"Alif fathah A, Alif kasrah I, Alif dhammah U, A...I...U".
Suara anak kecil yang mengeja huruf hijaiyyah ini seperti nyanyian rinduku pada ibu. Dulu, ibu mengajariku ngaji sama seperti aku mengajari anak kecil ini. Ibu mengajariku Alif-alifan sampai benar-benar bisa membaca Al-Qur'an. Lidahku dulu masih kelu tidak bisa membedakan mana Alif, mana Ba', tapi ibu terus mengajariku.
"Nak, yang tegak ini namanya Alif. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu harus setegak huruf Alif! Sebesar apapun cobaan hidup yang menerpamu nanti, kamu harus tetap tegak jangan sampai goyah! Jadilah pemuda yang baik-baik, yang lurus selurus huruf Alif!" Terang ibu menunjuk huruf Alif.
"Yang ini apa bu?" Tanyaku.
"Nah, yang seperti perahu ini namanya Ba'. Manusia diibaratkan sebuah perahu, mau dibawa berlayar kemana perahu itu terserah manusianya. Tapi ingat! Allah akan mendatangkan badai untuk menguji keseimbangan perahu itu. Kalau kamu kuat, perahunya akan tetap seimbang. Tapi kalau kamu lemah, perahunya akan tenggelam. Kamu hanya perlu menjaga agar perahunya tetap seimbang!" Terang ibu menunjuk dadaku.
Kenangan 25 tahun yang lalu itu terhenti saat anak kecil menepuk tanganku. Kalau saja tanganku tidak ditepuk anak kecil ini, mungkin aku bisa melamun seharian. Anak kecil tadi sudah kembali ke barisannya bersama teman-temannya yang lain. Mereka membaca shalawat sambil menggeleng-gelengkan kepala sesuai iramanya. Satu persatu mereka menyalami tanganku lalu berhamburan ke arah pintu.
Dengan tawa kecil yang kusembunyikan, aku mengikuti langkah mereka sampai diluar pintu. Semua sudah dijemput orangtuanya, tinggallah aku sendiri bersama sepi. Kala menikmati sepi, hp-ku berbunyi. Aku mengusap layar dengan ibu jari dan menemukan sebuah nama tertera disana "Faliana Najati".
"Assalamu'alaikum, mas Alif. Besok Falin maen ke rumah mas ya? Falin pengen ketemu ibu. Soalnya pas lamaran kemaren, Falin lihat cuman bapak yang ngedampingin mas Alif, ibu kemana? Kenapa ibu enggak diajak datang? Falin pengen banget ketemu ibu, boleh ya? Mas, kira-kira ibu suka dibawain apa ya? Aku pengen ngebawain sesuatu buat ibu tapi bingung mau ngebawain apa?" Tanya Faliana.
Bicaranya yang tidak ada jeda menandakan bahwa Falin benar-benar ingin ketemu ibu. Aku mencari-cari alasan tapi tidak ketemu. Aku sempat ragu, tapi bagaimanapun Falin juga harus tahu.
"Lin, ibu suka bunga mawar, bawain ibu bunga mawar ya!" Pintaku cepat-cepat menutup telepon.
"Maaf Lin, aku terpaksa menutup telepon darimu" Batinku.
Sebenarnya aku masih ingin bicara dengan Faliana, tapi lagi-lagi hatiku menangis dan aku tak kuasa menenangkannya. Aku berjalan meninggalkan Faliana yang mungkin sedang bertanya-tanya disana. Tapi aku yakin Faliana mendengar tentang bunga mawar yang kupinta. Aku masuk ke dalam rumah, menjumpai bapak yang tengah khusyuk dalam shalatnya.
Kali ini, bapak sujudnya lama. Baru bangkit dari tempat sujudnya saat aku sudah berwudhu untuk shalat ashar disebelahnya. Baru akan mengangkat tangan saat Takbiratul Ihram, bapak bicara padaku: "Alif, kamu harus setegak huruf Alif! Tenangkan perasaanmu! Jangan biarkan goyah, tetap tegak! Kalau besok kamu jadi menemui ibu, sampaikan salam bapak untuk ibu!".
Aku kaget. Ya Allah, darimana bapak tahu? Aku langsung menangis dihadapan bapak, menumpahkan tangis diatas sajadahnya, dan bapak menenangkanku sambil meneruskan wiridnya.
***
Aku tak setegar bapak, aku memang Alif tapi aku tak setegak huruf Alif. Aku berusaha tenang saat melihat sebuah mobil sudah parkir di depan rumahku. Faliana turun dari mobil itu, ada bunga mawar di tangannya juga senyuman yang menghias di pipinya. Faliana datang untuk menemui kebahagiaannya, aku malah akan membawanya menemui kesedihannya.
