Kupandangi langit sore, warna biru perlahan menjadi kuning, jingga, hingga kemerah-merahan. Langit nampak murung seperti gelisah, membawa kabar tentang duka diiringi deraian air mata.
Batinku pilu, begitu satu-satunya kata yang dapatku gambarkan. Sudah hampir setahun Negeriku terserang ganasnya wabah, Virus Corona. Satu per satu sahabat pergi, satu per satu
lengkung bibir tak terlihat lagi, menumpuk rasa sedih dan benci. Saudarku pergilah dengan
tenang, hanya doa yang dapatku berikan bukan sembako maupun uang.
Kususuri jalan, menundukan kepala tanda putus asa, wajah murung semakin terlihat. Setiap hari kudengar ada yang mati, setiap hari kudengar ada yang terinfeksi, begitu menyedihkannya hidup ini. Di Rumah Saja! Kata-kata selogan yang sering terdengar di
televisi, kata-kata yang membuatku semakin depresi, ada apa dengan Negeriku ini?
Melihat Toko Serba Ada di pinggir jalan. Tanpa sadar aku sudah berada di depan pintu masuk, melangkahkan kakiku yang berat dan tak berdaya.
“Selamat datang!” ucap wanita muda. Menyambut pembeli di depan mesin kasir. Senyum lembut seorang Ibu menghiasi parasnya yang ayu, aku hanya mengangguk menanggapi senyumnya yang menyilaukan itu.
Aku berjalan melewati orang-orang yang begitu antusias dengan beberapa produk diskon. Mengambil sebotol kopi favoritku dari mesin pendingin di sudut ruangan. Setelah enam bulan berhenti bekerja yang diakibatkan virus rakus terus menerus bermunculan, fisik dan
batinku menjadi terasa begitu lelah. Pada awalnya aku tidak terlalu memikirkan hal ini, malahan aku berada dipihak yang ikut merasa senang bisa mendapat libur panjang serta terlepas dari aktifitas yang monoton itu.
“Ada lagi Mas?” tanya Pegawai cantik di depanku.
“Tolong satu Hand Sensitizer,” pintaku. Dengan suara pelan.
“Maaf, Mas! Hand Sensitizernya sudah habis,” jawab Pegawai cantik itu.
“Ya sudah gak papa Mbak.” Aku pun keluar bergegas pulang ke rumah.
Napas terasa berat, hangat, bau asap rokok menyengat, begitulah apa yang kurasakan setelah enam bulan terus memakai masker. Menurut anjuran Pemerintah, Masyarakat diharuskan
memakai masker ketika keluar dari rumah atau ketika sedang berada di tempat umum. Tapi bagaikan Anak berusia enam tahun yang keras kepala, bagaikan Remaja labil yang ingin memberontak, bagaikan orang Dewasa egois yang terlalu percaya diri. Masyarakat hanya mendengarkan tapi tidak mempraktikkan anjuran tersebut.
Glug, glug, glug! Tegukan terakhir dengan rasa yang sama.
“Plung!” Botol yang kulempar terjatuh di atas genangan air pinggir jalan.
Aku sudah terbiasa dan tak pernah merasa terganggu atas perbuatanku ini. Membuang sampah sembarangan itu tidak baik dan merupakan prilaku yang salah. Aku sadar akan fakta ini, tapi bagaikan kaki tersesat, lengan terikat dan mata tertutup kabut pekat, tak cukup membuatku tergerak untuk kembali mengambil botol kaleng kopi tersebut.
Jalan yang lebih bersih, tempat di mana biasanya botol pelastik berserakan tidak terlihat sedikit pun. Dengan 267 Juta jumlah Penduduk Indonesia, tentu masih ada orang yang peduli kebersihan akan indahnya negeri ini, meskipun sekarang aku ragu apakah jumlah itu masih akan tetap sama.Di situasi yang sekarang, tidak akan sulit untuk menemukan orang dengan ekspresi yang sama. Merasa resah, khawatir, stress, depresi, sedih, dan juga marah merupakan perasaan yang hampir bisa dijumpai dan dilihat pada raut wajah setiap orang.
Dikeluarkan dari pekerjaan, meninggalnya sahabat baik, terinfeksinya keluarga serta kata
putus dari pacar, yang membuatku selangkah lagi menuju pintu masuk dari apa yang kita sebut sebagai keputus asaan. Orang-orang saling menghibur satu sama lain atau hanya sekedar mengucapkan belasungkawa, seakan terangkatnya semua beban dipundak. Jujur, aku bosan. Semudah itukah luka-luka terobati? Cukup hanya dengan saling menyemangati. Justru wanita cantik penjaga kasir yang kutemui tadi membuatku sangat heran, dengan senyuman tak pernah lepas darinya.
