparku kalau dia tidak selingkuh seminggu sebelum hari pernikahannya dan sehari sebelum dia akan menikah, dia pergi meninggalkan mas Elang selama-lamanya. Dan aku juga tau kenapa mbak Reka melakukan itu semua, mbak Reka mengidap kanker rahim. Dan sampe sekarang belum ada yang tau kecuali aku karena aku mendapati surat kesehatan mbak Reka yang jatuh. Aku dengan sifat pemaksa ku mendapati kebenaran yang terjadi sehari setelah kejadian dia selingkuh.
“asal mas tau, mbak Reka tidak selingkuh dengan lelaki lain saat dia bersama mas melainkan dia bermain drama dengan sepupunya, karena dia tau umurnya tidak akan lama lagi karena dia mengidap penyakit kanker rahim. Rara gak kasih tau mas, karena Rara janji dengan mbak Reka untuk tidak memberitau hal ini ke mas, karena mbak Reka mau mas membencinya agar mas tidak larut dalam kesedihan saat mbak Reka pergi dan menemukan pengantinya. Tapi ternyata mbak Reka salah, yang terjadi mas bukan membenci mbak Reka dan mencari penggantinya tapi malah makin larut dalam kebencian mas dengan mbak Reka. Rara sudah selesai bicara, Rara tunggu saat makan siang nanti dengan keluarga calon suami Rara. Rara harap mas datang dengan keadaan yang lebih baik” aku bersiap akan pergi saat mas Elang mengatakan sesuatu yang membuat aku tersenyum kepadanya
“temenin mas ke makam Reka, kamu harus minta maaf sama dia karena melanggar janjinya”
“let’s go” kataku sambil mengandeng lengan mas Elang
Kami masuk ke ruangan mas Yuda untuk minta izin keluar kantor. Mas Yuda melihatku dengan wajah bingung dan wajah kesal ke mas Elang.
“GUE setengah mati bujuk LO keluar ruangan, gak mau keluar. Sedangkan Rara yang teriak dan gak tau apa yang dia bilang ke LO di dalam ruangan LO, LO keluar dan sekarang minta izin mau ke makam Reka” mas Yuda kalau lagi kesal dengan mas Elang selalu menjadi gue-lo dan menekan setiap katanya.
“mas Yuda kurang berpengalaman sih” bangga ku sedangkan mas Yuda dan mas Elang hanya tersenyum
“iya, iya adik bungsu mas sudah berpengalaman” puji mas Yuda
“mas, maaf hari ini Elang bikin ulah di kantor” ucap mas Elang
“dimaafkan, asal jangan tiap bulan aja begini. Pusing mas bisa dibuat kamu”
“kali ini mas tenang aja, bulan depan mas Elang nyusul mas buat bawa calon istri ke papa dan mama” ucapku
“mas Yuda sudah ada calon?” Tanya mas Elang dengan nada tidak percaya
“sudah dong, mas Yuda pedofil pacaran dengan sahabatku mas” potongku saat mas Yuda baru membuka mulut
“Clara atau Clarisa?” Ucap mas Elang dengan nada panik
“Clarisa”
“syukur lah bukan Clara” ucap mas Elang dengan suara yang kecil dan aku masih bisa mendengarnya
‘sepertinya mas Elang suka dengan Clara, mbak Reka apakah Clara yang mbak kirim untuk menemani mas Elang?’ batinku
“apa mas?” Ucapku pura-pura tidak mendengar ucapan mas Elang
“ah... Bukan apa-apa” ucap mas Elang gugup
“mas kami ke makam mbak Reka dulu ya, keburu siang buat ketemu calon Rara” pamitku
“iya, hati-hati” ucap mas Yuda
“oh iya, jangan lupa ajak Risa ya mas. Kenalin ke papa mama sebagai calon mas bukan sebagai sahabat Rara”
“iya mas tau”
Aku dan mas Elang pun ke makam mbak Reka, sebelumnya kami sudah membeli bunga untuk ditabur di atas makam mbak Reka. Saat disana aku sengaja membiarkan mas Elang duluan yang berbicara dengan mbak Reka, mas Elang pasti banyak yang mau di katakan ke mbak Reka. Aku hanya melihat dari jauh apa yang mas Elang lakukan dengan makam mbak Reka.
