Siapa sangka jika sosok misterius dalam mimpiku saat itu adalah takdir yang telah allah siapkan untukku. Sebenarnya aku tak terlalu mengambil pikiran mengenai mimpiku dikala itu, namun jika ku pikir pikir itu merupakan mimpi terunikku hingga pada akhirnya sosok misterius itulah yang menjadi suamiku.
Aku Aysea Zahra aku adalah anak tunggal dalam keluargaku kedua orang tuaku begitu menyayangiku. Aku begitu bersyukur memiliki orang tua seperti mereka.
Biasanya orang orang memanggilku Zahra namun itu tidak berlaku untuk suamiku biasanya dia memanggilku dengan panggilan wahai belahan jiwaku jujur saja aku selalu tersipu saat ia memanggilku dengan panggilan itu
Saat ini aku tinggal bersama keluarga kecilku juga kedua orang tuaku. Oh ya, kami juga sudah memiliki seorang buah hati yang begitu menggemaskan.
Dan dia suamiku Idzam Alfarezqi dia merupakan sosok yang begitu sabar dia juga selalu mengerti keadaanku,aku benar benar beruntung memiliki sosok seperti dirinya.
Sayup sayup aku mendengar suara tangisan Akhtar putraku. Aku mengahampiri suamiku dan mengambil putraku dari pangkuannya ingin sekali aku menjitak kepalanya agar dia tak lagi menjahili Akhtar putra kami. Sudah sampai berbusa aku menegurnya namun lagi lagi dia hanya bisa melayangkan senyuman tanpa dosanya itu.
"Berhenti untuk menjahili Akhtar!"
Suamiku hanya tertawa dan beranjak mendekat ia mencium keningku lalu membisikkan kata kata manis yang telah ia rangkai dengan sedemikian rupa.
"Wahai belahan jiwaku maaf jika aku membuatmu marah"
Aku menatapnya kesal mungkin suamiku pikir aku akan luluh tentu saja tidak,aku melangkahkan kakiku meninggalkannya menuju ke kamar kami untuk menidurkan Akhtar yang lelah menangis karena ulah ayahnya itu. Aku membaringkan putraku dengan hati hati dan menyelimutinya tak lupa aku mengecup keningnya.
Tiba tiba lengan kekar suamiku melingkar dipinggangku dia sedang mencoba untuk membujukku agar tak marah dia melayangkan kata kata manis seraya masih tetap memelukku erat. Akhirnya aku pun memilih untuk memaafkannya lagian tidak baik jika marah terlalu lama dengan suami.
Memoriku berputar mengingat masa masa sebelum aku bertemu dengannya, saat itu aku masih duduk dibangku kelas 11 dikelas aku bisa dikatakan pendiam aku lebih banyak diam daripada ikut menimbrung teman temanku.
Aku tak terlalu pandai untuk memulai pembicaraan jadi aku lebih memilih untuk mendengar cerita mereka, mungkin aku hanya sesekali mengeluarkan suara.
Kehidupan sekolahku berjalan sebagaimana semestinya hari terus berganti hingga pada akhirnya aku mulai bermimpi mengenai suamiku itu.
Pada malam itu aku baru saja selesai mengerjakan prku aku mulai mengantuk aku membereskan meja belajarku dan beranjak menuju ke kamarku. Sebagaimana semestinya aku memulai tidurku dengan berdoa terlebih dahulu. Dan dalam pada malam itulah aku mendapatkan mimpi pertamaku mengenainya.
Dalam mimpiku terdapat sosok misterius yang memberiku empat buah kertas yang dimana diantara empat kertas itu ada satu kertas yang berisi sebuah nama yaitu Idzam.
Aku terbangun dari mimpiku itu aku kembali mengingat mimpiku tadi otakku berpikir keras mengingat ingat itu,aku rasa tidak ada teman ataupun adik kelasku yang bernama Idzam.
Aku menggelengkan kepalaku lalu beranjak untuk mengambil air wudhu aku menggelar sajadah dan mulai mengenakan mukenaku. Lalu memulai untuk sholat tahajud sebagaimana biasanya dalam doa doaku aku pasrahkan kepada sang kholiq hanya dialah yang tahu segalanya.
Aku meraih al-qur'an milikku dan mulai membacanya lembar demi lembar hingga sayup sayup aku mendengar adzan subuh mulai berkumandang. Aku menutup al-qur'anku dan menunaikan sholat subuh.
Aku tak menceritakan mimpiku kepada orang tuaku aku takut jika ditertawakan oleh kedua orang tuaku mengenai mimpi anehku. Aku mencium kedua tangan mereka sebelum aku berangkat menuju ke sekolahku.
Disana aku mulai menceritakan mimpiku pada teman dekatku dia cukup kaget mendengarnya lalu ia mulai mengeluarkan pendapatnya temanku pikir jika mimpiku itu petunjuk dari allah mengenai jodohku. Aku hanya manggut manggut saja aku juga sempat berpikir seperti itu sebelumnya namun aku menepis semua pikiranku tadi.
Sejak saat itu aku tak lagi mendapat mimpi aneh itu lagi namun selang dua minggu aku kembali mendapat mimpi aneh itu lagi. Dalam mimpiku aku melihat sesosok pria yang berdiri ditengah tengah tempat yang begitu luas dan dalam mimpiku aku berlari menghampiri sosok itu.
