Terinspirasi dari film:
Mujhse Dosti Karoge!
***
The Quote:
Hati hanya bisa merasa, tidak seperti mulut yang bisa berfrasa dengan vocal bernada.
Rosé Alyne Everleight berkata, "Iya, aku merasakannya."
***
"Lisa, yuhuuuu kamu dimana, Lisaaaa," panggil Rosé.
Perempuan berambut pirang itu bukan sekedar berteriak di pagi buta dengan membobol rumah tetangga, langkahnya pun tergesa dengan tidak perduli ada makhluk lain di sekitarnya.
"Rosé, kamu tidak menyapaku! Heh! Jangan lari-larian nanti kamu jatuh!" Bona memperingati.
Bona, wanita setengah baya yang kebetulan adalah ibu dari Lalisa sahabatnya; mengingatkan Rosé yang tengah melebarkan pijakkan kakinya tanpa menoleh padanya—pikirnya Bona bukan manusia kali ya, ngomong-ngomong ini kan rumahnya.
Rosé tidak tahu diri rupanya.
Rosé yang masih berbalut piyama merah maroon berbahan satin itu menoleh tanpa menghentikan langkah kakinya. "Hai Auntie," sapanya. "It's okay, janji nggak akan jatuh kok," lanjutnya.
Bruak.
Belum, belum sedetik bahkan mulutnya belum menutup saat kalimat terakhir dari janji itu Rosé lisankan; dengan tidak elitnya, tubuh bagian dada, perut dan lututnya sudah memasrahkan diri untuk berpelukan dengan lantai—tengkurap.
"Kamu tuh ya, sudah lebih dari seribu kali Auntie mengingatkan, denge-"
"Stop Aunty, Rosé denger, beneran! Nanti saja ya marahnya!" pinta Rosé. Bersama itu telapak tangannya menopang lantai guna menambah kekuatan kaki untuk berdiri. "Ada hal penting yang harus Rosé urus dengan Lisa, dan itu lebih penting ketimbang bau gosong dari arah dapur milik Auntie," imbuhnya..
Jarak kedua orang berjenis kelamin sama dengan usia berbeda itu hanya terhalang meja makan saja, sebelum ada peperangan antar tetangga, Rosé berlari karena masih sayang dengan nyawanya.
Tapi, Rosé menghentikan gerakan kakinya dan menoleh ke arah Bona yang masih terlihat mematung meresapi bau sangit yang menelungsup lubang hidungnya.
"Auntie, jatuh tengkurep nggak bikin payudara Rosé kempes kan?" tanya Rosé polos.
"ROSÉ ALYNE EVERLEIGH."
Detik itu juga, Rosé berlari atau perabotan rumah tangga akan melayang keudara dan jatuh menimpanya.
***
"Lisa, Lisa, Lisa."
Lisa yang dipanggil mengeliat dalam rengkuhan tidurnya dibawah selimut. Jika di ingat-ingat lagi, hari ini adalah hari minggu; sebab apa yang membuat Rosé dengan suara cemprengnya itu mengusik ketenangan paginya.
"Hm," saut Lisa malas.
"Ini bukan lagi darurat, Lalisa! Kritis! Kritis!" Rosé berseru. Tangan berjari lentik itu menarik selimut Lisa hingga kepala sahabatnya muncul untuk menyapa.
Lalisa Barno Samanta memaksa matanya untuk terbuka, kendati kantuk masih mendera, dirinya rela untuk bangun dari tidurnya. Gadis itu menghitung dalam hati; satu, dua, dan dalam hitungan ketiga, Lisa sudah terduduk bersamaan menyibak selimutnya.
"Ya Tuhan, Rosé. Masih pagi banget tahu nggak sih. Suara burung di luar sana masih lebih indah daripada suara cempreng milikmu," marah Lisa dengan mata yang masih sulit terbuka.
"Vee. Cowok itu bakalan balik ke Indo siang nanti," heboh Rosé.
Lisa menyatukan kedua alisnya. "Vee? Siapa dia?" tanyanya datar.
"Vee Kanesh Bellamy, Lis. Astaga, teman kita waktu kecil, yang nempatin rumah depan," jelas Rosé.
Rosé mengamati Lisa yang nampak berpikir dengan penjelasan terakhir darinya. Wajahnya berseri meskipun belum mendapatkan basuhan di pagi hari; ya pantas saja, setelah mendapatkan email dadakan sepagi ini, gadis itu langsung melesat dan menenggelamkan tubuhnya di kediaman Lisa yang tepatnya di sebelah rumahnya.
"Aaaaa." Lisa mengangguk-angguk. "Vee yang dulunya gemuk banget itu kan? Anak dari Vane Uncle dan Clara Auntie!" ujarnya tak begitu berminat berbeda dengan Rosé yang begitu semangat.
"Iya, iya bener banget. Vee yang itu."
Lisa membanting punggung lurusnya untuk direbahkan lagi ke ranjang. "Kirain apaan, udah sono balik atau tidur sini disampingku," perintahnya dengan tangan menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya.
Rosé tak mengalah, gadis itu menarik lengan Lisa agar terduduk kembali. "Beneran, Lis. Ini tuh gawat banget. Kamu harus menolongku. Titik! Nggak ada penolakan!"
"Atau aku bakalan bilang ke Bona Auntie soal kamu yang sering pergi ke klub malam," imbuh Rose dengan ancaman yang membuat Lisa tak dapat menolak permintaannya.
"Dasar cepu, iya-iya apa?"
Rosé memposisikan dirinya untuk duduk di pinggir ranjang dengan Lisa yang mengamati gerak-geriknya. "Jadi gini," ucapnya dengan sedikit jeda. Kedua telapak tangan gadis itu saling meremat, tampak ragu juga dari raut muka nya. "Semenjak Vee pergi ke Kanada, aku dan dia tetep saling kirim email, bahkan sampai sekarang. Dan masalahnya adalah, aku memakai identitasmu," lanjut Rosé.
