Kemuning membelalakkan matanya, seperti orang yang sedang membaca mantra mulutnya berkomat-kamit, spanduk berukuran satu meter kali satu meter yang menggantung di pagar sebuah rumah ia baca dengan bergegas.
'Rumah Dijual.
Tanpa Perantara.
Berminat segera hubungi nomor...'
Lakon Kemuning pun berganti kemudian, dari seorang yang mirip pembaca mantra, sekarang, ia sudah tidak ada bedanya seperti seorang bocah yang telah sekian lama menanti hadiah ulangtahun yang sangat ia idam-idamkan, kaget bercampur haru tentunya.
Kemuning buru-buru membuka tas sandang yang sedari tadi menggantung di bahu kirinya, ia mencari-cari, sebentar kemudian sebuah buku kecil dan pensil ia tarik keluar. Nomor yang tertera di spanduk itu ia cacat sambil berucap.
Kemuning melirik lagi, antara buku kecil dan spanduk yang menggantung di pagar rumah tersebut, tampaknya ia ingin memastikan nomor yang tertera di spanduk itu dan nomor yang tertera di buku kecil yang tadi ia catat.
"Jangan sampai salah," Kemuning bergumam kecil.
Begitu itulah Kemuning persoalan yang sesungguhnya kecil kayak begini ini pun kelak bisa menjadi masalah besar baginya.
Kerap Kemuning salah bila berhubungan dengan angka-angka yang begitu itu, mulai dari angka yang kurang, kelebihan atau yang tertukar posisinya.
Yang sering ia akui sebagai kekurangan terbesar dalam hidupnya, ia tak mempunyai kemampuan untuk menghafal nomor: dari nomor yang bersifat pribadi (-segala sesuatu yang berhubungan dengan perlengkapan bagian dalam tubuhnya) sampai nomor rumah orang, apalagi nomor telepon.
Katanya, ini semua akibat dari ia membenci pelajaran berhitung sewaktu masa sekolah dulu. Alasan kenapa ia membenci pelajaran berhitung karena menurutnya pelajaran berhitung itu rentan membuat kita jadi suka perhitungan kalau ingin membantu orang lain. Alasan apa pula itu!?
Kemuning memekik kecil, girang tampaknya, itu bisa terlihat dari ujung mulutnya melebar ke samping kanan dan kiri. Dan sebelah tangan yang mengepal ke angkasa.
Kemuning berbalik badan, berjalan dengan langkah bergegas, ke arah utara, di angkasa sekawanan burung-burung merpati terbang balik ke sarang.
Begitu pun Kemuning, juga hendak balik ke sarang. Ke sarang yang sudah hampir satu tahunan ini ia sewa bersama-sama dengan keluarga kecil mereka: ibu dan kedua adiknya yang baru menginjak usia remaja, gadis kembar, Mawar dan Melati.
"Rumah impian. Itu rumah impian kami." Gumam Kemuning, di kamar, ketika ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dengan mata yang tertuju ke langit-langit kamar.
Mawar masuk, setelah lebih dahulu mengetuk pintu. Di situ ia mendapati sang kakak, Kemuning, yang menatap langit-langit kamar dengan sorot mata yang tajam. Lalu bertanya, "Kakak kenapa?"
"Rumah Impian kita, dek." Ucap Kemuning, bangkit dari ranjang.
"Rumah Impian?" Mawar terlihat bingung.
"Itu yang di jalan Swadaya itu," Kemuning menunjuk-nunjuk ke satu arah.
"Rumah di jalan Swadaya? Swadaya yang mana?" Mawar masih terlihat bingung tapi begitu pun sambil ia mencoba untuk menerka-nerka rumah yang dimaksud oleh sang kakak.
"Rumah yang bercat hijau pupus itu loh," Ucap Kemuning mengingatkan. Seketika Mawar mengangguk-angguk. "Memangnya kenapa?"
