Sinar mentari menyilaukan mataku membuatku terbangun dari tidurku. Aku bergegas menuju kamar mandi, air yang dingin membuat tubuhku menggigil, tapi sinar mentari menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Sarapan pagi buatan ibuku yang lezat membuatku tidak sabar untuk pergi ke sekolah.
Pagi hari yang cerah mentari menampakkan senyum terindahnya seakan mengajak semua orang untuk ikut tersenyum bersamanya menyambut hari baru dengan semangat baru. Kulihat dedaunan yang melambai-lambai karena tertiup angin pagi. Oh, sungguh pemandangan pagi yang amat indah.
Namaku Disa. Aku duduk di kelas sembilan. Bisa dibilang aku itu anak yang nakal dan selalu jahil kepada teman-temanku. Jika aku tidak akrab dengan seseorang pasti aku tidak berani menjahilinya dan mengajaknya bicara.
Pagi ini aku berangkat sekolah dengan wajah berseri-seri sembari menikmati segarnya udara di pagi hari. Aku sangat senang sekali karena setelah dua minggu liburan semester akhirnya aku kembali belajar ke sekolah. Aku tidak sabar bertemu teman-temanku. Aku tidak sabar bermain dan bercanda kembali bersama teman-temanku.
Ku berjalan melewati jalan raya yang penuh dengan kendaraan yang lalu lalang. Karena ini masih pagi, pengendara masih mengendarai kendaraannya pelan-pelan, mungkin mereka berpikir mereka tidak akan terlambat. Kulihat angkutan umum berjajar rapi menunggu penumpang. Para siswa yang biasa menjadi penumpangnya.
Dari sekolah aku mendapat banyak sekali pengalaman baru. Di kelas aku mempunyai banyak teman bermain dan bercanda. Dari dulu aku selalu mengharap teman yang banyak. Bukan sekedar teman yang banyak tetapi juga baik dan peduli padaku. Guru-guru yang mengajar di kelasku sangatlah tegas dan disiplin.
Akupun terkadang juga ketakutan saat guru memberi nasehat dengan tegas. Aku terkadang merasa mereka seperti marah marah bukan memberi nasehat. Tetapi tujuan guruku baik, mereka ingin merubah sikap dan kepribadian burukku dan teman-teman.
Sesampaiku di sekolah aku segera menuju kelas. Saat aku tiba di kelas suasananya sangat hening, tidak biasa-biasanya kelasku hening. Biasanya kelasku selalu ramai. Aku merasakan banyak keanehan teman-temanku biasanya berkumpul sambil bercakap-cakap di depan kelas tetapi tidak ada satupun yang di luar kelas semuanya di dalam kelas padahal bel masuk belum berbunyi.
Kulihat tatapan mereka kosong, mereka menatap pada satu titik yaitu lemari yang ada di depan. Aku jadi merinding sebenarnya ada apa? Aku ingin menanyai salah satu temanku tetapi aku tidak berani. Bel masuk berbunyi, guru segera memasuki kelas dan pelajaran akan segera dimulai.
“Berdoa mulai. Selesai, beri salam,” komando dari ketua kelas.
“Selamat Pagi,” ucap anak-anak sekelas.
“Selamat Pagi. Buka buku kalian pelajaran akan dimulai."
Suasana benar-benar hening. Kemudian aku memberanikan diri menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman sebangkuku, Rahayu namanya.
“Yu, ada apa sih? Kau menatap apa? Dan kenapa suasananya hening? Kamu 'kan biasanya cerewet, kok diem gini? Yu?" tanyaku pada Rahayu.
Tapi dia diam membatu tanpa memperdulikanku. Ia tetap saja fokus pada titik itu tanpa mengalihkan pandangannya. Aku pun hanya bisa terdiam dan kembali memperhatikan pelajaran.
Sepulang dari sekolah ibu menanyaiku.
"Bagaimana sekolahnya? Menyenangkan?" tanya ibu padaku.
“Biasa saja,” jawabku dengan muka datar.
“Kenapa? Ada masalah? Kalau ada cerita aja sama ibu,” kata ibu.
Ibu sangat peduli padaku, jika aku ada masalah ibu selalu membantuku menyelesaikannya.
“Nggak ada masalah,” kataku sembari meninggalkan ibu menuju kamarku.
Di dalam kamarku aku berpikir tentang kejadian tadi sembari merenungkannya.
“Palingan mereka semua cuma gak semangat karena kurang tidur. Ah, gak usah terlalu pikirkan, ” pikirku dengan wajah berseri-seri bagai mentari yang muncul setelah hujan.
Pikiranku melayang kemana-mana karena masalah yang kuhadapi. Hari demi hari kulalui dengan senyuman palsuku. Sudah dua bulan berganti, tapi belum ada perkembangan dari teman-temanku. Mereka tetap sama seperti awal semester dua.
