Bel berbunyi, menandakan jam masuk ke kelas akan di mulai, Aku Anita . kelas 3 SMA, aku bersekolah di SMA CENDEKIAWAN BEKASI.
"Huft, hari ini ingin pulang saja, kata Fika.
" Iya, pelajaran Pak Anto pasti membuat ngantuk " seruku.
Dia Fika sahabat ky dari SMP, kami selalu bersama kemanapun. Walau jarak rumah kita berpisah anatara 5 rumah, tapi kami selalu bersama kemanapun. Fika, adalah orang yang paling memahami keadaanku.
*******
Jam menunjukkan pukul 17.00 sore, biasanya hari sabtu begini aku dan Fika akan bersama di kamarku hingga malam atau bergantian, sekedar bercerita ata berkeluh kesah. Ntah kenapa, walaupun kami hampir tiap saat bertemu, akan selalu ada cerita yang tak pernah ada habisnya.
"Nit, boleh gak malam ini aku disini saja " Sahut Fika
"Hem, kenapa? Apa masalah mu dirumah ada lagi? " Tanyaku.
" Seperti itu lah Nit, kamu pasti mengerti, tanpa aku menjelaskan "kata Fika.
Yah, Fika akan selalu tidur dirumahku, jika keadaan dirumahnya gaduh. Orang tua Fika selalu bertengkar dirumahnya ntah masalah Ayahnya yang selalu pulang pagi karena judi dan alkohol dan ibunya yang selalu banting tulang untuk keluarganya.
Pagi hari, yang cerah bunyi ayam membangunkan aku dan Fika.
Suara piring di dapur sudah berbunyi sejak tadi, itu artinya, ibuku sedang menyiapkan sarapan.
" Tok..... Tok...... Tok"
"Anak - anak ayo bangun, waktunya sarapan " sahut ibu dari batik pintu
" Iya, bu kami akan menyusul keluar " sahut ku.
Aku dan Fika pun menuju meja makan untuk manyantap sarapan dari ibuku. Setelah selasai sarapan aku dan Fika membantu ibu membersihkan bekas sarapan.
********
Pengumuman kelulusan telah tiba aku, dan Fika mulai foto bersama dengan teman yang lain dan saling mencoret-coret baju. Aku dan Fika jalan pulang, berhubung jarak sekolah dan rumah berdekatan, kami pulang dengan berjalan kaki. kami tidak mengikuti konvoi seperti yang lain.
Malam telah tiba menunjukkan pukul 21.00 malam. Suara ketukan pintu luar mengagetkan ku. Akhirnya, aku menuju pintu luar. Berhubung ibu dan ayah sedang keluar.
" Fika, kamu tumben jam segini kerumah, "Tanyaku
" Nit, biarin aku disini untuk sementara waktu " isak tangis Fika .
"Fika, kamu masuk dulu yuk"
Akhirnya aku menuntun Fika ke kamarku, mata sembab dan satu tas besar entah berisi apa.
"Kamu kenapa? dan tas itu apa? " Tanyaku
" Nit, a.. ku benar-benar lelah, aku ingin pergi "
" Ada apa? Tak biasanya kamu seperti ini "
"Aku sudah muak dirumah itu, ayah mulai berani memukul ibu, ayah mulai mengutuk ku di saat aku membela ibu " Jelas Fika.
"Baik, kamu boleh disini sampai kapanpun" .
Aku, sangat mengerti keadaan dan perasaan Fika sekarang, aku tak perlu menanyakan apapun lagi. Aku sangat mengerti. Malam semakin larut.
Fika menceritakan semuanya dan niatnya yang ingin pergi dari rumah. Tanpa disadari kami tertidur.
********
Tiga tahun berlalu, aku kehilangan kontak dan kabar Fika, setelah kejadian malam itu, aku masih sempat berhubungan, namun setelah 3 tahun lalu HP dan semua isi tas ku hilang, aku tidak dapat menemukan kabar Fika.
Kabar terakhir yang aku tau Fika di Jakarta dan tinggal bersamanya ibunya. Yah seminggu kepergian Fika dari rumah, ibunya bercerai dan menyusul Fika dengan alamat yang di berikan Fika kepadaku.
Hari ini aku berniat menyusul Fika, aku sangat ingin ia hadir di pernikahan ku. Aku memutuskan untuk pergi ke Jakarta dengan berbekal alamat 3 tahun lalu.
Namun perjalanan ku tidak mutus, setelah menemukan alamat itu, ternyata rumah itu sudah lama tidak di kontrakan.
Hari mulai malam, aku memutuskan kembali ke hotel, saat perjalanan ke hotel, tanpa sengaja aku melihat ibu Fika berjualan di pinggir jalan.
