𝘒𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘪𝘬𝘶-𝘭𝘪𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘳𝘶𝘵. 𝘒𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘥𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘶𝘬𝘢. 𝘕𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘶 𝘢𝘳𝘢𝘩, 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨.
𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢. 𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘴, 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩. 𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢, 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘫𝘶𝘯𝘨 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯.
Aku biasa di panggil Putri, aku tak seberuntung mereka. Kehidupan yang kuinginkan sulit untuk jadi kenyataan. Serasa kehidupan bahagia itu masih jauh dari mata. Kedua orangtuaku pergi dahulu meninggalkan aku dan Putra adikku. Kecelakaan itu telah, merenggut nyawa kedua orangtuaku.
“Ma, Pa, kita mau kemana?”, tanyaku dingin
“cuma keluar makan aja kok sayang,”,
“Pa, awas!!!”, teriakku spontan
Seketika mobil yang kutumpangi menabrak pohon di seberang jalan, untuk menghindari truk yang tiba-tiba saja melaju cepat dari arah berlawanan. Aku langsung memeluk adikku yang tak berdaya keluar untuk menyelamatkan diri. Tanpa memikirkan kedua orangtuaku yang ada berada di depan.
“sssstttt, duuuuaaaarrrrr”
Suara itu yang tak pernah ku lupakan. Suara ledakan yang menenggelamkan kedua orang tuaku. Yang merenggut nyawa kedua orangtuaku, hingga ku menjadi seperti ini.
Memang aku dan Putra selamat dari kecelakaan maut itu. Namun jika aku bisa memilih aku pilih mati bersama kedua orangtuaku daripada menderita dalam ketidakpastian. Aku memang masih bisa hidup layak bersama Putra, di rumah yang kutempati dulu dengan Ayah dan Ibu. Namun gimana nanti, gimana setelah harta itu habis sedikit demi sedikit. Akulah yang harus menerimanya. Aku harus menghidupi Putra adikku. Walaupun kehidupan itu jauh dari kata layak.
Aku yang kini menempuh kuliah terpaksa DO untuk bisa fokus kerja menghidupi adikku, ya setidaknya uang yang kudapatkan cukup untuk biaya sekolah Rafa dan makan sehari-hari. Untuk kebutuhan lainnya aku masih menggunakan uang dari harta sepeninggalan orangtuaku, dan uang yang kusisihkan untuk persediaan nanti.
Akupun terpaksa meninggalkan kekasihku Rafa, karena aku takut jikalau nanti aku tak bisa membahagiakannya dengan kehidupanku yang sekarang.
“Rafa, ayo ikut aku kebelakang”,sapaku dengan menariknya
“ada apa?”,tanya Rafa penuh tanya
“aku ingn kita berhenti sampai disini, kau tak usah bertanya mengapa. Maafkan aku, aku tak bisa kasih alasan pasti. Tapi yang pasti semua untuk kebaikan kita. Percayalah”,seruku meyakinkannya.
Meski perasan sakit, untuk saat ini dibenakku hanya ada Rafa yang harus ku jaga sebagai teman hidupku yang memotivasiku untuk selalu berusaha.
Pekerjaan yang kujalani kini cukup memuaskan. Dengan dukungan adikku dan Rafa yang selalu ada membantuku, aku masih bisa bertahan dan terus melanjutkan hidup ini. Meski Rafa bukanlah kekasihku lagi, tapi aku cukup nyaman dengannya dengan status friend. Aku menjadi penulis di tabloid, dengan modal kuliahku tulis sastra yang juga memudahkan pekerjaanku saat ini, Sehingga bayangan ketidakpastian itu sedikit menghilang dari fikiranku.
~~~
Tiga tahun sudah kepergian orangtuaku. Tak terasa hidupku kini semakin hari semakin membaik. Akupun kembali lagi berhubungan dengan Rafa. Sebab masih banyak cinta yang kusimpan untuknya. Dan Putra adikku tak perlu lagi ikut memikirkan beban yang pernah kurasakan dulu.
“Put”, panggil Rafa menyambangiku
“iya, ada apa?”,
“hari ini kan kamu nggak kerja, gimana kalau kamu dan Putra ku ajak main keluar?”
“emm, boleh. Lagian semenjak kejadian itu, aku dan Putra tak pernah lagi mau jalan-jalan keluar”
Siang itu aku pergi bersama Rafa dan Putra, untuk sedikit merefreskan fikiran. Namun aku tak tau, bahwa hari ini adalah hari dimana maut akan merenggutku. Waktu itu aku yang duduk sendiri di bangku taman akan menghampiri Rafa dan Putra yang sedang asyik bermain di seberang jalan.
“Putri, ayo kesini!”, seru Rafa memanggil.
Aku pun berlari dengan cepatnya tanpa kusadari di ujung jalan terdapat truk yang akan menghempaskan tubuhku. Mendekat dan tubuhku tergeletak di jalan.
“Putriii”, Rafa menjerit memanggilku
Berlari menyambangiku, Rafa langsung mengangkat tubuhku dan membawaku ke rumah sakit. Dengan tak henti-hentinya Rafa memanggil-manggil namaku untuk terus bertahan.
Tepat di pintu masuk ruang ICU. Diletakkannya tubuhku di atas ranjang dorong. Dan dilarangnya Rafa untuk mengikutiku masuk keruang ICU. Detik, menit, jam telah berlalu. Penantian Rafa belum juga terjawab. Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia menjerit kesakitan? Aku yang seharusnya di dalam sana bukan dia!, hati Rafa merintih bersalah. Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruang ICU dengan berkata “kami telah melakukan yang terbaik, maaf nyawanya tidak tertolong lagi”. Rafa hanya bisa diam, terkapar lemas diambang pintu. Hati bagai tak terasa, kesakitan yang terlampaui besar karena rasa bersalah.
“Maafkan aku Putri, maaf, andai aku tak menyuruhmu tadi, andai ku tak memanggilmu tadi pasti semua ini tak kan pernah terjadi”, Omong kosong yang hanya terlontar dari mulut Rafa dihadapan Putri yang terbaring dengan wajah pucat tanpa gairah. Lalu dipeluknya, Rafa hanya bisa menangis dan berharap dia kan kembali.
Sore itu pula jasad Putri disemayamkan. Air mata berderai tak terbendung lagi oleh Rafa. Putra yang melihatnya pun tak kuasa menahan tangis. Bertahun-tahun Putra menjalani hidup hanya dengan kakaknya Putri, kini hari-harinya kan kelam oleh kenangan atas kehadirannya.
Putri semoga kau tenang di alam sana. Aku berharap kau selalu tersenyum. Yakinlah ku kan selalu merindukanmu. Putra akan ku jaga, dia akan tinggal bersamaku dan aku kan menyayanginya seperti kau menyayanginya. Seru Rafa diiringi isak tangis dihadapan nisan persemayaman Putri.
~Thanks for reading~