Pada Minggu pagi Kim Ara memutuskan untuk bertemu psikiater. Bertanya kenapa ia merasa tidak tenang setiap mau tidur. Dan kini, terpaksa kenangan lama itu harus kembali dibuka. Kenangan tentang Jeon Jungkook.
Ruangan bercat putih susu itu terlihat lengang. Ara menyiapkan mentalnya untuk bercerita, mengembuskan nafas untuk yang ke-dua kalinya. Kisah ini tidak akan pernah bisa ia lupakan. Penyesalan yang teramat sangat, entah sampai kapan dapat mengikhlaskannya.
"Kamu bisa memulai ceritamu Ara, pelan-pelan saja." Ucap Yera —si psikiater itu meyakinkan. Ia adalah teman Ara sejak setengah jam yang lalu.
Ara mengangguk, gadis berambut hitam panjang itu harus menceritakan beban ini pada setidaknya satu orang didunia agar ia bisa merasa lebih lega.
***
Dua orang yang memiliki banyak perbedaan duduk di bangku taman. Si gadis menyenderkan kepalanya di bahu si pria. Sekeliling mereka tetap ramai, meski matahari hampir tenggelam.
Hari itu adalah hari Valentine. Mereka berdua istirahat sejenak di taman kota setelah menghabiskan waktu berdua mengelilingi pusat kota London. Mencoba berbagai hal menarik yang ada disana. Sangat menyenangkan.
"I love you Jeon.." Ucap Ara —nama dari gadis itu sambil menatap Jungkook, kekasihnya. Tepat saat senja.
"I love you too."
"Suatu hari nanti, kita akan mengelilingi dunia, Jeon. Bukan hanya senja di London, tapi juga Indonesia, Belanda, Jepang, dan oh! Kita harus ke Prancis!" Ara tersenyum riang, memeluk kekasihnya dengan erat.
Jungkook mengacak rambut Ara. Suatu kebiasaan ketika ia mulai gemas pada kekasihnya itu. Namun Ara sebenarnya tidak suka, rambutnya jadi berantakan.
Ara akan menceritakan kembali sosok itu. Kekasihnya dimasa lalu. Jeon Jungkook yang membuat beberapa tahun hidupnya menjadi berwarna. Tatapannya yang penuh cinta, senyumannya yang tulus, wajahnya yang sangat tampan. Dan jangan lupakan pelukannya yang hangat.
"Sepertinya Jungkook adalah pria yang baik?" Yera memotong cerita Ara.
"Iya, dia sangat baik." Ara bersiap melanjutkan ceritanya.
***
Pagi yang cerah di kota London, Inggris. Sebuah mobil hitam sudah menunggu di halaman kampus. Ara menyisipkan anak rambutnya dibelakang kuping. Rambut pendeknya terurai lebat, tertata sangat rapi. Sekejap menjadi berantakan karena Jeon Jungkook mengacaknya.
"Cepat sekali?"
"Hentikan Jung, rambutku jadi berantakan." Ara menepis tangan Jungkook. "Tidak, belum selesai. Aku harus ke salon."
Jungkook, pria berusia dua puluh tiga tahun —seorang pengusaha kaya itu mengangguk paham. "Untuk apa ke salon? Kau kan sudah cantik." Tidak apa memuji kekasihnya sebentar sebelum mereka masuk kedalam mobil. Jungkook selalu bertugas menjadi sopir.
"Aku mau pemotretan."
Lebih memilih untuk diam. Mobil hitam mewah keluaran terbaru itu melesat cepat di atas aspal, Jungkook selalu berusaha memahami kekasihnya. "Jangan pulang larut lagi." Ia berpesan.
Ara disebelahnya hanya mengangguk, mengoles lipstik diarea bibirnya. "Aku sebenarnya berhenti kuliah."
Mendengar hal itu Jungkook langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan. "Apa?! Sejak kamu jadi model, aku tahu kamu mulai gak fokus sama pendidikan mu. Tapi jangan gitu Ara! Ada ribuan lebih siswa yang ingin kuliah seperti kamu. Bisa enggak, tunggu sebentar lagi?"