“mas sudah, kamu lagi sana” ucap mas Elang saat sudah didepanku
Aku pun berjalan mendekat ke makam mbak Reka dan menaburkan bunga yang sudah kami beli tadi.
“mbak Reka maafin Rara ya sudah memberitahu mas Elang soal kanker mbak. Soalnya makin hari bukan cari penganti mbak malah jadi bad boy. Rara gak suka mbak, jadi maaf kalau Rara kasih tau mas Elang” ucapku di depan nisan mbak Reka
“gpp Ra, terima kasih” aku pun melihat ke belakang dan tidak ada siapa-siapa, tapi aku mendengar suara mbak Reka di telingaku. Aku pun kembali melihat nisan mbak Reka dan tersenyum.
“ayo Ra, sudah jam 11.30. Kita janji jam 12.00 bertemu mereka”
“mbak, Rara pulang dulu. Kapan-kapan Rara akan kembali dengan calon mas Elang dan calon ku” pamitku ke nisan mbak Reka dan meninggalkan mas Elang
Aku menunggu mas Elang di dekat mobilnya sambil melihat mas Elang yang masih berbicara dengan nisan mbak Reka. Tak berapa lama aku melihat mas Elang mendekat ke mobil, aku pun masuk ke dalam mobil juga dan kami segera ke tempat janjiannya.
Restoran
“pa ma” panggil ku ke mama
“dari mana kalian?” Tanya papa
“makam mbak Reka” jawabku
“ngapain kalian kesana?” Tanya mama
“mas Elang minta izin buat pacaran dengan Clara ma” jawabku dengan santai
“ini anak sembarangan ngomong aja” ucap mas Elang
“kalau gak suka ya udah, biar Clara aku jodohin sama yang lain aja” jawabku santai
“ya..ya..yaudah sana jodohin aja” jawab mas Elang dengan gugup dan sepertinya sedikit takut dengan apa yang aku ucapkan
“sudah sudah, Yuda mana?” Tanya papa
“disini pa” jawab mas Yuda dari arah belakang kami
“Clarisa” panggilku dan memeluknya, Clarisa membalas dan menyapa kedua orang tuaku juga
“loh kok ada nak Risa?” Tanya mama bingung
“calon kakak ipar ma” jawabku dengan santai
“kamu tau jeng?” Tanya Clarisa dengan kebiasaannya yang malu-malu
“tau dong, kembaranmu aja tau”
“siang om tante” salam Clara dari arah lain
“loh kok ada nak Clara juga?” giliran papa yang Tanya
“calon kakak ipar juga pa” ucapku santai dan mendapat tatapan dari Clara
“mas Elang, urus calon mu” ku dorong Clara ke arah mas Elang
Mas Elang dan Clara malu-malu karena dorongan ku yang hampir membuat Clara jatuh, untungnya mas Elang sempat memengang lengan Clara.
“kamu jodoh-jodohin orang, jodoh kamu mana?” ucap seseorang dari arah belakang di dekat telingaku
Aku kenal suara ini, cinta pertamaku dulu saat SMP. Cowok pertama yang berhasil membuka kunci pintu hatiku karena kebaikannya saat membantu diriku menolong seorang nenek di jalan yang mau menyebrang, disaat semua orang tidak ada yang mau berhenti hanya dia yang mau berhenti dan membantu beliau menyebrang.
Flashback
Disaat aku sedang berjalan pulang menuju halte bus, aku melihat seorang nenek yang mau menyebrang tapi tidak ada yang mau berhenti saat beliau mengangkat tangannya. Aku pun menghampiri nenek tersebut dan membantunya.
“nek, mari saya bantu menyebrang” ucapku
“terima kasih”
Aku juga mengangkat tanganku tapi tidak ada yang mau berhenti sampai ada sebuah motor yang berhenti dan dia membuka helmnya, aku sempat terpesona sampai dia bersuara.
