Tak ada yang lebih hangat dari senyum mu. Tak ada yang lebih indah dari tawamu. Biarkan seluruh dunia tau bahwa aku bahagia bersamamu. Biarkan seluruh dunia tau bahwa aku takut kehilanganmu. Tapi ...mari beritahu dunia bahwa kau telah berubah, akui itu pada bintang bintang di langit malam. Jangan, jangan mengulur ulur waktu. Katakan sekarang, ini waktu perpisahan kita.
...
Tut...
Nada dering terus bergetar, aku tau kau mendengar nya tapi kau abaikan. Ini sudah panggilan yang ke sepuluh. Sudah satu jam setelah bel pulang sekolah berbunyi, tapi kau tak kunjung datang.
Aku berniat melakukan panggilan yang kesebelas akan tetapi dari kejauhan dapat ku lihat kau berkendara menuju ke arah ku dengan motor mu.
Aku tersenyum sekilas padamu lalu berkata "kok lama?" Ku usahakan agar aku terlihat baik baik saja, aku tak ingin merusak suasana.
"Lupa." Jawabku singkat tanpa memandang ku.
"Lupa apa?"
"Lupa kalo hari ini Jumat, kamu pulang nya cepat." Tak ada senyuman di wajah mu apalagi ketulusan.
"Memangnya kamu pulang nya lama?"
"Ya...kek biasa." Oke! Sudahi drama ini.
Aku naik ke atas motor nya, setelah itu kami melaju dengan kecepatan sedang. Ku peluk dia, ku rebahkan kepalaku di punggungnya.
Aku tau... cepat atau lambat hubungan kita akan berakhir. Setidaknya biarkan aku menikmati detik detik terakhir kebersamaan ini.
"Aku sayang kamu." Ucapku sembari mempererat pelukanku. Aku takut kehilanganmu.
Hening.
"Aku juga." Ucapmu setelah diam beberapa detik.
...
Motor terus melaju diisi dengan keheningan disisa perjalanan kita. Keheningan terus berlanjut hingga kita sampai di depan rumah ku.
"Singgah dulu." Aku memandang mu, mencoba menemukan senyuman di wajahmu.
"Enggak dulu, aku ada janji sama teman."
" Ya udah, besok jangan telat ya...." Maksud ku jangan terlambat menjemput ku.
" Besok aku ada tugas kelompok, enggak bisa jemput. Kamu pulang sendiri aja."
" Bareng Yuni, ya?"
" Haha iya, kok tau?"
Yeah... akhirnya kamu tertawa, aku senang. Mungkinkah kamu tertawa karena aku menyebut nama Yuni? Ada apa dengan Yuni?
"Aku tebak tebak aja sih, kamu kan kalo ada tugas kelompok selalu sekelompok bareng Yuni."
"Iya sih, mungkin karena kami sebangku. Jadi sering sekelompok. " Ucap mu menjelaskan.
"Aku juga sebangku sama Retno, tapi jarang banget sekelompok kalo ada tugas kelompok." Ayolah, aku ingin kamu jujur. Katakan bahwa Yuni itu lebih dari sekedar teman sebangku bagimu.
"Udah lah, enggak usah di perpanjang. Aku pergi ya...." Aku belum menjawab tapi kau sudah pergi.
Yuni...aku sering mendengar namanya, dari Arul, pacarku. Arul sering bercerita tentang Yuni belakang ini. Bahkan bercerita tentang hal hal kecil yang ia lakukan bersama Yuni. Dia selalu bilang Yuni itu baik, enak di ajak ngobrol. Sebab itulah ia suka sebangku dengan Yuni.
Aku berbeda sekolah dengan Arul, aku pun tak pernah tau seperti apa sosok Yuni. Arul tak pernah mau memperkenalkan nya padaku atau sekedar memperlihatkan foto Yuni padaku. Yuni ... adalah wanita misterius yang terus mengganggu pikiran ku.
Aku pernah protes kepada Arul perihal Yuni. Kira kira seperti ini dialog kami di hari itu.
"Kenapa sih dari tadi kamu cerita tentang Yuni terus?! Aku enggak suka!"