Muka gadis itu memerah, marah. "Ini adalah impian ku, Jung. Aku gak punya waktu buat belajar, lagian buat apa kuliah toh aku udah meraih impian ku." Ucap Ara tegas.
Jungkook sedang malas berdebat, akhirnya melanjutkan perjalanan. Mereka sudah menjalin hubungan selama kurang lebih dua tahun. Paham betul akan sifat masing-masing. Ara, si gadis mandiri yang keras kepala. Sementara Jungkook, yang suka mengalah dan pekerja keras.
Mereka berdua adalah orang Korea. Jungkook mendirikan perusahaan di London, dan Ara ada disana karena kuliah. Takdir mempertemukan mereka disebuah acara kampus.
***
Sejak Ara berhenti kuliah. Jungkook pun berhenti menjemput pulang pergi gadis itu. Tidak seperti hari-hari biasanya, Ara mulai sibuk dengan jadwal pemotretan. Jungkook tidak pernah absen mengunjungi rumah Ara. Dan tidak selalu gadis itu berada dirumah.
Jeon Jungkook pun tidak pernah lupa menghubungi Ara untuk bertanya kabar. Ia kadang khawatir dan memikirkan Ara ketika ponselnya tidak dapat dihubungi. Ini sudah sebulan lebih hubungan mereka dijalani dengan sedikit adanya jarak.
"Ini adalah impian ku, Jung! Aku senang sekali." Ara menjerit girang diseberang telpon. Pagi yang indah bagi Jungkook setelah mendengar suara kekasihnya.
"Aku ikut senang, tapi juga sedikit tidak senang." Jungkook duduk di atas ranjang, baru bangun tidur. Mengembuskan napas kecewa karena Ara sudah sangat jauh beribu mil darinya. Padahal Jungkook berencana untuk ke rumah Ara malam ini.
"Maafkan aku Jung, aku tidak sempat mengabari jika harus ke luar kota. Aku akan segera pulang, dan menghabiskan waktu berdua bersamamu, bersabar lah sebentar lagi! I love you..."
"I love you too."
Telpon dimatikan secara tiba-tiba, entah apa yang terjadi pada ponsel Ara. Eror atau sengaja. Gadis super sibuk itu mulai membuat jarak di antara mereka semakin jauh.
***
Kesibukan selalu berhasil membuat kita lupa pada suatu hal. Dan Jungkook menerapkannya dengan sangat baik. Proyek di perusahaan menyita cukup banyak waktu. Hanya sekali dalam sehari pada waktu tertentu ia akan membuka ponselnya, menghubungi Ara.
"Jangan hubungi aku Jung." Ara mendengus.
Jungkook mengernyit, bingung. Ia ingin menjawab namun tiba-tiba terbatuk.
"Aku tahu kita sama-sama sibuk, tapi aku mulai ngerasa kamu gak se-aktif dulu nanya kabar ku. Kamu udah capek pacaran sama aku?"
Percakapan sore itu terasa hambar bagi Jungkook. Tiga bulan lagi hubungan dijalani dengan jarak. Rasa cintanya tak akan pernah berkurang walau sebutir debu. Hanya saja ia sedang sakit saat itu.
"Iya Ara. Maafkan aku, kamu kapan pulang?" Hanya itu yang dapat Jungkook katakan. Entah karena apa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia kadang mengalami hal ini sejak satu Minggu yang lalu.
"Sudahlah Jeon, kau telat menelpon ku tadi. Jadi waktu percakapan kita hanya bisa sampai disini."
"Ara!" Jungkook terlambat, panggilan diputus sepihak. Ara sama sekali tidak mau menunggunya untuk bicara barang satu kata saja. "Aku merindukanmu Ara.. sangat rindu."
