Rintik hujan kala itu mengguyur deras tempat kediamanku. Samar - samar, kudengar suara cambuk yang menghantam seseorang di luar ruanganku. Dengan segera, aku bangkit dari kasurku dan berjalan menuju pintu ruanganku. Setibanya, tanganku yang lemah membuka knop pintu itu sambil tangan kiriku memegang siku kananku yang terkena luka bakar siang hari itu. Aku hanya bisa membuka kecil pintu itu dan mengintip dari dalam ruanganku. Melihat apa yang terjadi di balik pintu, seketika aku terduduk di balik pintu itu. Dengan tangan kiriku menahan pintu, dan tangan kananku menutup mulutku. Perlahan, mataku yang sayu dan memerah itu mengalirkan butiran air mata yang kian dengan cepatnya membasahi wajahku yang memar akibat tamparan beberapa saat sebelum itu. Dadaku terasa sakit. Hatiku seakan teriris melihatnya dicambuk oleh Tuan rumah tempat kediamanku berada - Bi Anjin.
Altair-Adik kembarku yang selalu berada disisiku dalam meniti pahitnya kehidupan kami. Kulihat dari balik pintu, ia terkulai lemas setelah mendapat cambuk itu. Ingin ku berlari dan menggantikan posisinya. Namun, apa daya Tuan Rumah akan semakin menyiksanya. Aku hanya dapat menangis dan menitikkan air mata. Dan andaikan air mata itu dapat menghilangkan rasa sakitnya.
Kala itu, air mataku terhenti dan melihatnya menuju pintu ruangan aku berada. Dan Tuan Rumah telah pergi beberapa saat yang lalu. Ketika ia membuka pintu, dengan segera aku memeluknya dan menangis pada bahunya. Seakan tangis itu dapat menyalurkan seluruh perasaanku padanya. Hatiku sangat perih melihatnya selalu disiksa seperti Ini.
Perlahan, ia mengendorkan pelukanku. Tangisku terhenti dan dengan segera ia menggenggam jemariku seakan menyampaikan padaku bahwa ia baik-baik saja. Seketika, mataku terarahkan pada wajahnya. Ada goresan kecil di pipi sebelah kanan nya. Kugerakkan tanganku dan ku usap goresan kecil itu. Namun, sambil tersenyum, la menjauh kan tanganku yang menyentuh pipinya, dan berkata "Aku tak apa, selagi Kak Elvy berada di sisiku. Aku percaya kita akan keluar dari sangkar penuh siksa ini. Sekarang, obati luka kakak dulu. Kita ambil saja hikmah sebagai ujian dari Tuhan untuk mengingatkan kita untuk selalu bersyukur pada Nya dalam keadaan suka maupun duka, Senang ataupun sengsara."
Sambil mengambil obat yang la selipkan pada
pinggang celananya, la berkisah padaku bahwa hasil jualan hari ini, ia belikan obat untukku dan uang yang la serahkan pada tuan rumah hanya Rp50.000,00 dengan alasan diambil oleh preman pasar. Seketika, aku kembali menitik kan air mataku. Lagi-lagi ia berkorban untuk ku. Namun, kembali lagi ia mengingatkanku bahwa Tuhan adalah Maha pengasih, penyayang dan adil. Kita hanya tidak tau apa yang baik dan buruk untuk kita. Karenanya ia selalu berkata "Menyerah bukanlah jalan manusia. Ikutilah alur yang ada dan selalulah bersyukur. Kita tidak tahu apa yang baik dan - lebih baik bagi kita."
Itulah yang tidak dapat kulupakan darinya.
Sampai beberapa hari telah berlalu, ketika mentari sibuk menelisik ruanganku yang hanya berisikan dua kasur tipis di sudut ruangan dan satu keranjang tempat bajuku dan adik kembarku. Aku sudah sibuk menyiapkan barang-barang yang akan kujual disekolah nanti atas perintah Tuan Rumah seperti biasa nya. Sementara, adik kembarku sudah sibuk menyusun gorengan dan camilan yang akan kami jual di sekolah. Ia menyiapkan semua nya di dapur. Malam sebelumnya, kami mengadonnya berdua, dan subuh pagi setelah sholat subuh, aku menggoreng adonan gorengan itu dan dia membersihkan barang-barang yang berserakan. Kemudian, tepat pukul 07.00 pagi. Tuan Rumah akan datang dan mengecek semuanya.