"Rumah itu dijual!" Kemuning berseru girang.
Mawar membelalak kaget. "Dijual!?"
Kemuning mengangguk lebih girang lagi. Mawar hendak berucap, "Bukannya..." Tapi keburu disela oleh Kemuning. "Iya dijual."
"Kok bisa!?" Mawar masih tak percaya. Kemuning masih lagi mengangguk-angguk girang.
Apa sebab mereka berlagak seperti ini? Yang satu tampak tak percaya sementara yang satunya lagi girang bukan kepalang? Tak ada lain karena, tepatnya setengah tahun yang lalu...
Bertempat di kediaman si pemilik rumah, Bapak Junaidi beserta istri, yang bertempat tinggal di jalan Merdeka nomor tujuh, Kemuning sempat mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah rumah tua yang berada di jalan Swadaya nomor sembilan belas, rumah yang saat ini berada dalam penguasaan mereka.
Tapi sayangnya Pak Junaidi beserta istri menolak niat Kemuning, dengan alasan tidak sedang membutuhkan uang. Malahan kata mereka, rumah tua tersebut hendak mereka robohkan kemudian di tanah bekas bangunan tersebut hendak mereka bangun lapangan futsal yang mewah.
"Buat main anak-anak tetangga, gratis." kilah Bu Junaidi dengan lagak yang angkuh. Pak Junaidi mengamini dengan kepala yang naik turun.
Karuan lagak Kemuning kuyuh, mulutnya pun terkunci, terdiam beberapa jenak, ia pun mencoba untuk bangkit dari duduknya, meski agak kepayahan, ia pun minta pamit.
Padahal segelas teh pun belum disuguhkan, lagi sudah hampir lima belas menit ia duduk di sofa itu, sampai lidahnya pun terasa kebas berbasa-basi.
"Buru-buru amat," ucap Bu Junaidi bersopan-sopan. "Segelas teh pun belum ibu suguhkan."
"Ndak perlu repot-repot, Bu..." Kemuning mencoba untuk tersenyum. Kemuning menjulurkan tangan, minta pamit. Bu Junaidi meraih juluran tangan tersebut. Lalu tangan Bu Junaidi ia daratkan ke keningnya. Begitu pun dengan tangan Bapak Junaidi. Kemuning berjalan ke luar dari rumah kediaman Bapak Junaidi.
"Kalau saja ia tidak menolak pinangan si Darma anak kita mungkin lain ceritanya, "Keluh Bu Junaidi. Berucap dari balik punggung Bapak Junaidi. Sepertinya telinga Kemuning mencuri dengar ucapan tersebut, itu terlihat dari gerak kepalanya yang hendak ia tolehkan, tapi buru-buru ia urungkan.
"Terus sekarang gimana?" Tanya Mawar.
"Iya kita harus membeli rumah itu," Kemuning berucap dengan berapi-api. "Apa mereka mau?" tanya Mawar.
"Maksud kamu?" Sekonyong-konyong Kemuning menatap bingung. "Iya kalau mereka mau kenapa mereka tidak menghubungi kakak. Bukannya mereka punya nomor kakak. Setidak-setidaknya Darma kan..." Kalimat itu bukan terlontar dari mulut Mawar tapi Melati. Ternyata Melati mendengar percakapan tersebut.
"Itu loh maksudku."Mawar menunjuk ke dada sang kakak. Kemuning mengangguk-angguk, terdiam kemudian. Mawar duduk ke tepi ranjang. Melati masih lagi berdiri di muka pintu kamar. Seketika sepi menyambar ruangan kecil tersebut, sekitar lima menit kurang lebih. "Tak ada dosanya untuk mencoba," seketika suara Kemuning memecah kesunyian.
"Iya terserah," gumam Mawar sekenanya. Melati merespon dengan bahu yang terangkat. Keputusan ada di tangan sang kakak, Kemuning.
