Seperti senja yang datang untuk hilang, kenangan adalah satu-satunya hal yang menyakitkan yang selalu betah di undang pulang oleh orang-orang yang butuh rindu yang hilang. Atau satu-satunya kebahagian yang di jemput ingatan dan menjadi angan-angan yang melukiskan senyuman. Meski pada akhirnya seindah apapun kenangan tetap saja getir saat kembali harus melepaskan.
Satu bulan di tahun 2022 yang tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku yaitu bulan "August" bulan dimana semua hal ataupun sesuatu menjadi "first time" semua di aku. Tentang keluarga, lingkungan sekitar bahkan percintaan semua menjadi satu di satu bulan. Waktu yang sangat sulit dan singkat untuk menghadapi semua masalah sekaligus di satu bulan penuh. Cukup dengan satu bulan aku sudah diajarkan untuk menjadi wanita yang kuat, tabah, dan sabar untuk menghadapi setiap permasalahan dan dipaksa keadaan untuk menjadi dewasa seketika. Aku yang awalnya seperti anak kecil yang manja dan keras kepala seketika berubah 180° dari diriku sendiri yang dulu.
Kota kecil dimalam hari tidak terlalu padat penghuninya, cantik dan terangnya bulan di awan dan sebuah rumah sederhana disalah satu kota kecil ini, ada keluarga kecil yang hidup di dalam rumah itu aku, abang, ibu dan ayah. Akan tetapi malam itu hanya sisa aku berdua dengan ibu ku, ayah yang bekerja shif malam dan abang berkuliah di luar kota.
Jumat malam hari ketika aku dan ibu dirumah sedang bersantai sambil menonton televisi, tiba-tiba telpon hp ibu berdering ada nomor asing yang menelpon dan ibu pun mengangkatnya terdengar suara lelaki dan ternyata itu rekan kerja ayahku. Rekan ayahku pun berbicara selembut dan sepelan itu dan memberitahukan bahwa ayahku telah terjatuh di WC tempat ia bekerja. Ibu ku dengan paniknya langsung mematikan telpon dan mengajakku segera ke RSUD. Disepanjang jalan terlihat mimik muka ibuku yang begitu khawatir dengan ayahku dan melajukan motornya secepat mungkin. Aku pun juga ikut panik melihat ibuku sepanik itu. Tidak lama kemudian sampailah kita berdua di RSUD ini terlihat banyak sekali rekan kerja ayahku sudah menungguku dan ibu didepan ruang UGD. Salah satu dari mereka ketika melihat ibuku langsung merangkul ibuku dan membawa ibuku bertemu dengan dokter. Ketika bertemu dengan dokter, dokter pun menjelaskan kronologinya seperti apa dan di akhir penjelasan dokter pun berkata "suami ibu dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.30 malam ini karena terkena serangan jantung" dan berkata lagi "saya dan rekan yang lainnya meminta maaf sebesar-besarnya kepada ibu belum bisa menyelamatkan nyawa suami ibu" aku yang berada di belakang ibu yang sedang duduk berhadapan dengan dokter reflek jatuh dan shock ketika mendengar jawaban dokter. Aku tidak tau apa yang masih ada dipikiranku, pikiranku langsung benar-benar kosong dan seketika banjir sudah air mata ini begitupun dengan ibu yang sangat-sangatlah sedih ditinggalkan secara tiba-tiba oleh kekasihnya untuk selamanya. Ibuku beranjak dari tempat ia duduk tadi dan melihat alm. ayahku dan aku pun diangkat oleh teman ayahku untuk duduk di atas kursi, aku masih belum terlalu berani untuk melihat langsung ayahku dan air mataku tidak henti-hentinya mengalir deras terus.