Faliana mengucapkan salam, menyalami tangan bapak dengan sopannya, membuka obrolan singkat dan bicaranya juga singkat:
"Mas, ibu mana?"
Pertanyaannya barusan membuatku berfikir mencari alasan. Senyumnya masih semerekah mawar yang ia pegang. Tak mau senyumnya layu, aku buru-buru izin dan membawa Faliana keluar dari ruang tamu.
"Kok aku dibawa keluar? Aku kan baru ketemu bapak, belum ketemu ibu!" Herannya.
"Lin, ibu udah lama enggak tinggal serumah bareng bapak. Ibu tinggal di rumah satunya. Ayo kita ke rumah ibu!" Aku memberitahu Faliana.
"Mas, maaf! Aku bener-bener enggak tau. Maaf kalau kata-kataku kurang berkenan! Aku ke ruang tamu dulu, mau minta maaf ke bapak" Faliana memohon.
"Enggak usah Lin, bapak ngertiin kok" Aku mencegahnya.
Faliana menurut, ia berjalan mengikutiku dari belakang seperti sengaja menghitung langkahku. Jalan kita menjadi beriringan kemudian berhenti tepat di depan motorku.
"Lho mas, kita enggak naik mobil aja?"
"Lin, jalan rumah ibu itu enggak bisa dilewatin mobil, cuman bisa dilewatin motor".
Faliana mengiyakan, menaiki boncengan sedang aku membawanya pergi ke rumah ibu. Kami membelah jalanan, angin berhembus lumayan kencang seperti berusaha merontokkan bunga mawar dengan hembusannya, dan Faliana tidak akan membiarkannya. Dari kaca spion, aku melihat Faliana menghirup wangi mawar di tangannya yang sama dengan kebahagiannya, dan Faliana tengah menghirup semuanya.
Perjalanan ini terasa sangat menyenangkan walau ujung jalannya menyedihkan. Aku tidak tahu setelah ini Faliana akan bahagia atau tidak, yang aku tahu ia tengah bahagia bersamaku. Di boncenganku ini, Faliana bercerita kalau semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan ibu. Begitu inginnya ketemu ibu sampai-sampai ia rela dandan berjam-jam dari subuh sampai pagi menjelang.
Ia juga bercerita kalau bunga mawar terbaik adalah bunga yang langsung dipetik dari kebunnya. Maka pagi-pagi sekali Faliana pergi mencari bunga bukan pada tokonya tapi langsung di kebunnya, dan Faliana berhasil mendapatkannya. Sebelum ia melanjutkan bicara, aku harus memberi jeda pada ceritanya. Diberi jeda agar Faliana mengerti bahwa hidup ini tidak semuanya tentang kebahagiaan, tapi ada kesedihan yang bisa dirasakan.
Motorku berhenti tepat di sebuah rumah yang orang sebut sebagai "Rumah Terakhir". Aku sudah turun dari motor tapi Faliana sama sekali enggan menurunkan kakinya. Aku mendekatinya yang masih duduk di boncengan motor, dan aku melihat Faliana menyirami mawar dengan air matanya.
"Falin, kita sudah sampai di depan rumah ibu. Ayo turun! Katanya kamu mau ketemu ibu? Katanya kalau ketemu ibu maunya bahagia tapi kenapa malah nangis? Ayo, ibu pasti sudah enggak sabar nerima bunga mawarnya!" Aku membujuknya.
"Mas Alif, ini enggak bener kan? Ini bukan rumah ibu mas, kita salah alamat!" Tangis Faliana tak bersuara.
Setelah lama membujuknya, Faliana pun turun dari motor, aku membantu jalannya, dan kami berjalan menuju pusara ibu. Sesampainya di pusara ibu, aku mengucap salam:
"Assalamu'alaikum, bu ini Alif. Oya, kenalin bu ini calon istriku. Namanya Faliana, dia datang jauh-jauh buat ketemu ibu. Faliana ini seperti harakat yang menghidupkan huruf Alif, harakat yang menjadikan huruf Alif terbaca. Bu, restuin kami ya!" Sedihku mengusap batu nisan ibu.
"Salam kenal ya bu. Saya Faliana, harakatnya mas Alif" Sapa Faliana memberikan bunganya.
QUOTES ALIF: "Tidaklah berdosa orang-orang yang cinta dan rindu akan kekasihnya, karena dosanya hancur terbakar hati yang lara. Tolong sampaikan salamku untuk kekasihku nan cantik jelita. Katakan padanya bahwa aku rindu dan tetap miliknya. Rasa rindu akan kekasih membuatku resah dan gelisah, hingga badanku kurus kering laksana huruf alif tidak ber-harakat karena jauh darinya".