Namun, hari itu pertama kalinya ia tidak menampakkan dirinya. Sudah 30 menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda kemunculannya. Kami berdua sudah menunggunya di teras rumah. Setelahnya, aku memutuskan untuk membersihkan vas bunga yang aku buat sendiri dengan tanah liat yang akan kujual pada guruku yang memesannya di sekolah. Baru 2 menit berlalu, sebuah mobil bewarna hitam dengan kecepatan tinggi datang menghampiri tempat kami berada. Mobil itu berhenti tepat di depan teras rumah. Keluarlah Bi Anjin, tuan Rumah kami. Dengan wajah yang sangat merah, ia berjalan menuju kami sambil meremas sebuah kertas.
Kertas itu dilemparkan kearahku dengan kasar. Altair yang melihat itu, dengan sigap mendekatiku dan hendak melindungiku. Namun, dengan isyarat aku menyuruhnya agar tetap berada disampingku dan tidak perlu bertindak.
Ketika Bi Anjin tepat berada di hadapan kami, ia menepukkan kedua tangannya. Dan keluarlah 5 pria bertubuh besar, kekar, dan pakaian serba hitam dari dalam mobil milik Bi Anjin itu. Altair seketika merapatkan dirinya padaku dan memegang bahuku. Sementara, aku mengeratkan peganganku pada vas bunga yang aku bersihkan sebelum itu.
Setelahnya, Bu Anjin mendekatiku dan menarik rambutku. Altair yang melihat itu, dengan segera menarikku. Melihat hal itu, Bu Anjin berkata, "Dasar brengsek! Gak Guna! Percuma aku bersarkan kalian klo kerjanya buat masalah aja! Dasar Gak tau diuntung! Sudah berapa kali aku bilang. Jangan sok kecantikan! Nilai rendah, kerja nya rebut pacar anak orang kaya. Kalian itu ga punya apa-apa. Inget itu! Dasar tolol! Sini kamu! Perlu dikasih pelajaran!"
Bu Anjin ingin menjambakku lagi. Namun. ditahan oleh Altair. Bi Anjin yang sudah penuh amarah dengan segera mengejarku dan tidak memperdulikan Altair. Aku berlari menuju gudang di sebelah rumah. Belum sempat aku bersembunyi, Bi Anjin datang sambil membawa vas yang tadi aku tinggalkan di teras.
Aku ingin berlari, namun dengan segera Bi Anjin menujuku dan melemparkan vas itu ke arahku. Seketika tubuhku seakan membeku dan tidak dapat berpindah dari tempat Itu. Aku hanya dapat memejamkan kedua mataku. Detik itu juga, suara vas pecah berdengung di gendang telingaku. Namun, tak ada rasa sakit yang kurasakan. Seketika, aku menyadari. Kubukakan kedua mataku. Dan kulihat tepat di hadapanku, adik kembarku sudah berlumuran darah. Hatiku seakan hancur. Dinding pertahananku runtuh. Aku terduduk. Dengan tangan bergetar, aku memeluk adikku dan tanpa sadar berkata, "Adik, bangun okey! Kamu nga papa kan ?". Tangisku pecah. Dan aku terus memeluk adikku.
Bi Anjin yang melihat itu. tanpa rasa sesal sedikitpun meminta 3 orang pria kekar tadi membawa Altair. Dan 2 orang nya lagi dipenntahkan untuk mengurungku dalam gudang. Tubuhku seakan lumpuh oleh akalku. Aku terus berusaha memberontak. Namun, apa daya, Altair sudah dibawa pergl oleh mereka. Aku menangis sejadi-jadinya dalam gudang itu. Aku berteriak, memukul- mukul dadaku, dan menjambak rambutku.
Itulah awal kurasakan hancurnya hidupku. Pikiranku kala itu hanyalah "bagaimana keadaan Altair?"
3 hari berlalu, namun aku masih terkurung dalam gudang itu. Kala itu, aku terduduk menyandar pada pintu gudang itu. Tangisku beriringan selama 3 hari bagaikan alunan Perih di hatiku. Air mataku tak dapat mengalir lagi. Mataku sembab dan bajuku basah. Tanganku bergetar dan tubuhku meng-gigil. Yang ada pada pikiranku hanyalah "Bagaimana keadaan Altair?". Seketika, aku kembali menangis. Namun, aku sudah tidak memiliki air mata lagi. Aku hanya dapat berteriak dengan suara parau seraya menjambak rambutku dengan kedua tanganku yang sudah dipenuhi dengan goresan akibat kayu di gudang itu. Aku tidak tahu seberapa buruk bagaimana keadaanku kala itu.
Tak lama kemudian, gudang yang gelap gulita itupun menjadi terang. Lampu yang berada di atas kepalaku menerangkan cahaya nya seakan berkata "Ini bukan saatnya bersedih. Bangkitlah! Ingat! Kembaranmu berkorban demi dirimul Dan kau malah menghancurkan dirimu sendid! Bangkit lah!
