Malam ini adalah malam Helloween, dimana semua orang yang tengah merayakannya, mulai mempersiapkan kostum untuk dikenakannya dan tentu saja kostum yang mereka kenakan lebih banyak bertema horor dan salah satunya adalah gue sendiri.
"Malam ini gue in the geng bakal keluar untuk menikmati malam Helloween ini" ucapku sembari mengenakan kostum horor ku.
"Rin cepetan... kita udah nunggu lama nih" teriak sahabat ku yang tak lain Kiki.
***
Kamipun yang beranggotakan 5 orang, yaitu Gue, Kiki, Amel, Roby, dan Sam mulai mendatangi door to door untuk meminta permen. Saat itu juga aku melihat sosok bayangan dari balik pintu.
"Itu apaan yah?" batinku.
Bayangan itupun mulai melambaikan tangan kearahku.
"Hmm... pasti orang yang mau prank nih" jawab batinku lagi.
"Lo kenapa Rin?" tanya Kiki yang membuat ku tiba-tiba terkejut.
"Nggak... it's okay" jawabku.
Kami berlima pun akhirnya memutuskan untuk istirahat di sebuah taman karena merasa sangat lelah.
Tiba-tiba salah satu dari kami tidak sadarkan diri.
"Loh Amel kenapa nih?" ucapku.
"Mel nggak usah main main deh, gue capek ladenin lu sekarang" ucap Roby.
Kiki pun mendekati Amel.
"Eh... Amel beneran pingsan nih, gimana dong?" ucap Kiki dan mulai panik.
"Kalian berdua pasti bersekongkol kan buat ngerjain kita bertiga" ucap Sam.
"Udah deh Mel... bangun nggak usah acting" cetus ku.
"Guys Amel beneran pingsan... gue nggak boong, serius. Kalau nggak percaya kalian cek sendiri" ucap Kiki dengan raut wajah yang serius.
Karena merasa nggak percaya, gue langsung mengecek keadaan Amel, dan benar adanya Amel kini tak sadarkan diri.
"Wihh... beneran guys" ucapku yang juga mulai merasakan keringat dingin.
"Cari cara buat bangunin Amel sekarang" ucap Kiki.
"Gimana caranya?" tanya Roby.
"Kasi aja nafas buatan pasti ampuh tuh kayak di film atau drakorkah itu...intinya itulah" jawabku
"Gue nggak bisa, nggak berani gue Rin" ucap Sam.
"Apalagi gue" balas Roby.
"Coba aja buat nampar dia dulu" ucapku.
"Lu gila yah, anak orang nih. Masa main pukul aja lu" balas Roby.
"Ya udah kalau gitu lu ngasi nafas buatan, cepetan gih" ucapku sambil mendorong Roby.
"Nggak mau... gue nggak mau. Sam ajalah" ucap Roby sambil menunjuk Sam.
"Bisa nggak sih kalian nggak debat dulu. Ini tu urgent tau nggak" cetus Kiki.
"Kalau gitu coba aja siram pake air, kali aja manjur" ucapku.
"Ya udah, gue pergi dulu buat beli air sekalian buat minum juga" ucap Kiki dan pergi.
Tak lama kemudian, tanpa angin tanpa hujan Amel pun bangkit dan menatap dingin kearah Ririn, Roby dan Sam.
"Akhirnya lu sadar juga, hampir aja kita ninggalin lu disini" ucap Roby sambil tertawa.
Tanpa sepatah kata Amel pun tiba-tiba mencekik Roby.
"Eh Mel lepasin Roby, dia itu tadinya cuman bercanda doang" ucapku sembari mencoba membantu melepaskan tangan Amel dari leher Roby.
Semakin gue dan Sam mencoba untuk menolong Roby, semakin kuat kekuatan Amel. Bahkan membuat kita berdua kewalahan hingga terjungkal.
Amel kemudian mendorong Roby dengan kerasnya.
"Wih Mel, sejak kapan lu punya kekuatan super kayak gini?" ucap Sam.
Tak lama kemudian Kiki pun datang dan terkejut melihat ke arah Amel. Kedua bola mata Amel menjadi hitam.
Setelah menyerang Roby, kini Amel berbalik menyerang kita bertiga. Bahkan Amel mencungkil kedua bola mata Sam sambil berkata
"Permen... aku dapat permen" ucap Amel dengan girangnya.
"Eh Mel... sejak kapan tuh bola mata jadi permen, sadar Mel sadar" teriakku.
Mendengar ucapan dari mulut manis gue ini, Amel pun berbalik dan mulai menyerang ku, namun untungnya Kiki menghalangi Amel sehingga Kiki menjadi korban berikutnya.
Kiki dijambak hingga ia merintih kesakitan. Melihat hal tersebut, dengan berani gue melompat dan menarik kaki Amel. Anehnya Amel tetap berdiri kokoh sedangkan gue lagi lagi terjungkal.
Karena rasa sakit yang begitu luar biasa yang dirasakan oleh ketiga sahabat ku itu, akhirnya kini mereka tidak sadarkan diri.
Kini tinggal Gue dan Amel.
Amel tersenyum psycho ke arahku, hal itupun membuat ku merinding. Amel pun mulai berjalan kearahku.
"Mel udah dong... gue nyerah" ucapku sambil ketakutan.
Lagi-lagi Amel hanya tersenyum psycho.
Saat Amel ingin mencekik leher imut gue ini, gue pun dengan sigap menonjok Amel dengan seluruh kekuatan.
"Kan gue udah bilang nyerah, tapi lu masih maju juga sih. Kena tonjok kan lu" ucapku.
Tiba-tiba wajah Amel berubah. Wajahnya penuh dengan noda darah.
"Lu bukan Amel sahabat gue, lu siapa? ngaku nggak" ucapku sambil melangkah mundur.
Amel pun mulai kembali berjalan kearahku.
"Who_?"
Perkataan gue belum selesai akibat Amel kini mulai mencekikku.
"Sumpah... gue nggak mau mati kayak gini, nggak ada keren kerennya" batinku.
***
Keesokan harinya kini di setiap jalan, poster poster wajah kami berempat tertempel dengan kata "missing". Kami berempat dinyatakan menghilang kecuali Amel.
Malam itu siapakah sosok tersebut? Apakah Amel yang kerasukan atau sosok yang menyerupai Amel?
Kalau penasaran silahkan di koment dan beri tap lope - lopenya yah.
Dan terimakasih banget loh karena udah di baca... makin lope lope aku sama kalian🌹