“mari saya bantu” ucapnya sambil memberhentikan mobil maupun motor yang lewat. Aku pun segera membantu beliau menyebrang
“terima kasih anak muda” ucap nenek tersebut saat sudah di seberang jalan dan beliau pergi
“terima kasih mas, mari” ucapku dan pamit dengan cowok tersebut
“mari saya bantu kamu menyebrang kembali” ucap cowok tersebut
“gpp kok mas, saya bisa sendiri”ucapku dan langsung pergi
‘jantungku berdetak cepat sekali, semoga cowok itu gak mendengarnya’ batinku sambil menyebrang dan segera menuju halte bus
Flashback off
Sejak kejadian itu aku tidak bertemu dengannya, aku selalu mengharapkan suatu hari aku akan bertemu dengannya lagi. Dan permintaanku pada hari itu terjadi hari ini. Dia muncul di depanku dan menjadi calon ku.
“kamu…” ucapku saat melihat cowok tersebut
“masih ingat saya?” aku hanya membalasnya dengan menggangguk saja
“ternyata anak SMP yang saya temui sudah besar dan makin cantik sekarang” aku yang mendengar hanya bisa termenung dan tersipu malu
“Rendra kamu jangan bikin takut Rara” ucap tante Yuli
“salam kenal Sairendra Adiwangsa” ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman
“Ratih Ajeng Kusuma” membalas uluran tangannya
“nama yang cantik sesuai dengan hatinya” sambil mencium tanganku
“ya, jangan cium-cium adek gua sebelum sah” ucap mas Yuda yang protektif sambil memisahkan kami
Aku melihat Rendra hanya tersenyum kearah mas Yuda dan duduk di sebelah tante Yuli.
“Ris, kamu kok mau pacaran dengan mas Yuda yang sistercomplex begitu” tanyaku ke Clarisa yang kebetulan duduk disebelahku dengan suara yang ku yakin dapat di dengar mas Yuda
“eh, mas dengar ya”
“sengaja” ucapku sambil menjulurkan lidah
“sudah sudah, kalian ini sudah besar masih aja seperti anak kecil” ucap papa sebelum mas Yuda mau menjewer telingaku
Kami hanya tersenyum kearah papa, aku yang penasaran dengan keberadaan mas Elang bukan melihat sekitar dan menemukan dia sedang berbincang dengan Clara di meja terpisah dengan kami.
“pa, mas Elang kok pisah meja?” tanyaku ke papa, Karena papa duduk disebelahku
“biarin aja, Yuda sama kamu mau papa usir juga. Biar kalian makin dekat dan kami mau bahas pernikahan kalian” ucap papa
“Rara aja belum setuju sudah mau bahas pernikahan aja” ucapku
“kamu gak bakalan nolak pasti”
“papa pd banget aku gak bakalan nolak”
“emang kamu mau nolak?” Tanya Rendra sambil tersenyum
“nah langsung ditanya calon nih” ejek mas Yuda
“ya… gak nolak, tapi kan Rara gak tau apa-apa disini. Tiba-tiba dijodohin sama cowok yang gak Rara kenal” jawabku
“kita kan sudah kenal tadi” ucap Rendra dengan santai
“hidupku akan susah di kelilingi cowok-cowok seperti ini setiap hari” ucapku sambil pergi dan duduk di meja lain Rendra juga ikut
“mau tau gak alasan mereke jodohin kita?” ucapnya setelah kami berdua duduk
“apa?”
“aku yang minta”
Aku hanya memberikan ekspresi bingung
“aku yang minta mereka untuk menjodohkan kamu dengan aku, saat aku melihat kamu lagi dua minggu yang lalu dan kebetulan orang tua kita saling kenal, jadi memudahkan aku untuk menjadikan kamu istriku” ucapnya dengan santai
“dua minggu yang lalu?”
“iya, saat di minimarket dekat rumah kamu”
Flashback (author POV)
“Ra, tolong mama beliin kecap manis sama minyak goreng di minimarket depan kompleks”
“ok ma”
Ratih pun segera pergi setelah menukar baju tidurnya dengan baju yang santai tapi layak untuk dipakai keluar ke minimarket. Saat sudah sampai di minimarket Ratih segera membeli pesanan mamanya dan menuju kasir, tapi saat di kasir Ratih melihat seorang pria berdebat dengan kasir karena barang yang pria itu beli tidak sesuai dengan nota yang di kasih oleh kasir.
