Berawal dari di perkenalkan oleh seorang teman hingga berakhir dengan menjalin hubungan. Nama ku Alia dan sahabat baikku adalah Karina, kami bersahabat begitu baik, suka duka kami lalui bersama, hingga pada akhirnya dia memperkenalkan sepupunya padaku, semenjak hari itu, saat dia mempertemukan kami berdua, segala hal mulai berubah dalam hidup ku, hari-hari yang hanya diisi dengan cerita antar aku dan karina kini mulai tertulis cerita tentangnya disana, sebelumnya tidak lagi merasa dicintai kini rasa itu kembali hadir. Dari tatapannya, ku temukan sayangnya untukku, dari perlakuannya, ku temukan perhatiannya terhadapku dan dari ucapannya, ku lihat kesungguhannya untuk tidak menyakiti ku.
Pemuda yang bernama Abima kini telah menjadi kekasih hatiku, banyak hal yang perlahan kami lewati bersama dan banyak kisah yang perlahan mulai ia ceritakan tentang dirinya pada ku.
Terlahir ke dunia bersamaan dengan kepergian sang ibu untuk selamanya membuat ia bingung harus merayakan hari ulang tahunnya dengan tawa atau justru mengenang kepergian sang ibu dengan air mata. Namun begitu, hidupnya sama sekali tidak kekurangan kasih sayang sedikitpun. Sang ayah yang berakhir dengan menikahi sang adik ipar atau di sebut dengan istilah 'turun ranjang' hanya agar dia, bayi mungil yang diberi nama Abima bisa merasakan kasih sayang sang ibu.
Lalu kisah tentang sang abang yang bernama Aditia dan juga si bungsu yang bernama Amar. Kisah mudanya berakhir dengan satu kali percobaan untuk mendapatkan pekerjaan pada salah satu perusahaan besar di negeri kincir angin sana, namun gagal karena tidak bisa memenuhi target nilai yang sesuai dengan ketentuan yang ada.
Hingga ia memutuskan untuk kembali mencoba tahun depan saat lowongan kembali dibuka. Aku yang melihat semangat juangnya pun tak tinggal diam, ku berikan dia motivasi untuk terus berusaha, menemani masa-masa susahnya, menenangkan ia, saat ia mulai lelah dan ketakutan akan kembali gagal, terus mencoba menjadi sandaran terkuat agar ia semakin kokoh dan akhir cerita tidak ada perjuangan yang berakhir sia-sia, usahanya menciptakan keajaiban, pernah gagal namun waktu kembali memberi peluang, doa pun memberikan kekuatan.
Setelah lolos sebagai pegawai tetap, perlahan waktu kami mulai merenggang, ruang pun menjadi penghalang dalam hubungan kami. Masih teringat jelas kenangan hari itu, hari dimana dia menemui ku untuk berpamitan. Siang yang perlahan gelap, mendung beranjak menutupi sang awan dan rintik hujan pun mulai menyapa bumi. Sedangkan kami berdua masih duduk di taman kampus tempat ku melanjutkan pendidikan saat ini, kami terus terdiam satu sama lain.
"Apa ada masalah?" Tanya Alia lalu mencoba menatap sang kekasih yang duduk di hadapannya.
"Tidak ada..." Jawab Abima masih dengan pandangan yang hanya tertuju pada jemarinya yang saling bertautan.
"Jangan menanggungnya sendiri, aku tau ada beban di pikiran mu, apa itu? ceritakan pada ku? bukankah aku sudah mengatakannya berulang kali, kalau aku akan selalu menjadi pendengar yang baik untuk setiap masalah mu." Jelas Alia.
"Untuk beberapa waktu ke depan, kita akan LDR-an dulu, maafkan aku!" Pinta Abima dengan menitikkan air mata.