Senin pagi aku berangkat sekolah seperti biasa, tetapi aku agak terlambat hari ini. Aku segera memasuki kelas. Saat memasuki kelas saking heningnya suasana kelas menjadi mencengkam.
Teman-temanku masih bersikap aneh, mereka masih terus menatapi lemari di depan kelas, aku pun mencoba menyapa mereka.
“Hai,” sapaku.
Kemudian mereka beralih menatapku dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Jantung berdetak kencang sekali. Karena ketakutan aku segera menuju tempat dudukku. Aku mengalihkan perhatian dan pikiranku dari mereka semua
Pembina pramuka dan PG datang ke kelasku, mereka mengumumkan bahwa akan diadakan persami untuk kelas 9, yang dilaksanakan besok sabtu. Teman sekelasku tidak senang juga tidak sedih, reaksi mereka datar. Sang pembina pramuka dan PG pun kebingungan dibuatnya.
Di rumah aku mengadu pada ibu tentang kejadian.
"Bu, tadi di sekolah teman-temanku aneh semua, sudah dua bulan ini aku merasa dimusuhi teman sekelasku atau lebih tepatnya dikucilkan, semuanya dingin padaku,” kataku pada ibu dengan mata yang berlinang air mata.
"Sabar saja, ini hanya sebagian kecil dari cobaan yang Tuhan berikan padamu. Hadapi saja dengan hati sekuat baja dan jangan pernah putus asa,” nasehat ibu padaku.
"Ibu cuma ngomong enak, tapikan ibu nggak ngrasain apa yang aku rasain,” aku berlari menuju kamar meninggalkan ibu.
Air mataku mulai membasahi pipiku.
“Oh iya, aku lupa bilang ke ibu soal persami,” ujarku.
Aku segera menghapus air mataku dan menyampaikan pesan dari pembina pramuka kepada ibu.
Malam hari, entah mengapa mataku tak bisa terpenjam. Di keheningan malam, aku menangis tersedu-sedu memikirkan apa yang terjadi tadi di sekolah, tembok yang membisu menjadi saksi kekecewaan, amarah dan kesedihanku, tapi dia hanya diam tanpa berkata satu patah katapun.
“Mereka benar-benar jahat, jahat, jahat,” amarah dalam hatiku. Amarah dan kekecewaanku melebur menjadi satu. Hal itu benar-benar tekanan untukku, sampai-sampai aku merasa tidak betah hidup lebih lama lagi, serasa ingin mengakhiri ini dengan jalan pintas.
Pagi ini kulihat lagi sang surya yang muram karena sinarnya tertutup awan. Ditambah lagi cuaca yang benar-benar tidak bersahabat. Ku berjalan menuju tempat dimana angkutan umum menunggu penumpangnya kulihat semua orang pucat dan lesu, mereka terlihat tidak besemangat. Hari ini awan benar-benar menutupi seluruh langit dan tak membiarkan sinar sang surya menembusnya.
Aku mulai mengalami hal aneh seperti bukuku yang tiba-tiba hilang dan kutemukan di laci meja guru, dan permen karet yang sengaja ditaruh di kursiku. Aku benar-benar kesal sekali.
Hari yang direncanakan untuk kegiatan persami pun tiba. Aku berangkat ke sekolah di antar oleh ibu. Barang bawaanku untuk keperluan persami cukup banyak.
Sebelum menyiapkan tempat untuk tidur nanti malam, semua siswa dikumpulkan di lapangan untuk melaksanakan upacara pembukaan dan pembagian tempat untuk tidur. Kebetulan kelasku bersama kelas A. Aku dan teman perempuan sekelasku menyiapkan tikar untuk tidur. Setelah selesai kami segera menuju ke lapangan untuk kegiatan selanjutnya.
Hari sudah mulai gelap. Saatnya isoma (istirahat solat makan).
"Hmm, sepertinya ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba gelap? Ah, mungkin mendung,” kata sembari menuju ke kantin.
Di kantin aku melihat teman sekelasku menatap tajam padaku. Karena takut aku memalingkan wajahku dari mereka semua. Aku berjalan lurus terus tanpa tahu arah tujuanku karena ketakutan. Tiba-tiba langkahku terhenti, aku tidak bisa bergerak karena saking takutnya.
Teman-temanku di depanku, mungkin karena itu aku ketakutan. Aku ketakutan seperti aku pernah berbuat salah pada mereka. Tapi tatapan mereka benar-benar membuatku ketakutan, jantungku berdetak kencang. Lalu aku menenangkan hati dan pikiran, kemudian menyapa mereka.
“Hai,” sapaku.