“ini namanya korupsi mas, saya gak beli barang ini kenapa ada dalam nota”ucap pria tersebut
“mas paling hanya ngaku-ngaku aja, paling mas sudah memakannya dan datang kemari untuk minta ganti”balas kasir minimarket yang tidak mau mengalah
“ini baru jam berapa, saya baru keluar 10 detik gimana saya bisa habisin makanan itu dalam 10 detik”balas pria itu lagi
“mas… bisa… aja… kan membuang makanan itu” balas kasir minimarket dengan tergagap
“mas kalau tidak bersalah kenapa tergagap begitu” celetuk Ratih dari arah belakang
Sedangakan yang lain bisik-bisik setelah mendengar apa yang Ratih katakan.
“baiklah, saya ngaku salah. Saya sengaja memasukan barang yang bukan milik pelanggan agar saya bisa dapat uang lebih untuk pengobatan adik saya”
“gak begitu caranya mas, mas kan bisa kerja di dua tempat atau mencari pekerjaan lain yang gajinya lebih besar agar mas bisa beli obat untuk adik mas. Bukan dengan cara begini, obat yang mas beli bukan akan membuat adik mas sehat, tapi malah makin sakit karena uang dihasilkan bukan hasil yang halal” ucap Ratih dengan lantang
“nih hitung, jangan masukin barang lain. Nanti saya kasih lebih untuk mas beli obat adik mas” lanjut Ratih
Tepat di belakang Ratih berdiri seseorang yang melihat Ratih dengan kagum dan mengingat apa yang pernah terjadi saat dulu dia masih SMA di sini. Setelah Ratih membayar dan memberikan uang lebih ke kasir tersebut, Ratih berbalik untuk keluar. Saat itu lah pria tersebut mengenali Ratih dan segara membayar dan mengikuti Ratih.
‘kok ada yang ngikutin aku ya’ batin Ratih sambil waspada
Dia pun berjalan dengan cepat, untung rumahnya tidak begitu jauh dari minimarket. Diapun segera masuk dan menutup pintu.
Flashback off
“itu kamu? Yang ikutin aku ke rumah”
“iya, sorry kalau aku bikin kamu takut. Aku melihat kamu takut ingin rasanya menghampiri kamu, tapi kamu pasti akan lebih takut. Jadi aku hanya melihat kamu dan masuk ke rumahmu dari jauh”
“bagus lah kalau sadar sudah bikin orang takut” ucap Ratih cuek
“jangan cuek-cuek, nanti aku makin sayang” ucap Rendra
“anak muda jaman sekarang, manis di mulut aja” ucap Yuda dari meja sebelah kanan mereka
“iya, manis di mulut aja” sambung Elang dari meja sebelah kiri
“yang udah tua kenapa masih bujang lapuk aja?” Tanya Ratih gak mau kalah dari kakak-kakaknya
“mas udah mau married, tuh yang sebelah sana yang masih bujang lapuk” ucap Yuda gak mau kalah
“sorry ya, disini juga mau married” ucap Elang gak mau kalah tapi tanpa dia sadari Clara sedang tersipu malu karena ucapannya
“wow ada yang secara gak langsung lamar Clara nih di depan kami” ucap Ratih dengan nada mengoda Elang
“yah… keduluan deh. Padahal hari ini aku mau lamar Ratih dulu” ucap Rendra yang membantu Ratih mengoda Elang
“udah-udah kasian itu Clara merah banget mukanya” ucap Clarisa
“Ra, kamu maukan menikah dengan aku?” ucap Elang tiba-tiba
“…” Clara hanya diam sambil menatap Elang dengan tidak percaya
“kamu diam aku anggap iya” ucap Elang cepat
“eh, enak aja. Gua gak terima lo jadi kakak ipar” ucap Clarisa
“kalau gitu gua juga gak terima lo jadi kakak ipar gua” ucap Elang gak mau kalah
“kita pergi dari sini yuk? Gak enak di tengah-tengah meraka” ucap Ratih karena berada di antara mereka yang saling teriak
Rendra hanya berdiri dan menarik Ratih keluar dari restoran menuju ke taman restoran yang lebih tenang dan cocok untuk dia melamar Ratih.
“akhirnya tenang juga” ucap Ratih saat sudah duduk di kursi taman
“kamu masih kuliah?” Tanya Rendra
“semester 7, lagi skripsi aku”
“bentar lagi bisa married dong?”
