Di suatu SMA elit di tengah kota bernama SMA Miyakouka ada seorang gadis bernama Airaza Kinan. Ia sangatlah pantai dan ramah kepada siapapun, sehingga disukai banyak orang. Walaupun ia berasal dari keluarga tidak mampu semangat belajarnya sangat tinggi. Ia diterima di SMA Miyakouka dengan jalur beasiswa karena prestasinya yang memuaskan.
Kinan yang setiap harinya bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah kafe harus pandai membagi waktu bekerja dengan waktu belajar.
Manager kafe yang selalu memperhatikan Kinan sebenarnya iba melihat anak SMA seperti Kinan yang seharusnya bersenang-senang bersama teman sebayanya harus berkerja paruh waktu di kafenya. Suatu hari manager kafe memberanikan diri untuk bertanya apa alasannya bekerja di kafenya.
“Kinan!!” sapa manager kafe pada Kinan yang baru sampai.
“Iya, ada apa manager memanggil saya?” tanya Kinan seraya meletakkan tas sekolahnya pada loker yang disediakan.
"Maaf kalo saya agak lancang. Bolehkan saya tahu apa alasan kamu bekerja disini? Sejak kamu datang saya sudah sangat penasaran mengapa anak SMA seperti kamu harus bekerja di kafe?” kata manager sambil menundukkan kepalanya karena tidak enak dengan Kinan.
Kinan hanya terdiam mendengar perkataan managernya.
“Saya salah ngomong ya? Saya benar-benar minta maaf karena telah menyinggung masalah pribadimu. Kamu tidak marahkan?”
“Tidak kok. Saya bekerja disini karena saya harus mengumpulkan uang untuk membayar hutang yang ditinggal ayah saya." Tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Maaf saya terbawa suasana. Kalau sudah tidak ada perlu saja pergi bekerja dulu. Permisi manager." kata seraya meninggalkan manager.
Manager kafe yang mendengarkan penjelasan Kinan agak shock dan merasa bersalah telah menanyakan itu.
Tiga hari setelah kejadian itu Kinan tidak menampakkan dirinya lagi di kafe itu. Manager yang cemaspun akhirnya menemui Kinan di rumah yang letak cukup jauh dari kafe. Betapa terkejutnya sang manager mendengar ibu Kinan meninggal karena kecelakaan kerja. Sesampainya di rumah Kinan manager melihat Kinan menangis di sudut ruang sedangkan para tetangga sibuk mengurusi jenazah ibunya.
“Bu, maaf numpang tanya. Bagaimana cerita ibu Kinan bisa tiada?” tanya manager pada salah satu tetangga Kinan.
"Ya lukanya sangat parah, sempat dirawat di rumah sakit, tapi ibunya sudah tidak dapat bertahan karena lukanya amat fatal. Kinan kelihatannya sangat terpukul. Belum dengan hutang yang ditinggalkan ayahnya, sekarang ditinggal pergi ibunya untuk selamanya." jelasnya.
"Oooh. Tapi apakah Kinan punya saudara atau kerabat gitu?” tanya manager kian mendalam.
“Kinan anak tunggal. Katanya setelah ini dia akan diasuh oleh bibinya yang rumahnya tidak jauh dari sini." katanya sambil menunjuk rumah yang tak jauh dari rumah Kinan.
“Oooh terima kasih atas info." kata manger seraya berjalan menghampiri Kinan yang masih saja duduk termenung di sudut ruangan.
“Hai Kinan senyum dong biar kelihatan cantiknya!” hibur manager.
"Oh manager”, katanya seraya menghapus air matanya. “Kok manager bisa kesini? Kafenya bagaimana?”
“Tenang saja kafenya aman kok. Hari kami tutup. Hei Kinan semangat dong. Kau pernah bilangkan kalau ibu ingin kau menjadi orang sukses di masa depankan?” Kinan hanya bisa mengiyakan, ia masih terlalu kaku untuk berbicara terlalu banyak.
“Iya memang seandainya keinginan ibumu itu terwujud ia tak bisa merayakannya bersama putri kesayangannya ini, tapikan kau masih inginkah mewujudkannya? Tetapkan hatimu! Buatlah tekadmu sekuat baja walaupun banyak rintangan yang menghadang, dengan tekad yang kuat pasti kau bisa melaluinya." kata manager menyemangati Kinan.
Melihat apa yang dilakukan managernya, Kinan ikut tersenyum bahagia dan berjanji mewujudkan impian ibunya.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Kinan akhirnya lulus SMA. Kinan berencana melanjutkan ke universitas, tapi karena tidak mempunyai uang banyak ia harus menunggu sampai tabungannya cukup untuk membiayai kuliahnya. Tekadnya sekuat baja, ia tidak langsung menyerah begitu saja. Ia bekerja semaksimal mungkin di kafe mengharapkan kenaikan gaji agar ia cepat mendapatkan banyak uang.
Selain bekerja di kafe Kinan juga kerja sambilan dengan menerima jahitan dari tetangganya. Kebetulan ada mesin jahit peninggalan ibunya, daripada tidak berguna lebih baik ia gunakan untuk menambah penghasilan.
Bulan demi bulan berlalu, Kinan masih saja bekerja keras. Karena terlalu memaksakan diri Kinan akhirnya jatuh sakit. Kinan jatuh pingsan saat bekerja di kafe. Manager yang melihat kejadian itu merasa kasihan.
“Kinan kamu tidak perlu terlalu memaksakan diri seperti ini. Tubuhmu ini juga butuh istirahat.”
“Maaf manager, saya janji kejadian seperti tidak akan terulang lagi." kata Kinan yang sangat menyesali perbuatannya.
“Kamu segitu pengennya kuliah ya?” tanya manager memastikan. Kinan mengangguk mengiyakan.
“Untuk membentuk bisnis yang sukses, saya butuh keahlian. Jadi perlu sekali kuliah."
Mendengar penjelas Kinan sang manager tersenyum. Manager sangat senang melihat Kinan memilih tekad yang kuat dan bulat.
“Kinan bagaimana jika saya membiayai kuliahmu?” tawaran manager yang membuat Kinan yang seolah olah tidak percaya.
“Apa benar tidak apa-apa?” manager tersenyum mengiyakan. Hati Kinan senang bukan main karena bisa selangkah lagi untuk mewujudkan keinginan ibunya.
Setelah lulus dari universitas Kinan segera mendirikan sebuah kafe dan butik di pusat kota. Bisnisnya itu berjalan lancar karena tekadnya itu. Kinan sangat senang karena akhirnya dapat mengabulkan permintaan ibunya.
Tekad yang kuat dapat membawa kita pada keberhasilan, walau ribuan rintangan datang menghadang dengan tekad serta keyakinan yang kuat pasti mudah untuk dilalui. Jangan bilang itu sulit jika belum dicoba dan jangan mengeluh jika belum dirasakan. Kuatkan keyakinan dan selalu berusaha tanpa melihat beberapa kali kita gagal niscaya jika Allah berkehendak pasti terjadi.
~ SELESAI ~