"Ter-terus?" tanya Lisa sedikit gagap. Jujur gadis itu tiba-tiba merasa akan ada kesialan yang menimpanaya.
"Kamu harus berperan jadi Lisa yang sudah kenal banget sama Vee!" perintah Rosé. "Nanti aku jelasin detailnya. Oke bye," imbuhnya bersamaan itu berdiri dan pergi dari hadapan Lisa yang masih ternganga dengan permintaan Rosé yang tak terduga—benar-benar sial ternyata.
"Eits, jangan lupa nanti kita bakalan jemput dia ke bandara bareng Mama dan Papa kita juga."
***
Bisu biasanya dapat terjadi akibat beberapa faktor seperti; genetika, cacat ataupun kecelakaan.
Namun hal langka yang terjadi di siang hari ini adalah, dimana seorang Lalisa yang tiba-tiba kehilangan indra cakapnya hanya karena paras tampan seseorang yang belum lima menit yang lalu diolok-oloknya dengan habis-habisan. "Rosé, aku nggak mau! Vee itu jelek, gendut, cupu lagi," katanya seperti itu.
Sekarang Lisa menyesal.
Seakan tertampar oleh kenyataan, Lisa bungkam; tenggorokkan, pita suara, paru-paru, lidah dan sebagainya berhenti untuk bekerja. Hanya mata, hanya indra itu saja yang masih belum berpaling dari pemuda yang tengah mendekat padanya.
Suasana mendadak ramai, suara riuh saling mengungkap kata rindu terdengar antara ke tiga orang tua, begitupun dengan ketiga keturunannya.
"Lisa, pasti kamu kan?" tebak Vee tiba-tiba.
Tanpa adanya basa-basi, pemuda itu menunjuk kearah gadis yang sudah sangat dirindukannya, meskipun menurutnya setiap haripun masih mengirim kabar tak terkecuali pagi tadi.
Lisa tak bergeming sampai sepotong lengan mencablek bokongnya dari belakang. "Hah? I-iya," jawab Lisa.
"Aku tidak salah menebak kan. Sudah aku bilang, aku pasti akan mengenalmu. Kamu tetap yang tercantik dari dulu," ungkap Vee.
Ya memang dalam isi e-mail sebelumnya adalah, Vee yang ditantang oleh Rosé yang mengaku menjadi Lisa untuk menebak kejelian mata; menebak siapa Lisa sebenarnya. Dan, ya, Vee benar.
Skenario yang sudah dibicarakan sepanjang jalan tadi masih diingat oleh Lisa. Rosé sudah menjelaskan bagaimana cara menghadapi Vee jika sudah bertemu nanti.
Vee menoleh kearah samping kiri Lisa, dimana Rosé sedang berdiri disana. Pacuan jantung gadis yang satu ini sedari tadi tak mengurangi kecepatannya, seakan menggila dengan perasaan yang sama; seperti lima belas tahun yang lalu.
Jika dipikir lagi, apa alasan Rosé ingin tetap mengirim kabar walau harus menyamar menjadi Lalisa dengan Vee yang percaya begitu saja. Jawabannya tentu saja Rosé nya memendam rasa meskipun dia sudah tau resikonya; cinta tak terbalas karena ada garis lurus yang membentuk segitiga. Rosé paham, bahkan sangat tahu jika Vee menyukai gadis pertama yang disapanya.
Tak terduga, Vee mencubit pipi yang terlihat sedikit menggembul milik Rosé, bersama itu bibirnya membentuk senyum kotak khas miliknya. "Sudah bisa kutebak, kamu pasti Rosé kan? Masih sangat imut meski dulu kamu lebih gendut," ungkapnya.
"Yak!" marah Rosé.
Tentu saja gadis itu berteriak. Kata imut ditambah gendut adalah hal sakral yang teramat sangat mengganggu telinganya, terlebih orang yang mengatakannya adalah pemuda yang disukainya.
Lupakan soal jantung yang berpacu, kini Rosé cemberut yang menurut Vee sangatlah lucu. "Kamu dulu juga gendut, Vee," timpalnya tak mau kalah.
"Anak-anak ayo pulang," ajak salah satu orang tua.
Vee tanpa ragu melupakan amarah lucu Rosé dan beralih merangkul pundak Lisa untuk diajaknya berjalan bersama. Dari arah belakang, Rosé jelas melihat keduanya sedang bercanda gurau dengan sesekali Lisa tebahak akibat lelucon yang Vee lemparkan padanya.
"Apalah aku yang dari dulu tampak seperti lelucon dan kurang cantik," gumam Rosé sedih.
Rosé membawa tubuh dengan perasaan yang campur aduk. Senang, sedih, dan merasa bersalah. Takut jika kebohongan dan sandiwara yang disusunnya hancur berantakan dan berakhir dengan Vee yang membencinya.
"Jangan sampai," gumam Rosé lagi.
***
Seminggu sudah berlalu semenjak Vee kembli lagi ke Indonesia. Suasana komplek yang memang hanya terisi tiga rumah saja kini semakin ramai hanya karena kehadiran Bellamy sekeluarga.
Hunian yang biasanya redup dan hanya meninggalkan pencahayaan di teras saja kini sudah berubah terang memenui seisi ruangan. Rosé memandang ke arah luar lewat balkon kamarnya, fokusnya tertuju ke arah kanan dimana kamar Vee berada. Berpindah ke arah kiri dimana rumah Lisa berdiri—kamar kedua sahabatnya itu sama-sama gelap.
"Mereka belum pulang rupanya," ucap Rosé sembari menaruh dagunya untuk ditopang dengan telapak tangan yang menyandar di pagar balkon.
Bukan tanpa alasan Rosé berdiam diri di rumah saja dan menolak ajakan kedua sahabatnya. Pasalnya, Lisa mengatakan sudah jatuh cinta pada Vee yang juga menyukainya. Jadi untuk apa Rosé ikut kencan mereka berdua walaupun statusnya memang masih belum ada.