“bisa, tapi aku mau tunggu kedua kakak ku married dulu baru aku married” ucap Ratih sambil menatap Rendra
“iya, kita tunggu mereka baru kita married” ucap Rendra sambil memeluk bahu Ratih
“tapi kalau orangtua kita sudah tentuin buat kita married duluan gimana?” Tanya Ratih
“kita tinggal bilang aja, jangan takut orang tua kita pasti mengerti” ucap Rendra santai
“aku mulai sekarang panggil kamu mas?”
“seharusnya, tapi kalau kamu blm terbiasa gpp pelan-pelan aja”
“SAIRENDRA, BERANINYA KAMU SELINGKUH DI BELAKANG AKU” teriak seorang cewek dari belakang kami
“HEI PELAKOR, LO GAK LAKU YA SAMPAI REBUT SUAMI ORANG” teriak cewek tersebut di depan muka Ratih
“kamu selesain masalah kamu dengan istri kamu” ucap Ratih dan langsung pergi dari sana
“RATIH TUNGGU, DIA BUKAN ISTRI AKU. DIA…” teriak Rendra dan berusaha mengejar
“NGAPAIN KAMU KEJAR PELAKOR ITU” teriak cewek itu
Ratih yang mendengar teriakan Rendra tidak perduli dan tetap berjalan tanpa menoleh langsung pergi dari restoran dan menuju kerumah yang selama ini dia desain secara sederhana di pinggiran kota. Rumah ini tempat Ratih datang saat Ratih sedang bersedih seperti sekarang, tidak ada yang tau lokasi rumah ini termasuk sahabat dan keluarganya. Ponsel Ratih sengaja di nonaktifkan agar siapapun tidak ada yang mencarinya, dia ingin menenangkan pikirannya.
Restoran
“astaga Sukma kamu keterlaluan, sekarang Ratih hilang dan gak bisa dihubungi sama sekali” ucap mama Rendra ke anak bungsunya
Yang tadi datang berteriak adalah adik Rendra, Sukma Adiwangsa. Rendra sangat marah dengan perbuatan adik semata-wayangnya itu, Rendra mendiamkannya dan sibuk menghubungi ponsel Ratih.
“maafkan Sukma bunda, Sukma gak tau bakalan seperti ini. Sukma hanya takut cewek itu merebut mas Rendra dari mbak Ratih, tapi ternyata yang tadi itu mbak Ratih” orang tua Rendra dan Sukma hanya bisa menghela nafas
“maafkan Sukma om, tante mas Yuda mas Elang. Sukma gak tau kalau tadi itu mbak Ratih, Sukma kira cewek-cewek yang hanya mau mengoda mas Rendra” kedua orangtua dan kakaknya Ratih hanya tersenyum
“mas Rendra Sukma minta maaf” ucap Sukma tapi Rendra mengabaikannya malah bertanya ke papanya Ratih
“om gak tau Ratih biasa dimana kalau begini?”
“putri om satu itu orangnya tertutup, dia lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri atau memendam semua perasaannya sendiri. Om sekeluarga gak tau dia dimana” ucap papa Ratih, Rendra berpaling ke kembar Clara dan Clarisa
“kalian juga gak tau?”
“kami juga gak tau, kami hanya tau dia sering kerumah yang dia desain sendiri di pinggiran kota dari hasil jerih payah dia menjual jasa menggambar di kampus” ucap Clara mewakili Clarisa
“kalian tau tempatnya?” Tanya Rendra, sedangakan kembar Clara dan Clarisa hanya menggeleng
Rendra pun kembali menelepon ponsel Ratih. Sedangkan Sukma semakin merasa bersalah atas perbuatannya, dia kembali meminta maaf ke Rendra tapi Rendra masih mengabaikan adiknya itu. Tidak lama ponsel Rendra berbunyi , membuat semua orang fokus pada Rendra.
~OTP~
“halo…”
“halo Ratih, kamu dimana?”
“besok aku akan share location disini, besok kamu jelasin dan kita selesaikan urusan kita. Boleh biarin aku sendiri?”
“bisa sekarang aja? Kamu dimana?”
“aku ditempat persembunyian ku, perjanjian besok”
”Ratih…”
“aku tau kamu belum pernah menikah, aku tau kamu bisa aku percaya, tapi untuk sekarang aku ingin sendiri”
“baiklah, boleh aku telepon kamu atau videocall nanti malam?”
