Tak pernah sedikit pun aku membayangkan jika dunia ini terlihat sangat indah jika aku bersama dengan dirimu. Namun, ketika aku mulai menikmatinya semua telah berakhir. Hanya ada garis lurus diantara kita, yang semakin hari semakin menjauh.
Semua di awali saat masa kanak-kanak. Natallie yang merupakan anak kecil yang sering mimisan dijauhi, meski begitu Natallie tak pernah berkecil hati. Hingga di suatu sore di taman.
Saat itu, hanya ada seorang anak perempuan kecil. Rambut anak itu hitam sebahunya, dia jongkok sambil memainkan pasir. Saat itu Natallie merasa sangat tertarik dengan anak perempuan itu. Baru saja akan mendekat, anak perempuan itu tiba-tiba terjatuh. Untungnya dia tak terluka. Melihat anak perempuan itu Natallie langsung bergegas menolong, namun tangan Natallie ditepisnya dengan kasar.
Darah menetes dari mulut Natallie, tetesannya jatuh mengenai baju putih milik anak perempuan yang terjatuh itu. Dengan segera Natallie melap darah itu, namun....
*
*
*
"Sepertinya mimpi buruk!" Ujar seorang perawat sambil menusukkan jarum infus berisi darah ke pergelangan tangan kiri Natallie.
Kini Natallie sudah berusia 16 tahun, dan ia masih mengidap penyakit yang sama selama bertahun-tahun. Terkadang saat harus di bius tidur oleh dokter, Natallie terus memimpikan kenangan saat masih berada di taman kanak-kanak. Dan kadang saat itu juga detak jantungnya tidak stabil, karena ada rasa gelisah yang berujung pada rasa takut.
Natallie sekarang duduk di kelas 2 SMA, dia merupakan murid yang pintar, baik, dan sopan. Namun, penyakit yang dideritanya membuatnya sangat jarang berada di sekolah. Ia hanya ke sekolah dua minggu di tahun pertamanya sekolah, dan kini dia akan masuk kembali pada hari pertama masuk sekokahnya di tahun ajarah keduanya.
Di tempat lain ada seseorang yang bernama Reon. Dia adalah seorang anak laki-laki yang baru saja masuk ke SMA sebagai murid tahun pertama. Dia adalah anak pendiam, dan dingin, terkesan pintar karena selalu bicara dengan logika. Namun siapa sangka jika dia Phobia akan darah.
Di jam pelajaran pertama, Natallie mengalami sesak nafas. Meski tak terlalu parah, itu cukup membahayakan. Karena itu, di jam pertama saat teman-temannya sedang berada di lapangan untuk olahraga, Natallie sendiri yang pergi bernaung. Saat Natallie bernaung di bawah pohon, tanpa disadarinya Reon dari kelasnya memerhatikan Natallie.
Jam istirahat saat itu tiba, pertemuan pertama Natallie dengan Reon terjadi di jam itu. Saat itu Natallie harus memasukkan darah ke tubuhnya, oleh karena itu Natallie akan pergi ke ruangan UKS untuk mengambil alat infus. Karena terburu-buru, Natallie malah menabrak Reon. Kantung darah yang Natallie bawa pecah, dan tumpah ke lantai.
Saat itu Natallie sangat membutuhkan darah itu, namun sayangnya darah yang dia bawa pecah. Keadaan Natallie semakin memburuk, dia mulai lemas, pusing, pandangannya juga semakin kabur. Hingga tiba-tiba....
Bruk! Seseorang terjatuh ke lantai karena pingsan. Bukan Natallie, melainkan Reon. Reon pingsan saat itu. Entah bagimana Reon dapat sampai ke UKS dengan selamat, dan Natallie? Natallie berakhir di rumah sakit.
Setelah kejadian itu, Reon dan Natallie tak pernah saling bertemu. Masing-masing dari mereka menjauhkan diri, namun Natallie merasa jika keputusannya adalah salah dengan terus menjauhi Reon.
Sebulan kemudian.
Saat di rumah sakit, Natallie bertemu dengan seorang gadis yang menderita penyakit jantung. Gadis itu adalah gadis yang ada di masa lalunya, dia adalah gadis berambut pendek yang ada di taman. Namnya adalah Miu.
Di waktu yang bersamaan saat teman-teman Natallie datang menjenguk, Reon juga datang. Namun bukan untuk menemui Natallie. Saat itu Natallie dan Reon saling bertatapan, namun tatapan itu berakhir karena Miu yang memanggil Reon dengan suaranya yang nyaring.
Ketika Miu datang, Jack dan Zen juga datang untuk membawa Natallie kembali ke kamarnya. Mereka berpisah setelah sebulan lalu bertemu, dan kali ini berpisah karena memang tak seharusnya bertemu.
Seolah-olah kenangan itu kembali terulang. Natallie akhirnya mengingat jika dia pernah kenal dengan Reon, dan kenyataan jika dia dipukuli habis-habisan oleh ayah Miu. Dan Reon yang meninggalkannya saat di taman, karena Miu yang mengajaknya bermain.
"Padahal sudah kulupakan, mengapa? Mengapa? Mengapa kisah ini terus berulang?"
Dengan langkah kecilnya Natallie berjalan meninggalkan Reon dan Miu yang sama sekali tidak mengenalinya. Saat itu adalah saat yang paling menyakitkan untuk Natallie.
Untuk kedua kalinya, sesuatu yang dekat denganku tercuri.....
Itu terasa sakit, namun bukan berarti Natallie tetap diam dengan keadaannya sekarang. Melihat keadaan Miu yang berada di rumah sakit, lalu keadaan Reon yang terlihat takut pada darah. Semua itu menjadi semangat tersendiri untuk Natallie.
Bagi Natallie, Reon adalah teman pertamanya, dan seseorang yang sangat berharga. Akankah dia mau berusaha untuk merebut Reon?
Atau dia akan membalsakan dendamnya?
"Lihatlah aku! Ingatlah aku! Di suatu waktu nanti, akan kupastikan aku dapat terlihat. Akan kupastikan jika akulah yang benar, jika aku pantas untuk hidup. Akan aku buktikan...."
Bayangkan lah, jika kalian berada di posisi Natallie. Dia gadis yang cantik, pintar dari keluarga kaya, meski begitu penyakitnya membuatnya menderita terlalu lama. Dia harus minum obat 4× sehari, dengan 12 jenis obat yang berbeda, selain itu dia harus memasukkan darah melalui infus kadang dia memerlukan 2 kantung darah setiap harinya.
Rasa sakitnya itu terus berkelanjutan, akankah dia dapat menemukan kebahagiaanya. Atau menyerah? Semua tergantung pada takdir. Namun dia telah membuktikan jika dia telah berjuang cukup lama hingga saat ini.....
"Aku ingin..... Hidup!"
(terimakasih yang sudah baca, ini adalah cerpen pertama saya. Saya sangat berharap kalian yang membaca selalu sehat, dan menghargai diri sendiri di dalam kesehatan. Salam manis dari saya..... )