Semilir angin yang terasa dingin menerpa wajah Rosé hingga menerbangkan helaian rambutnya ke belakang, perlahan menutup mata menikmati sentuhan dari alam.
Jika dipikir lagi, bagaimana bisa Rosé bertahan dengan cinta bertepuk sebelah tangan sampai sejauh ini—Rosé juga tidak perduli dengan alasannya, dan hanya ingin menikmati rasa itu hingga melebur dengan sendirinya.
Suara deruman mesin mobil memasuki pelataran rumah, Rosé membuka kelopak matanya hingga tontonan yang terlihat di depan matanya membuat tungkai panjang itu mendadak berjalan mundur dengan tergesa hingga menenggelamkan tubuhnya dibalik jendela.
Rosé mengelus dada. "Untung saja," ucapnya.
Niatnya Rosé ingin melihat Vee dan Lisa yang baru saja pulang. Tapi, menguping dan mengendap bukanlah gayanya, sampai akhirnya gadis itu memilih untuk melimbung di ranjang dan segera menutup mata.
***
Pagi ini Rosé terbangun dari tidurnya, masih terlalu dini bahkan mentari saja belum sudi untuk berdiri menyinari bumi. Mata terbuka lebar dengan keinginan yang membumbung untuk dikabulkan—lari pagi.
Membalut tubuh dengan outwear pilihan, Rosé melanjutkan untuk membungkus kaki dengan sepatu lari. Pikirnya mungkin akan sedikit lega jika kebugaran tubuh tetap terjaga, nyatanya memang kondisi perasaannya juga tak begitu baik hingga membutuhkan kegiatan untuk sejenak melupakan.
Terhitung tiga hari Rosé begini, sampai-sampai Tuan dan Nyonya Everleigh geleng kepala karena tidak tahu ada apa dengan anak gadisnya; bangun di pagi buta dan mengistirahatkan tubuhnya saat malam tiba.
Bahkan, ketika diajak untuk berkumpul makan malam bersama atau hanya sekedar bercengkrama dengan keluarga Bellamy dan Samanta, maka jawabannya, "Maaf, Rosé sibuk, Ma, Pa."
Rute jogging yang dilewati Rosé sudahlah pasti, melewati jalanan sepi kendaraan yang memang disediakan untuk para lansia juga.
"Selamat pagi, grandma," sapa Rosé. Gadis itu melambaikan tangan tanpa menghentikan larian kecilnya.
Wanita tua yang disapa menolehkan atensinya, tersenyum di sela wajah keriputnya. "Pagi juga, Rosé," balasnya.
Begitupun selanjutnya dengan Rosé menyapa satu persatu orang yang sudah dikenalnya di lingkungan perumahan yang disinggahinya. Tubuh itu membawa diri sampai ke taman, tepatnya pusat para orang untuk menyehatkan badan.
Tepukan pada pundak sebelah kanan membuat Rosé terpaksa menoleh. "Vee," ucapnya.
Vee yang dipanggil hanya tersenyum sembari mengelap keringat di dahi. Keduanya terpaksa untuk berhenti dari berlari. "Disapa dong, selamat pagi kek, atau apa gitu," protes Vee.
"Eui! Bodo, Vee."
Rosé ogah-ogahan menanggapi permintaan Vee. Gadis itu memilih untuk minum air putih dari botol yang sedari rumah tadi dibawanya. Sampai tegukan ke lima, Rosé menurunkan wadah airnua.
"Eh!" Rosé memekik.
Sreeet.
Vee merebut botol milik Rosé dan meneguk sampai habis tak tersisa. "Haus, aku lupa bawa air," terangnya.
Meminum air dalam botol yang sama memang sudah biasa, sejak kecil sudah seperti itu pertemanan mereka. Makan sepiring berdua sampai membagi sendok pun juga sudah menjadi kebiasaan, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
"Mau jadi kekasihku?"
"Hah?"
"Rosé, mau nggak jadi kekasihku?" ajak Vee sekali lagi.
Woe.
Vee Kanesh Bellamy nembak Rosé ini.
Seperti ada petir yang menyambar sampai rasanya terbakar. Rosé kepanasan dalam artian tubuhnya syok berat sampai muncul rona merah di pipinya. Katakan Rosé berlebihan, tapi efek dari ungkapan Vee yang mendadak sontak membuatnya tak sanggup untuk bergerak.
Tapi.......
"Wait," ucap Rosé. "Bercanda 'kan?" tanyanya geram sampai melempar handuk tepat di wajah Vee yang cengingiran.
Persetan dengan bau handuk yang sedikit basah karena keringatnya terserap disana. Biar tau rasa Vee, karena ulahnya yang membuat jantung Rosé berlarian seakan berpesta karena kabar menggembirakan yang ternyata hanyalah tipuan.
"Yah, marah," ucap Vee bersama itu mengejar Rosé yang meninggalkannya.
Vee berjalan mundur saat tubuhnya berada di depan Rosé yang tak mau menghentikan larinya. "Bantu aku dong," pintanya.
Rosé tak menggubris dan memilih untuk berlari lebih cepat sampai Vee kualahan dengan langkah mundurnya. Namun, Vee tak mau berhenti begitu saja, sebisa mungkin pemuda itu tetap menyeimbangi kecepatan yang ditingkatkan oleh Rosé.
Vee mengeluarkan sesuatu dari kantung celana kolornya. "Bantu aku milih cincin buat Lisa," pinta Vee lagi.
Kali ini, Rosé berhenti. Cincin dan Lisa, sesuatu yang berkaitan itu menyedot perhatiannya. Firasatnya mengatakan jika setelah ini akan ada ikatan yang menyatukan kedua sahabatnya.