“aku akan chat kamu nanti malam, kita videocall”
“baiklah, aku tunggu”
~OTP off~
“bagaimana?” Tanya papa Ratih
“kami akan bertemu besok” ucap Rendra
“dia baik-baik saja?” Tanya Yuda
“dia di rumah yang Clara dan Clarisa bilang sepertinya, dan dia minta waktu sendiri”
“yaudah kalau mau dia begitu, dia sudah dewasa. Kami percaya dengan dia” ucap papa Ratih sambil tersenyum
Semua kembali ke rumah masing-masing, sedangkan Rendra ke apartementnya. Dia masih belum bisa memaafkan adiknya sebelum Ratih tau apa yang sebernarnya terjadi. Sukma sedih karena kakaknya belum memaafkannya.
‘maafkan Sukma mas’ ucap Sukma dalam hati sambil melihat mobil Rendra pergi dari sana
“Sukma, kamu sabar ya. Mas Rendra hanya kesal sesaat, perempuan yang selama ini dia kejar malah salah paham karena ketakutan kamu. Besok mereka akan ketemu, Ratih itu orangnya selalu mendengarkan orang terlebih dahulu baru dia akan mengeluarkan pendapatnya. Jangan takut” ucap Clara
“terima kasih mbak” ucap Sukma sambil memeluk Clara
“kami pulang dulunya, mari om tante” pamit Clara Clarisa Yuda dan Elang
“kami juga mau pulang, jangan dipikirkan. Putri kami itu walaupun keras kepala dia tetap akan mendengarkan orang lain terlebih dahulu untuk mengambil kesimpulan” ucap papa Ratih dan berjalan kearah mobil diikuti istrinya
“maafkan putri kami Tio”
“no problem Wisnu, kami pulang duluan”
“hati-hati”
“kalian juga”
# ~malam hari~
Rendra gelisah di apartementnya, karena Ratih belum juga chat dia. Tidak lama ponsel Rendra berbunyi tanda ada yang telepon, dengan semangat di ambil ponselnya dan melihat nama Ratih disana.
“halo”
“hai” sapa Ratih yang berbaring
“kamu disana ada baju?” Tanya Rendra karena melihat baju Ratih sudah berubah
“ada, aku membeli beberapa baju keluar dan baju rumahan untuk ku letakan di sini”
“kata Clara kamu desain sendiri rumah itu?” Ratih hanya mengangguk
“jangan kasih tau yang lain besok kalau kamu kesini”
“aku akan pergi sendiri kesana, atau malam ini aku kesana aja buat nabung duluan”
“hahaha, gak boleh. Aku mau lihat mas Yuda dan mas Elang menikah dulu, kalau kamu nabung duluan kita yang married duluan”
“gpp, biar kamu jadi milik aku selalu dan selamanya”
“yang tadi adik kamu kan mas?” Tanya Ratih
“kamu kok tau?” wajah terkejut “kamu juga panggil aku mas” lanjut Rendra girang
“untuk kedepan aku juga harus manggil kamu mas, wajah kalian mirip mas. Aku hanya menebak aja dia adikmu”
“maafkan Sukma, dia takut aku direbut sama cewek lain”
“kamu sering cerita soal aku?” Tanya Ratih
“sering” dengan wajah malu-malu
“wajar aja dia bertindak seperti tadi, soalnya aku pernah seperti itu juga pada mas Elang” jujur Ratih
“kamu juga seperti itu?”
“dulu, pas mas Elang masih jaman kuliah. Dia sering pacaran dengan cewek-cewek yang mata duitan. Jadi aku sering menjadi pacar bohongan dan membuat pacar-pacarnya yang mata duitan itu malu di depan public”
Malam itu mereka saling cerita dan tidak sadar sudah jam 2 pagi. Rendra melihat Ratih yang sudah tertidur karena memenuhi permintaan Ratih yang menyuruh Rendra menyanyikan sebuah lagu untuknya.
“good night sayang” ucap Rendra dan mematikan videocall mereka, tapi belum sepenuhnya videocall tersebut mati Rendra mendengar Ratih berbicara 3 kata yang tidak Rendra percaya akan diucapkan Ratih “love you Sairendra” dan telepon pun full mati.
