𝓐𝓴𝓾 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓪𝓶𝓫𝓲𝓵 𝓼𝓾𝓴𝓶𝓪 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓶𝓪𝓴𝓪𝓲 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓴𝓾 𝓭𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓫𝓪𝓰𝓪𝓲 𝓲𝓶𝓫𝓪𝓵𝓪𝓷𝓷𝔂𝓪, 𝓪𝓴𝓾 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓮𝓻𝓲𝓶𝓾 𝓴𝓮𝓴𝓪𝔂𝓪𝓪𝓷 𝓭𝓪𝓷 𝓴𝓮𝓶𝓾𝓵𝓲𝓪𝓪𝓷.....
Bu Dedeh berjalan pelan menelusuri barisan ruko di sepanjang jalan HM. Thamrin. Di genggaman tangannya terdapat uang sejumlah dua ratus ribu rupiah. Uang yang dia dapatkan dari hasil upah mencuci pakaian tetangganya selama seminggu.
Rencananya, dengan uang itu, dia akan membelikan Nisa, putrinya sebuah gaun pesta yang akan di pakai pada pesta promt perpisahan di SMA Negeri 6 tempat putrinya itu bersekolah.
Masih terngiang jelas dalam ingatannya seminggu yang lalu, putrinya yang sudah genap berumur tujuh belas tahun itu merengek minta dibelikan baju baru. Katanya mau dipakai ke acara promt perpisahan.
Bu Dedeh hanya bisa mengelus dada, karena jangankan untuk membeli gaun pesta yang harganya tentu sangat mahal sekali, buat makan sehari - hari saja mereka sangat kerepotan.
Dirinya yang hanya janda dengan tiga orang anak harus bekerja keras banting tulang demi untuk menghidupi dan menyekolahkan ketiga orang anak - anakku.
Nisa adalah putri Bu Dedeh yang tertua. Dia sudah genap berumur tujuh belas tahun dan sudah tamat bersekolah. Malam nanti adalah pesta kelulusan Nisa. Untuk itulah seminggu yang lalu dia merengek minta dibelikan gaun karena dia ingin sekali datang ke pesta itu namun tidak memiliki gaun.
Kadang dia merasa iri terhadap teman sebayanya karena mereka dengan mudahnya memperoleh apa yang mereka inginkan. Sedangkan dirinya, selama ini dia harus puas dengan baju - baju bekas yang diberi oleh tetangga mereka yang merasa iba pada kehidupan mereka.
Kali ini saja, ingin rasanya dia merasakan bagaimana rasanya memakai gaun yang indah. Dirinya membayangkan pasti dia akan terlihat cantik di pesta itu. Dan tentu saja, Ridho pasti akan tertarik padanya. Selama ini, dia memang menaruh hati pada cowok tampan yang menjadi rebutan di kelasnya itu. Namun dia tak. punya cukup keberanian untuk bersaing dengan teman - teman sekelasnya lantaran dia cukup tahu diri siapa dirinya dan juga siapa Ridho.
Sudah cukup jauh Bu Dedeh berjalan. Namun, tak ada satu toko pakaian pun yang menjual gaun dengan harga murah. Semua gaun - gaun yang di pajang itu dijual dengan harga yang sangat mahal.
Bu Dedeh sudah hampir putus asa karena tak berhasil menemukan satu gaun pun untuk putrinya. Terbayang olehnya wajah kecewa Nisa saat tak jadi pergi ke pesta itu.
Tidak.... aku tak boleh putus asa, pikirnya. Aku harus mendapatkan sebuah gaun untuk putriku, pikirnya.
Tiba-tiba, netral Bu Dedeh melihat sebuah toko yang letaknya paling sudut dari deretan ruko yang berjejer di sepanjang jalan itu. Toko itu terlihat sepi dan juga catnya agak terlihat suram. Mungkin karena pemiliknya belum mencat ulang toko tersebut. Tapi ada yang aneh, rasa - rasanya baru kali ini Bu Dedeh melihat toko itu. Kemarin - kemarin, rasanya dia tak pernah melihat toko itu. Padahal hampir setiap hari dia melewati tempat ini ketika akan bekerja atau pulang. Apa toko itu toko baru..? pikirnya.
Akh.... masa bodoh. Barangkali saja toko itu baru buka jadi belum banyak pembeli yang datang.
Dengan penuh harapan, Bu Dedeh memasuki toko tersebut. Dia melihat - lihat gaun yang di pajang di toko tersebut. Bermacam-macam gaun yang dijual di toko itu dan semuanya sangat indah.