Mereka semua membisu dan langsung meninggalkanku. Aku mulai keheranan apa yang terjadi sebenarnya? Lagi lagi pertanyaan itu yang muncul di benakku.
Tidak mereka tidak meninggalkanku tapi mereka memancingku ke tempat yang sepi.
“Apa yang akan mereka lakukan?” hatiku mulai gelisah.
Karena ketakutan aku segera berlari meninggalkan mereka tetapi mereka tidak membiarkanku pergi mereka malah mencegatku.
"Ada apa sih?” tanyaku. Mereka tidak langsung menjawab. Mereka berjalan mendekatiku. Tubuhku makin gemetar ketakutan.
Tanpa memperdulikan siapapun aku segera lari meninggalkan mereka, walaupun aku tidak sengaja menabrak temanku.
Aku berlari sekencang mungkin, tanpa sadar ternyata aku menuju ke belakang sekolah. Tempat itu sangat sepi. Aku kian ketakutan dibuatnya. Saat aku tanpa kusadari ternyata temanku sudah ada dibelakangku. Aku segera kembali berlari.
“Aku harus kemana? Harus kesini? Bukan! Kesini? Bukan juga! Aku harus kemana?” Aku sangat bimbang menentukan tempat yang aman untuk bersembunyi.
Hari makin larut dan malam pun datang. Di keheningan malam yang mencengkam aku berlari-lari tanpa tujuan menghindari teman-teman yang sangat menakutkan. Energiku terkuras banyak karena berlari, jadi aku bersembunyi di balik pohon di belakang sekolah.
“Semoga nggak ketahuan. Semoga saja,” aku terus berdoa agar dia tidak menemukanku.
“Hihihi, ketemu kamu.”
“Aaaa...” Aku berteriak keras sekali.
Hati sangat ketakutan karena aku sudah terkepung. Jantungku berdetak kencang dan keras sekali. Aku serasa di ujung tanduk. Aku ingin menjerit tapi saking takutnya suaraku tiba-tiba hilang. Ketakutan menjalar ke seluruh tubuhku. Aku sangat takut.
"Eh? Dek, ngapain kamu di sini? Kok sendirian aja? Nggak takut ketemu hantu ya?"
Mendengar perkataan itu, aku pun segera mendongak ke atas untuk melihat siapa yang sebenarnya yang menemukanku.
Ternyata orang yang berbicara denganku ada PG yang memberi pengumuman di kelasku saat itu.
"Kak PG? Ngapain kakak di sini?" kataku seraya berdiri.
"Harusnya aku yang tanya gitu! Apa yang kau lakukan di sini?"
"Eh? Apa maksud kakak? Bukankah hari ini ada persami?" kataku yang kaget.
"Persami? Apa kau tidak beritahu kalau persaminya diundur karena hari ini adalah hari halloween?"
"Halloween? Diundur?" kataku yang bingung.
"Iya, jadwal yang seharusnya persami diganti dengan pesta halloween. Lagipula belum ada tuh orang selain osis atau penggalang garuda yang datang. Lalu ngapain kau datang kemari? Kau itu sebenarnya dari kelas mana sih?"
"Aku Disa, dari kelas 9B." jawabku.
"9B?" kata PG itu terkejut.
"Kok kamu kaget gitu sih? Apa omonganku salah ya?" kataku yang heran.
"Dis, apa kau nggak tahu?"
"Tahu apa? Emangnya adakah yang kasih tahu aku. Orang temen sekelas aja ngucilin aku." kataku kesal.
"Dis, sebenernya kelas 9B itu sedang direnovasi loh dan semua murid 9B itu sebenernya udah mati semua termasuk guru yang mengajarnya ketika bangunan roboh."
"APA? Nggak mungkin, kau pasti bohong." kataku menolak percaya.
"Aku sih juga baru denger, aku juga kaget saat diberitahu. Kau tahu juga 'kan kalo hari itu aku kasih pengumuman dikelasmu."
"Apa yang sebenernya terjadi sih?" kataku bingung.
"Sudahlah, jangan dipikirin lagi! Nanti kau makin pusing malah. Yuk ke hall aja! Di sana banyak orang kok." ajaknya.
Aku pun mengikuti ajakan PG itu yang tidak lain adalah teman sebayaku.
Sesampainya aku di hall, ternyata benar ada orang banyak di sana. Mereka tampak sedang menyiapkan sebuah pesta untuk perayaan halloween.
Kemudian aku mendengar bahwa sebenarnya bahwa 2 bulan lalu ketika sedang ada kegiatan belajar mengajar, tanpa diketahui penyebabnya atap di kelas 9B roboh. Saat itu aku sedang izin tidak masuk sekolah.
Aku benar-benar syok setelah mengetahui fakta itu dan benakku terus bertanya-tanya siapa yang sebenarnya bersamaku selama ini?
~ SELESAI ~