‘love you too sayang’ batin Rendra dan tidur
# ~pagi hari~
1 message received
Send location
Ingat jangan ajak atau kasih tau tempat ini
Jam 8 pagi Rendra bangun dan mengecek ponselnya dan membaca pesan yang diterimanya dari Ratih.
1 message sent
Iya, sayang
Aku akan pergi sendiri kesana
Kasih aku 15 menit siap-siap
Jam 8.15 Rendra sudah siap dan segera menuju ke mobilnya untuk pergi bertemu Ratih
# ~rumah Ratih~
Rendra sampai di depan sebuah rumah yang sederhana tapi menarik. Rendra menekan bel yang ada disana dan menunggu ada yang membukakan pintu. Dari intercom terdengar suara Ratih.
“masukan mobil mu mas ke garasi”
“ok”
Rendra kembali masuk ke mobil dan membawanya masuk setelah melihat pintu pagarnya terbuka sendiri.
‘ini rumah beneran dia yang desain sendiri? Sederhana tapi mewah dan menarik’ batin Rendra sambil membawa mobilnya sampai di depan garasi
Pintu garasi terbuka dan menampilkan Ratih dengan baju rumahannya yang cukup bisa dibilang bisa untuk keluar juga. Ratih memberi kode Rendra untuk memasukan mobilnya. Rendra keluar dari mobil dan menyapa Ratih.
“hai, rumah kamu sederhana tapi mewah dan menarik. Ini beneran kamu yang desain?”
“iya, aku jurusan arsitek mas” jalan masuk ke dalam rumah
“Ratih” panggil Rendra
“apa mas?” Ratih berbalik
“boleh?” Tanya Rendra sambil merentangkan kedua tangannya
“apa?” Tanya Ratih yang pura-pura tidak tau
“kamu jangan pura-pura gak tau” ucap Rendra sambil jalan mendekat
Ratih hanya tersenyum dan mendekat untuk membalas pelukan Rendra.
“mas sudah sarapan?” Tanya Ratih yang masih dalam pelukan Rendra
“belum, mas siap-siap langsung kesini tanpa sarapan”
“ayok kita sarapan dulu” ajak Ratih dan melepaskan pelukannya tapi dia mengandeng Rendra untuk masuk
“mas suka disini” saat sudah di meja makan menunggu Ratih menyiapkan sarapan mereka
“tempat ini hanya kita jadikan tempat rahasia kita mas, aku gak mau kita tinggal disini”
“iya mas tau, mas ada rumah yang masih tahap akhir pembangunan dan apartement yang cukup untuk kita berdua sebelum ada anak”
“terima kasih mas” ucap Ratih sambil menyiapkan sarapan untuk Rendra
“terima kasih buat apa?”
“buat semuanya”
“whatever you want, I’ll try to grant in” sambil memeluk Ratih dari belakang
Mereka melanjutkan sarapan mereka dan pada sore hari mereka pulang. Rendra mengantar Ratih kerumahnya untuk berbicara dengan Sukma. Sukma yang melihat Ratih tersenyum dengannya hanya bisa terisak, Ratih pun memeluk Sukma.
Enam bulan kemudian Ratih sudah lulus sidang, Rendra memberikan kejutan dengan melamar Ratih di kampusnya setelah Ratih lulus sidang, Ratih terharu dengan perbuatan Rendra dan menerima lamaran Rendra.
Tiga bulan kemudian Yuda dan Clarisa menikah, dua hari kemudian disusul kembarannya Elang dan Clara. Ratih tidak menyangka mereka akan menikah secepat ini tanpa proses pacaran, Elang dan Clara hanya berkomitmen tiga bulan setelah Clara lulus sidang, dia akan melamar Clara dan Elang berhasil melakukannya. Dia menceritakan masa lalunya yang sebenarnya sudah Clara ketahui dari Ratih, tapi Clara bersedia mendengar ulang semua ceritanya. Emang dasar sudah cinta, apapun akan dilakukan.
Satu bulan setelah kedua kakak Ratih menikah, giliran Ratih lagi yang menikah dan mereka tinggal di apartement Rendra selama rumah yang Rendra yang bangun masih dalam tahap akhir.
“I love you Ratih Ajeng Kusuma”
“I love you too Sairendra Adiwangsa”
# THE END