Kini malam telah berganti pagi. Sang Surya menyapa Alrice dengan kehangatannya, yang menembus jendela kamar gadis itu.
Alrice terbangun dari tidurnya, ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela, membuka jendela yang berada di kamarnya menyambut pagi.
"Selamat pagi dunia." Ucapnya
setelahnya Alrice pergi merapikan tempat tidurnya itu. Setelah selesai ia mandi. Ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, serta sarapan bersama keluarga di ruang makan.
"Selamat pagi Mah, Pah." Ucap Alrice kepada orang tuanya, dari ambang pintu ruang makan, dan berjalan masuk ruang makan.
"Selamat pagi juga sayang." Ujar kedua orang tua Alrice bersamaan.
"Mah apa menu sarapan hari ini?." Tanya Alrice sambil berjalan menuju sebuah kursi kosong yang berbeda di ruang makan.
"Seperti biasa, menu sarapan pagi kesukaan mu." Jawab Ibu Alrice.
"Oh... oke mah." Ujar Alrice kepada Ibunya, lalu memakan makanan yang berada di atas meja.
Beberapa saat kemudian Alrice teleh selesai dengan sarapannya. Ia berpamitan untuk pergi ke sekolah dengan keduanya orang tuanya.
Tak lama kemudian kini Alrice telah sampai di sekolahnya, ia langsung memasuki gerbang sekolah dan pergi ke kelasnya. Alrice masuk kedalam kelasnya, ia menaruh tasnya di bangku tempat duduknya, dan mendekat pada teman-temannya.
"Pagi guys." Sapa Alrice.
"Pagi juga." Ujar teman-teman Alrice bersamaan.
"Kalian sedang bahas apa?
." Tanya Alrice penasaran.
"Kami sedang membahas itu loh." Kode Althea.
"Oh.." Ujar Alrice mengecilkan suaranya.
"Jadi bagaimana?." Tanya Alrice.
"Ya seperti itu kau juga tau sendiri lah." Jawab Aldery.
"Hais begitu bagaimana?." Tanya Alrice lagi.
"Seperti bisa." Jawab Althea singkat.
"Kalian i...."
Kring....Kring....kring....
Suara bunyi bell sekolah yang menandakan bahwa pembelajaran akan segera dimulai.
"Hais... belum juga aku selesai berbicara sudah di potong oleh bell saja, sudahlah kita akan lanjutkan membahas ini nanti." Ucap Alrice.
Ia dan lainnya segera menuju tempat duduk masing-masing, dan mempersiapkan diri untuk menerima pembelajaran yang akan di berikan bapak atau ibu guru hari ini.
Tak terasa sudah kurang lebih 2 hingga 3 jam berlalu, pembelajaran masih berjalan dengan lancar seperti biasa.
"Huh kapan waktu istirahat akan tiba?, jika terus-menerus seperti ini aku merasa sangat bosan sekali." Batin Alrice menggerutu.
Gadis itu memainkan bolpoinnya sembari sambil mendengarkan penjelasan ibu dengan seksama, serta ia juga menyalin beberapa tulisan Catatan yang tertulis di papan tulis ke dalam bukunya.
Tak lama bell istirahat pun berbunyi.
"Yes ahkirnya." Batin Alrice.
"Baiklah, karena bel sudah berbunyi kalian boleh istirahat." Ucap guru yang sedang mengajar, lalu pergi ninggalkan kelas.
Sesaat setalah guru tersebut meninggalkan kelas mereka. Siswa siswi berbondong-bondong pergi dari kelas mereka menuju kantin, untuk mengisi perut mereka.
Dikelas tinggal 3 orang siswi di dalam kelas, mereka ber-3 pun berkumpul.
"Ayo makan bareng." Ajak Alrice.
"Eh...tapi, maaf aku lupa bawa bekal hari ini." Ucap Aldery merasa bersalah
"Tapi bawa uang kan?." Tanya Althea pada Aldery.
"Kalau itu pasti bawa dong." Jawab Aldery.
"Yaudah yok makan di kantin." Ajak Alrice pada teman-temannya.
"Tapi..." Ucap Althea.
"Udah tenang aja kan ada kita, pura-pura gk lihat aja." Ucap Alrice yang mengerti maksud dari tamannya.
"yaudah deh." Ucap Althea pasrah.
Ahkirnya mereka ber-3 pergi ke kantin untuk mengisi perut.
"Apakah kau bisa melihat ku?." Ucap seorang gadis pada Althea dan Alrice.
Alrice yang berada di tengah-tengah mereka, langsung menggandeng erat tangan temannya, untuk segera pergi dari sana.
"Jawab!!." Ucap gadis itu kesal, karena keberadaannya mereka di abaikan.
Namun lagi-lagi Alrice melakukan hal yang sama, namun kalik ini ia lebih erat menggenggam tangan teman-temannya. Hal yang sama terus berulang hingga mereka sampai di kantin.
"Huh." batin ke-3nya merasa lega.
"Yaudah yuk beli, keburu istirahatnya udah selesai." Ajak Aldery.