Kehidupan berjalan seperti biasanya, waktu melesat begitu cepat. Ara yang justru semakin tidak bisa dihubungi. Ditunggu dari empat bulan yang lalu ia belum pulang juga ke London. Gadis itu membalas pesan diwaktu sesukanya, sering kali menolak panggilan dan jarang berkabar. Meski begitu, perasaan Jungkook masih tetap sama.
Message to My Love Ara!
Ara.. aku rindu kamu..
Katanya kamu mau pulang, ya?
Aku dengar dari mama mu.
Tapi maaf, aku gak sempat nungguin kamu.
Ah iya, tadi pagi aku nganterin coklat sama bunga ke rumah mu.
Disitu ada surat, jangan lupa dibaca.
Happy Valentine!
Pukul tiga dini hari, Jungkook mengirim pesan itu. Ara mungkin masih terlelap. Atau dia sedang dalam perjalanan pulang naik pesawat. Jungkook tidak tidur hingga menjelang pagi. Ia berdiam diri disudut kamarnya, menunggu balasan dari Ara. Namun ia tidak bisa berlama-lama lagi.
"Jungkook, kita harus berangkat." Ayahnya bicara dibalik pintu kamar.
"Maaf Ara.. Valentine tahun ini aku tidak bisa di samping mu." Jungkook berucap lirih.
***
Ara akhirnya sampai di London pagi itu. Perjalanan yang melelahkan, setelah hampir empat bulan ia hidup di kota lain. Ia harus bertemu Jungkook, mulai sadar jika selama ini lebih memprioritaskan pekerjaannya dari pada hubungan mereka.
Di dalam mobil Ara membuka ponselnya, membaca pesan dari Jungkook. Lantas perasaannya jadi tidak enak. Setibanya dirumah, sesuai isi pesan dari kekasihnya, surat itu ada didalam bunga.
Selamat hari Valentine.
From, Jeon Jungkook.
Kamu ingat bagaimana kita pertama kali bertemu, Ara? Saat pertama kali melihatmu, bagiku kau tak lebih dari gadis remaja yang manja. Namun ternyata, hari-hari bersama mu mulai terasa spesial bagiku. Saat Valentine tahun lalu, kamu bilang suatu saat nanti kita akan berkeliling dunia menikmati senja di negara yang berbeda. Tapi maaf, Ara. Maaf aku belum bisa mengabulkan permintaan mu.
Ketika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah ada dirumah sakit. Aku harus operasi, Ara.. kesempatan berhasilnya hanya beberapa persen. Maaf aku tidak sanggup memberitahu keadaan ku padamu. Aku sudah sakit sejak setahun belakangan. Mau dirangkai sebagus apapun kalimatnya tetap aku tidak sanggup memberitahukan ini padamu. Sungguh, aku minta maaf..
Kamu yang baik-baik aja ya, Ara? Maaf aku gak bisa jagain kamu lebih lama lagi. Jangan kecapean, jangan sampai kamu sakit.. semoga semua impian kamu jadi kenyataan. Setidaknya sampai akhir hayat ku, aku bisa mencintai kamu. Jangan menangis, aku akan senang disini melihatmu melanjutkan hidup yang bahagia. I love you, Ara.
***
Ara menangis, tidak sanggup melanjutkan cerita.
"Lalu? Kamu gak nyusul ke rumah sakit?" Yera mengusap bahu pasiennya.
"Aku ke rumah sakit, hanya untuk mengetahui wajahnya sudah ditutupi kain putih. Aku terlambat, Yera." Ara mengusap air matanya. "Dia akhirnya dimakamkan di kota London. Dan aku pindah ke Korea sekarang, jauh dari dirinya."
"Mungkin kamu harus berkunjung, dia merindukan mu, Ara. Berhentilah menangis, Jungkook akan sedih melihat mu nangis begini." Yera menghapus air mata Ara.
Ara mengangguk, Yera benar, ia tidak boleh menangis lagi. Nanti ia akan segera ke London, mengunjungi makam Jungkook. Mengatakan jika sampai detik ini, Ara masih mencintainya.
END
Udah selesai baca? Mampir ke akun ku yuk!