hidup di sekitar orang yang memiliki kebahagiaan bersama keluarga, apalah daya ku yang sudah ditinggal oleh mereka berdua sejak kecil dan hanya bisa tinggal bersama nenek ku saja, dan sekarang di umur ku yang ke 16 tahun ini nenek juga pergi meninggalkan ku.
bekas luka karena di tinggal kan kedua orang tua ku sebelumnya sudah sembuh, dan sekarang di tambah dengan nenek ku yang pergi setelah aku mendapatkan kembali hati yang dulunya hancur.
awalnya aku terus merenungkannya, hingga saat aku bertemu dengan teman-teman yang selalu berada di samping ku dalam sedih maupun bahagia, aku senang dengan kehadiran mereka berempat, kemudian saat aku berada di kelas 3 SMA aku menemukan seorang wanita yang membuat jantung ku berdetak kencang.
.
.
.
suatu hari aku mencari waktu berdua dengannya hanya saja dia bilang tidak memiliki waktu, jadi aku tidak tau harus mengatakan apa jika dia berkata begitu, akhirnya aku kembali ke tempat dimana teman teman ku berada.
.
.
.
.
tempat yang jarang di temui orang orang luar, kami berlima selalu berkumpul di tempat itu, bahkan tempat itu seperti rumah bagi kami berlima, meski jauh dari keramaian, tempat itu terasa nyaman.
kami selalu bersenang-senang di tempat itu, menghabiskan waktu bersama sama hingga petang tiba dan kami pulang.
saat itu, di saat mereka sedang bermain kartu aku hanya duduk terdiam di samping mereka semua dan itu membuat mereka bertanya.
"ada apa Erik?" ucap seseorang yang bernama Boy pada Erik dimana mereka adalah teman.
aku hanya menanggapinya dengan diam ku, setelah itu ada lagi yang bertanya. "haah jangan bilang kau masih memikirkan wanita itu?" ucap seseorang yang sedikit mengetahui apa yang Erik simpan di hati.
"diam kau Ben, jaga mulut mu, ingin ku sumbat hah?!" marah Erik pada Beni yang sibuk bermain dengan mereka berempat.
"kau akan menyesal nantinya" kata yang sudah berpengalaman yaitu Boy, yang sudah tersakiti oleh seorang wanita dan juga keluarga nya.
Erik hanya diam menanggapi ucapan Boy tadi, kemudian menidurkan tubuhnya di sofa yang empuk itu, sambil menatap langit langit ruangan itu dan memikirkan sesuatu yang hanya bisa ia pikirkan tentang kejadian sebelumnya.
.
.
.
.
satu minggu telah berlalu, hari kembali menjadi hari senin dan para murid melakukan aktivitas nya bersekolah seperti biasanya.
Erik yang mencari wanita yang ia suka di jam istirahat membuatnya menjadi sedikit bersemangat. sayangnya saat dia akan mendekat ke pada wanita itu, wanita itu langsung pergi bersama teman wanitanya entah kemana.
"yah di tinggal lagi dong.." Ejek Beni pada Erik yang terdiam saat melihat wanita itu pergi begitu saja, melihat wajah Beni yang mengesalkan dia memukul mukul kecil punggung Beni.
"diam kau pabo" jawab Erik dengan kesal lalu pergi dari sana. Beni yang melihat hanya diam dan menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Erik yang sedang jatuh cinta.
waktu pelajaran pun telah berlalu, dan bel pulang berbunyi, saat itu juga Erik langsung mengajak wanita itu untuk berbicara berdua bersama dengan Erik.
saat Erik berhasil mengajak wanita itu bertemu dengannya berdua saja, dan berbicara di atas gedung kelas.
"jadi ada apa Rik?" tanya wanita itu pada Erik yang sedari tadi masih saja terdiam.
karena lama wanita itu sedikit kesal dan akhirnya mengatakan kata kata kasar yang belum pernah Erik dengar dari siapapun kecuali temannya.
"kau benar bodoh, sudah lama kita berdiri disini, jika ada yang di katakan katakanlah dengan cepat, aku tidak ada waktu lagi, aku harus bertemu pacar ku sekarang, jadi ada apa? cepat katakan" ucap wanita itu dengan mengerutkan dahi dan menunjukkan alis marahnya, juga berkata dengan cepat sesuai beat kemarahan lembut tapi sakit.
Erik yang mendengar kata katanya saat itu juga, tiba tiba kehilangan respact pada wanita yang dia sukai dan dia menjawab "baiklah maaf, mengganggu mu, sebenarnya aku hanya ingin bilang terimakasih sudah sedikit menyembuhkan ku" ucap Erik lalu langsung pergi dari sana. wanita itu tidak paham dengan apa yang Erik katakan padanya lalu mengikuti Erik yang juga turun dari sana.
.
.
.
.
di tempat lain, Erik berdiri di sebuah tepi pantai yang hampir gelap, matahari hampir tenggelam, suasana yang begitu menenangkan, disertai dengan suara ombak yang naik turun dengan lembut dan juga suara angin laut yang mengikuti arus ombak, membuat luka di hatinya tiba tiba terbuka kembali dan entah kenapa air mata mengalir di pipinya membuat basah.
sambil mendengar sebuah lagu, yang ia setel di hp nya dan menggunakan earphone membuatnya begitu tidak mementingkan sekitarnya, dia hanya menangis di sana dan menenangkan dirinya kembali, tapi luka di hatinya benar benar banyak dan hampir membuatnya benar-benar terluka, apa lagi di saat marah dia selalu mencoba menenangkan diri, itulah kenapa hatinya yang sudah benar benar tergores sekarang sudah rusak hanya karena cinta yang tertolak begitu saja.
di lain sisi mereka berempat hanya melihat Erik yang sedang menangis di tepi bibir pantai, dengan begitu mereka berempat langsung saja pergi ke sisi lain pantai dan bermain air disana.
Erik yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang.
dia baru saja sadar, bahwa tidak perlu cinta pada wanita asalkan persahabatan masih ada dan tidak rusak semua akan baik baik saja, dengan begitu dia langsung berlari ke arah mereka berempat lalu menendang air dan mengenai Boy yang sedang santai.
tapi meski begitu mereka akhirnya berbahagia saat itu, dan Erik langsung kembali melupakan semua masalah yang terjadi belum lama dari beberapa menit atau jam sebelumnya.
"sudah oke" ucap seseorang teman Erik, dan Erik menjawabnya dengan sebuah anggukkan saja.
.
.
.
selesai
.
.
.