" Ada yang bisa saya bantu, Bu.. " seorang wanita cantik menyapa dirinya membuat Bu Dedeh kaget. Wanita itu sangat cantik dan juga ramah. Senyum manisnya selalu terlukis di bibirnya yang indah dengan polesan warna merah darah yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang seputih pualam. Bu Dedeh sampai - sampai kagum dengan kecantikan pemilik toko itu.
" Oh, iya. Itu... maaf saya sedang mencari gaun untuk putriku." jawab Bu Dedeh terbatas - bata.
" Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan dilihat - lihat dulu Bu. Tenang saja, saya akan memberi potongan harga untuk ibu, karena ibu adalah pembeli pertama saya." kata wanita pemilik toko itu sambil tersenyum mengedipkan sebelah matanya.
Wajah Bu Dedeh langsung berubah ceria. Dia kembali bersemangat untuk memilih gaun buat Nisa. Namun sampai beberapa saat kemudian, tak ada satu gaun pun yang cocok untuk Nisa. Ada beberapa yang cocok namun kembali soal harga yang menjadi masalah.
" Bagaimana, Bu. Apakah sudah ketemu gaun yang cocok untuk putri ibu? " tanya pemilik toko dengan ramah.
" Ehmm, sepertinya saya kurang beruntung. Koleksi gaun yang Anda miliki semuanya sangat indah. Hanya saja, uang saya tak cukup untuk membeli gaun - gaun ini. " akhirnya Bu Dedeh mengatakan dengan jujur tentang kondisinya saat ini kepada pemilik toko.
Sejenak, pemilik toko itu terdiam seperti sedang berpikir.
" Saya ada solusi untuk ibu. Selain di sini, saya juga menyediakan gaun - gaun yang bekas yang indah. Gaun - gaun itu saya letakkan di dalam Bu. Jangan khawatir harganya murah dan terjangkau. Jika ibu tak keberatan, mari ikut saya... " kata sang pemilik toko.
Bu Dedeh merasa senang. dia bersyukur karena akhirnya putrinya bisa juga memakai gaun pesta dan bisa pergi ke pesta itu. Walaupun hanya gaun bekas, tapi toh tak ada juga orang yang akan bertanya, pikirnya.
Pemilik toko itu mengajak Bu Dedeh masuk ke dalam toko. Di belakang toko itu ada sebuah ruangan lain. Ruangan itu terisi oleh puluhan gaun - gaun yang sangat indah. Gaun - gaun itu terpajang indah di tubuh - tubuh manekin. Semuanya masih dalam kondisi bagus dan masih terlihat baru.
Bu Dedeh bergegas mendekati gaun - gaun tersebut. " Silahkan ibu pilih dulu yang mana gaun yang ibu suka." kata sang pemilik toko.
Bu Dedeh mengangguk lantas mulai memilih - milih gaun yang cocok buat Nisa. Gaun - gaun itu semua terlihat bagus - bagus. Bu Dedeh sampai bingung harus pilih yang mana.
Akhirnya pilihan Bu Dedeh jatuh pada gaun berwarna lila pupus yang sangat cantik dan elegan. Modelnya tidak terlalu seksi namun terkesan glamour.
" Nyonya, saya pilih yang ini saja." kata Bu Dedeh.
Wanita cantik pemilik toko itu melirik sejenak gaun yang dipegang Bu Dedeh. Dia tersenyum lalu meraih gaun tersebut.
" Pilihan yang bagus, Bu. Saya yakin pasti putri ibu akan tampil cantik dan memukau dengan gaun ini." kata Wanita itu.
" Berapa harga gaun ini, Nyonya..?" tanya Bu Dedeh lagi. Dalam hati, Bu Dedeh harap - harap cemas jika uang yang dia bawa tidak cukup untuk membayar harga gaun tersebut.
Wanita itu sejenak memandang wajah Bu Dedeh. Lalu menepuk bahu Bu Dedeh pelan.
" Ibu jangan khawatir, harga gaun ini tidak mahal, Bu. Sekarang berapa uang yang ibu bawa saat ini?" tanya wanita itu kemudian.
Sejenak, Bu Dedeh menatap ragu ke arah wanita itu. Lalu dia mengeluarkan uang yang dia bawa dari saku bajunya.
" Nyonya, saya hanya membawa uang sebesar dua ratus ribu rupiah. Hanya ini saja uang yang saya miliki. Jika nyonya tak keberatan, sudilah kiranya nyonya memberikan potongan harga lagi." kata Bu Dedeh.
Wanita itu tersenyum seraya menyerahkan gaun itu ke tangan Bu Dedeh. " Berikan padaku seratus ribu saja, dan gaun itu menjadi milik ibu." katanya.