"Yuk." Ucap Alrice dan Althea kompak.
Ahkirnya mereka pergi membeli makanan untuk mengisi perut mereka. Setelah membeli makanan merekapun memakannya. Beberapa saat kemudian ahkirnya mereka selesai makan dan bergegas kembali ke kelas mereka sebelum bell berbunyi.
"Akh!!!." Teriak seorang gadis.
"Apa itu kenapa ramai sekali?, dan mengapa ada yang berteriak-teriak seperti kesurupan?." Tanya Aldery.
"Sttt, siapa tahu itu anak kelas sebelah yang sedang belajar main drama, karena besok ada ada penilaian drama." jawab Alrice.
"Iya tau tuh, bikin aku merinding saja." Ucap Althea.
"Eh tapi kalau lagi belajar main drama kan gk mungkin sampai terik-terik begitu, aku juga lihat di situ samar-samar ada aura hitam balas dendam." Balas Aldery.
"Ya udah deh, dari pada debat gini kita lihat aja." ucap Alrice.
Ahkirnya pun mereka pergi mendekati kerumunan untuk melihat. Alangkah terkejutnya mereka dengan apa yang mereka lihat.
"Kan bener." Ucap Aldery.
"Iya deh, jadi gimana kita tolong tidak?." Tanya Althea dengan sedikit gemetar karena takut.
"Umm gk ah, lebih baik kita pergi aja dari sini, disini banyak orang. Bisa-bisa mereka tau kelebihan kita dan akan memanfaatkan kita nantinya, lagi pula sudah ada orang yang mengurus gadis itu, jadi kita tak perlu untuk ikut campur." Jawab Alrice.
"Tapi kan Al.."
"Udah yuk kita kembali ke kelas saja." Potong Alrice.
Sebenarnya pada hati terdalam Alrice. Ia ingin menolong gadis itu, namun beberapa alasan mendesaknya untuk tidak ikut campur.
Ahkirnya dengan pasrah merekapun kembali ke kelas mereka.Tak lama bell masuk berbunyi. Ketiganya kembali ketempat duduk mereka dengan tenang seolah tak terjadi apapun. Tak lupa mereka juga menyiapkan buku-bukunya untuk menerima pelajaran.
"Akh... jangan ku mohon jangan." Pinta seorang gadis pada pemuda di depannya.
"Jika aku tak bisa memiliki mu, maka orang lain juga tak boleh." Ucap pemuda tersebut.
"Tapi aku tak mencintaimu, tolong jangan paksa aku, aku mohon." Ucap gadis tersebut.
"Baiklah jika kau lebih memilih untuk mati maka akan aku kabulkan." Ujar si pemuda.
Pemuda tersebut langsung saja menusuk jantung gadis yang ia cintai menggunakan,sebuah gunting yang berada ditangannya, tanpa mendengarkan kata-kata dari gadis yang ia cintai.
"Aaaa!!" Teriak Alrice.
"Alrice!, kenapa berteriak?." Tanya guru yang sedang mengajar.
"Ti-tidak ada, maaf." Ucap Alrice meminta maaf pada guru tersebut.
"Yasudah silahkan kembali duduk." Perintah guru tersebut, dan segera di patuhi oleh Alrice.
"Pelajaran kembali di lanjutkan." Ucap guru tersebut, kembali melanjutkan pembelajaran.
"Lagi-lagi mimpi yang sama, tapi tetap saja mengerikan, dan bagaimana aku bisa ketiduran lagi. Ah... sudahlah nanti pulang sekolah aku akan menyelesaikannya sendiri." Bayinya.
Setelah beberapa jam belajar, akhir waktunya untuk pulang.
"Althea,Aldery." Ucap Alrice.
Refleks ke-duanya langsung mengengok ke arah sumber suara yang memanggil mereka, dan menghampiri Alrice.
"Kenapa?." Tanya ke-duanya kompak.
"Aku barusan mimpi itu lagi." Jawab Alrice.
"Kan sudah aku bilang ayo selesaikan hantu itu, agar dia tak mengganggu mu dan yang lainnya lagi, tapi kamu tak percaya." Ucap Aldery. dengan kesal.
"Iya iya maaf, yaudah yuk tuntasin." Ajak Alrice.
"Gk ah kamu aja, aku males, aku mau pulang aja capek." Ucap Aldery dengan masih kesal.
"Ayolah, aku kan juga udah minta maaf, apa kamu gk mau maafin aku?." Tanya Alrice.
"Tak peduli, aku kesal pada mu." Jawab Aldery kesal.
"Yaudah terserah kamu aja, sana pergi aja." Ucap Alrice yang sudah terpancing emosi.
"Eh.. kalian kok malah berantem sih, udah jangan berantem dong." Ucap Althea yang menengahi pertengkaran di antara mereka.
"Yaudah deh yuk." Ucap Alrice mengalah.
ahkirnya kegiatannya pergi ke tempat dan menyelesaikan masalahnya hingga tuntas ke akar-akarnya. Hingga tak ada lagi hal-hal seperti itu di sekolah mereka.