Hans kini terkikik geli dengan tangannya masih menempelkan poster sadako pada layar televisi miliknya. Hari ini tepat tanggal 31 Oktober, saat dimana hari Halloween telah datang. Dengan penuh niat dan keisengan kini Hans sedang mengerjakan projeknya. Projeknya untuk mengerjai Grace. Kekasihnya yang sudah menjalin hubungan dengannya hampir delapan tahun lamanya.
Hans kini mulai berjalan kearah kasurnya dan menumpahkan cat merah menggunakan kuas. Ia benar-benar sangat niat, bahkan bantal dan juga selimut miliknya sudah dipenuhi cat merah itu. Dan jangan lupakan karpet yang dibelikan ibunya di turki beberapa bulan lalu juga tak lupa ia lapisi dengan cat merah, lebih tepatnya sepanjang jalan dari pintu utama menuju kamarnya.
Ting! Tong!
Hans tersentak ketika suara bel terdengar. Ia yang tadinya terkikik geli kini mulai panik, ia langsung menatap arloji yang melingkar rapi ditangannya. Jam menunjukkan pukul 21.30. Grace datang setengah jam lebih cepat dari yang mereka janjikan. Ini tidak biasanya.
Hans kembali mengecek sekelilingnya. Poster sadako, vampir dan zombie kini hampir memenuhi ruangan kamarnya. Hans tersenyum puas dengan kerjanya yang hampir memakan waktu selama dua jam ini.
Ting! Tong!
Hans kembali panik, dengan cepat ia mematikan lampu kamarnya dan bersembunyi didalam lemari pakaian miliknya. Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik, terlebih Hans juga begitu tahu bagaimana penakutnya Grace terhadap mahluk tak kasat mata.
Ting! Tong!
Hans kembali mengecek arlojinya, ini sudah hampir lima menit Grace menekan bel apartemennya. Hans masih terdiam didalam lemari dan mengecek ponselnya. Tidak ada panggilan masuk. Dan tumben sekali Grace menekan bel, biasanya ia langsung masuk dengan password yang Grace juga mengetahuinya.
Saat Hans akan membuka pintu lemari, kini ia urungkan setelah mendengar password apartemen miliknya itu ditekan. Dan tidak lama kemudian Hans mendengar pintu terbuka. Hans mengepalkan tangannya kuat, menahan tawa adalah hal tersulit baginya.
“Hans?”
Sayup-sayup Hans mendengar suara Grace memanggilnya dari ruang tamu. Suara derap langkah Grace bahkan terdengar Hans karena apartemennya yang begitu sunyi.
“Hans, jangan menakutiku!”
Klik!
Hans mendengar saklar lampu telah dinyalakan oleh Grace. Hans menelan salivanya. Entah apa yang akan dilakukan Grace terhadapnya setelah ini. Namun ini begitu menyenangkan.
“Hans?! Hans?!”
Suara Grace kini meninggi dan dengan cepat membuka pintu kamarnya. Hans dapat melihat Grace yang tengah mematung didepan pintu, menatap kearah kasurnya yang sudah di penuh cat merah.
“Ha.. Hans?”
Klik!
Grace menekan saklar lampu kamarnya. Grace masih mematung dan menatap kasur itu dengan pandangan yang begitu terkejut. Hans yang berada di dalam lemari terkikik geli, melihat reaksi yang luar biasa dari kekasihnya itu. Dengan balutan gaun kuning sebatas lutut dan rambut panjangnya yang dikuncir Grace kini mulai menghampiri kasur milik Hans. Hans ingat, itu adalah gaun yang ia berikan kepada Grace ketika Anniversary satu tahun mereka.
“Ha.. Hans? Hans?”
Hans dapat mendengar suara Grace bergetar, gadis itu menangis dengan masih menghampiri kasur Hans yang sudah dipenuhi cat merah. Namun saat Grace membuka balutan yang berada dibawah selimut itu, Grace terkejut karena hanya ada beberapa guling dan tumpukan bantal.
Klik!
Hans kini menekan remot televisi dan seketika televisi menyala. Grace masih menatap guling itu dan ketika ia mengangkat kepalanya dan..
“Aaaaaaaaa!”
Brak!
“Selamat Halloween sayang!”