Mata Bu Dedeh langsung terbelalak kaget. Astaga, benarkah apa yang baru saja di dengannya? Wanita itu menjual gaunnya hanya seharga seratus ribu saja. Itu artinya uangnya masih tersisa seratus ribu lagi. Tentu saja hal itu membuat Bu Dedeh sangat gembira. Dengan uang itu, dia masih bisa membeli keperluan mereka yang lain.
Tapi, mengapa harga gaun itu murah sekali. Sejenak Bu Dedeh merasa heran mengapa pemilik toko itu memberikan harga semurah itu. Apa dia tak salah ucap.
Wanita pemilik toko itu seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Bu dedeh. Dia tersenyum penuh arti sambil menepuk - nepuk bahu Bu Dedeh.
" Tadi kan, saya sudah bilang bahwa saya akan memberikan diskon untuk ibu. Gaun itu harga sebenarnya adalah tiga ratus ribu, namun saya memberikan diskon untuk Ibu dan putri ibu sebesar tujuh puluh persen, sehingga ibu hanya perlu membayar sebesar seratus ribu saja. Saya harap semoga bantuan saya ini cukup bermanfaat buat ibu dan putri ibu." kata wanita pemilik toko itu.
Bu Dedeh merasa sangat berterima kasih kepada wanita pemilik toko itu karena sudah memberikan diskon sebesar itu sehingga Nisa putrinya bisa datang ke pesta promt itu nanti malam.
Setelah membayar berterima kasih dan membayar harga baju tersebut, Bu Dedeh bergegas pulang ke rumah. Dia tak sabar untuk memperlihatkan kepada putrinya gaun yang cantik itu. Pasti Nisa putrinya itu akan tampil cantik dan memukau malam ini, pikir Bu Dedeh.
------
Mata Bu Dedeh tak berkedip memandang ke arah sang putri yang tampak lain malam ini. Putrinya itu terlihat sangat cantik dan begitu mempesona. Siapa saja yang melihatnya pasti akan langsung berpaling dan terpukau oleh aura yang terpancar dari diri gadis belia itu.
Dan hal itulah juga yang terjadi pada Nisa di pesta promt malam itu. Semua mata tak berkedip memandangnya. Dia menjelma menjadi gadis yang sangat cantik dan menarik hati. Yang membuat mata semua anak lelaki yang datang ke pesta itu langsung jatuh hati karena terpesona oleh kecantikan Nisa.
Acara pesta berlangsung meriah. Beberapa anak lelaki yang datang ke pesta itu mencoba untuk mendekati Nisa. Namun Nisa lebih memilih menerima ajakan Ridho, cowok yang dia sukai sejak dulu. Pun ketika Ridho mengajaknya turun ke lantai dansa, Nisa yang sebenarnya enggan akhirnya mau juga diajak berdansa oleh Ridho. Hatinya sangat bahagia. Impiannya untuk berdansa dengan Ridho tercapai juga. Ini berkat gaun yang dia pakai malam ini yang membuat dia terlihat cantik dan menawan.
Di tengah-tengah suasana pesta yang meriah, Nisa terlihat gelisah. Berkali-kali gadis itu terlihat menarik nafas karena merasakan sesak pada dadanya. Padahal gaun yang dia kenakan tidaklah terlalu ketat dan juga bahannya bukan bahan yang berat.
" Ridho, lepaskan tanganmu, jangan memelukku terlalu kuat." kata Nisa." Aku tak bisa bernafas. Rasanya sesak sekali." lanjutnya.
Ridho heran, padahal dia hanya memegang pinggang Nisa saja, tapi mengapa gadis itu seolah - olah terlihat kesakitan.
Nisa terlihat semakin kesakitan. Gadis itu memegangi dadanya yang serasa ingin meledak.
" Ridho, tolong lepaskan gaunku, rasanya gaunku menjepit diriku hingga membuatku tak bisa bernapas. " rintihnya kemudian.
Tentu saja hal ini mengundang pertanyaan, mengapa Nisa minta dilepaskan gaunnya. Ridho terlihat bingung mendengar permintaan Nisa.
Namun belum sempat Ridho bertindak Nisa sudah jatuh tersungkur ke lantai. Terlihat Nisa seperti orang yang sedang sekarat kesulitan untuk bernafas. Dia memegangi leher dan juga dadanya. Detik berikutnya, gadis itu menggelepar - gelepar seperti ikan yang kekurangan air lalu kemudian diam tak bergerak lagi.
