Sore itu langit tampak mendung, memperlihatkan awan hitam pekat yang menakutkan. Tampak seorang gadis bersurai panjang sepinggang duduk tak tenang di bangkunya.
"kenapa, Sha?" Tanya seseorang yang duduk di samping gadis itu.
"aduh, gimana, ya.." Gadis itu menggigit bibir bawahnya, "Kayaknya bakalan turun hujan deres, deh. Gue nggak bawa jas hujan." jelas gadis itu.
"Lo nih! Gue kira kenapa. Pulang bareng gue aja, tapi nanti nunggu hujannya reda, nggak berani gue kalo harus nerobos hujan." Jelas Kaira kepada Asha, gadis bersurai panjang tersebut.
"Kalo nunggu hujannya reda pasti lama, Kai. Mama pasti marah kalo gue pulang telat lagi." Asha tampak murung.
"Coba lo chat mama lo, mama lo pasti ngerti kali. Lagian lo pulang telat bulan gara-gara nongkrong." Usul dari Kaira sedikit menenangkan hati Asha.
Mama Asha memang tidak suka jika anak gadis yang dia sayangi itu pulang tidak tepat waktu. Bukan karena apa-apa, tapi karena khawatir dan peduli.
CHAT ROOM
Asha : Ma, Asha pulang telat, ya? hujannya deres.
Mama : Iya, nak. Tapi nanti langsung pulang, ya.
Asha : Oke, ma.
-----
Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Pelajaran sudah dibubarkan, namun para murid masih diam disekolahan menunggu hujan reda. Walaupun awan terlihat sangat hitam, langit menjatuhkan butiran-butiran air dengan derasnya, namun masih banyak yang tidak takut akan hal tersebut, mereka bermain basket ditengah hujan deras itu, mereka berlarian kesana-kemari tanpa takut terjatuh.
"SHA! UDAHAN HUJAN-HUJANANNYA!" Teriak Kaira yang tidak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya yang kekanak-kanakan itu.
"Bentar, Kai. Masih seru nih!" Ucap Asha dengan sumringah tanpa mengetahui bahwa ada seorang anak laki-laki yang tersenyum lebar melihat tingkahnya.
"Lo udah nyatain ke-dia, Nan?" Tanya seseorang kenapa temannya.
"Udah, gue ditolak. Ternyata dia nggak suka sama gue." Anak laki-laki itu nampak tersenyum getir sambil menatap lekat kearah Asha.
"Ntar malem nongkrong deh, ke tempat biasa, ngopi-ngopi." Ajak temannya yang tahu bagaimana perasaannya sobatnya itu. Hanan, anak laki-laki itu mengangguk setuju.
Langit tampak tak lagi menurunkan butir-butir airnya. Asha melihat jam tangannya, pukul menunjukkan 16.20 WIB. "aduh, ternyata udah jam segini." gumamnya pelan. "Kai, gue pulang duluan, ya? udah jam segini, mama pasti nyariin nih." Jelasnya.
"Oh, iya, Sha. Hati-hati dijalan, ya. Jalanan pasti licin." Peringat Kaira kepada sahabatnya yang mendapat anggukan mantap dari Asha.
Asha berlari tergopoh-gopoh sambil menenteng totebagnya yang berisi baju olahraga menuju ke parkiran murid. Parkiran nampak ricuh, ternyata banyak para murid yang memilih tinggal disekolahan sambil menunggu hujan reda dibandingkan pulang menerobos derasnya hujan disore itu.
Asha nampak kesal, dia melihat helm pink kesayangannya itu basah kuyup terkena derasnya hujan. Dan dia tambah kesal saat melihat motornya tidak dapat keluar karena terhalang oleh motor lain dibelakangnya.
"Mampus nih gue, nggak bisa keluar." Asha bergumam pelan tanpa tahu bahwa ada seseorang di sampingnya yang mendengar gumamnya.
Seseorang itu nampak paham akan kekesalan Asha, lalu tanpa basa-basi dia menolong Asha mengeluarkan motornya dari parkiran. Awalnya Asha nampak was-was akan gerak-gerik orang tersebut, namun pada akhirnya dia senang karena orang tersebut sudah membantunya.
"Makasih, ya.." ucap Asha dengan senyuman tulusnya. Namun, Asha kembali kesal saat tidak mendapat jawaban apapun dari laki-laki tersebut.
Akan tetapi, Asha tidak tahu bahwa laki-laki tersebut tersipu malu saat mendengar ucapan terimakasih darinya.
------
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun Asha masih saja tidak bisa tidur. Padahal, besok dia harus berangkat lebih pagi, karena besok jadwal piketnya.
Asha memikirkan laki-laki itu, laki-laki yang menolongnya diparkiran motor tadi sore. Laki-laki itu selalu saja muncul dalam pikiran Asha, hingga Asha tidak dapat berhenti memikirkannya.
