Evania menutup lokernya sembari menghela napas jengah saat berhadapan dengan seorang laki-laki yang tengah menyeringai layaknya seorang idiot.
Masih jam delapan pagi dan Evania tidak ingin berurusan dengan laki-laki dekil bersama semua omong kosongnya itu.
***
Semuanya berawal tiga bulan yang lalu, saat Evania berkeliling di sekitar rak perpustakaan dan secara tidak sengaja menubruk sebuah tangga, mengakibatkan tangga beserta Makhluk yang tengah sibuk merapikan buku tiba-tiba sempoyongan kehilangan keseimbangan.
Bruk!
Rian Hendrawan, pemuda yang disinyalir korban terjadinya insiden penubrukan, kini jatuh tersungkur, satu per satu buku ikut terjatuh, tak hanya buku tapi tangga yang ia gunakan tadi juga ikut terjatuh menimpa punggungnya.
Ada pepatah yang mengatakan. "Sudah jatuh, tertimpa buku, tertimpa tangga pula." Itulah peristiwa naas yang dialami oleh Rian. Untungnya Rian punya tubuh atletis, jadi memar karena tertimpa tangga tak terlalu menjadi masalah baginya. tetapi yang menjadi masalah ialah memar di hatinya.
Mata Rian berbinar, senyuman licik tercetak di wajah tampannya. Memandangi wajah gadis di hadapannya yang kini tengah memijat pelan lengannya, Evania tidak terluka cukup serius hanya ada beberapa goresan di permukaan kulit lengannya.
"Maaf!"
Namun bukan Rain namanya jika tak meminta kompensasi sebagai wujud permintaan maaf.
"Gue terima permintaan maaf lo, asal lo mau jadi pacar gue," tukasnya to the point.
Evania melongo, jiwanya bagai tersambar petir di siang bolong. "Gila lo yah!" ketus Evania. Satu kalimat penolakan yang sukses membuat Rian menyeringai.
Banyak hal yang harus Evania pertimbangkan mulai dari dirinya dan Rian yang tak saling mengenal dan fakta bahwa Rian yang dikenal sebagai pembuat onar di sekolah yang waktunya lebih banyak menjalankan misi hukuman dibandingkan belajar di dalam kelas. (Dilansir dari lambe sekolah dan sumber terpercaya lainnya).
Awalnya Evania tidak terlalu ambil pusing dengan tingkahnya tapi seiring berjalannya waktu, gadis itu juga mulai jengah karena kehadiran Rian yang jauh dari kata kebetulan.
Tepatnya Rian yang sengaja membuntuti di mana dan ke mana pun Evania pergi.
Sudah banyak kalimat penolakan, sumpah serapah dan cibiran yang dilayangkan Evania tapi tetap saja batang hidung laki-laki kucel itu masih tetap muncul dalam radius kurang dari lima meter.
Rian tak gentar, masih berusaha untuk maju dan semakin gencar melancarkan amunisi andalannya agar membuat Evania terkesan. Sebesar apapun Rian berusaha, tetap saja Evania menanggapinya sebagai bualan.
"Gue takut jika yang kulihat hanyalah sebuah halusinasi yang akan pudar saat gue memejamkan mata. Karena itu izinkan gue menatapmu sebentar," ucap Rian.
"Apa benar kalimat itu keluar dari mulutnya? Ada apa dengannya? tingkat kepercayaan dirinya ketinggian," dumel Evania di sela-sela langkah seribunya untuk menghindari ocehan Rian.
***
Evania sedang menyantap menu makan siangnya di kafetaria bersama beberapa temannya. Matanya tak sengaja menangkap siluet pria yang berjalan menuju tempatnya duduk.
"Apakah ini pertanda hariku akan kembali suram?" gumam Evania.
"Selamat pagi Sayang," sapa Rian dan tersenyum sumringah melihat raut wajah cemberut Evania.
"Kenapa? Bahagia melihatku?" celetuk Rian sambil menaik turunkan alisnya berusaha menarik perhatian sang betina. Evania berbalik dan beranjak pergi. "Bahagia? Jengkel iya kucrut."
"Mungkin lo sedang sibuk dengan urusan lain tapi bagaimana dengan rinduku yang tak berkesudahan jika tak melihatmu?" ujar Rian yang masih setia mengekori langkah Evania.
"Aku ingin mengajakmu kencan. Boleh'kan?, boleh yah?, boleh dong! Kita bisa ke bioskop, ke mall, ke tempat wisa--" Evania menghentikan langkahnya, gadis itu merasa jengah turus saja dibuntuti. Begitupula Rian yang sontak menubruk punggung Evania yang reflek menghentikan langkahnya.
"Entah sampai kapan lo akan berhenti memainkan permainan ini? Lo nggak bosan? Hahh??." Ucap Evania menggebu-gebu.