"Ya biar kamu tau aja hubungan kami sama Yuni itu enggak lebih dari teman."
" Aku enggak suka! Setiap kali kamu cerita tentang Yuni aku jadi ngerasa seolah olah kamu itu bilang ke aku bahwa kamu udah nemuin cewek yang LEBIH dari aku! Aku ngerasa kamu ngusir aku secara enggak langsung! "
"Yuni itu baik." Jawabnya singkat.
"Aku udah dengar itu berkali-kali dari kamu!"
"Sebab dia baik, dia enggak mungkin nyakitin aku apalagi nyakitin orang orang yang aku sayang. Contoh nya kamu. Ehehe."
Bullshit!
"Kalo kamu enggak suka kita bisa udahan, aku enggak mungkin buang teman hanya demi keegoisan kamu."
"Apa? semudah itu kamu bilang 'udahan'? "
Dia diam!
"You hurt me!" Aku pergi meninggalkannya detik itu juga. Sesaat aku berharap dia mencegah ku tapi tidak ia lakukan. Sejak saat itu aku berhenti membahas Yuni dan ia pun mulai berubah.
…
Malam hari nya Dina datang ke rumah ku. Dina adalah teman baik ku. Dina adalah satu satunya orang yang tau bagaimana keadaan hubungan ku dengan Arul.
Kami berbincang di kamar ku. Sayangnya malam ini Dina datang membawa kabar buruk. Sebuah informasi yang sangat berharga.
" lihat nih, ini cowo kamu kan?" Ucap Dina sembari memperlihatkan sebuah vidio padaku.
Di dalam vidio itu ada Arul dan Yuni yang sedang bermesraan di sebuah kafe.
"Katanya ada janji sama teman, nyatanya apa?! Malah bermesraan di kafe!" Dapat ku rasakan bahwa Dina sedang emosi.
"Jangan nangis!" Ucap Dina keras padaku.
Mana mungkin aku tidak menangis setelah melihat bahwa pacarku sedang bermesraan dengan orang yang ia sebut teman? Dia selalu berkata aku tidak perlu khawatir tapi nyatanya kekhawatiran itu jadi nyata sekarang. Arul...kamu jahat!
"Putuskan sekarang! Putuskan dia!"
Aku diam, aku tak mau putus dengan Arul tapi aku tak sanggup lagi membela Arul di hadapan Dina. Aku tak punya alasan lagi untuk mempertahankan Arul selain alasan yang konyol bagi Dina yaitu,
''Aku sayang Arul.''
Dina menghapus air mataku menggunakan jari jempol nya, ia menatap mataku dalam dalam, lalu berkata " Dengerin aku Yasmin. Arul... enggak bisa balas cinta kamu. Arul ... berhenti sampe disini. Dia udah punya wadah lain, cintanya itu bukan lagi tertuang untukmu... Kamu tau, kamu udah tergantikan. Dan itu adalah kenyataan yang harus kamu terima. Berhenti sekarang atau kamu akan lebih menderita lagi."
Sebelumnya aku sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi aku tak pernah menduga rasanya akan sesakit ini.
Aku mengambil ponsel ku di meja belajar ku, dengan tangan yang gemetaran aku mengirim pesan pada Arul, isi pesan nya singkat. Aku hanya bilang putus padanya tanpa menjelaskan alasannya. Tak butuh waktu lama Arul membalas pesan ku, isi nya juga tak kalah singkat. Ia hanya bilang "oke."
Aku menangis lagi di pelukan Dina. Aku tau aku terluka atas berakhir nya hubungan ini. Aku sayang Arul dan rasa sayang ini tidak mungkin bisa musnah dalam hitungan detik. Arul mungkin bisa tapi aku tidak.
Arullll.... aku sayang....
Batinku menjerit.
perlahan tapi pasti aku yakin suatu hari nanti aku pasti bisa tanpa Arul. Dan untuk Arul, terima kasih atas semua kenangan indah yang pernah kau berikan, terima kasih karena pernah singgah dan mengukir banyak kenangan serta pengalaman yang tak akan pernah aku lupakan.