Seharusnya saat itu aku menghalanginya, seharusnya saat itu aku segera menolongnya, jika aku waktu itu menyadarinya mungkin itu tidak akan terjadi, tapi kenapa ini harus terjadi, kenapa kau harus meninggalkan ku duluan?
Kau berbohong...
Kau egois...
Maafkan aku...
Maafkan aku, Alice...
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
Aku menatap pantulan diriku di cermin, menatap diriku dari atas sampai ke bawah, kemudian sebuah senyuman lebar terukir di wajah ku
"Nice..." Aku memutar badanku, dan membuat gaun yang ku kenakan mengambang seperti payung
Hari ini adalah hari yang selama ini ku tunggu, kami akan mengadakan tour ke sebuah museum bersejarah di kota Xxxx. Tour yang jarang-jarang bisa ku ikuti, karena terkadang aku tidak sempat untuk ikut
Pagi-pagi sekali aku sudah berada di tempat kami berkumpul, satu persatu siswa yang ikut tour mulai berdatangan
Aku mengedarkan pandangan ku mencari keberadaan seseorang yang sedari tadi ku tunggu, tidak lama kemudian seseorang menepuk punggungku pelan dan refleks aku menoleh mendapatkan sosok gadis cantik yang tengah menyunggingkan senyuman nya ke arahku
"Pagi, awalan datang..." Sapa gadis itu yang kemudian meletakan tasnya di bagasi bis
"Biar kebagian tempat" aku memeluknya dari belakang, dengan meletakkan daguku di bahunya sambil memperhatikan gerak-gerik nya. Kemudian mataku tertuju pada sesuatu yang dia keluarkan dari tasnya, mataku berbinar dan kemudian mengambil benda yang dia keluarkan
"Pocky! I like it" girangku yang kemudian melepaskan pelukanku padanya setelah mengambil Pocky dari tangannya
"Yak, Amber itu punyaku!" Gadis itu memekik sambil menarik tangan ku
"Untuk ku yah?🥺" Aku memelas sambil menatapnya
"No, aku membeli untuk cemilan nanti"
"Ayolah Alice..." Mohonku sambil mencubit pipinya yang sedikit tembem "yah..." Lanjutku yang kemudian memanyunkan bibirku
"Ugh...kau membuatku tidak dapat menolak. Baiklah-baiklah, tapi kita bagi dua" finalnya sambil mengambil paksa Pocky yang ku pegang
"Yes...maacih" soraku sambil memonyongkan bibirku bermaksud untuk menciumnya
"Hey, kau mau ngapain" gadis itu meletakan tangannya tepat di mulutku dan kemudian mendorong pelan wajahku dari hadapannya, "dasar gak tau tempat" lanjutnya
"Aku hanya ingin memberimu kecupan di pipi, kenapa kau menolaknya" aku cemberut sambil memalingkan wajahku ke samping tak mau menatap wajahnya yang tampak ilfil
"Kau benar-benar, kita bisa di anggap lesbi jika seperti itu apa lagi di hadapan anak-anak yang pikirannya rada...yah kau tau sendiri lah" ucapnya dengan nada yang sedikit di kecilkan dan kemudian tangannya mengelus suraiku lembut
"Huh menyebalkan" ocehku sambil melirik siswa/i yang sedari tadi sibuk dengan perlengkapan mereka dan juga berlalu lalang di sana
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
Perjalanan kami cukup memakan waktu dua jam, selama di perjalanan kami saling berbincang, bercanda ria dan terkadang juga bernyanyi bersama-sama sambil menikmati pemandangan yang bis kami lalui
Selama di perjalanan aku hanya asik dengan duniaku, tanpa peduli dengan sekitar namun aku juga terkadang mengajak Alice mengobrol, dan tanpa ku sadari selama perjalanan menuju museum Xxxx aku tertidur cukup nyenyak
"Amber...hey, bangun kita sudah sampai" Alice menggoncang tubuhku sambil menepuk pipiku yang berhasil membuatku terbangun dari alam mimpi
"Alice berhentilah menggoncang tubuhku" cicitku dengan suara khas orang bangun tidur, aku mengucek mataku merenggangkan tubuhku dan kemudian mengedarkan pandangannya mendapatkan segerombolan orang yang ingin segera turun dari bis
"Sepertinya kita harus menunggu sepi untuk keluar dari bis" ucap Alice sambil menatap ke arah pintu keluar yang penuh dengan barisan siswa/i yang ingin keluar
"Kau benar, oh iya di mana kameraku?" Aku mengecek tasku mencari kesana kemari namun tak juga menemukan kamera yang ku maksud
"Oh kameramu? Ku rasa itu ada di bagasi atas" tutur Alice sambil menunjuk ke atas
"Ah kau benar, aku lupa" aku terkekeh sambil menepuk pelan keningku, yang membuatnya menggeleng kepala kecil dengan senyuman di sela-sela bibir tipisnya "dasar..."