"Kamu mau ngelamar Lisa?" tanya Rosé. Entah keberanian dari mana hingga bibir dengan warna cherry itu mampu bertanya seperti itu.
Vee hanya memunjukkan ekspresi dengan mimik wajah meyakinkan bahwa pertanyaan Rosé memanglah benar. Pemuda itu membuka benda kecil berwarna biru dengan ornamen bludru; dua cincin ada didalamnya.
"Lisa pernah bilang selera kalian sama, jadi bantu aku milih cincin mana yang bakal Lisa suka," terang Vee.
Pandangan Rosé hampir memburam jika saja ia tak mampu untuk menghalau cairan yang akan keluar. Jujur, saat-saat seperti ini sudah pasti diprediksi olehnya, tapi tidak tahu bakalan sesakit ini rasanya.
"Jadi, kamu sengaja ngikutin aku pagi-pagi gini cuma buat nanyain ini?"
"Tiap hari aku ke rumah kamu, nyari kamu, tante Dara selalu bilang kamu sibuk-" Vee menjeda, menarik nafas sedalam-dalamnya, ia sebenarnya tidak ingin Rosé salah sangka dan mengira dirinya hanya memanfaatkannya saja. "Atau memang kamu yang menghindar!" tuduh Vee melanjutkan.
Perkataan Vee dengan tuduhannya sangatlah benar, Rosé tidak bisa menepis pun tak bisa juga mengakui langsung. Gadis itu memilih untuk tersenyum diatas terperosoknya rasa yang kian menyakitkan.
"Oke, aku bantuin deh," putus Rosé membuat Vee lega. "Tapi jangan tuduh aku menghindar," pintanya.
Vee tergelak tawa, ya ampun begitu saja sudah tersinggung.
Jika memang tidak menghindar kenapa menepis tuduhan, dia kira Vee masih bocah piyik kali ya. Tapi tak apalah, yang terpenting Rosé dapat memenuhi keinginannya untuk memilih cincin untuk Lisa-nya.
***
Pikiran Rosé melayang pada kejadian dua hari yang lalu, dimana Gadis itu mendapati senyum bahagia Vee saat dirinya memutuskan untuk memilihkan cincin untuk Lalisa. Jika Vee sebahagia itu, lantas apa yang membuatnya harus bersedih.
Cinta tak harus memiliki, definisi seperti itu sungguh menggelikan sebenarnya, tapi jika kedua sahabatnya saling suka mau bagaiama Rosé harus menerima dengan lapang dada.
"Rosé," panggil seseorang dari balik pintu.
Rosé menoleh dan mendapati Lisa yang tengah melebarkan senyumnya. Gadis itu berlari kecil menghampiri Rosé yang sedang duduk di kursi piano dalam kamarnya.
"Lagi latihan?" tanya Lisa saat tubuhnya sudah duduk disamping Rosé.
Rosé mengangguk. "Hem," jawabnya.
"Bawain lagu apa nih?"
Rosé tak menjawab dan mulai menekan tuts piano hingga menciptakan sebuah nada. Irama itu cukup menyentuh, jika didalami maknanya, maka akan menemukan kesedihan didalamnya.
"Fix you!" tebak Lisa. Gadis itu menggerakkan pundaknya untuk menubruk tubuh Rosé dari samping. "Lagi jatuh cinta apa patah hati nih?" tanya Lisa menggoda.
"Ngapain kesini?" bukan menjawab, Rosé seakan mengalihkan pembicaraan.
Lisa mengangkat tangan kirinya, di jari manis miliknya terdapat cincin yang melingkar. "Vee ngelamar aku, belum resmi sih, tapi aku seneng bangeeeeeet," terangnya.
Saat mengatakan kabar gembira tentu saja ditemani dengan senyum yang ceria, mana tega Rosé tidak ikut bahagia. Lisa termasuk segalanya untuk Rosé, mereka tumbuh bersama, kemana-mana berdua, sampai barang-barang merekapun tak jauh berbeda. Jika orang melihatnya, mungkin akan mengira kembar tapi beda.
Rosé memeluk Lisa, alasan klasiknya untuk menyembunyikan raut sedih yang membobol pertahanan hatinya. Takut jika Lisa melihat dan akhirnya bertanya, karena Rosé tidak tau harus menjawab apa.
"Selamat, sweety," ucap Rosé disela pelukannya.
Lisa melonggarkan pelukannya. "Semua berkatmu, Rosé."
Rosé mengangkat kedua alisnya. "Kok bisa?"
Lisa meringis sembari menggaruk pelipisnya. "E-mail, jika kamu tidak menyamar jadi aku, mungkin semua nggak akan terjadi," ungkapnya.
Rosé mengangguk, seakan mengerti jika perkataan Lisa memang benar dan harus di akui.
Karena memang Rosé lah yang memulai; membuka jalan untuk kebahagiaan orang lain dan bermain api hingga dirinya sendiri yang tersakiti.
***
"Mama, Rosé pinjem mobilnya dong," teriak Rosé.
Rosé menuruni anakan tangga menuju lantai satu rumahnya, sementara Dara sedang berada didapur untuk menyiapkan sarapan. Gadis itu terburu-buru dengan larian kecilnya, sampai sepatu kets yang membalut kakinya pun masih belum tertali dengan rapi.
"Ngapain pinjem mobil mama?" balas Dara tak kalah keras.
Rosé mendengus sembari menaruh tas slempang dan beberapa buku yang dibawanya di atas meja. "Mama nggak lihat, mesin mobil Rosé rusak, semalem Rosé sampai ngedorong dari post satpam. Untung mang Bimo bantuin," jelas Rosé keras dari ruang tengah.
Tahukah jika kedua ibu dan anak itu tak saling berhadapan dan berbicara hanya mengandalkan kekerasan suara—sungguh berisik.
Rosé sedikit berlari kearah meja makan, karena baru saja melirik pergelangan tangan yang terdapat jam menunjukkan pukul delapan—sudah sedikit telat.
