Seorang lelaki berumur sekitar 40 tahunan menangis meratap di depan pusara yang masih basah. Disampingnya ada seorang lelaki remaja dan gadis belia turut berwajah mendung dengan air mata yang setia mengalir di kedua pipi mereka.
Ketiga orang itu bersimpuh di tanah berwarna kemerahan tersebut, tak dipedulikan lagi pakaian mereka yang putih, kini sudah serupa tanah pula.
Raka, lelaki remaja yang berumur tujuh belas tahun dan Rara, gadis belia berumur lima belas tahun itu sudah lelah menangis meraung serta berteriak memaki dan menyalahkan si pria setengah baya yang merupakan ayah mereka itu atas kepergian ibu mereka untuk selamanya.
Rasa sesalpun menyeruak dalam diri Rama, karena menurut anak-anaknya, dialah penyebab istrinya pergi secepat itu. Rasa sesak memenuhi dadanya mengingat bagaimana terakhir kalinya sang istri meminta dibelikan sepeda motor untuk bepergian.
Rama tak menurutinya bukan karena tak punya uang, tapi karena dirinya yang terlalu perhitungan. Selama delapan belas tahun lebih mereka hidup bersama, menurutnya istrinya terlalu meminta ini dan itu, sedangkan dirinya terlalu memikirkan masa depan mereka.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan pemikiran kedua suami istri itu. Hanya saja, takdir mereka harus selesai disana dengan cara yang seperti itu.
Suatu hari, Rani meminta pada Rama untuk di belikan sepeda motor.
"Mas, belikan Mama motor dong, buat kemana-mana, buat antar jemput Rara sekolah sama les juga, biar nggak repot dan nggak telat kalau mau sekolah, juga lesnya,"
"Itu hanya bbuang-buang uang dan tenaga Mama saja nanti, kalau naik angkot kan Mama bisa duduk bersantai,"
"Ah, Papa ini bilang aja gak mau. Dasar pelit!"
"Papa bukan pelit, Ma. Tapi Papa lagi nabung buat beli mobil, biar kita bisa menikmati jalan-jalan keluarga dengan mengendarai mobil kita sendiri biar lebih hemat, daripada harus rental kan boros,"
"Dari dulu gitu terus alasan Papa, mobil itu mahal banget, Pa. mau sampai kapan? Mama nggak nglarang Papa buat nabung, tapi bukan berarti kita nggak menikmati hidup kita yang sekarang kan, Pa,"
Umur manusia nggak ada yang tau, Pa. Iya kalau nanti kita dikasih hidup sampai tua, nah, kalau enggak? Bener juga kita punya anak-anak untuk mewarisi harta kita, tapi apa iya Mama gak bisa ikut ngrasain seneng, ngrasain tabungan kita selama masih hidup? Sedangkan Papa mampu untuk melakukan hal itu,"
Penuturan panjang lebar dari sang istri membuat Rama sedikit tercenung, ia merenung semalaman disaat sang istri mulai bermimpi usai lelah dengan ceramahnya.
Memang benar apa yang istrinya katakan itu, selama ini, sang istri sudah mau di ajak hidup serba hemat, bahkan saat masih susah pun sang istri selalu setia menemani berjuang, hidup prihatin dengan apa adanya, bahkan ikut bekerja walau saat itu anak-anak nya masih kecil-kecil.
Rani tak pernah meminta ini itu waktu dulu karena tau kondisi sang suami dan keuangan mereka. Tapi sekarang hidup mereka sudah lebih baik dengan usaha mereka yang sudah maju. Tapi masih saja Rama perhitungan dengan kesemuanya. Bahkan untuk membeli skincare Rani saja, ia sangat pelit.
Ia selalu bilang jika Rani sudah sangat cantik walau tak memakai skincare. Alasan yang sangat menyebalkan di dengar, padahal ia sendiri juga suka jika melihat wanita di luar sana yang berwajah glowing.
Pagi harinya, Rani beraktifitas selerti biasa, wajahnya agak muram karena permintaannya pada sang suami di tolak lagi. Wanita itu memasak dan melakukan tugasnya dengan cepat dan terkesan terburu-buru.
Ia harus bekerja setelah itu untuk membeli segala keperluannya sendiri, seperti skincare, tas, sepatu, baju, bahkan jika ingin merasakan jajanan yang kekinian seperti yang selalu tetangganya pamerkan lewat sosmed.
Bukan dirinya iri dengan kehidupan orang lain, tapi sebagai orang yang dulu untuk makan saja ia harus berhemat, kini ia juga ingin sesekali mencicipi makanan enak. Memakai barang-barang yang walaupun tak harus branded, namun sedikit bagus.
Ia sebagai wanita dan manusia biasa juga mempunyai keinginan ini dan itu, apalagi kini dirinya merasa jika sebenarnya suaminya itu mampu untuk menyukupi kebutuhannya, hanya saja Rama dikalahkan oleh egonya untuk lebih dan lebih tidak pernah ada habisnya.
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk bekerja saja guna memenuhi kebutuhannya, selama ia masih diberi kesehatan dan umur, ia akan selalu berpijak pada kakinya sendiri, begitu fikirnya. Karena hanya diri kita sendirilah yang mampu kita andalkan.
Setiap pagi pekerjaannya sangat banyak, mulai dari memasak untuk keluarganya, menyiapkan keperluan suami dan anak-anaknya. Meski anaknya bukan balita lagi, bahkan sudah beranjak remaja, tapi Rani selalu melayani kedua anaknya selayaknya saat mereka masih kecil.
Dimata Rani, anak-anaknya selalu menjadi balita yang menggemaskan. Jika suami dan anak-anaknya menegurnya dan melarangnya melakukan hal-hal yang meladeni mereka.
Ia akan menjawab, "kalian itu titipan Allah yang harus Mama urus dan jaga sebaik mungkin, lagipula berapa lama sih kalian hidup sama Mama? Nanti kalau kalian sudah menikah, kalian akan sibuk dengan kehidupan keluarga kalian sendiri, dan Mama yang akan selalu merindukan momen-momen seperti ini nantinya,"
Betapa bangga dan bahagia anak-anaknya mendengar penuturan ibu mereka. Bahkan dalam hati mereka tanamkan janji, untuk bisa menjadi orang seperti apa yang ibunya harapkan, dan akan selalu membahagiakan serta membanggagakan ibunda tercinta mereka.
Tapi kini nasi sudah menjadi bubur, ibunda yang selalu menyayangi dan memanjakan mereka sudah lebih dulu di panggil oleh yang maha Kuasa. Bahkan sebelum mereka sempat membahagiakannya.
Begitu pula rasa sesal yang di rasakan sang suami, tak akan pernah mampu terobati, oleh lekangnya waktu sekalipun.
Sementara dari alam lain, tampak sesosok tertawa sinis melihat penyesalan lelaki yang masih setia bersimpuh di depan pusara basah itu.
Maka dari itu, bagi siapapun kalian yang masih diberi kesehatan..
Umur yang panjang,
Teruslah berusaha
Dan jangan lupa berdoa..
Serta jangan pernah kau sia-siakan orang yang kau sayang..
Jangan pernah kau abaikan kehadirannya, karena kau akan merasakan kehilangan jika dirinya sudah tak ada..
Dan rasa penyesalan akan selalu menghantuimu setelahnya..
Bayangan Ilusi