Tentu saja perhatian teruju kearah dua orang yang sedang terlibat pertengkaran di area padat pengunjung, tepatnya di pintu masuk area kafetaria.
Rian lantas menarik kasar tangan Evania menuju tempat tersepi yang ada di sekolah.
"Permainan? Lo pikir gue nggak serius tentang ini?" ucap Rian pelan tapi penuh penekanan, suaranya terdengar seperti bisikan.
Rian melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka.
"L-lo! Bukannya ingin memanfaatkanku sama seperti laki-laki lainnya? dan ketika tujuan lo sudah tercapai, lo akan mencampakkanku, menjadikanku objek bualan dan mempermalukanku."
Rian tak peduli malah semakin mendekatinya. Evania perlahan mundur hingga punggungnya mentok menyentuh tembok. Gadis itu dengan susah payah menelan salivanya saat kontak matanya bersibobrok dengan manik milik Rian.
Rian mengangkat tangannya dan meletakkannya di tembok untuk mengunci pergerakan Evania.
“Bermain-main?” Rian berbisik mengulang ucapan Evania sembari menatap netra gadis yang hanya beberapa senti di depannya.
Evania memalingkan wajahnya, darahnya berdesir, jantungnya berdebar tak karuan. 'Kuatkan dirimu Evania, percayalah dia hanya membual.' Mantra yang gencar di komat-kamitkan Evania dalam hatinya.
"Apa menurut lo, selama tiga bulan ini gue mendekatimu hanya untuk bermain-main?"
Evania lagi-lagi membuang muka, tidak tahu harus berkata apa. Dia belum pernah dekat dengan seorang pria dan tidak pernah berada dalam situasi absurd seperti ini.
"Kenapa gue harus membuang waktu untuk mengejar cinta seorang gadis selama tiga bulan hanya untuk sebuah lelucon? Apa lo masih nggak ngerti, Evania Clarissa?" Ada kerutan samar tercetak di wajah Rian.
Disisi lain, Evania memcoba mencerna setiap kata yang diucapkan Rian. "Jadi selama ini dia serius? Apakah dia serius dengan semua ucapannya?" Evania tidak tahu harus percaya atau tidak, dia bingung ditambah sebagian raganya menolak untuk percaya.
Evania tersentak, merasakan deru napas Rian yang mengenai permukaan kulit telinga kirinya.
"Apakah nona Evania masih membenciku?" bisik Rian, membuat bulu kuduk Evania meremang.
Apakah Evania membenci Rian? Rian yang notabene-nya seorang ketua geng pembuat onar dan menyebalkan. Tapi nyatanya Rian tidak pernah menyakitinya. Pikiran untuk dimanfaatkan itulah yang membuatnya benci terhadap Rian.
Rian mundur selangkah dan melayangkan senyum menawan dan termanis dari yang pernah ia lakukan.
"Lo tahu? Hari itu ... saat lo membuatku jatuh dari tangga, lo juga membuatku jatuh cinta padamu." Rian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menaikkan bahunya.
"Jadi, lo harus menemukan alasan yang sangat, sangat, sangat, sangat bagus jika lo ingin gue berhenti mendekatimu!" ucapnya lebih ke sebuah ancaman.
"Sampai saat itu tiba, gue tidak menerima semua penolakanmu!" lanjut Rian dan berbalik meninggalkan Evania yang masih setia terpaku bak manekin pasar minggu.
•••
Jam pelajaran berakhir, Rian mulai mengemasi barang-barangnya dan sesegera mungkin meninggalkan kelas, menghindari tugas piketnya untuk menemui Evania.
Rian berlari melewati beberapa siswa-siswi yang berjalan di koridor sekolah, ia mencoba menemukan Evania, sebelum gadis itu benar-benar meninggalkan sekolah.
"Rian ...."
Rian menghentikan langkahnya saat mendengar suara familiar tengah memanggil namanya.
Rian berbalik untuk melihat Evania Clarissa berdiri tak jauh darinya yang kini menatapnya. Rian merasakan jantungnya berdetak tak normal, bukan karena efek berlari. Tetapi karena paru-parunya yang ikut bergemuruh saat melihat manik mata Evania.
Rian diam menahan senyum saat Evania berjalan mendekat, tangannya mencengkeram erat tali ranselnya. Evania tampak menggemaskan di mata Rian.
Evania menggit bibirnya berusaha menghindari kontak matanya dengan Rian. "Gue ... uhmm ... mau ke bioskop," ujar Evania dengan pipi yang mulai bersemu merah.
Rian butuh beberapa detik untuk menyadari maksud ucapan Evania.
Saat ia mulai mengerti, senyuman kepercayaan diri Rian pun terpancar.
The and*