"Bukankah pekerjaan yang telah kamu dapatkan dengan susah payah memang sudah selayaknya kami jadikan sebagai prioritas? pergilah, dan aku akan menjaga hati ku di sini, kalau ada waktu beri aku kabar dan jika memungkinkan nantinya pulanglah sesekali, karena saat itu aku pasti akan sangat merindukan hadir mu." Jelas Alia mencoba untuk tetap tenang.
"Hmmmmmm." Angguk Abima.
"Kapan?"
"Besok, pagi."
"Hmmmm, jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat, jangan lupa baca Qur'an dan juga jangan lupakan aku."
"Lia, akan aku ingat semua pesan mu, maaf dan juga terima kasih untuk semua pengertiannya dan tolong tunggu aku, aku akan datang untuk melamar mu!" Jelas Abima kali ini dengan mata yang menatap dalam bola mata Alia yang mulai meneteskan air matanya.
Ingatan itu seakan masih begitu hangat bahkan hingga empat tahun lamanya. Selama ini kami hanya berhubungan lewat telpon, saling menanyakan kabar atau hanya sekedar bercanda tentang hal konyol dimasa lalu, dan terkadang hanya lewat chat kami berbagi kabar, aku paham dia tidak punya banyak waktu luang, aku mengerti saat ia hanya bisa menghubungi aku beberapa kali dalam satu pekan, dan aku sama sekali tidak masalah, aku ngerti, dan aku tidak ingin menjadi bebannya.
Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menagih janjinya, meminta kejelasan tentang hubungan ini, berharap ia memberikan sebuah keputusan namun ia masih saja memberi jawaban bahwa (Kita masih muda, tidak perlu terburu-buru menikah, tunggulah dulu.). Lalu berakhir dengan menghilang tanpa kabar, sudah sejak dari sebulan yang lalu ia tidak lagi menghubungi atau pun sekedar membalas chat dari ku, ia bagai menghilang begitu saja, meninggalkan aku bersama dengan janji-janji yang belum ia tepati sama sekali.
Aku masih tenang menunggu hingga bulan demi bulan mulai berlalu, dan nomor pun menghilang dari jangkauan. Seketika dunia ku roboh, pertahanan ku ambruk seketika, aku terluka berbalut kecewa.
Malam ini udara terasa menembus kulitku, dingin menyerang ke seluruh pori-pori ku, mata yang mulai sembab, pandangan yang meremang namun aku terus berjalan menuju meja kecil di sudut kamar ku, mengambil selembar kertas lalu mulai menuliskan sepucuk surat cinta untuk dirinya.
🍁🍁🍁
Wahai kamu, lelaki yang memegang tatah hati ku,
kenapa berakhir dengan memberikan luka?
kenapa pergi tanpa sepatah kata?
Begini kah akhir kisah kita? dimana salah ku? atau mungkin pertanyaannya yang harus aku ubah? apa disana kamu telah menemukan payung baru mu? sehingga kamu membuang payung lama mu begitu saja?
Kita yang tak berjodoh atau semesta yang sedang menghukum setia ku?
Kita yang tidak lagi bisa bersama atau ada rasa yang perlahan memudar berganti asa yang menyesakkan dada?
Jika pun kamu menggenggam payung baru mu di sana, setidaknya letakkan dulu payung lama mu ini di tempat semula, kenapa kamu porak-poranda kan tanpa kejelasan seperti ini?
Sekurang-kurangnya ucapkanlah salam perpisahan,
setidaknya aku tau kalau kamu masih hidup meski tidak lagi untuk diri ku.
Aku pun manusia, punya hati dan juga bisa menangis dan terluka, terima kasih untuk beberapa kisah yang telah kamu tulis dalam hidup ku.
Aku harap kamu juga merasakan rasa sesak ini, agar aku tidak bodoh karena selama ini salah menerka tentang perasaan mu terhadap ku.
🍁🍁🍁
Perlahan surat yang ku tulis lalu perlahan ku lipat ia dengan begitu rapi, aku harap, surat ini akan terbang menuju tujuan, memberikan kabar padanya bahkan disini aku terluka.
🍁Lissaju Liantie🍁