Kemuning berjalan ke meja belajar yang ada di sudut kamar. Di situ ada tas sandang yang tergeletak. Hanya setengah langkah kaki, tas sandang telah berada dalam genggaman tangan. Bergegas resleting tas tersebut ia tarik mundur. Tangannya menjangkau dan menarik keluar sebuah buku kecil. Dibukanya satu dua halaman buku kecil tersebut. Telunjuk Kemuning menunjuk kepada beberapa bilangan angka yang tertulis di halaman kertas tersebut.
"Lah ditelepon kok malah ditunjuk," keluh Mawar. Melati terkikik. "Ponsel kakak." Kemuning meminta kepada Mawar. Mawar menyambar ponsel yang tergelatak di ranjang dan memberinya kepada Kemuning.
"Sudah benar belum," cerecau Melati. "Ntar, salah lagi."
"Yakin. Benar!" Seru Kemuning mantap.
"Awas kalau Rumah Sakit Jiwa..." canda Melati. Sekali ini Mawar yang terkikik. "Amit-amit..." Kemuning menepuk dada.
Dengan ponselnya Kemuning menekan nomor yang tertera di kertas, sambil mulutnya berucap menyebutkan bilangan angka tersebut. Terdengar nada panggilan sesudahnya. Setelahnya...
"Iya, bapak menjualnya. Kamu datanglah segera, besok. Bapak tunggu di rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Bapak sangat membutuhkan uang, ibu memerlukan biaya yang cukup besar. Sudah hampir sebulan ibu terbaring di rumah sakit." kata orang di seberang sana, yang tak ada lain adalah bapak Junaidi. Ternyata nomor ponselnya Kemuning masih mereka simpan.
"Darma?" Tanpa Kemuning sadari, nama itu terucap keluar begitu saja.
"Anak itu tidak bisa diharapkan, dari dulu. Ini semua karena dia. Untung kau tidak menikah dengannya. Cepatlah, ibu sangat membutuhkan uang. Bapak tunggu. Sudah iya." Bapak Junaidi menyudahi sambungan telepon.
Kemuning terdiam. Mawar dan Melati yang mendengar percakapan tersebut juga ikut terdiam. Jujur, mereka bingung harus berlagak seperti apa. Girang? Rasanya itu tak pantas. Sedih? Ah, kalau mengingat lagi perlakuan ibu Junaidi...
"Pokoknya rumah masa kecil kita harus kembali kepada kita. Itu rumah impian bapak. Rumah impian almarhum bapak. Rumah yang ia bangun dari peluh keringat sebagai penarik becak. Yang mesti ia jual untuk..." Ucap Mawar dengan lantang.
"Iya. Kakak harus..." Kemuning tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Setidaknya kita mengembalikkan kehormatan bapak. Kehormatan yang sempat direnggut oleh..." Omongan Melati terjeda oleh sebuah suara yang berasal dari kamar sebelah. "Bagian kita itu memaafkan bukan menaruh dendam." Itu suara ibu.
Memang rumah di jalan Swadaya nomor sembilan belas itu adalah rumah impian bapak. Rumah yang setiap jengkal tanah dan batunya dibangun dari kerja keras yang tak kenal waktu. Sayangnya, beberapa tahun yang lalu rumah itu harus berpindah tangan kepada keluarga bapak Junaidi. Oleh sebab apa? Sebenarnya itu pun bukan kesalahan keluarga Kemuning tapi apa boleh dikata, mereka itu orang kecil sementara...
Keluarga bapak Junaidi menuntut bapak Kemuning beserta keluarga ke pengadilan, oleh karena Kemuning yang tiba-tiba saja mengurungkan niat untuk menikah dengan Darma, anak semata wayang mereka. Padahal acara pernikahan tinggal hitungan jam. Oleh sebab apa Kemuning menolak melanjutkan pernikahannya? Apalagi kalau bukan penyakit anak jaman now, susah untuk setia, alias selingkuh.