"Lho! Ngapain kamu kesini? Numpang makan?" Rosé reflek bertanya seperti itu, sebab anak tetangga pagi-pagi sudah nyasar dirumahnya, mana sedang sarapan lagi.
Vee tak terima lalu mengabaikan, beralih pandang pada Dara. "Tante Dara, anaknya kok kaya gitu sih. Heran, Rosé berubah ya," sindirnya.
"Nggak tau tuh, Vee. Efek jomblo mungkin, kalau punya temen cowok kenalin gih," balas Dara.
Ini ceritanya sedang kompak untuk menyerang Rosé. Perihal kejombloan; Rosé sebenarnya nggak bisa dibilang tidak laku. Enak saja, banyak antrian panjang menunggu jawaban untuk dapat bersanding dengan Rosé asal tau saja ya.
Rosé tersungut emosi. Tangannya terlipat di bawah dada, kepalanya diangkat sedikit congkak untuk mendalami peran angkuhnya. "Enak aja. Mama tunggu acara akhir tahun ya. Rosé udah ngasih janji Jeffry, ingat namanya Jeffry, hari itu Rosé bakalan ngasih jawaban ke dia. Nikah langsung juga Rosé bersedia," kelakarnya.
Mama Dara bikin malu saja. Rosé nggak masalah sebenarnya jika dihina-hina ibunya, tapi ini beda, ada Vee lho, didepannya pula—Rosé tidak mau kehilangan muka.
"Kamu cepet makan, habis itu aku anterin ke kampus," sela Vee.
"Nggak, aku berangkat sendiri."
"Aku maksa," putus Vee.
"Kamu pengangguran? Nggak kerja?"
Vee lebih tua dua tahun darinya, dimana harusnya laki-laki itu banting tulang cari uang, bukan buang-buang waktu ngurusin orang.
Namun.
Rosé tidak tahu saja Vee jadi Boss sekarang.
Vee terkekeh. "Banyak duit akunya. Udah cepetan," desaknya.
Rosé merotasikan bola matanya, hati dan tubuhnya bertolak belakang. Niat menghindar yang dilakukannya selalu berakhir dengan kegagalan. Dengan malas-malasan Rosé mengambil piring pun segera makan.
Vee terkekeh, Rosé memang lucu sejak dulu. Itulah mengapa Vee selalu menganggapnya seperti anak kecil yang harus menurut. Perangai angkuh dan dewasa sangat tidak cocok untuk gadis itu.
***
"Lisa bilang kamu suka nyanyi," tanya Vee. Laki-laki itu sibuk mengoperasikan mesin berjalan membelah kota Jakarta, sedang Rosé berada di kursi sebelahnya.
Kalau membahas soal tarik suara, Rosé sudah pasti akan senang tiada tara. Gadis itu bisa dibilang dewi bersuara merdu di kampusnya. Tidak ada yang tidak kenal dengannya.
"Suka dong. Kamu harus nonton akhir tahun ini. Ada festival akhir tahun di kampus ku.".
Vee mengangguk-angguk. "Lisa juga sudah bilang," terangnya.
Sudahlah, percuma Rosé membawa kabar berita, toh Lisa sudah pasti lebih dulu memberitahu kekasihnya. "Boleh aku putar musik," pinta Rosé.
"Tentu saja."
Rosé mengobrak-abrik isi Dashboard mobil Vee. Satu persatu album dilihatnya, tak ada satupun yang cocok dengan seleranya.
"Aku sambungin ponselku saja ya, kamu suka lagu apa, Vee?"
"Ehm! Som......Ah! Attention," jawab Vee sedikit ragu.
"Charlie Puth?" tanya Rosé meyakinkan.
"Aah! Iya benar. Lagu latar dance cover milik Lisa yang dikirim satu Tahun yang lalu. Aku sangat menyukainya," ungkap Vee dengan senyum mengembang bahagia.
Dance cover? Rosé tampak tidak asing dengan apa yang baru saja di dengarnya.
Lagi.
Satu tahun yang lalu?
Lisa mengirimnya? Artinya Rosé sendiri lah yang mengirimnya?
"Dance cover? Milik Lisa?" tanya Rosé.
Jujur, gadis itu sedikit lupa kapan dirinya mengirim video milik Lisa. Seingatnya saat itu kiriman gagal karena komputer miliknya tiba-tiba mati dan rusak total; data hilang dan semua akun tak bisa ia masuki lagi. Alhasil, Rosé terpakasa membuat akun baru karena lupa password akun lama hanya untuk tetap bisa berbalas e-mail dengan Vee.
Vee tidak menjawab dan memilih untuk melirik Rosé yang sudah total memiringkan tubuh menghadapnya. "Mau tahu rahasia!" tawarnya tiba-tiba.
Rosé tampak antusias pada Vee. Pikirnya rahasia apa yang mau dibagi laki-laki itu untuknya. Jika itu berurusan dengan Lisa lagi, mohon maaf, Rosé mending tidak mendengar saja. Bukannya tak setia kawan, hanya ingin menjaga perasaan agar tak sakit terlalu dalam.
"Apa?"
"Lisa bodoh," ungkap Vee.
Pletak.
Tanpa komando dan aba-aba, kepalan tangan mungil Rosé mendarat di kepala Vee. Rasain, siapa suruh ngatain sahabat Rosé yang amat terkasih itu. Lagian si Lisa kan kekasihnya, mana bisa pemuda itu mengatainya.
Vee meringis sembari mengelus kepalnya. "Si anjiiir. Sakit Rosé. Mana keras lagi mukulnya. Makan apa sih kamu?" protesnya bertubi-tubi.
"Siapa suruh ngatain Lisa," jelas Rosé.
Untung mobil masih berhenti, karena lampu lalu lintas masih menyala dengan warna merah.
"Makanya dengerin dulu."
"Apa?"