Malam terus berjalan dan sudah menunjukkan pukul 23.00 aku dan ibuku masih di RSUD untuk mengurus surat-surat kematian ayahku. Ibu menyuruhku pulang karena tetangga sudah berkumpulan didepan rumah akupun diantar pulang oleh salah satu rekan kerjanya ayahku memakai mobil. Disepanjang perjalanan pulang aku masih saja terus menangis dan shock kenapa begitu cepat dan tiba-tiba pikiranku sudah kacau dan tidak kuat lagi. Sesampainya aku depan rumahku benar saja, sudah banyak tetangga gang yang berkumpulan ketika tau bahwa ayahku sudah tiada, tetangga ku yang langsung sigap membantuku membersihkan rumah karena besok akan dimakam kannya alm ayahku dan mempersiapkan apa saja yang harus disiapkan jika ada kerabat yang meninggal. Setelah itu, aku menelpon abangku yang sedang berkuliah di luar kota untuk memberitahukan tentang ini dan menyuruhnya segera pulang. Berkali-kali ku telponnya tidak di angkat wajar karena disitu waktunga sudah tengah malam aku berpikir kalau dia sudah tidur, tetapi aku sempat kesal juga karena dia tidak menggangkatnya dan alhamdulillah kebetulan ada temannya abangku dirumahku saat itu yang ternyata rumahnya lumayan dekat dengan rumahku dan menelpon teman abangku yang ada disana dan akhirnya diangkat dan dikasihkan ke abangku dan aku pun tau ternyata kenapa abangku tidak mengangkat telponnya karena hpnya tertinggal di labnya. Saat sudah disambungkan ke abangku aku sudah tidak kuat lagi berbicara jadi hpnya ku serahkan kepada salah satu ustad tetanggaku dan ustad itupun menjelaskan pelan-pelan kepada abangku dan ia sempat tidak percaya dengan berita ini tetapi setelah dipahami baik-baik baru ia mengerti dan malam itu juga abangku langsung bergegas untuk pulang kerumah.
Pagi pun tiba, abangku yang baru saja sampai dirumah pukul 03.30 dini hari, aku dan abangku langsung bergegas ke RSUD pukul 06.00 pm untuk memandikan dan mengkafanin alm ayahku di rumah sakit. Setelah tiba di RSUD abangku diminta oleh petugaz rs untuk membantu memandikan jasad alm sebagai perwakilan dari keluarga karena tidak ada keluarga ayah yang tinggal disini jadi anaknya yang lelaki lah yg mewakili. Terlihat sudah mimik muka abangku ketika masuk ruang pemandian jasad sudah sangat tidak kuat menahan air mata. Setelah pemandian lanjut lah ke step mengkafanin setelah itu menunggu ambulans untuk mengantarkan jasad kerumah duka. Sampailah kerumah duka sudah banyak sekali orang dirumahku untuk mendoakan ayahku, setelah itu selesai solat dzuhur jasadnya dibawa ke pengistirahatan terakhir ayahku. Banyak sekali yang mengantarkan ayahku sampai ke kuburan terbukti bahwah banyak yang sayang dan peduli sama ayah. Dari situlah mentalku di uji dan dipaksa dewasa oleh keadaan, aku yang sekarang tinggal berdua sama ibu dirumah dan abang kembali ke tempat ia berkuliah untuk melanjutkan kuliahannya.
Waktu terus berjalan maju hari-hari terus berlalu, aku dan ibuku menjalani hari-hari seperti biasa tetapi sedikit berbeda karena salah satu orang telah tiada dari rumah kita. Ibu yang masih memandangi foto alm ayah sambil menangis, masih ada rasa tergores dihati ibu kehilangan orang yang sangat ia cintai yang sudah bertahun-tahun hidup dengannya. Aku yang kalau lagi kangen sama ayah sering mengunjungi kuburan ayah sambil bercerita gimana aku dan ibu menjalani kehidupan sehari-hari tanpa ayah. Ayah yang menginginkan aku menjadi perawat semoga suatu hari nanti aku bisa mewujudkan mimpi ayah walaupun ayah sudah tidak ada didunia ini. I will always love you until the end of my life even though now you are not in this world.