Seketika mengingat hal itu, aku berhenti menjambak rambutku. Dengan lemah dan berpegangan pintu, aku bangkit dan berdin. Ku perhatikan seluruh isi gudang ini. Aku bertanya-tanya, siapa yang telah menghidup kan lampu gudang ini. Tak ingin semakin terpuruk, aku pun berkeliling melihat-lihat isi gedung itu. Tak terasa sudah berapa barang yang kuamati. Akhirnya, aku tertarik pada kumpulan kotak dan kertas di sudut gudang itu. Kuamati semua barang yang ada, kubuka kotak-kotak ada disitu, dan kubaca kertas-kertas yang beetumpuk disitu.
Setelah membaca sebagian dari tumpukan kertas - kertas itu, aku pun tahu bahwa Bi Anjin itu dulunya adalah orang yang sangat kaya. Namun, jatuh miskin. la tidak dapat memiliki anak. la diceraikan dan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Dan wanita itu adalah kakak tirinya sendiri.
Setelah membaca dan membuka banyak kertas dan kotak, Ada sebuah kotak yang sangat menarik perhatianku. Kotak itu berukuran sedang. Yang kulihat, kotak itu berupa ukiran kayu dengan lapisan warna coklat muda. Kuamati kotak itu lebih dekat, namun kotak itu nampak seperti ukiran kayu berbentuk pejal. Namun, hati kecilku mengatakan bahwa kotak itu tidak sesederhana dari kelihatannya Akhirnya, aku memutuskan untuk menghancurkan dan memebuka kotak itu. Cukup lama aku berpikir, sebelum kuputuskan untuk melemparkan kotak itu pada tembok gedung disitu.
Ketika aku melemparkan kotak itu, kotak ukiran itu terbelah menjadi dua bagian - tepat pada tengahnya. Dan keluarkah kotak kecil bewarna abu-abu. Kotak keal itu seperti kotak cincin. Namun, warna kotak ini seperti jarang kutemui. Berwarna dominan abu-abu, dengan sedikit garis- garis emas seperti coraknya Lalu aku membuka kotak kecil itu. Ternyata isinya memang cincin. Lebih tepat nya sepasang cincin. Cincin - cincın itu terlihat sungat mewah dan mahal. Aku tidak tau siapa yang menaruhnya di gudang ini. Karena rasa penasaran, aku pun meneliti dan membongkar isi kutak itu. Dan benar saja, di bawah dua cincin itu, terdapat kertas yang jika dilihat sekilas hanyalah tampak seperti kain alas untuk cincin-cincin itu.
Perlahan, aku membuka lipatan kertas itu. Setelah membacanya, seakan hatiku hancur untuk kedua kalinya. Dengan tangan bergetar, dan mataku yang mulai memanas. Kembali kubaca kertas itu. Seketika, hati ku seperti teriris dan begitu tersiksa. Aku tak tau, apakah aku harus bahagia, sedih, atau marah kala itu?
Tak lama kemudian, akal kembali menguasaiku. Ku kumpulkan kedua kotak itu. Dan kukembalikan ke keadaannya semula. Lalu aku kembali duduk menyandurkan bahuku pada pintu gudang sambil memegang kotak ukiran itu. Entahlah, pikiranku benar-benar kosong kala itu. Tanpa sadar, akhirnya mataku tertutup dan akupun terlelap dengan tanganku memeluk kotak ukiran itu.
Keesokan harinya, suara seseorang mengusik gendang telingaku. Cahaya yang begitu terang pun seakan menusuk kedua mataku. Akhirnya, aku terbangun dan segera duduk dengan posisi tidak menyandarkan bahuku. Seketika, aku sadar, kotak ukiran itu. Dan ternyata ada dalam genggaman tangan kiriku. Lalu, suara seseorang membuatku terkejut, "Hei, dek! Dari tadi juga, kenapa ga sadar -sadar?."
Aku hanya menatap orang itu tanpa menjawab perkataannya. Ia adalah salah satu pria yang menahanku dan mengunciku di gudang selama beberapa had ini. Seakan amarah telah menguasaiku, Aku O bangkit dan memukul kasar orang itu. Aku mendorongnya dan ingin membennya 5 pelajaran. Namun, dengan mudahnya ra I menangkapku dan berkata, "Dengar ! Pliss.. Jangan nangis dulul Aku tau ini I berat bahkan sangat berat untuk gadis 5 sebatang kara seperti kamu. Untuk gadis berumur 17, past sangat berat bagimu. Dengarkan aku, aku in orang baik. Tau yang mana benar dan salah Aku akan membebaskanmu. Ini ada senter kamu bisa kabur dan jangan I pernah kembali. Adikmu telah berpulang ke Kahmatullah dan dimakamkan di pemakaman publik tempat biasa kamu menjual bunga dan kain kafan - Tolong maafkan aku ya Aku ga berbuat apa-apa." bisa
Mendengar perkataannya, seakan tubuhku membeku. Aku tidak peduli lagi apa yang dikatakan orang hanya mengambil senter itu dan berlar itu. Aku keluar pekarangan rumah sambil memengang kotak ukiran yang aku temul sehad yang lalu.