Tak berapa lama kemudian kami keluar dari bis, berkumpul dalam satu tempat dan mendengarkan pengarahan dari guru pembimbing, dalam tour, kami di bagi menjadi beberapa kelompok dengan 4 orang anggota, anggota kami terdiri dari aku, Alice, Bianca dan Arumi
"Gimana jika kita berkeliling di sana terlebih dahulu" ujar Bianca sambil menunjuk ke ruangan yang memang menarik perhatian ku sedari tadi
"Hm boleh" ucap Alice mengiyakan saran dari Bianca
Tanpa menunggu lama kami segera ke tempat tujuan dan mengamati satu persatu benda bersejarah yang di pamerkan di sana, tak lupa aku juga memotret beberapa benda yang menarik perhatian
Sudah hampir seluruh tempat telah kami telusuri dan amati, dan sangking asiknya kami bahkan sampai berpisah satu sama lain kecuali aku dan Alice kami tetap bersama sedari tadi
Aku mengamati sebuah monumen di sana dari sudut ke sudut sedangkan Alice, dia mengamati sekeliling hingga sesuatu berhasil menarik perhatiannya
"Amber? Aku ke toilet sebentar"
"Oh iya, jangan lama-lama" ucapku masih berfokus pada monumen di hadapanku
"Oke" singkatnya yang kemudian pergi, aku melirik sekilas ke arah Alice pergi tanpa berpikir panjang aku kembali mengamati monumen di hadapanku sambil memotret, dan siapa yang akan menyangka jika sesuatu yang tak dapat ku prediksi ah maksudnya manusia prediksi dan bayangkan akan terjadi
Aku memainkan pernak pernik kameraku sambil menyenderkan tubuhku di sisi pintu yang menjulang tinggi itu sambil menunggu seseorang yang tak lain Alice, hampir 10 menit aku menunggu tapi Alice tak kunjung juga datang
"Kenapa dia lama sekali? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Gerutu ku sambil menatap arloji di balik pergelangan tanganku
"Amber?" Panggil seseorang dari sampingku sambil menepuk bahuku pelan, aku menoleh menatap sosok itu yang ternyata adalah Arumi
"Arumi?"
"Kau sendiri? Di mana Alice?" Tanya Arumi sambil melihat ke sekelilingku
"Dia tadi pergi ke toilet, tapi belum kembali" jawabku sambil melirik ke arah Alice tadi pergi, tidak ada yang aneh tapi entah kenapa perasaan ku tidak baik
Aku menatap Arumi, ia tampak gelisah sebelum akhirnya ia meraih tanganku dan menarikku mengikutinya
"Kita harus segera pergi dari sini" ucapnya sambil menarikku
"Eh tapi bagaimana dengan Alice? Dia akan kecarian..." Aku bingung dengan tingkah laku gadis di hadapanku, tanpa alasan yang jelas dia menarikku paksa, setidaknya berikan aku alasan mengapa dia seperti ini
"Dia pasti akan mengira kau sudah kembali duluan" tuturnya
Plak!