Vee mengatakan. "Lisa bodoh menetapkan taruhan. Mana bisa dia menantangku untuk menebak rupanya, sudah jelas-jelas satu tahun lalu Lisa ngirim Video dance cover miliknya."
Detik ini juga, Rosé sangat yakin jika video itu berhasil terkirim. Bagaiman bisa Rosé dulu tidak bertanya perihal itu. Tolol banget pikirnya.
"Hahahhaa," Rosé tertawa sumbang yang dibuat-buat. Ia merapal doa agar Vee tidak menyadarinya. "Iya, kali ini aku setuju denganmu. Lisa benar-benar bodoh," imbuhnya.
Untung saja penyamaran masih berjalan lancar sampai sekarang.
***
Mata Rosé dipaksa memejam disusul tetesan air mata yang keluar. Jika hanya bayangan saja yang dilihat maka rasanya tak akan sepedih ini.
Beberapa saat lalu, dari arah balkon kamarnya, Rosé memandang ke arah bawah dimana Vee dan Lisa sedang berpelukan dengan ciuman sebagai perpisahan sebelum keduanya mengubur diri di masing-masing kediaman.
Memang seperti rutinitas biasanya, namun saling manautkan bibir dengan sangat jelas memanglah baru Rosé lihat meski hanya perkiraan saja. Melihat gelagat keduanya dengan tubuh Vee yang merunduk ke arah Lisa menambah asumsi jika keduanya memang saling melemparkan kecupan.
Mungkin.
Tubuh Rosé melimbung di lantai, gadis itu berjongkok dengan tangisnya yang pecah meski tak menimbulkan suara, tangannya dengan mati-matian membekap mulutnya sendiri agar tidak kelepasan. Semua kacau, Rosé total kacau.
Jika Tuhan memberi kesempatan kembali ke masa lalu, maka Rosé memilih untuk tidak berurusan dengan e-mail keparat yang menjerumuskannya ke dalam lubang terlalu dalam, mengurung semua rasa cinta yang ditinggalkan hanya untuk Vee seorang.
Suasana hati yang buruk membuat Rosé ingin pergi dan menenangkan diri. Berbalut hoodie hitam, gadis itu membawa tubuhnya untuk keluar rumah.
"Ma. Rosé mau keluar dulu, nggak malem-malem banget kok pulangnya," teriak Rosé meminta ijin.
Tak perduli dengan balasan ibunya, gadis itu menyaut kunci mobil yang ada di atas meja dan melanjutkan jalannya untuk keluar dari pintu utama.
Pandangannya berhenti pada tempat dimana Rosé melihat Vee dan Lisa tadi. Tak mau menambah sakit hati, Rosé sedikit berlari kecil menghampiri mobilnya.
"Mau kemana?"
Suara berat sedikit sexy menyapa telinganya. Rosé sangat kenal dengan vocal itu. Mengabaikan menjadi pilihan Rosé saat ini, gadis itu menarik tudung hoodie untuk menutup kepalanya lalu segera pergi.
Sreeet.
Vee menarik tangan Rosé tanpa prediksi. Membuat tubuh yang tanpa persiapan itu menubruk dada bidangnya. Rosé menunduk karena tidak mau pemuda didepannya melihat matanya yang sedikit membengkak.
"Orang tanya tuh dijawab."
Rosé tak menggubris, tangannya sibuk melepaskan cengkraman yang di buat oleh Vee. "Lepasin, Vee," pintanya.
Vee berusaha menunduk, masih mencekal pergelangan tangan Rosé. "Makanya dijawab dong, kamu mau kemana?" desaknya tak mau mengalah.
"Makan."
"Malam-malam? Tante Dara nggak masak?"
"Enggak."
"Orang kalau ngomong tuh tatap mata lawan bicara. Kamu nggak sopan ya."
Sungguh Rosé dibuat emosi oleh Vee, sudah menyakiti hati, suka mengejek lagi. Maunya apa sih, mending urusin pacar sendiri.
Katakan Rosé memang sedang cemburu, tapi gadis itu tahu diri kok, tahu posisinya dimana, tahu batasannya seperti apa. Vee dan Lisa tetap jadi sahabatnya, ya wajar saja Vee ngotot dan suka memaksa.
Rosé terpaksa mendongak. Dua insan dibawah rembulan dengan cahaya remang itu saling pandang dengan tatapan tak terartikan. Rosé sangat yakin jika pemuda dihadapannya itu bukan manusia, melainkan makhluk fiksi dengan kesempurnaan rupanya—sangat tampan dan menggoda.
Sedang Vee terhenyak oleh kenyataan jika gadis didepannya baru saja menitikan air mata. "Eh, eh kok nangis."
Rosé memang lagi hobby mengabaikan Vee, pandangannya masih belum berpaling sedari tadi. Vee yang merasa diabaikan memilih menempelkan ibu jarinya untuk megusap lembut pipi mulus milik Rosé.
Rosé terjingkat memundurkan badan. Sapuan dingin yang dialirkan dari ibu jari Vee mebuat Rosé tersadar dari lamunan. Pandangan sedekat ini dengan sentuhan se-sensitiv ini membuat Rosé semakin membenci karena tidak bisa memiliki Vee.
Mengulas sedikit senyum yang tampak getir, Rosé berkata, "Aku lagi patah hati, apa yang harus aku lakukan, Vee."
Rosé dengan sangat sadar mengatakannya. Gadis itu tidak berencana membongkar perasaanya kok, hanya saja ingin jujur dengan keadaannya.
"Berbahagialah untukku dan Lisa. Bukankah melihat sahabat bahagia bisa mengangkat kesedihanmu juga."
Saat itu juga, Rosé tersadar jika dirinya tak seharusnya menumpahkan kesedihan pada teman yang sedang berbahagia walaupun kenyataannyan itulah penyebab dirinya menderita.
"Boleh peluk kamu sebentar? Sebentar saja!" pinta Rosé.
Vee merentangan tangannya. "As you wish. Kemarilah."