Aku melihat anak kecil bertubuh dekil, membawa kantong plastik besarbahkan cukup untuk memasukkan dirinya sendiri ke dalam sana. Dia berhenti tepat di depan genangan air, mengambil botol yang baru saja kubuang. Bukannya memasukkan botol tersebut ke dalam kantong plastik yang dibawanya, dia justrumembersihkannya sembari berjalan ke arahku. Tanpa sepatah kata pun, dia menarik tanganku dengan paksa memberikan botol tersebut.
Dia menatap, berdiri di hadapanku dalam keheningan. Aku mengambil uang dari saku bajuku, meletakan tiga lembar uang sepuluh ribuan di atas telapak tangannya. Dia menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan sembari mengembalikan uang yang
telah kuberikan tadi. Tanpa sapaan, tanpa teguran, tanpa ucapan perpisahan, dia pergi menuju
arah berlawanan di mana tempat tujuanku berada.
Ah … Sial, dalam hatiku berteriak. Anak itu memegang tanganku, bukankah dia bisa saja menularkan virus barusan?
Aku segera berbalik menuju Toko Serba Ada, di sana terdapat tempat pencuci tangan yang bisa digunakan setiap orang. Saat aku mengantri untuk dapat mencuci tanganku, aku melihat
anak itu berhenti di tempat parkir depan toko. Di tempat kosong diantara padatnya kendaraan, tanpa menghiraukan tatapan disekitarnya, dia dengan tenang duduk seperti menunggu seseorang yang sangat penting.
“Oh, Anak itu selalu tepat waktu menunggu di sana!” Aku sedikit terperanjat manyadari keberadaannya. Seorang pria paruh baya berbicara kepadaku.
“Maaf, Bapak tahu anak itu siapa?” tanyaku padanya.
“Namanya Andi. Ibunya meninggal dua tahun lalu, disusul Ayahnya yang meninggal terinfeksi COVID-19 minggu lalu,” jelas Bapak di sampingku. Suara serta ekspresinya mengandung sejumlah besar kesedihan.
“Jadi dia tinggal sendirian sekarang?” Aku kembali bertanya padanya.
“Masih ada Kakak Perempuannya, mereka berdua hidup mandiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Sang Kakak yang bekerja sembari membesarkan Adiknya, disisi lain sang
Adik yang memungut sampah demi meringankan beban kakaknya. Hubungan yang sangat indah bukan?” Rasa bangga bercampur simpati terlihat pada raut wajahnya.
“Dia, Pegawai dengan senyuman lembut itu!” Aku hampir berteriak ketika melihat sosok wanita cantik yang kukenal menghampiri anak dekil itu.
“Bukan senyuman yang dipaksakan, bukan juga tuntutan pekerjaan, hanya senyum tulus yang keluar darinya,” kata Bapak di sampingku.
Senyuman tulus dalam keadaan sulit seperti itu. Apa wanita ini Malaikat yang sanggup dan selalu berbuat baik, atau justru dia adalah Iblis yang suka menggoda dan penuh tipu daya.
“Dia dapat tersenyum dengan tulus dikarenakan rasa Syukur atas kehidupan, rasa Cinta akan keluarga, serta rasa Sakit menerima keadaan,” Setelah mengatakannya, Bapak itu pergi
dengan keranjang belanjaan di tangannya.
Betapa Tegarnya Wanita ini, dia membuatku malu atas diriku sendiri yang hanya bisa menyalahkan keadaan dari ketidak berdayaanku. Kepalaku tertunduk haru, melangkahkan
kakiku yang berat dan tak berdaya menyusuri jalan pulang, menghiraukan tanganku yang bahkan masih belum tersentuh oleh air.
Kehilangan Ayah dan Ibu, bekerja sambil membesarkan Adiknya, di situasi sulit yang seakan tanpa harapan itu dia dapat tersenyum tulus kepada setiap orang. Memungut sampah, perbuatan yang selalu kupandang sebelah mata, tapi justru karena merekalah negeri ini
menjadi bersih dan terlihat indah.
Aku termenung menatap botol kaleng yang masih kugenggam. Aku mulai meras malu, marah, dan jijik pada diriku sendiri.
Aku merasa malu, marah, dan jijik pada diriku yang berputus asa akan keadaanku saat ini, atas bagaimana bahagianya orang lain. Aku merasa malu, marah, dan jijik pada diriku yang
menodai indahnya negeri ini hanya dengan sekaleng kopi.