Aku bangun dari tidurku dengan perasaan campur aduk,bingung dan merasa aneh lalu aku mulai bertanya tanya siapa sebenarnya sosok misterius itu. Aku kembali mengingat ucapan temanku dua minggu yang lalu apa benar jika sosok dalam mimpiku itu takdir yang telah digariskan oleh allah.
Aku kembali menceritakan mimpiku itu pada temanku dan responnya masih sama dengan apa yang dikatakan waktu itu. Aku menepisnya aku rasa itu hanyalah bunga tidur namun dalam hati kecilku aku pun begitu penasaran mengenai apa maksud dalam mimpiku itu.
Aku mulai menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan hanya untuk melupakan tentang mimpiku saat itu sejenak aku bisa beraktivitas dengan tenang namun itu tak berlangsung lama. Selang seminggu aku kembali bermimpi mengenai sosok misterius itu dalam mimpiku aku melihat sosok itu bersama dengan teman temannya namun aku tak bisa melihat dengan jelas wajah teman temannya.
Aku hanya bisa melihat wajahnya saja sosok itu nampak lebih dewasa daripada diriku mungkin kami terpaut beberapa tahun. Aku terbangun dari mimpiku itu aku mengingat ucapan temanku dan aku pun mulai memiliki pikiran yang sama mengenai sosok itu.
Aku kembali menceritakannya pada temanku itu baru saja aku berucap dia sudah paham mengenai apa yang akan aku ceritakan mungkin dia sudah hapal denganku. Jawabannya juga masih sama seperti sebelum sebelumnya.
Dalam hatiku berucap jika memang sosok itu adalah takdirku aku hanya meminta yang terbaik saja aku menyerahkan semuanya pada sang kholiq. Hari terus berganti hingga pada akhirnya aku telah menyelesaikan masa masa sekolahku. Dan disinilah awal pertama aku bertemu dengan sosok yang ada dalam mimpiku dikala itu aku tengah pergi menuju kesebuah toko buku tanpa sengaja aku melihat sosok yang begitu mirip dengannya namun aku belum yakin mengenai itu.
Aku nampak begitu kesulitan membawa setumpuk buku yang begitu banyak ini hingga kehilangan keseimbangku sosok itu beranjak menolongku membereskan semua buku bukuku yang terjatuh dan membantuku untuk membawanya menuju ke kasir.
Mata kami tanpa sengaja bertemu sejenak aku mulai mengagumi sosoknya dan dalam pikiranku mulai terbesit apa benar dialah sosok yang akan menjadi takdirku nanti. Usai membayar semua buku buku itu aku mengucap terimakasih kepada dia karena telah membantuku tadi.
Oh iya, dia juga membantuku membawa semua buku yang ku beli menuju ke motorku lagi lagi hanya kata terimakasih yang terlontar dari bibirku.
Aku melajukan motorku menuju kerumah disana aku mulai menceritakan semua mimpiku dan pertemuanku dengannya orang tuaku hanya tersenyum mendengarnya dan mengatakan bahwa mungkin saja dialah takdirku.
Selang beberapa bulan dari kejadian itu dia datang ke rumahku bersama keluarganya aku pun juga tidak tahu darimana dia mendapat alamat rumahku. Dia datang untuk melamarku menjadi pasangan hidupnya aku sedikit kaget mendengar penjelasannya saat itu orang tuaku menyerahkan semuanya padaku karena sesungguhnya yang akan menjalani kehidupan rumah tangga itu adalah aku.
Aku tak langsung memberikan jawaban namun aku meminta waktu satu minggu untuk berpikir aku memohon kepada sang kholiq bagaimana baiknya aku pasrahkan semuanya pada allah. Hingga pada akhirnya hatiku pun mantap untuk menerima lamarannya.
Aku bisa melihat senyum leganya saat aku menerima lamarannya dan kami pun menikah tak beberapa lama setelah dia melamarku.
Aku tersenyum sendiri mengingat kisahku dulu bagaimana proses pertemuan kami hingga menikah aku benar benar bersyukur allah mengirimkan dia menjadi suamiku.
Aku menatap matanya lembut dan memeluknya suamiku tersenyum lalu mengecup keningku aku baru melepas pelukanku saat mendengar putra kami menangis karena terbangun dari tidurnya. Aku lalu menggendongnya untuk menenangkannya tak beberapa lama Akhtar sudah berhenti dari tangisnya.
"Wahai belahan jiwaku terimakasih telah menerimaku menjadi suamimu dan terimakasih telah melahirkan Akhtar putra kita"
Aku menangis mendengar tiap kata yang terlontar dari bibirnya aku benar benar terharu mendapatkan sosok suami yang begitu menyayangiku. Suamiku menghapus air mataku dan mencium seluruh bagian wajahku dia tak suka jika melihatku menangis.
Kami berjanji untuk terus bergandengan tangan walaupun badai menerpa bahtera rumah tangga kami. Aku tak menyangka mimpikulah yang membawaku bertemu dengannya yang kini telah menjadi pasangan hidupku.