***
Kediaman Samanta sedang sibuk seperti pasar Kota. Tiga keluarga sedang berkumpul untuk mendeklarasikan sebuah berita. Semua anggota hadir tak terkecuali Rosé yang biasanya tak mau walau hanya sekedar mampir.
Perkataan Vee tempo hari memang ada benarnya. Rosé memaknai dengan dirinya yang harus sadar jika sahabat bahagia maka kamu harus rela serta limbung di dalamnya.
"Ekhem," kepala Keluarga Bellamy yang tepatnya adalah ayahnya Vee berdiri memberi kode dengan deheman. Suara riuh berhenti seketika. "Mungkin kami sebagai orang tua memang sedikit terlambat," ucapnya tiba-tiba.
"Maksudnya apa, pa?" tanya Vee.
Rosé dan Lisa juga tak kalah ingin tahu karena memang tidak mengerti, perkataan ayah Vee mengarah ke anak-anak soalnya.
"Vee dan Lisa sudah pacaran kan?"
Yang bersangkutan mengangguk antusias meninggalkan Rosé yang mendadak terdiam lemas.
"Tepat sekali. Kami memang sudah menjodohkan kalian," ungkap Vane lega.
Jika takdir sudah memutuskan sebuah perkara, apa berhak manusia menghancurkannya. Begitupun dengan Rosé yang teramat sadar dan tertampar oleh jalan Tuhan, sedari awal memang Rosé hanyalah seorang penghayal.
Suara riuh terdengar kembali ke permukaan, bersorak gembira akan kabar terikatnya dua keluaraga. Rosé juga tidak mau ketinggalan untuk menyambut kabar gembira.
Rosé berdiam diri dan duduk sofa yang berada di teras belakang rumah Lisa. Para orang tua masih bercengkrama di dalam sana. Begitu pula dengan Lisa yang sedang melemparkan jokes andalannya untuk melucu dihadapan mereka semua.
Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar jelas semakin mendekat ke arah Rosé. Gadis itu tak menggubris dan masih tetap diam dengan duduknya. "Apa kamu bahagia?" Vee bertanya.
Seperti yang Rosé duga. Pemuda itulah yang datang menghampirinya. Sudah seperi film yang terputar berkali-kali, Vee selalu datang tanpa Rosé ingini.
"Sangat," jawab Rosé. "Seperti yang kamu katakan, aku bahagia melihat sahabatku bahagia, selamat untuk kamu dan Lisa" lanjutnya.
Vee tersenyum menanggapinya. Tanpa Rosé sadar, pemuda itu tak dapat mendengarkannya. Karena kedua telinganya sedang tersumpal AirPods—lalu apa gunanya bertanya coba?
Lama tak mendapat jawaban, akhirnya Rosé menoleh ke belakang, melihat Vee yang tengah menyender di kusen pintu sambil memandangnya. "Ya! Kamu nggak dengerin aku, Vee?" protes Rosé dengan teriakannya.
Vee menempelkan jari telunjuknya di belahan bibirnya sendiri, memberi kode agar Rosé berhenti bertanya.
Tak begitu lama, salah satu alat yang menyumpal telinga kirinya dilepaskan oleh Vee. "Aku lagi dengerin lagu favorite ku," terangnya.
Giliran Rosé saat ini yang tidak mau menanggapi. Gadis itu mengabaikan dan memilih untuk melempar pandangannya lagi kedepan.
"Kamu nggak penasaran?"
"Enggak," jawab Rosé singkat.
"Yakin nggak penasaran?" goda Vee.
" Lagu apa?"
"Rahasia."
Untung saja Rosé ini orangnya sabar. Bisa saja Rose melempar Vee ke hutan belantara agar dimakan buaya sampai tak tersisa.
***
Pesta akhir tahun dari Universitar Bravesta Jakarta malam ini sudah berada dinpuncaknya. Persembahan terakhir selalu menempatkan Rosé untuk dijadikan penutup acara.
Membawakan lagu yang sama seperti tahun lalu dengan judul 'Someone You Loved', Rosé siap saat MC menyebut namanya untuk segera melesat ke atas panggung.
"Ma, Pa, lihat ya. Habis ini Rosé bakalan bawa calon mantu buat kalian. Capek tau diejek terus," ucap Rosé.
Semua yang mendengar tergelak tawa, masih ingat saja dengan ejekan pagi hari waktu itu. Jika memang benar, maka laki-laki yang bernama Jeffry yang akan menjadi menantu keluarga Everleigh.
Vee dan Lisa juga ada disana, begitupun dengan kedua orang tuanya. Lisa tadi juga menampilkan panggung yang luar biasa. Seperti waktu dulu, gadis itu sangat pandai melenturkan tubuh mengikuti irama lagu.
Tubuh ramping Rose dengan balutan busana menawan telah menghilang dari pandangan. Sosoknya muncul lagi di atas panggung, semua mata terarah pada gadis pembawa pesona luar biasa. Kaki jenjangnya dibiarkan terbuka, bahkan telapak kakinya tanpa terbungkus apapun.
Kali ini Rosé juga tidak akan membawa piano sebagai pengiringnya. Gadis itu memilih untuk duduk dengan mic berdiri didepanya. Benar-benar penampilan yang berbeda pastinya.
Suara merdu Rosé memenuhi ruangan, penjiwaan dan penyampaian pesan dari lagu itu membuat terhanyut bagi yang mendengar.
"Keras kepala," celetuk seseorang yang sedari tadi tak memutus pandangannya dari Rosé.
Jika dikira Rosé sudah baik-baik saja, maka jawabannya adalah tidak. Nyatanya gadis itu sampai mati-matian menahan perasaannya. Masih terlalu singkat untuk jeda waktu yang sangat dekat agar dapat melupakan Vee dalam hatinya.