Hans kini keluar dari lemari pakaian dan tertawa. Menatap Grace yang juga tengah menatapnya dengan air mata. Grace benar-benar menangis. Wajah takut dan sedih Grace itu digantikan dengan wajah lega. Dengan cepat Grace berdiri dan memeluk Hans dengan erat.
“Kau jahat Hans, kau jahat!”
Grace kini menangis ditengah pelukan mereka. Saat dari pertama membuka pintu apartemen dan menemukan bercak merah di karpet benar-benar membuat Grace tidak bisa berpikir jernih. Terlebih dilanjutkan dengan cairan itu sampai pada kasur Hans dan diakhiri dengan sadako yang seolah keluar dari layar televisi. Dari pada marah akan prank yang didapatkannya, Grace lebih bahagia mengetahui jika Hans baik-baik saja.
“Cup.. Cup. Maafkan aku Grace, aku tidak tahu kau akan menangis seperti ini.”
Masih dengan tertawa kecil Hans mengusap kepala Grace dengan sayang. Sebenarnya tiga minggu lagi ia dan Grace akan menikah, dan sekarang tepat hubungan mereka yang ke – 8 tahun. Dan bukannya hadiah yang didapatkan, kini ia memberikan Grace hal yang jauh lebih istimewa, sebuah prank.
“Maaf, aku minta maaf Hans.”
Tawa Hans yang tadinya masih terdengar kini mulai mereda. Grace kini masih memeluknya dengan erat. Dengan cukup tenaga, Hans melepaskan pelukan Grace dan menatap wajah Grace yang masih dipenuhi air mata.
“Ada apa? Apa ada masalah Sayang?”
Kini Hans menatap Grace dengan khawatir. Apa terjadi sesuatu? Untuk apa Grace meminta maaf padanya? Melihat tatapan khawatir Hans, Grace hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya.
“Tidak, aku hanya ingin meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu.”
“Apa rasa takut itu membuat seorang Grace menjadi begitu lembut? Kalau begitu, aku akan melakukannya lebih sering.”
Grace kini memukul lengan Hans dengan lembut, selanjutnya mereka tertawa. Hans memeluk Grace dengan erat. Grace adalah wanita yang menemaninya dari nol. Saat mereka masih menduduki bangku sekolah hingga saat ini. Grace selalu menyuruhnya untuk tidak patah semangat atas beberapa usaha gagal yang telah ia lakukan. Bahkan dulu orang tua Grace begitu tidak menyukai hubungan mereka sampai ia merubah pandangan itu semua.
Deringan ponsel membuat Hans kini melepaskan pelukannya. Hans merogoh ponselnya yang berada disaku celananya. Panggilan telepon dari ibunya. Tumben sekali malam seperti ini ibunya menelepon.
“Ibu telepon, kurasa penting.”
Saat Hans menjauh dari tubuh Grace, dengan cepat Grace menahan tangannya dan menatap Hans dengan pandangan dalam. Hans hanya menatap gadis itu dengan bingung. Grace terlihat tampak pucat dan sedih, seolah ada beban pikiran pada gadis itu.
“Aku mencintaimu Hans.”
Hans tersenyum mendengar suara lembut Grace mengalun ditelinganya. Jarang sekali Grace menyatakan cinta padanya. Grace adalah tipikal gadis dengan aksi dan perhatian yang besar dibanding mengatakan perasaan padanya. Tapi Hans tahu, ada hal sulit yang Grace alami dan ia tidak tahu apa itu.
“Aku juga Honey.” Setelah itu Grace melepaskan tangannya pada tangan Hans. Hans mulai berjalan menjauh beberapa meter dari tempat Grace.
“Halo Bu, ada apa?” Hans kini mengangkat panggilannya. Hans mengerutkan keningnya saat mendengar suara kendaraan dibelakang telepon ibunya. Kemana ibunya disaat malam seperti ini?
“Ha.. Hans Hans, kau dimana sayang?”
Rasa khawatir Hans kini semakin meningkat, terlebih mendengar suara tangisan ibunya terdengar. Berbagai pikiran buruk menyelimuti Hans.
“Aku di apartemen Bu. Ada apa Bu? Ibu dimana?!” Hans kini mulai meninggikan suaranya. Ia benar-benar tidak bisa menahan rasa khawatir mengenai keadaan ibunya.
“Grace, Hans. Grace kecelakaan.”
The End.