"Please, siapa sih cowok itu?! Kenapa wajah dia kayak nggak asing? Gue kayaknya pernah liat dia deh, tapi dimanaaa.." Asha terlihat sangat frustasi, dia mencari-cari jawaban siapakah laki-laki yang menolongnya tadi.
Asha bertekad, besok pagi dia akan mencari informasi dan identitas laki-laki tadi walaupun hanya berbekal plat motor dan warna motor laki-laki itu, lalu tidak lupa ciri-cirinya.
------
"Gimanaaaa, kaaaai.. gue belum bisa nemuin cowok itu!!!" Ucapan frustasi itu keluar dari mulut Asha. Sudah 1 minggu Asha menggali informasi tentang laki-laki itu, namun tidak ada hasilnya, benar-benar nihil. Tidak satupun orang yang Asha kenal mengenal laki-laki itu. Asha benar-benar frustasi.
"Aduh, Sha. Gue juga gatau, udahlah kalo emang jodoh pasti bakalan ketemu, gausah lo cari-cari kesana-kemari deh." Kaira benar-benar lelah meladeni sahabatnya itu. Bagaimana tidak? Setiap hari Asha selalu saja menanyainya seputar laki-laki tersebut yang entah siapa itupun Kaira tidak tahu.
"Asha." Panggil seseorang yang membuyarkan lamunan dua gadis itu.
"Hanan? Ngapain lo kesini?" Tanya Kaira terlihat tidak ramah.
"Ada apa, Nan?" Tanya Asha kepada Hanan dengan lembut.
"Boleh ngobrol berdua nggak, Sha?" Asha menatap Hanan dengan bingung. dia sangat ingin menolak ajakan Hanan, namun hati kecilnya tidak tega untuk menyakiti Hanan lebih dalam lagi. Lalu dengan perlahan Asha mengangguk, menyetujui ajakan Hanan.
Hanan tersenyum, dia berjalan memimpin jalan dan diikuti oleh Asha yang mengekor di belakangnya.
"Mau kemana sih, Nan? kenapa nggak ngobrol dikantin aja? Mau ngobrolin apa sih?" Pertanyaan bertubi-tubi ditujukan untuk Hanan. Mendengar itu, Hanan dengan segera berhenti berjalan lalu menghadap ke Asha.
"Sha.." Panggil Hanan dengan nada yang cukup Asha terpaku. "Gue ada salah sama lo?" Tanya Hanan menatap Asha.
Raut wajah bingung tidak bisa Asha sembunyikan, dirinya bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Hanan. "Nggak, lo nggak ada salah di gue, Nan. Lo kenapa?"
"Terus, kenapa lo ngediemin chat dari gue? lo risih sama gue? kenapa, Sha? jawab. gue butuh jawaban dari lo." Asha dapat melihat emosi Hanan meningkat.
"Nan, setelah kejadian itu lo berharap gue bisa bersikap nggak ada apa-apa kayak yang lo lakuin? Nggak bisa, Nan. Gue nggak bisa. Gue ngerasa canggung dideket lo, gue ngerasa bersalah sama lo, Nan. Gue juga butuh waktu buat beradaptasi lagi ke lo. Gue nggak bisa bersikap nggak ada apa-apa. Maaf ya, Nan. Gue ke kelas duluan." Ucap Asha tanpa menatap Hanan, dia tidak bisa menatap mata yang pernah dia sakiti itu. Mata yang selalu memandanginya dengan sendu, sungguh menyakitkan juga bagi Asha.
Asha meninggalkan Hanan yang masih terpaku dengan jawaban yang dilontarkannya Asha. "Jadi, kita bener bener nggak bisa, ya, Sha? Gue ternyata terlalu berharap banyak kepada lo, Sha.." gumam Hanan yang kali ini ditemani dengan senyum yang sangat amat getir.
-----
Bagiku, Hanan adalah laki-laki yang sangat ceria saat pertama kali aku mengenalnya, aku sudah tahu bahwa laki-laki ini akan membuat keonaran dikelas dan ternyata benar. Sungguh, mempunyai teman satu kelas sepertinya ini cukup melelahkan namun juga menyenangkan. Dia adalah laki-laki yang dapat membuatku tersenyum saat aku sedang memikirkan kekonyolannya. Aku tidak pernah mengira bahwa laki-laki konyol itu dapat jatuh cinta juga, apalagi kepadaku. Aku bukanlah gadis yang menarik, aku hanyalah gadis biasa yang berharap bahwa masa SMA ku akan dihiasi oleh cerita dan kisah kasih indah. Namun, tidak denganmu, Hanan. Maafkan aku karena aku telah menolak kejujuran hatimu malam itu. Malam yang seharusnya menjadi malam kenangan terindah dengan teman satu kelas, malah menjadi malam yang menyakitkan bagimu.