Pengungkapan cinta paling ampuh itu biasanya memang lewat alunan lagu, Rosé sampai tak sadar hingga lantunan bait terakhir yang dinyanyikannya diiringi dengan buliran lembut air matanya.
Keputusan Rosé untuk meninggalkan Negara ini sudah diambilnya matang-matang. Jika memang ini jalan terbaiknya, maka Rosé akan menjalaninya. Persetan dengan naif dan olokan, toh tidak ada yang tahu tentang perasaannya.
Suara musik berhenti, menandakan Rosé sudah mengakiri panggungnya hari ini. Gadis itu turun dari panggung dan menghampiri orang tuanya yang sedang berkumpul di pojok ruangan, masih bersama keluarga Bellamy dan Samanta juga.
"Anak Mama bagus banget sih suaranya," ungkap Dara menyambut putrinya.
"Ma, Pa, Rosé mau ngomong sesuatu boleh?"
Keseriusan dibalik ekspresi wajahnya sontak membuat mereka diam ingin mendengarkan.
"Maaf, Rosé nggak jadi bawa calon mantu. Tapi Rosé ijin pindah kuliah ke Australia."
Mendadak suasana menjadi canggung. Dara dan Toby saling melempar pandang tak menyangka akan keputusan Rosé yang begitu nekat.
"Se-serius?" tanya Dara meyakinkan. Mana mungkin Dara rela ditinggal putrinya.
Rosé mengangguk antusias. Keputusan ini juga sangat berat mengingat dirinya tidak pernah jauh dari keluarga. Alasan Rose memang telalu klasik dan cengeng, hanya karena cinta gadis itu lemah sampai begininya.
Sedangkan Toby tersenyum menanggapi keinginan putrinya. Pria paruh baya itu sampai menggeleng-gelangkan kepalanya.
"Vee, mau lanjut apa enggak nih?" tanya Toby memandang Vee yang sedang tersenyum sendiri.
"Rosé nya sampai nggak kuat, keburu ilang baru tau rasa, Vee," Lisa mengimbuhi.
"Dara, calon mantunya jadi kok, nih orangnya," imbuh Clara. Lantas tangannya menarik Vee untuk dilemparnya ke arah Rosé.
"Lah, kok nggak seru, udahan dramanya?" protes Bona ibu Lisa.
Tunggu.
Rosé benar-benar tidak mengerti dengan drama yang baru saja di lihatnya. Kalimat-kalimat yang terlontar pun masih sangat sulit untuk disatukan maknanya.
"Kamu tuh nggak pandai ngebohong," ucap Vee. "Kamu kan yang selama ini ngebalas e-mail ku!"
Rosé stagnam, kebohongannya terbongkar. Tamatlah riwayatnya. "It-itu, aku bisa jelasin," selain jujur tidak ada pilihan lain kan.
Vee melesatkan AirPods-nya ke telinga Rose. "Ini lagu favorite ku," ucapnya.
Rose dengan sangat jelas mendengarkan suaranya sendiri yang menyanyilan lagi 'Someone You Love', jika dengan jeli mendengarnya, itu adalah versi piano tahun lalu yang dibawakannya.
"Aku yakin kamu nggak sengaja salah kirim video waktu itu. Bukan video Lisa melainkan video kamu sendiri. Dan aku tahu video Lisa karena iseng cari di YouTube, kalau kamu masih ingat, kamu pernah bilang Video kalian di acara kampus di upload di YouTube kampus."
Bodoh. Bodoh. Bodoh.
Rose seperti maling yang baru saja tertangkap polisi. Bagaimana bisa Rosé sebodoh ini. Astaga. Memalukan. Rose ingin kabur saja rasanya.
"Kamu tau kenapa aku tetep milih email sebagai alat komunikasi daripada ponsel canggih ini?"
Rosé menggeleng. Sumpah demi kenyamanan Dunia, Rosé memang tidak sanggup hanya untuk mengeluarkan suara. Jadi memilih diam dan mendengarkan akan mengurangi rasa malunya.
"Aku ingin tahu sejauh mana kamu negebohongin aku."
"Maaf."
"Kamu nggak salah."
Kali ini Rosé menunduk, jari-jarinya saling meremat. "Tapi aku bener-bener minta maaf."
"Dengan satu syarat," putus Vee.
Rosé mengangguk antusias. Selain maaf tak ada lagi yang diinginkan gadis itu. Dibenci Vee adalah sesuatu yang sangat dihindarinya, jangan sampai pemuda itu tidak dapat memaafkan kesalahannya.
Vee mengeluarkan kotak biru beludru yang pernah Rosé lihat waktu itu; saat olahraga pagi dengan Vee yang tiba-tiba membuntuti.
"Ini cincin pilihan kamu."
Rosé melotot, bukankah waktu itu Vee bilang akan memberinya untuk melamar Lisa. Belum sempat Rosé bertanya, Lisa yang berada di sampingnya menunjukkan cincin yang berbeda.
"Ini cincin dari mama ya. Segitu patah hatinya sampai nggak mau lihat cincin ini waktu aku bilang jadian sama Vee. Astaga, Rosé memang polos," ejek Lisa.
Oke.
Rosé cukup dibuat malu oleh sahabatnya yang satu ini. Ya jangan begitu juga kali, Rosé bukan tontonan untuk ditertawakan.
"Jadi, semuanya hanya sandiwara? Lalu perjodohan?"
"Sandiwara dong, uncle hebat kan aktingnya." Kali ini Vane, ayah Vee ambil bagian. Tiga pria paruh baya beradu tos atas suksesnya sebuah drama lokal buatannya.
Rosé tepuk tangan dalam batinnya. Bagaimana bisa ia dibohongi habis-habisan. Rosé tidak tahu harus marah atau lega. Tapi jika memang sandiwara, apa tujuan Vee sebenarnya.
"Lalu, cincin ini buat apa, Vee?" Rosé menunjuk cincin yang sedari tadi disodorkan untuknya.
"Nikah yuk."