Beberapa jam berlalu, dan aku tiba di pemakaman publik. Gelapnya pemakaman itu tak membuatku takut sedikitpun.. Samar samar aku mencar makam adik kembarku menggunakan senter yang diben orang yang membebaskanku waktu beberapa waktu lalu..
langkahku terarahkan pada sebuah makam dekat pohon pandan, Kuarahkan senterky pada makam itu. Makam yang sangat sederhana. Gundukan tanah dan kayu keal sebagal papan nisannya yang hanya bertuliskan "Altair".
Seketika aku terjatuh menjatukkan diriku diatas + samping makam itu dan memeluknya Hanky sangat hancur. melihat makam ini. Adik kembarku yang merupakan satu-satunya yang Berolda di sisiku temt F Telah pergi jauh meninggalkanku. Aku hanya bisa menang is tanpa air mata sambil tenisak diatas makam adikku itu Padahal, aku sudah menemukan orang tua kita. Namun, Altair malah pergl mendahuluiku dan meninggalkanku.
Karena terlalu leleh menangis dan bersedih, akhirnya aku terlelap di atas makam adik Kembarku itu.
Beberapa waktu berlalu, dan aku membuka kedua mataku langit terasa terang sekali. Kuhadapkan wajahku ke samping kananku, dan aku melihat adik kembarku yang sedang tersenyum padaku. Seketika aku langsung memeluk nya, aku tak peduli apakah itu hanya halusinasi. Aku sangat merindukannya kala Itu Aku menatapnya dan memeluknya lagi. Sampal dia berkata " Kak Elvy kesayangan nya Altair. Adek mohon jangan sedih karena Perginya Altair. Altair sekarang 1 sudah bahagia kak. Inilah 2 Altair demi kakak kakak haruangan 5 mamah. Dan soal cinan Altair. Altair kasih I pasangan hidup kakak nanti. temui Sekarang I kakak harus bangkit demi Altair. Jadi I orang yang baik dan taat sama Tuhan I Kakak, ingat pesan Altair. Selalulah I bersyukur apapun keadaan kakak. Karena 5 kita tidak tau apa yang baik buat Ilata. Yaudah, kalau gitu. Altair titip salam sama mamah ya sama ayah baru kita juga Altair sayang sama kak Elvy. Semangat kakak kembarku" Setelah perkataannya, Altair seakan menjauh dan menghilang dan pandangan ku
Aku seketika terbangun dan menyadari bahura semua Itu hanyalah mimpt. Aku sadar, perkataan Altair sangatlah benar dan aku harus berubah. Akhirnya, - kuputuskan untuk pergi dan pemakaman I publik itu dan mencan rumah mamah I seperti yang I langit fajar ada di surat. Ketika itu barulah menyapa ] hembusan angin serta fetesan embun dan
5 barulah bersemilir. Dan mereka menjadi
suksi kebangkitanku dan keterpurukcan
ini dan berusaha hidup lebih baik. Dan kini, disinilah aku berdin. Di depan I rumah mewah dan megah. Dengan I hanya berpenampilan sangat acak -acalcan de sambil memegang kotak ularan I kaya. yang bersikan kotak anan yang menyimpan "Pesan balik Mamah
__________________________________________________
Anak mamah sayang,
Maafkan mamahmu yang tidak becus Ini. Mama tau, kalian pasti akan menjad anak yang hebat dan kuat tanpa manuh. Sebenarnya, mamah bukan membung kalian apalagi membenci kalian Malah tanpa kalian, hidup mamah akan hampa.Karena waktu itu, kalian ingin dibunuh oleh papa kalian sendin. Mamah ingin minta ceral dan merawat kalian sendin. Namun, papa kalian mengancap alcan membunuh kalian. Jadi mamah kabur dan menaruh kalian di depan rumah yang kalian tinggall itu. Dan menaruh Leotal int melempar kotak ini tempat di sebelah rumah itu.. Datanglah ke rumah mi karena mamah pasti dda disana.
Rotre street. Rumah no 14
Kalau sampai kalian membaca surat mamah belum pernah mengunjungi kalian, berarti mamah............ Sudahlah, mamah mohon halik yah...
Maafin mamah...
Mamah sayang kalian...
__________________________________________________