Aku menepis tanganku dari genggamannya menatapnya bingung dan penuh pertanyaan, nafasku sedikit memburu
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanyaku padanya, aku tidak tau pasti apakah pertanyaan ku ini tepat sasaran atau tidak, tapi yang pasti aku akan menemukan jawabannya jika bertanya langsung
"...." Arumi hanya diam, dia menatap ku ragu, berusaha untuk bicara namun tak bisa, cukup lama ia berdiam sampai akhirnya dia membuka suara
"Aku tidak tau apakah ini benar atau tidak, tapi Elisa tadi tidak sengaja melihat seorang pria masuk ke sini sambil membawa senjata dan juga sebuah bom" ucapnya hati-hati
"A...apa?" Aku menutup mulutku seolah tak percaya dengan perkataan nya, aku berjalan mundur pandanganku tertuju pada jalan yang kami telusuri tadi, dan dalam seketika pikiranku tertuju pada Alice, sahabatku
"Ba...bagaimana dengan Alice? Apa Alice sudah kembali?" Aku mendekati Arumi sambil meletakan kedua tanganku pada bahunya, dan di sambut oleh gelengan kepala Arumi
"Belum ada yang melihatnya..." Suaranya pelan
"Alice..." Tanpa aba-aba yang pasti aku berlari meninggalkan Arumi sendirian di sana
"Tunggu... Amber jangan pergi sendiri di sana berbahaya" aku mengabaikannya sambil berlari menjauhi gadis itu, aku sangat gelisah berlari terus menelusuri lorong berusaha mencari keberadaan Alice, namun tak kunjung juga ketemu
Sudah cukup lama aku menelusuri seluruh ruangan di sana tapi tetap saja hasilnya nihil, aku tidak menemukan keberadaan Alice, keberadaan nya seperti hilang di selama kegelapan. Tapi ku tidak menyerah aku terus mencarinya
Hingga aku tak sengaja mendengar suara yang samar dari sebuah ruangan, suara yang tak asing lagi bagiku, suara itu ... Alice, dia tidak sendiri ada suara seorang pria juga di sana, tapi siapa?
Aku bergegas menuju ruangan yang tadi terdapat suara Alice, membuka pintu dan mendapatkan seorang gadis yang tengah berdebat dengan pria di sana, gadis itu tidak lain ialah Alice dan pria itu...apakah pria yang di maksud oleh Arumi?
"Alice..." Suaraku pelan, namun bisa di dengar karena suaraku dapat bergema di rumahnya itu
Mereka berdua menoleh, mendapatkan sosokku yang tengah berdiri di ambang pintu sambil menatap keduanya khawatir
"Amber?!kenapa kau ada di sini?" Suaranya terdengar parau bercampur dengan kegelisahan, ia kemudian berjalan menghampiriku namun di tahan oleh pria yang bersamanya
"Jangan pergi ke sana, atau ..." Ucap pria misterius itu menatapku, sambil menodongkan pistol ke arah kepala Alice
"Amber, pergi ..."lirihnya
"Ta...tapi bagaimana denganmu?" Aku ragu, dan khawatir
"Ku bilang pergi!ya pergi!" Bentak Alice tanpa melihat ke arahku, aku terdiam tak percaya ini pertama kalinya Alice membentakku. Aku menggeleng
"Aku tidak bisa"
"Amber, ku mohon pergilah" lirihnya yang kemudian di sambut dengan tetesan air bening yang mengalir dari kelopak matanya
Aku menggeleng cepat, memberanikan diri untuk melangkah masuk namun pria misterius yang menahan Alice melempar sebuah benda bulat yang kemudian menggelinding kearahku, Alice yang melihat itu langsung sigap mengambilnya dan kemudian berlari menjauh dariku sambil menarik pria misterius itu
BUM!!
Ledakan itu sangat kuat berhasil membuatku terpental jauh, aku tergeletak di sana sambil menatap ke arah kobaran api yang perlahan melahap ruangan tempat Alice berada, aku mengangkat tanganku sebelum akhirnya kesadaran ku menghilang
•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
Misa pemakaman diakhiri dengan sebuah lagi Lately, sebuah lagu tentang kematian dan upaya untuk belajar hidup kembali. Itu adalah lagu khusus ku pilih untuk pemakaman mu
Ketika aku turun dari mobil, irama terakhir Lately masih terdengar sampai di rumahku
Aku menengadahkan wajahku menatap ke langit yang penuh dengan bintang, tanganku terangkat berusaha menggapai bintang di sana. Aku tersenyum...miris, air mataku perlahan menetes, menatap bintang-bintang yang kelap-kelip itu, mungkinkah kau ada di sana Alice
END