Akhirnya, aku turun dari mobil dan berjalan menuju warung pinggiran tempat ibu Fika berjualan.
"Assalamu'alaikum bu " sapaku.
"Walaikumsalam " Jawab ibu Fika.
" Buk, ini Nita bu " .
Ibu melihat ku lekat
" Ya Allah, nak Nita, " Peluk sambil nangis
" Ibu, kabarnya bagaimana? Tanyaku.
" Allhamdulilah, ibu Baik kak? '
Percakapan terus berlanjut, akupun menemani ibu membereskan jualan. namun, aku tak melihat Fika sejak tadi. Mungkinkah Fika masih bekerja. atau sudah berumah tangga. pertanyaan terus menghantui ku.
Akupun mengantar ibu Fika kembali ke rumahnya.
" ini rumah ibu nak " Tunjuk ibu pada rumah kayu berwarna hijau.
" oh iya bu "
Aku membantu ibu turun dan menurunkan beberapa barang jualan ibu.
" Nak, masuk dulu "
" iya bu " ,
" Buk, maaf Fika mana yah? " tanyaku "
" Fik..... a, jika nak Nita ingin bertemu Fika mari bertemu di ujung jalan depan gang ini nak, "suara ibu terputus "
" Ibu kenapa? "
" Tidak nak, besok ibu tunggu jam 9 pagi yah nak ".
" baik bu"
Akupun berpamitan dengan ibu, aku kembali ke hotel untuk beristirahat .perasaan ku gelisah, tatapan ibu, mata yang tiba - tiba berkaca saat aku menanyakan keberadaan Fika.
Semua jadi satu perasaan ku campur aduk, ntah apa yang ada di pikiran ku saat ini.
**********
Keesokan hari nya, aku bertemu ibu di tempat yg Ibu janjikan. ibu naik di mobilku dan menunjukkan arah kemana tujuan kita.
"kita sudah sampai nak. " kata ibu "
mataku terbelalak, aku kaget. Tempat apa ini, mengapa ibu Fika membawaku ke pemakaman. Aku berharap apa yang ada dipikiran ku sekarang, tidak benar.
Ibu menuntunku terus, hingga akhirnya aku berhenti di suatu makam yang bertulis Afika Anandita, ini benar-benar membuat ku lemas hingga tersungkur.
" Bu...... in.... i apa? Dia bukan Fika yang ke kenalkan. " Kataku bergetar.
" Ini Fika nak, sahabatmu dan anak ibu " suara ibu terisak sambil merangkul ku.
Aku terduduk, sambil memandang batu nisan bertuliskan Afika Anandita. sambil terisak tidak sanggup Dia Fika sahabatku ,yang selalu terlihat ceria walaupun hatinya rapuh.
Aku hancur, ibu mulai menenangkan aku. Hingga akhirnya membacakan doa.Lalu berpamitan sepanjang jalan pulang, aku tidak berhentinya menangis. Dan ibu yang selalu menenangkan aku.
Sesampai dirumah ibu Fika, ibu menyuguhkan teh hangat untuk membuatku sedikit lega. Setelah lega, ibu akhirnya menceritakan semuanya.
3 tahun lalu, setelah hilang kontak denganku, Fika selalu mencari kabarku. Bahkan ditengah kesibukannya membantu ibu, tiada hari tanpa ia selalu mencariku. Hingga suatu hari, saat Fika kembali dari bekerja menuju warung ibu, Fika dikejutkan dengan mobil truk yang melaju dan menyerempet Fika hingga terjatuh.
Fika sempat di rawat dan koma hingga akhirnya dinyatakan meninggal. seminggu sudah keberadaanku di jakarta. Aku sudah sangat tama melepas rinduku dengan Fika. Hingga akhirnya aku memutuskan pulang dengan terpaksa karena aku di desak kesibukan.
Aku berpamitan dengan ibu. Dan berharap ibu bisa menjadi ibu yang kuat seperti yang Fika inginkan.
*******
2 bulan berlalu, pernikahan ku digelar hari ini semua tamu, dan keluarga terdekat datang, begitupun dengan ibu Fika. Hari yang aku tunggu. Hari bahagia ku yang sangat ku nantikan.
" Fik, tenang disana. Sekarang aku sudah menemukan orang yang sayang sama aku seperti kamu" .
Fika sahabat terbaik yang selama ini menjadi penguatku, teman keluh kesah ku. Terima kasih mau menjadi Sahabat terbaik untuk.
Kamu hanya datang untuk pergi. Semua hal yang datang pasti akan pergi.