Suasana di pesta promt itu seketika berubah menjadi mencekam. Semua orang yang hadir menjadi terdiam tak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Nisa, apa yang telah terjadi dengan gadis cantik itu..?
Seseorang kemudian memberanikan diri untuk mendekati gadis itu. Mereka memeriksa keadaan gadis malang itu. Dan alangkah terkejutnya mereka saat mendapati gadis malang itu sudah tak bernyawa lagi.
Suasana langsung berubah gempar. Semua mata tertuju pada Ridho karena cowok itu yang terakhir bersama Nisa.
"Kau apakan Nisa, Do..? " tanya Roni, sang ketua panitia promt malam ini.
" Aku bersumpah sama sekali aku tidak pernah menyentuhnya. Kami hanya berdansa bersama. Lalu tiba-tiba dia mengeluh dadanya sesak dan memintaku untuk melepaskan gaunnya. Namun belum sempat aku bertindak dia sudah keburu jatuh dan seperti itulah keadaannya seperti yang kalian lihat sekarang. Aku sama sekali tidak tahu apa penyebab dia seperti ini. " jawab Ridho dengan ekspresi takut bercampur sedih.
" Seseorang, tolong panggilkan ibunya... " kata salah seorang panitia promt.
Kemudian beberapa orang terlihat berjalan keluar untuk memanggil ibu Dedeh, selaku orang tua Nisa.
Tak beberapa lama, Bu Dedeh pun sudah datang dengan tergopoh-gopoh. Dia baru saja menerima kabar bahwa putrinya meninggal dunia.
Bagaikan disambar petir, saat Bu Dedeh menerima kabar itu. Bergegas dia pergi ke tempat pesta berlangsung sambil menangis meraung-raung. Dia tak menyangka putrinya akan bernasib tragis seperti ini. Baru saja dia melihat putrinya itu tampil cantik dan bahagia, kini dia sudah melihat jenazah sang putri.
'" Apa yang terjadi dengan putriku, tolong katakan. Mengapa dia bisa seperti ini...? " rintih Bu Dedeh di sela - sela tangisnya.
" Bu, tadi Nisa sempat mengeluh minta agar saya melepaskan gaunnya karena katanya gaunnya itu terasa menjepit dadanya sehingga dia kesulitan untuk bernapas." kata Ridho mengulangi perkataan Nisa padanya sesaat sebelum tewas.
" Apa yang terjadi, apakah gaun ini penyebabnya?" tanya Bu Dwi. Salah seorang guru yang hadir ditempat itu. Dia lalu memeriksa pergelangan tangan Nisa yang terlihat membiru. Apa yang terjadi?
Bergegas dia meminta beberapa orang untuk memindahkan Nisa ke ruangan tertutup. Dengan disaksikan oleh beberapa orang, Bu Dwi meminta izin kepada Bu Dedeh untuk membuka gaun yang dipakai Nisa. beberapa
Semua mata yang berada di ruangan itu terbelalak kaget melihat pemandangan di depan mereka. Seluruh tubuh Nisa membiru dengan urat - urat yang terlihat menonjol keluar. Bahkan di beberapa bagian tubuh gadis itu terlihat memar berwarna keunguan.
-----
Bu Dedeh termenung di depan pusara Nisa. Putrinya itu baru saja di kubur. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, Nisa mengalami keracunan pormalin. Dari hasil visum dokter di temukan jejak - jejak pormalin di tubuh gadis itu yang berasal dari gaun yang dipakainya.
Ternyata, gaun yang di pakai oleh Nisa adalah gaun bekas yang pernah digunakan oleh orang mati. Rupanya pemilik toko yang kemarin dia datangi itu sengaja menjual Gaun yang pernah dipakai oleh mayat. Kini Gaun itu telah merenggut nyawa seorang gadis yang tak berdosa.
Penyesalan kini menghinggapi Bu Dedeh. Andai saja dia tak membeli gaun itu, tentu sekarang putrinya itu masih hidup dan baik - baik saja.
Kini kemana dia akan menuntut. Saat ini, dia berdiri di depan toko yang kemarin dia datangi. Sekarang tak ada apa-apa di sana. Toko yang kemarin dia lihat kini sudah tak ada lagi. Yang ada hanyalah sebuah bangunan yang kusam dan tak berpenghuni. Saat dia menanyakan kepada orang sekitar tempat itu,mereka mengatakan bahwa pemilik toko itu sudah lama tak terlihat. Dahulunya toko itu adalah tempat pembalseman jenazah. Namun kemudian berubah menjadi toko tempat menjual gaun pengantin untuk orang mati.
Nah, jika sudah begini... siapa yang harus disalahkan...?